Talent Management
Talent management atau manajemen bakat adalah suatu proses manajemen SDM terkait tiga proses. Pertama, mengembangkan dan memperkuat karyawan baru pada proses pertama kali masuk perusahaan (onboarding). Kedua, memelihara dan mengembangkan pegawai yang sudah ada di perusahaan. Ketiga, menarik sebanyak mungkn pegawai yang memiliki kompetensi, komitmen dan karakter bekerja pada perusahaan.
Istilah talent management pertama kali diperkenalkan oleh McKinsey & Company following melalui slah satu studi yang dilakukannya tahun 1997. Pada tahun berikutnya, talent management kemudian menjnadi salah satu judul buku yang ditulis bersama oleh Ed Michaels, Helen Handfield-Jones, dan Beth Axelrod.
Perusahaan-perusahaan yang menggunakan talent management sebagai salah satu strategi pengelolaan sumber daya manusia berusaha seoptimal mungkin mengaitkan proser pencarian, pemikatan, pemilihan, pelatihan, pengembangan, pemeliharaan, promosi, dan pemindahan pegawai agar terkait dengan bisnis utama perusahaan.
Paradigma yang terkandung dibalik talent management adalah “perusahaan bersaing di level individual”. Bila kita berhasil mendapatkan individu-inidividu yang secara rata-rata lebih baik dari pemain lainnya, maka kita akan mendapatkan perusahaan yang akan lebih baik dari pemain lainnya.
Istilah talent management dapat berbeda-beda bagi setiap orang. Persepsi pertama, bagi sebagian pihak, semua orang dianggap memiliki talent, sehingga kita harus mengidentifikasi dan mengembangkan semua talent tersebut. Persepsi kedua, hanya sebagian kecil pegawai yang dapat disebut memiliki talent, sehingga kita hanya perlu mengidentifikasi sebagian kecil pegawai yang memiliki talent tersebut dan mengembangkannya.
Kedua aliran dalam talent management ini ada dalam praktek industri. Dalam praktek manajemen SDM berbasis kompetensi, kedua praktek ini mendapat tempatnya maisng-masing. Ini disebabkan dalam penentuan kompetensi, perusahaan dapat membuat kompetensi yang berlaku generik untuk semua pegawai, kompetensi yang berlaku sesuai dengan peran dan tanggung jawab pegawai di level struktural dan fungsinya, atau bahkan kompetensi fungsional yang benar-benar terkait dengan kompetensi inti perusahaan. (SPP)
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Bakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Bakat. Tampilkan semua postingan
Minggu, 13 Juni 2010
Mencari Bakat Diri
Dalam setiap bidang, orang selalu mengkaitkan keahlian seseorang dengan bakat. Jika orang mampu melakukan sesuatu hal dengan sangat baik, maka orang akan berpendapat bahwa yang bersangkutan memