KAMI MEMANG BUKAN YANG TERBESAR, TAPI KAMI AKAN BERUSAHA UNTUK MENJADI YANG TERBAIK. SALAM SERIKAT PEGAWAI PINDAD
Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Juli 2010

PENGARUH adalah hal mutlak yang diperlukan dalam hal KEPEMIMPINAN.

Tidak lah mudah untuk menjadi PEMIMPIN yang mempunyai PENGARUH kuat didalam organisasi. Ini seperti membawa lari kelereng yang diletakkan di sendok dan digigit di mulut, gampang-gampang susah.

PENGARUH adalah hal mutlak yang diperlukan dalam hal KEPEMIMPINAN. Berikut adalah Tips yang Fresh yang selalu saya lakukan untuk mendapatkan PENGARUH dalam organisasi (it works for me) :
1. Memberikan Teladan dalam keseharian kerja, mulai dari disiplin jam kerja, kebersihan, kerapian, tingkah laku, tutur kata dan sebangsanya ……
2. Melakukan personal approach ke setiap Individu didalam organisasi untuk sekedar ngobrol, membicarakan masalah sehari – hari bahkan jika anda sukses “masuk” kedalam dunia lawan bicara anda, anda akan mendapatkan informasi yang jauh sangat berharga bagi anda sebagai seorang PEMIMPIN. Informasi tersebut bisa berupa Kebahagiaan dalam bekerja sampai dengan Keluhan dalam bekerja. Dari a ….. z deh. Ini adalah kesempatan bagus yang bisa anda pakai untuk minimal ber-Empati bahkan sampai memberikan solusi yang Manjur (tidak dengan gaya menggurui). Kalau istilah komputer nya sih Social Engineering dalam dunia Hacking yang diperkenalkan oleh Kevin D Mitnick (Hacker legendaris Amerik).
3. Selalu menelurkan ide, terobosan atau inovasi baru dalam lingkungan kerja dan begitu juga sebaliknya, terbuka terhadap ide, terobosan, atau inovasi baru dari teman sekerja.
4. Dapat mempercayai dan dapat dipercaya.
5. Mempunyai sifat untuk “melindungi” partner dalam bersama-sama menghadapi berbagai permasalahan yang muncul sebagai resiko dalam pekerjaan, no matter how hard is it.

Nb:
- Sesuaikan dengan situasi dan kondisi anda masing-masng
-Tidak ada istilah bawahan (anak buah) disini, yang ada adalah TEMAN SEKERJA / PARTNER.
“Ordinary Leader is JUST LEAD, Good Leader is SHOWS, Great Leader is INSPIRING”. (SPP)

MEN-CAP BAWAHAN

Karena blog ini berisi tentang tips kepemimpinan yang fresh dan nyata (tidak sekedar teori kepemimpinan belaka), maka tentu saja saya mempunyai pengalaman diperlakukan “semau gue” oleh pimpinan yang terlena.

Salah satu contoh tindakan “semau gue” dari seorang Pemimpin yang terlena adalah MEN-CAP BAWAHANnya dengan CAP TERTENTU yang tentu saja NEGATIF.

To the point aja, Cap Negatif yang pernah saya “dapatkan sebagai hadiah” dari Pimpinan adalah “always under estimate“. Saya mendapatkan hadiah stempel / cap ini hanya gara-gara memperhitungkan segala kemungkinan yang ada. Sedangkan yang diinginkan Pimpinan adalah langsung tubruk aja setiap ada peluang. Bagus juga sih, tapi masalahnya hadiah stempel / cap negatif tersebut tidak seharusnya diberikan sebagai hadiah.

Stempel model beginian ini yang bahaya….. kenapa ??? karena kalau saja stempel tersebut di-tok-kan sering kali kepada seseorang, maka secara sadar / tidak, lama kelamaan akan mempengaruhi alam bawah sadar dan mempengaruhi perilaku sehari-hari nya sehingga menjadi seperti yang di stempel / capkan. Tuh parahkan efeknya ……

Gimana dong solusinya ???

* Gampang, introspeksi diri (apakah anda layak mendapatkan hadiah stempel under estimate tadi)
* Jika layak, maka ubahlah diri anda menjadi orang yang optimis / positive thinking dan selalu katakan ISO (bahasa jawa yang berarti bisa
* Jika tidak layak, maka ubahlah diri anda menjadi orang yang selalu optimis dan yakin bahwa pimpinan anda adalah orang gila yang mempunyai maksud baik terhadap anda

Nb: Kendalikan alam bawah sadar anda dengan positif thinking dan selalu optimis. (SPP)

Bagaimana “style” KEPEMIMPINAN yang anda terapkan selama ini ?

CMIIW (Correct Me If I’m Wrong) :

Pemimpin dibidang bisnis cenderung lebih KERAS. Mereka serasa “dipaksa” oleh keadaan untuk menjadi KERAS mengingat persaingan di dunia bisnis cukup mencekam, sedangkan Pemimpin dibidang pendidikan cenderung lebih KALEM, mungkin harus lebih beretika karena ini dunia pendidikan :D yang menomor-satukan keteladanan dan kebaikan.

Lalu bagaimana dengan saya, kebetulan saya berada di antara dua dunia yang disebutkan diatas (bisnis dan pendidikan). Jika ada yang menanyakan bagaimana gaya KEPEMIMPINAN saya? Jurus kungfu KEPEMIMPINAN yang saya pegang sampai sekarang adalah “DUDUK SAMA RENDAH, BERDIRI SAMA TINGGI“. Artinya, saya dan rekan yang lain adalah sama2 manusia, jadi tidak ada istilah saya PEMIMPIN ente cuma BAWAHAN.

Jurus kungfu Kepemimpinan yang saya terapkan bukannya tanpa resiko, tapi justru beresiko cukup besar. Jika anda salah menerapkan jurus kungfu Kepemimpinan yang satu ini, bisa2 anda akan kehilangan wibawa sebagai Pemimpin didepan rekan2 yang lain.

Mengapa demikian? Karena rekan2 anda sudah terbiasa dengan duduk sama rendah berdiri sama tinggi, sehingga tidak lagi menganggap anda sebagai Pemimpin yang layak untuk disegani.

Lalu bagaimana cara menghadapi resiko diatas?

* Budayakan rasa kekeluargaan di team anda :
o Gunakan waktu senggang untuk kegiatan bersama (tamasya, gathering, dsb).
o Saling mengingatkan, melengkapi dan membantu seperti layaknya keluarga.
* Usahakan yang terbaik untuk team anda (apapun bentuknya). Semakin anda terpojok karena “memperjuangkan” team anda, maka anda akan semakin didukung oleh “keluarga” anda.

Dua hal diatas adalah sesuatu yang sangat berat, dan jangan terlalu berharap anda akan langsung berhasil menjadi Pemimpin yang handal jika sudah melakukannya. Karena anda, saya atau siapapun juga tidak akan pernah dapat memuaskan semua orang karena dalam setiap keputusan / kebijakan yang diambil tentunya akan ada yang merasa dirugikan, tetapi paling tidak kita dapat melakukan yang terbaik untuk memuaskan sebagian besar orang.

Satu hal yang pasti, jika anda sukses (dapat memuaskan sebagian besar orang) menerapkan JURUS KUNGFU KEPEMIMPINAN diatas , maka anda benar – benar layak menjadi PEMIMPIN SEJATI. (SPP)

LENGAH TERHADAP SERANGAN MUSUH

Tips Menjadi Pemimpin Handal kali ini cocok untuk PEMIMPIN – PEMIMPIN yang mulai “menikmati” KEPEMIMPINAN mereka, sehingga “MUNGKIN” LENGAH TERHADAP SERANGAN MUSUH.

“Faktor utama kehancuran sebuah organisasi / perusahaan adalah dari internal perusahaan itu sendiri. Kalimat ini yang “masih terngiang di telingaku”.

Statement ini banyak didapatkan dalam bincang – bincang santai dengan mantan supervisor (boleh dibilang cukup berhasil dalam hal KEPEMIMPINAN) perusahaan farmasi yang sangat terkenal di Indonesia.

Masih menyambung ARTIKEL KEPEMIMPINAN yang terakhir, sebagai pemimpin yang sejati, sudah menjadi kewajiban bagi anda untuk mulai memprioritaskan statement diatas. Organisasi / perusahaan, skala kecil / besar akan dapat “hancur” dengan kurun waktu yang relatif singkat jika masalah internal perusahaan terus berlarut – larut.

Bagaimana cara mendeteksi masalah internal ?

*) Diam, bukan berarti tidak bermasalah bukan ? . Kenali karakter rekan kerja (istilah ini menggantikan istilah anak buah / bawahan) anda, posisikan diri anda seperti mereka untuk mencari informasi yang wow...mungkin anda tidak akan pernah menduganya, jangan terus-menerus meng-ekslusif-kan diri sebagai pimpinan, tapi eksklusifkan diri anda sebagai pemimpin (melayani bukan dilayani).

Bagaimana cara mengatasi masalah internal ?

*) Jika anda menganggap rekan kerja anda bermasalah, hal pertama yang harus anda kerjakan adalah INTROSPEKSI DIRI ANDA mungkin anda sendiri lah yang menjadi sumber masalah internal, diskusi untuk mencari win – win solution mungkin bisa menjadi alternatif yang bijaksana daripada “memaksakan kehendak” seperti kebanyakan PIMPINAN.

*) Pupuk selalu KEBERSAMAAN TEAM ( individual ntar ada Gosip ), dengan cara sering mengadakan acara bersama. Apa manfaatnya ? coba simak ARTIKEL KEPEMIMPINAN yang satu ini.

Inti dari ARTIKEL KEPEMIMPINAN disini adalah : Jadilah PEMIMPIN (melayani, menghargai, dst), bukan PIMPINAN (dilayani, ekslusif, kurang menghargai, dst). Karena GAYA KEPEMIMPINAN anda akan BERBANDING TERBALIK dengan masalah internal organisasi. Semakin bagus KUNGFU KEPEMIMPINAN anda, semakin berkurang MASALAH INTERNAL ORGANISASI, dan sebaliknya.
Ada yang mau menambahkan ? (SPP)

Jumat, 02 Juli 2010

Mengenali Karakteristik dari rekan kerja kita

Setelah mendengarkan paparan tentang KUADRAN KARAKTERISTIK ORANG DALAM BEKERJA dan berdiskusi dengan Rm. Alexius Dwi Widiatna, M.Ed CM (Romo Alex) selaku Kepala Sekolah atau Pemimpin SMAK St Louis 1 Surabaya tentang tipe – tipe orang dalam berkarya. Kuadran tersebut tampak pada gambar berikut ini :


kuadran karakteristik orang

Kuadran I – TELLING

Untuk dapat melakukan suatu pekerjaan, SELALU saja MENUNGGU INSTRUKSI dari ATASAN atau pihak terkait. Setelah itu, orang – orang yang berada di kuadran TELLING langsung mengerjakan instruksi yang diberikan.

Kuadran II – SELLING

Hampir mirip dengan kuadran I, hanya saja orang – orang yang berada di kuadran SELLING TIDAK semata – mata LANGSUNG MENGERJAKAN INSTRUKSI YANG SELALU DIBERIKAN oleh ATASAN, tetapi JUGA memberikan pendapat / saran / kritik / BERDISKUSI (diasumsikan seperti tawar menawar dalam berjualan) mengenai instruksi yang diberikan UNTUK mencapai HASIL yang LEBIH BAIK.

Kuadran III – PARTICIPATING

Hampir mirip dengan kuadran II, tetapi IDE-IDE yang MUNCUL berasal DARI kalangan BAWAHAN, KEMUDIAN ide-ide mereka tersebut, DIDISKUSIKAN DENGAN ATASAN untuk mencapai hasil yang terbaik.

Kuadran IV – DELEGATING

Kuadran ini adalah kuadran impian para bawahan, karena jika mereka dianggap layak untuk berada pada kuadran ini, maka mereka tidak lagi dianggap sebagai bawahan, tetapi mereka lebih layak untuk menjadi Pemimpin yang Handal atau Pemimpin sejati. Karena orang – orang yang berada di kuadran delegating adalah orang yang diberi hak penuh untuk menjalankan “roda pemerintahan” dan didukung penuh oleh Pemimpin diatasnya, dengan tidak mempedulikan apapun keputusan yang diambil. Orang – orang di kuadran ini sangat dipercaya untuk mengendalikan apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Emotional Quotient

Menjadi salah satu syarat penting yang berpengaruh dengan kuadran karakteristik orang. SEMAKIN TINGGI EMOTIONAL QUOTIENT dari seseorang, maka semestinya SEMAKIN TINGGI pula POSISI KUADRAN dari orang tersebut.

Nb: Semakin tinggi kuadran anda, maka semakin dianggap layaklah anda untuk menjadi Pemimpin yang Handal.

*) Silakan mencari di kuadran berapakah anda, rekan , atau bahkan pimpinan anda sekarang?
*) Pantaskah anda, rekan atau pimpinan anda berada di kuadran tersebut ?
*) Apa yang akan anda lakukan sekarang untuk mencapai kuadran yang tertinggi (Delegating) ?
salam. (SPP)

Pimpinan Vs Pemimpin

“Seorang Pimpinan belum tentu dapat disebut sebagai Pemimpin, demikian juga sebaliknya. Seorang Pemimpin belum tentu menjadi Pimpinan.“

Itulah fakta yang umum terjadi pada kebanyakan Pimpinan atau Pemimpin model sekarang ini baik di perusahaan bisnis atau organisasi sosial. Seharusnya seorang Pimpinan adalah orang yang mempunyai kemampuan sebagai Pemimpin, yaitu :

* Dapat dipercaya oleh pengikutnya / follower
* Mempunyai pengaruh positif yang kuat terhadap pengikutnya / follower
* Saling melayani dengan pengikutnya
* Mampu menjadi navigator yang handal
* Menumbuhkan kreativitas pengikutnya, dst….

Atau dengan kata lain, seorang Pimpinan adalah orang yang mempunyai kemampuan sebagai Pemimpin didukung dengan “kekuasaan”, sehingga kemajuan organisasi yang dipimpin berbanding lurus dengan kemajuan para pengikutnya (kaya statistik aja.

Tetapi seiring berkembangnya jaman, arti kata Pimpinan mulai bergeser ke arah negatif (Pimpinan hanya identik dengan kekuasaan, bukan kemampuan untuk memimpin, karena kebanyakan dari mereka agak lebih mementingkan diri/golongan & selalu melayani minta dilayani jangan tanya kenapa ?.

Sebaliknya, arti kata Pemimpin pun bergeser ke arah positif. Tapi jika tidak didukung oleh Pimpinan yang notabene mempunyai “kekuasaan”, Pemimpin yang sejati ini lebih mirip seperti katak dalam tempurung.

Berikut adalah contoh pengalaman saya tentang Pimpinan Vs Pemimpin :

Suatu ketika … didepan salah satu customer, saya pernah mendengar statement seorang Pemimpin Pimpinan yang mengatakan “sekarang giliran dia menjadi pemimpin, nanti yang lain tunggu giliran“.

Di lain kesempatan, customer tersebut pernah bertanya ke saya perihal statement diatas, emang untuk menjadi seorang Pemimpin tuh nunggu giliran?

Kalau begitu, siapa dong yang layak disebut Pemimpin? hanya orang – orang yang berada di kuadran delegating (seperti pada artikel kepemimpinan saya yang terakhir) yang ideal untuk disebut Pemimpin.

Jadi, banggakah anda jika pengikut anda menyebut anda sebagai Pimpinan mereka ?
itu semua kembali ke anda sendiri, salam. (SPP)

Berbagai macam kemampuan tentang Kepemimpinan

Menjadi seorang Pemimpin bukanlah perkara mudah, karena selain tanggung jawab yang berat, seorang Pemimpin sejati harus memiliki berbagai macam kemampuan tentang Kepemimpinan. Selain banyak hal tersebut diatas, hal penting lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang Kepemimpinan adalah “Gengsi Kepemimpinan”.

Menurut fakta, semakin tinggi tingkat Kepemimpinan seseorang didalam organisasi, maka semakin tinggi-lah Gengsi dari Pemimpin tersebut. Atau jika menggunakan istilah statistik, tingkat Kepemimpinan berbanding lurus dengan Gengsi Kepemimpinan.

Misalnya sebelum menjadi pemimpin, biasanya seseorang tidak memikirkan gengsi-nya untuk bertindak “bebas” (misalkan, duduk lesehan ditempat umum dengan teman-teman untuk merasakan nikmatnya rujak manis).

Tapi setelah menjadi Pemimpin, seseorang harus berpikir 1000 kali untuk bertindak “bebas” seperti contoh diatas. Ketika ditanya alasannya, GENGSI / JAGA IMAGE (Jaim) menjadi alasan yang utama.

Yang menarik disini adalah, dengan “membunuh rasa Gengsi / Ja-Im nya”, para pemimpin handal justru mendapat dukungan yang sangat kuat yang dinamakan “People Power”. Efeknya, jika didalam organisasi, dukungan / loyalitas staf kepada Pemimpinnya sangat kuat, bukan tidak mungkin organisasi tersebut akan sangat mudah diarahkan ke arah yang lebih baik sesuai visi misi sang Pemimpin. Wow … Fantastis !

Jika begitu, mengapa masih banyak orang yang mengaku Pemimpin, tapi tidak mampu “membunuh Gengsi/ Ja-Im” nya sendiri? Atau mungkin orang – orang seperti ini lebih layak disebut sebagai Pimpinan daripada Pemimpin.

Bagaimana dengan metode Kepemimpinan anda sekarang? Apakah anda mengarah ke arah menjadi Pemimpin sejati atau justru kearah menjadi seorang Pimpinan dengan Gengsi dan Jaga Image yang berlebihan. (SPP)

Masalah internal

Artikel kepemimpinan kali ini kembali menyoroti tentang “masalah internal” sebagai fenomena yang benar – benar harus diperhatikan oleh para Pemimpin dalam organisasi.

Mengapa demikian? Seberapa jauh pengaruhnya terhadap organisasi ? Berikut kira-kira analogi ”masalah internal” di dunia sehari – hari :

Kebanyakan orang pasti pernah mengalami sakit maag (nyeri lambung) karena jadwal makan yang semrawut atau lambungnya memang agak sensitif.

Berikut adalah tahapan – tahapan terjadinya sakit maag (paling tidak ini pengalaman saya pribadi :
1. Perut terasa lapar.
2. Perut terasa semakin lapar.
3. Di tengah – tengah badai kelaparan, tiba – tiba rasa lapar mereda perlahan-lahan. Kata dokter sih hal ini terjadi karena asam lambung mengambil lemak dalam tubuh untuk dibakar.
4. Tidak lama kemudian, mulailah rasa perih menyerang secara perlahan menggantikan serangan rasa lapar yang dirasakan sebelumnya.
5. Perlahan tapi pasti, rasa perih terasa semakin kuat. Dan tahap inilah yang disebut sakit maag (nyeri lambung). Jadi ingat waktu itu
6. Yang anda perlukan ditahap ini adalah obat / makanan / dokter untuk menetralisir sakit maag anda.
* Jika masih tidak diobati, maka resiko kematian berada di depan mata.
* Jika seandainya diobati dan sembuh pun, sakit maag lebih mudah menyerang orang-orang yang pernah mengalaminya.

Lalu apa kaitannya dengan masalah internal. Berikut “terjemahan” 6 langkah diatas yang menggambarkan masalah internal dalam organisasi :
1. Rasa lapar menggambarkan bahwa setiap follower (baca: pengikut / bawahan dari seorang Pemimpin) pasti “lapar”, butuh, mengharapkan “makanan” (perhatian atau dukungan) dari Pemimpin organisasi.
“Makanan” tersebut bisa berupa : obrolan santai (mis: pujian, bertanya kondisi kesehatan, bercanda, rekreasi bersama, ucapan ulang tahun, ucapan hari raya, dan lain sebagainya).
2. Rasa semakin lapar = Pemimpin jarang memberikan “makanan secukupnya (seperti yang saya sebutkan pada no 1 diatas)”, sehingga secara alamiah follower anda semakin membutuhkan / mengharapkan perhatian anda sebagai Pemimpin mereka.
3. Rasa lapar mereda = Harapan akan perhatian dari Pemimpin perlahan mereda. Lalu timbul benih – benih kekecewaan di hati mereka.
4. Rasa perih = Kekecewaan akan bertumbuh menjadi besar dan menumpuk sehingga akibatnya timbul rasa frustasi dari follower. Tahap ini biasanya terjadi dalam waktu yang cukup lama singkat.
5. Perlahan tapi pasti, rasa kekecewaan tersebut berubah menjadi sakit maag hati. Tahap ini adalah awal dari masalah internal dalam organisasi.
6. Obat, makanan atau dokter yang Follower anda perlukan adalah kesediaan Pemimpin untuk kembali memberikan “makanan secukupnya (seperti yang sebutkan pada no 1)”. Hanya Pemimpin sejati yang dapat melakukan hal ini. Karena mereka tidak mementingkan gengsi kepemimpinan. Tetapi sayangnya jumlah Pemimpin sejati tidaklah sebanyak Pimpinan.
* Jika seorang Pemimpin masih saja cuek atau memang tidak mengetahui masalah internal organisasinya. Maka resiko turn over, atau kata orang militer kudeta mengancam di depan mata.
* Meskipun seandainya masalah internal berhasil di redakan. Maka “penyakit organisasi” serupa akan lebih gampang muncul untuk kedua kali dan seterusnya daripada yang pertama kalinya.

Bukankah kata dokter Mencegah lebih baik daripada Mengobati. Jadi mulailah mengidentifikasi masalah internal organisasi anda sebelum semuanya terlambat. (SPP)

Ketatnya kompetisi antar organisasi

Semakin ketatnya kompetisi antar organisasi (dibidang apapun, mis: perdagangan, pendidikan, perbankan, politik, dan lain sebagainya) untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan, diharapkan masing-masing organisasi dapat memacu prestasi dan kreativitas sehingga produk – produk yang ditawarkan menjadi lebih bervariasi, lebih banyak pilihan, lebih berkualitas, murah, cepat dan sebagainya.

Mengapa demikian?

Karena dalam kompetisi, orang tidak boleh lengah. Sekali saja dia lengah maka ia dapat dikalahkan sewaktu – waktu (tidak peduli seberapa kuat organisasinya).

Untuk itu setiap organisasi wajib untuk terus hidup dalam inovasi, mencari celah atau
peluang agar dapat “survive” dalam kompetisi. Sebagai Pemimpin, kita perlu mengajak anggota (follower) organisasi untuk berbenah diri dan merubah cara berpikir yang “usang”, karena masalah hari ini belum tentu bisa diselesaikan dengan solusi kemarin.

Sebagai contoh: Coba lihat hypermarket-hypermarket yang mulai bermunculan di kota-kota besar, ia berfungsi untuk melengkapi keberadaan pasar tradisional dengan menawarkan konsep belanja yang berbeda (nyaman, tidak becek, sejuk, aman, harga grosir dan lain sebagainya). Mengapa demikian, karena mereka (para pemimpin hypermarket) sadar bahwa mereka harus berubah untuk dapat menangkap peluang yang ada.

Di lain pihak, saya pernah berdiskusi dengan pemilik usaha pangkalan minyak tanah tentang Perubahan. Inilah pertanyaan saya: “mengapa tidak sekalian melengkapi barang dagangan anda dengan elpiji? mengingat pemerintah juga sudah mulai menggalakkan pemakaian elpiji. Hitung – hitung persiapan masa transisi dari minyak tanah ke elpiji dan cari pelanggan elpiji. Ya jaga-jaga jika seandainya, minyak tanah sudah jadi barang langka”.

Dan beginilah kurang lebih jawaban dari pengusaha pangkalan minyak tanah tersebut :
“Belum waktunya kita jual elpiji. Warga disini lebih senang menggunakan minyak tanah. Lagian bisa-bisa tambah repot dan rumit apalagi belum tentu laku”.

Memang benar, perubahan memerlukan pengorbanan bahkan penderitaan. Perubahan seolah-olah menjadi momok yang menakutkan bagi orang – orang dengan pikiran “usang”. Disinilah peranan penting seorang PEMIMPIN. Ia harus dapat menjadi motor penggerak perubahan. Untuk melakukan perubahan, pertama kali yang harus dikerjakan oleh Pemimpin adalah “mencuci pikiran-pikiran usang” dengan pikiran-pikiran “baru”, dan ini saya kira bukan pekerjaan yang mudah.

Perubahan sendiri menuntut adanya 5 faktor sekaligus :

1. Visi
2. Ketrampilan
3. Insentif
4. Sumber Daya
5. Rencana untuk bertindak

Nb: Keterangan detail tentang ke-5 faktor diatas dapat anda baca melalui buku Re-Code Your Change DNA – Rhenald Kasali.

Jika dari 5 faktor diatas, ada salah satu saja faktor yang lemah, maka hal tersebut akan dapat memperlambat perubahan yang anda motori :( . Jadi renungkan dan rencanakan baik-baik 5 faktor diatas, karena Perubahan bagaikan pisau bermata dua, ia bisa membangun (tentu ini yang diharapkan) atau justru menghancurkan :( (ini terjadi jika anda menganggap remeh 5 faktor diatas).

Bagaimana dengan organisasi anda, sudah siapkah anda (sebagai Pemimpin) dalam menghadapi Perubahan dari pesaing anda? Sudah siapkah anda untuk berkompetisi?

- Diolah dari Re-Code Your Change DNA – Rhenald Kasali (SPP)

Shared Leadership

Terlepas dari gelar, usia maupun jabatan, setiap orang adalah Pemimpin karena masing -masing anggota dari organisasi sedikit banyak pasti memiliki pengaruh, sehingga pernah mempengaruhi dan dipengaruhi. Pada dasarnya Pemimpin adalah orang yang memiliki pengaruh seperti yang pernah saya ulas pada artikel kepemimpinan saya beberapa waktu lalu.

Inti dari “Shared Leadership” sendiri adalah komitmen dari organisasi untuk memperhatikan hal-hal yang bisa dikontribusikan oleh setiap karyawannya. Bila organisasi mau mendengarkan, menghargai dan melaksanakan saran-saran yang menunjang, kesempatan akan meningkat, keterbukaan meningkat dan hasil akan lebih banyak tercapai dalam waktu yang lebih cepat serta lebih mudah.

Jika organisasi sudah berkomitmen demikian, maka setiap orang harus menunjukkan partisipasinya, karena kita semua adalah Pemimpin dan dituntut untuk menunjukkan yang terbaik sesuai dengan yang diperlukan organisasi.

Sebagai contoh:

Di Kanada, setiap tahun diadakan pertandingan Kuda menarik beban. Pada suatu pertandingan, Kuda pertama mampu menarik beban seberat 450 kg, duda Kuda kedua mampu menarik beban seberat 400 kg. Sebuah pengujian dilakukan untuk melihat apa yang akan terjadi jika kedua kuda tersebut menarik beban secara bersama-sama. Pada saat sendiri-sendiri, kuda tersebut berhasil menarik beban dengan total 850 kg. Secara bersama, beban yang harus ditarik oleh kedua kuda tersebut terus ditambah hingga mencapai 1600 kg. Hal ini membuktikan betapa besarnya kekuatan untuk mencapai sasaran bila potensi masing-masing disatukan. Kedua kuda tersebut berhaisl menarik beban lebih besar ketimbang total berat beban yang berhasil ditarik oleh setiap kuda secara sendiri – sendiri.

Percaya ga percaya, hal yang sama juga terjadi pada manusia. Dua orang yang bekerja “bersama-sama” sama akan lebih efektif ketimbang bekerja sendiri-sendiri. Dengan demikian kekuatan organisasi anda berada pada setiap karyawan, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya bantuan kekuatan dari pihak diluar organisasi.

Kesimpulan dari Shared Leadership / Kepemimpinan dari semua anggota adalah :

Organisasi harus mampu menciptakan lingkungan yang mengembangkan kepemimpinan setiap karyawannya. Bagaimana caranya ? Karyawan akan merasa bebas apabila mereka tahu bahwa opini yang mereka sampaikan tidak akan disalahkan, dan mereka juga harus tahu bahwa mereka bukan semata-mata hanya boleh menyampaikan usul saja, tetapi harus disertai juga dengan action.

Pandangan organisasi yang positif, kepemimpinan yang sungguh-sungguh mau mendengarkan dan menghargai ide setiap orang akan sangat penting untuk mendukung terciptanya suasana lingkungan yang jujur, terbuka, sehat dan menyenangkan.

Keberhasilan kebanyakan organisasi lebih banyak datang dari kemampuan pemberdayaan SDM dan kemampuan menciptakan suasana yang mendukung atau dengan kata lain, jika masalah internal dapat menjadi momok yang menakutkan, maka kondisi internal yang mendukung pun dapat menjadi Kekuatan Super yang melebihi Superhero manapun.

Diolah dari buku Personal Leadership – Richard W. James (A Practical Approach for Achieving Individual and Organizational Freedom)

Selamat mencoba. (SPP)

Sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin yang handal

Didalam komunikasi organisasi ada 2 faktor yang paling utama yang seringkali menjadi patokan seseorang untuk bertindak, yaitu LIKE dan DISLIKE. Setelah bincang santai dengan Supervisor sebuah perusahaan farmasi terkenal di Indonesia beberapa bulan lalu, terpikir juga untuk membagi hasil pembicaraan tersebut melalui blog Kepemimpinan ini.

Jika anda sebagai Pemimpin didalam organisasi senang (Like) dengan seseorang (sebut saja carin) didalam organisasi entah karena prestasi atau orang tersebut dapat diandalkan, maka kesalahan sebesar apapun yang telah diperbuat akan dapat dipertimbangkan kembali dan dicarikan alasan untuk dimaklumi, sebaliknya jika Dislike sudah “dicapkan ke jidat” seorang dari organisasi, maka ide yang sedemikian spektakuler pun akan menjadi garing di hadapan anda.

Jadi, berpikir dan bertindaklah obyektif, bukan subyektif (Like dan Dislike) agar kinerja team anda menjadi semakin spektakuler.

Ps:
Dalam perhitungan pendapatan, bukan nominalnya yang diperhatikan, tetapi berapa prosentase laba bersihnya.

Dalam perhitungan kemajuan keuangan organisasi, bukan prosentase laba bersih yang diperhatikan, tetapi berapa prosentasi yang benar-benar dapat “ditabung”. (SPP)

Kepemimpinan dari samping.

Selama ini, kebanyakan Pemimpin didalam organisasi, buku-buku Kepemimpinan atau artikel-artikel Kepemimpinan yang ada selalu membahas bagaimana konsep Kepemimpinan dari bawah (push) dan bukan dari atas (pull). Nah saya sudah mencoba mempraktekkan gaya Kepemimpinan yang menurut saya tidak lumrah, yaitu Kepemimpinan dari samping (together).Untuk dapat memimpin dari samping seperti yang saya maksud, seorang Pemimpin harus mempraktekkan / membiasakan hal-hal berikut ini :

1. Berperilaku / behavior yang baik seperti yang diutarakan oleh saudara Minun dalam komentarnya di sini (komentar no 8).
2. Membuang jauh-jauh gengsi Kepemimpinan anda, rasa hebat, paling berpengalaman, senioritas dan ‘penyakit Kepemimpinan lainnya yang sejenis’.
3. Menumbuhkan rasa kebersamaan yang tinggi.
4. Meyakinkan follower bahwa anda dan follower anda seolah-olah senasib seperjuangan dalam organisasi. Anda dapat melakukan hal ini dengan ‘sering curhat’ tentang kesulitan anda dalam Kepemimpinan. Tentunya, curhat yang saya maksud harus sudah anda filter sedemikian rupa sebelumnya, sehingga layak untuk dikonsumsi follower anda.

Khususnya no 4, jika anda berhasil melakukan hal tersebut dengan baik, maka niscaya, rasa setia kawan, loyalitas follower anda kepada organisasi atau kepada anda sebagai Pemimpin mereka tentu akan melonjak tajam dan tentu saja efek kepada organisasi akan semakin … wow … spektakuler ….

Loyalitas inilah yang saya maksudkan dengan kata ‘together’ diatas. Karena bersama-sama, anda akan dapat memajukan organisasi dengan cepat dan benar :D

Kesimpulan nya:

* Jadi, jangan hanya memimpin dari bawah (mendorong follower agar semakin maju), karena anda akan capek kalau terus-terusan harus memotivasi + mendorong agar mereka maju.
* Juga jangan hanya memimpin dari atas (menarik follower anda agar menunjukkan kinerja baik), karena anda akan capek kalau terus-terusan harus memberi tahu mereka tentang bagaimana bekerja dengan baik dan waktu anda akan terbuang percuma.
* Coba lah untuk melakukan Kepemimpinan dari samping (from side), karena jika follower anda sudah merasa senasib seperjuangan dengan anda, niscaya loyalitas / rasa setia kawan mereka tidak lagi perlu diragukan.

Selamat mencoba dan sukses buat kita semua. Salam. (SPP)

Penyakit-penyakit berbahaya yang dapat / sering menjangkiti para pemimpin handal

Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, “Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail.” (Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan.

Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal).

Pembaca, itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa. Khusus pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal manusianya.

Orang sukses lalu bersombong ria sebenarnya patut disayangkan. Bayangkan saja, saat berjuang keras menggapai kesuksesan, mereka begitu terbuka untuk belajar. Mereka mau mendengarkan. Mereka mau berjerih payah, berani hidup susah, dan mengorbankan diri. Bahkan, mereka tampak sangat ‘merakyat’ hidupnya. Akan tetapi, itu dulu.

Sayang sekali, saat kesuksesan datang, mereka lupa diri. Mungkin dia akan berkata, “Saya sudah berhasil mencapai yang terbaik. Sekarang, Andalah yang harus mendengarkan saya. Saya tidak perlu lagi mendengarkan Anda.”

Hal itu diperparah lagi ketika mereka dikelilingi oleh para ‘yes man’ yang tidak berani angkat bicara soal kekurangan orang ini. Hal ini membuat orang itu semakin ‘megalomania’ , pongah, angkuh, dan egois. Ia terbelenggu oleh kesuksesannya sendiri. Ia tidak pernah belajar lagi.

Saya teringat dengan seorang klien saya. Sebagai seorang pebisnis, dia menceritakan susah payahnya membangun bisnisnya. Cerita yang mengharukan sekaligus heroik ketika dia harus tidur di kolong jembatan saat tiba di Jakarta ketika remaja. Dengan susah payah dia merangkak dari bawah untuk bertahan hidup. Menikah tanpa uang sepeser pun. Hidup di rumah kontrakan kecil. Akan tetapi, dia tidak patah arang. Dia mengamati cara kerja orang sukses, mencontoh, dan memodifikasi sendiri produknya. Sekarang, dia pun berjaya. Tiga pabrik besar ada di genggamannya.

Namun, sayang sekali. Perusahan itu sedang diterpa badai masalah internal. Pemicunya tak lain adalah sikap pemimpin yang arogan. Dia otoriter dan antikritik. “Kalau saya bisa, kalian juga harus bisa,” katanya pongah. Dia pun menolak ide-ide baru. Dia mengelola perusahaan dengan serampangan. Turn over karyawan pun tinggi. Sisanya hanya kelompok para ‘penjilat’ yang tidak berani melawan. Dia menginginkan anak buahnya di-training. Padahal, dia sendiri yang perlu up date diri dengan training.

Arogansi bisa menghampiri siapa saja. Termasuk seorang pendidik, guru, dosen, yang tiap hari memberi suatu bagi orang lain. Saat menjalani kursus panjang di Inggris, saya pernah mendengar kisah tentang seorang trainer yang begitu arogan. Dia sempat membuat banyak orang berdecak kagum. Buku-buku best seller pun lahir di tangannya. Akan tetapi, arogansi membuatnya ‘dibuang’ dari komunitas di negaranya. Celakanya, sang trainer menyalahkan para rekannya. Dia pun dikelilingi oleh mereka yang selalu berkata ‘ya’ padanya.

Dari situ, kita belajar banyak untuk hati-hati. Kesuksesan jangan membuat kita arogan dan cenderung self centered serta tidak mau mendengarkan orang lain. Dunia begitu mengenal sosok Mao, Hitler, ataupun Stalin. Mereka berjuang dari basis bawah menuju pucuk kepemimpinan. Mereka pun berjuang untuk perubahan di masyarakatnya. Idealisme mereka sangat luar biasa. Orang pun dibuatnya kagum. Namun, mereka lupa daratan ketika sukses. Mereka memonopoli kebenaran tunggal alias antikritik dan antipembaruan. Mereka memimpin dengan tangan besi. Korban pun bergelimpangan dari tangannya. Begitu juga dalam sejarah bisnis. IBM yang begitu besar dan terkenal pernah mengalami kemerosotan saat arogansi membekap sikap dan pikiran para pemimpin mereka.

Sejenak setelah membaca artikel diatas dari milist resonansi, saya langsung teringat dengan salah satu Pemimpin organisasi pendidikan ternama di Surabaya, dimana beliau dikenal cukup handal dalam memimpin karena diriwayatkan memiliki segudang pengalaman di berbagai macam organisasi, lulusan luar negeri yang briliant dengan gelar seabrek.

Pertanyaan retorika nya (tidak perlu jawaban) : Mengapa saya menjadi ingat beliau setelah membaca artikel sukses dan arogansi ? Waspadalah dengan 2 hal diatas (kesuksesan & arogansi) karena hanya orang-orang beriman sajalah yang dapat mendeteksi – mencegah / menghindari penyakit mematikan ini.

Semoga artikel kepemimpinan kali ini dapat menginspirasi anda tentang penyakit berbahaya / mematikan dari seorang Pemimpin Handal (khususnya) atau seorang manusia (umumnya). Dan semoga saya dan anda dapat menemukan kesuksesan yang sejati. (SPP)

Purity (pemurnian) di dalam organisasi

Untuk dapat mengerti arti Purity / pemurnian yang dimaksud pada judul kali ini, coba simak deh cerita berikut ini.

Pada suatu hari, di sebuah desa yang terpencil dan jauh dari keramaian kota terdapat organisasi Karang Taruna (KarTar) “IsoLo” yang cukup terkenal karena kreatifitas dan inovasi yang dari para anggotanya. Tetapi seiring berjalannya waktu, proses regenerasi otomatis terjadi ….. Boleh dikatakan hampir semua anggota termasuk jajaran pengurus KarTar mengalami proses regenerasi.

Proses regenerasi ini akhirnya membawa jimgun seorang pemuda yang tinggal dan besar di kota besar untuk memimpin KarTar IsoLo di desa. Dengan masuknya jimgun di jajaran pengurus, membuat sebagian penduduk desa menjadi optimis terutama sang Kepala Desa. “Semoga KarTar kita ini dapat semakin jaya dan maju”, demikian harapan yang disampaikan Kepala Desa kepada KarTar IsoLo khususnya para pengurus barunya.

Hari berganti hari…. berganti minggu…. berganti bulan….. KarTar IsoLo pun telah melalui berbagai macam kegiatan, yang membuat jimgun mulai mengerti kondisi KarTar IsoLo. Jimgun juga menyadari bahwa ternyata tidak semua anggota nya mempunyai loyalitas yang tinggi kepada KarTar. Ada yang bekerja asal-asalan, kurang profesional, dsb.

Menyadari hal tersebut, Jimgun mulai mengambil sikap untuk “menyingkirkan” orang-orang yang dianggap kurang loyal terhadap organisasi dengan menggunakan jurus kungfu tingkat tinggi dalam dunia kepemimpinan / leadership yaitu Purity / Pemurnian organisasi. Jimgun mulai menerapkan kebijakan yang ketat terhadap anggotanya, menambah beban tanggung jawab, menuntut sesuatu yang lebih dari anggotanya tanpa memberikan upah tambahan, dan lain sebagainya.

Intinya, Jimgun ingin membuat anggota baik yang loyal / kurang loyal merasa tidak nyaman dengan kondisi organisasi saat ini. Seiring berjalannya waktu, akhirnya proses pemurnian ini mulai menampakkan hasilnya. Demo dan protes akan kebijakan pengurus mulai muncul, konflik internal antara pendukung setia pengurus KarTar dan anggota yang tidak mendukung mulai ramai. Pemurnian ini mulai menampakkan hasilnya dengan adanya beberapa anggota KarTar yang mengundurkan diri. Dan hal ini akan terus berlangsung sampai benar-benar didapatkan anggota-anggota yang masih tinggal. Anggota inilah yang “dianggap” masih mempunyai loyalitas tinggi kepada organisasi. Sehingga besar harapan Jimgun untuk bersama anggota loyal memajukan organisasi KarTar IsoLo.

Resiko kecil BESAR juga akan dihadapi bagi Pemimpin yang berani menggunakan jurus ini, seperti :

* Pemimpin akan memulai kembali untuk membangun Organisasi seperti sedia kala karena banyaknya anggota (bisa anggota loyal / kurang loyal) yang mengundurkan diri. Justru jika banyak anggota loyal berubah menjadi kurang loyal dan mengundurkan diri :( …. ini adalah resiko yang harus disesali dihadapi oleh para Pemimpin.
* Ada anggota yang masih berada di dalam organisasi dan memiliki antipati terhadap organisasi tetapi tidak bisa keluar organisasi karena ketidakmampuan atau hal yang lain :( Hal ini seperti duri dalam daging / virus yang dapat menggerogoti organisasi dari dalam. Masih ingat artikel kepemimpinan saya yang membahas mengenai pentingnya memperhatikan masalah internal organisasi.
* Pemimpin menjadi seseorang yang sangat tidak disukai oleh anggota yang tidak loyal.

Jika diatas adalah resiko, maka Keampuhan dahsyat dari Jurus Kungfu Kepemimpinan Purity/Pemurnian adalah :
* Berhasil menyaring anggota-anggota yang tidak loyal.
* Berhasil membuat anggota tidak loyal mengundurkan diri sehingga tidak perlu pesangon.

Tips bagi anda yang mungkin justru sedang terkena jurus ini :
* Introspeksi diri apakah anda termasuk anggota yang loyal / tidak.
* Jika termasuk yang loyal, ya…. ngikut aja apa maunya bos :D .
* Jika termasuk yang tidak loyal, ada beberapa saran dari saya :
o Coba sampaikan pendapat / argumen anda secara baik. Tetapi ingat, seorang pimpinan tidak pernah salah !!! Jadi tidak perlu cara-cara keras !!!
o Mulailah berpikir untuk berpindah organisasi jika mampu.
o Berubahlah menjadi seorang entrepreneur dan menjadi Pimpinan atas diri anda sendiri.
o Atau Tetap di dalam dengan segala konsekuensinya.

Selamat mencoba dan semoga berhasil. (SPP)

soft skill

Tips Kepemimpinan kali ini fokus kepada soft skill dari masing-masing SDM dalam organinsasi. Hati-hati bagi anda yang memiliki rekanan kerja / sahabat / teman / atau apapun posisinya yang memiliki sifat yang menurut anda “kurang baik” meskipun “teman nakal” anda tersebut tidak secara langsung merugikan anda. Untuk memudahkan mengerti tips kali ini, berikut ilustrasinya :

Pada suatu hari, sebuah keputusan dalam organisasi diambil secara tidak adil oleh Pimpinan. Sebut saja si gunawan salah satu anggota organisasi yang menjadi korban pembunuhan dari ketidak adilan putusan tersebut. Di lain pihak, anggota lain sebut saja jimmy merasa “beruntung” karena dia bukan yang menjadi korban.

Percaya tidak percaya, menurut pengalaman dan pengamatan perilaku berorganisasi, jimmy sebagai pihak yang mengganggap dirinya beruntung karena bukan menjadi korban, seharusnya mulai berhati – hati jika mempunyai pimpinan seperti itu. Jika saat ini bukan dia yang menjadi korban, maka suatu saat, pelan tapi pasti dia akan menjadi “korban” berikutnya oleh pimpinan tersebut.

Demikian juga untuk anda para pemimpin yang menjumpai anggota anda berperilaku organisasi yang buruk, segeralah ambil tindakan untuk membunuh perilaku tersebut (mis: dengan memberikan teladan, perspektif2 hidup, dsb) sebelum perilaku tersebut memakan korban-korban lainnya khususnya anda sendiri.

- Di dunia ini - Tidak ada yang abadi - Tidak ada yang sejati - Yang ada hanya kepentingan pribadi - ** jimgun **

Jadi jangan terlalu naif untuk percaya atau membeberkan segala rahasia besar anda / organisasi terhadap siapapun ….. siapapun. Believe me my story is straight, salam. (SPP)

“consignment of responsibility” alias pelimpahan tanggung jawab.

Didalam suatu organisasi, banyak sekali jenis karakter dari anggotanya. Bagaimana jika ternyata salah satu atau beberapa dari anggota organisasi ternyata memiliki tanggung jawab yang super payah dibandingkan yang lain. Padahal tanggung jawab yang dimiliki tiap anggota sangat diperlukan oleh sang Pemimpin untuk mengutak-atik team guna mengencangkan performance team….. berikut adalah tips untuk mengatasi keadaan seperti ini ….

Jika anda seorang Pemimpin yang mengalami hal seperti keadaan diatas, maka tips menjadi pemimpin handal berikut ini sangat tepat anda baca untuk menjadi salah satu referensi anda dalam pengambilan keputusan.

Tips Kepemimpinan kali ini disebut dengan “consignment of responsibility” alias pelimpahan tanggung jawab. Jika anda seorang Pemimpin, justru orang – orang yang anda anggap mempunyai tanggung jawab kurang harus anda perbaiki dengan metode consignment of responsibility.

Berikan dia tanggung jawab yang lebih dari biasanya untuk memastikan kepada dia bahwa anda masih percaya dan berharap banyak darinya. Niscaya dengan langkah pasti dia akan berterima kasih dan akan mengemban tugas sebaik mungkin bahkan akan bekerja yang terbaik dari yang pernah dia lakukan.

Tips ini dapat dilakukan dengan catatan, memang anggota anda tadi “masih dianggap layak” untuk “diperbaiki”, tetapi jika tidak ya… berdayakan dia semaksimal mungkin. Misalnya, jika kecepatan mengetiknya cepat, maka beri dia tugas mengetik seluruh pekerjaan semua rekan satu kantor , ato jika kemampuan “ngecemes / berbicara” nya hebat, tempatkan dia di bagian marketing / customer service atau apalah yang cocok. Intinya berdayakan dia sekuat tenaga dia asal jangan sampai pingsan aja. (SPP)

semoga bermanfaat,

percaya diri

Percaya diri yang cukup untuk seorang Pemimpin akan menjadi modal yang bagus untuk melakukan tindakan kepemimpinan, mis: mengambil keputusan, tegas terhadap apapun, tidak ragu menjalani apapun, manajemen tim, motivasi dan lain sebagainya. Selain itu kepercayaan diri seorang pemimpin akan berimbas sejajar dengan kepercayaan diri dari “anggota organisasi yang dipimpin”, maka tentu saja modal uang “percaya diri” adalah mutlak harus dimiliki oleh seorang Pemimpin Handal.

Jika percaya diri yang cukup adalah modal utama untuk menjadi Pemimpin handal, bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri? Jika pertanyaan anda sama, maka seminar / kursus / workshop / sekolah yang bertemakan kepribadian / percaya diri adalah jawabannya…… karena sesuai dengan tema blog ini, adalah Leadership / kepemimpinan.

Yang pasti adalah, percaya diri atau apapun masalah (khususnya bidang kepemimpinan) yang mungkin anda hadapi, kuncinya terletak di dalam diri anda sendiri bukan orang lain. (SPP)

Mau Belajar dari Bawahan

Lucu juga jika mengingat inspirasi yang saya dapat untuk menulis tips menjadi pemimpin handal 20. Kebetulan waktu itu lagi di salah satu ruang tunggu Rumah Sakit swasta terkenal di Surabaya. Jam dinding ruang tunggu menunjukkan pk 01.30 dini hari. Saat itu ada 2 orang petugas kebersihan yang bergantian bahu membahu membersihkan lantai ruang tunggu dan area di sekitar ruang tunggu. Mereka dengan ramahnya menyapa saya … saya pkir hebat juga ni Rumah Sakit sampai-sampai petugas kebersihan pun tahu betul konsep penjual jasa, yaitu cemberut tersenyum, galak ramah, picik tulus tidak dibuat-buat.

Tidak lama setelah mengalami keramahan sang customer service sejati tersebut, lewat seorang suster perawat dengan langkah pasti dan tegas …. waktu melewati petugas kebersihan tadi, suster perawat tersebut menanyakan beberapa hal kepada mereka lalu berjalan lagi menuju ruangan yang melewati depan ruang tamu.

Karena suasana mencekam sepi dan tidak ada orang lain selain saya di ruang tamu, tentu saja suster perawat tadi melihat saya dan terus berbelok memasuki ruangan yang dituju. Kehendak hati ingin menyapa, tapi melihat tatapan matanya yang dingin, disiplin dan tegas apalagi kita hanya bertatap muka 1 detik aja membuat saya sungkan untuk menyapa.

Perasaan ingin tahu benar-benar menggelitik saya waktu itu, segera saja saya beranjak dari tempat duduk dan berjalan kearah petugas kebersihan yang dari tadi masih asyik dengan pekerjaannya.

Pertanyaan saya cuma 1 kepada para petugas kebersihan tersebut. “Apakah yang baru saja lewat tadi itu KEPALA / PEMIMPIN PERAWAT di Rumah Sakit ini?”, mereka serempak menjawab ramah “iya, betul pak.”

Jika anda bertanya-tanya mengapa saya bertanya demikian…. ini jawabannya, ternyata tepat sekali dugaan saya kalau yang lewat tadi adalah seorang Pemimpin. Yang saya soroti disini bukan masalah tegas, disiplin yang ditunjukkan oleh sorotan mata Suster Perawat tadi melainkan bagaimana dia mempraktekkan Customer Service seperti yang ditunjukkan dengan baik oleh para petugas kebersihan.

Mudah-mudahan Suster Perawat tersebut membaca tulisan mengenai Gengsi Kepemimpinan dan belajar dari bawahannya (baca: petugas kebersihan).

Semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi kepemimpinan anda… (SPP)

kepemimpinan untuk mengatasi kegagalan.

Kegagalan adalah salah satu kata favorit yang sering sekali muncul dan “menghajar” hampir setiap orang secara pribadi maupun perannya di dalam organisasi. Kegagalan begitu menyakitkan … itulah dasar mengapa kata ini menjadi momok tersendiri yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang tidak peduli seberapa tinggi ilmu kungfunya.

Bagaimana cara mengatasi hal tersebut ….. disinilah peran seorang pemimpin yang sejati. Sebagai seorang pimpinan pemimpin, anda harus menguasai ilmu hipnotis sosial yang berintikan “how to influence people“. Obat dari kegagalan adalah pikiran anda tentang kegagalan itu sendiri.Coba perhatikan petikan kalimat berikut :

" Kegagalan yang membuat anda siap untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, siap untuk menghindari kegagalan yang sama, mempunyai sikap kuat untuk berhasil, dan seterusnya adalah sebuah keberhasilan ".

Disinilah dibutuhkan peran seorang pemimpin untuk terus menerus secara continue, menanamkan pesan moral yang positif kepada alam bawah sadar dari masing – masing rekan bawahannya baik melalui pembinaan, pelatihan, rekreasi atau apapun bentuknya.

Mengapa terus menerus dan mengapa alam bawah sadar?

Alam bawah sadar adalah “monster besar” yang ada pada tiap manusia dan mendominasi alam sadar manusia. Sebagai contohnya, pernahkah anda :

1. mengalami salah jalan menuju ke suatu tempat hanya gara-gara terbiasa lewat jalan tersebut waktu berangkat ke kantor? Atau
2. pernahkah anda masih saja tetap menekan saklar lampu kamar mandi meskipun sadar bahwa listrik sedang padam?

Jika pernah, berarti anda manusia normal: sadarilah bahwa alam bawah sadar anda benar- benar mempunyai pengaruh kuat untuk alam sadar. Jadi sering-seringlah berpikir positif dan berdoa, karena pikiran positif dan doa dapat mengubah segalanya. (SPP)

KATA-KATA BIJAK

Jika kita yakin kita akan menang, majulah perang. Jika kita tidak yakin, mundurlah dulu untuk menyusun kekuatan agar kita yakin bisa menang.
Pepatah dari negeri Cina

Kebesaran seseorang tidak terlihat ketika ia berdiri dan memberi perintah, tetapi ketika ia berdiri sama tinggi dengan orang lain dan membantu orang lain untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka guna mencapai sukses.
G. Arthur Keough, Pendidik

Tindakan Anda memiliki kekuatan yang lebih dahsyat untuk mempengaruhi orang lain dari pada perkataan Anda.
Oliver Goldsmith, penyair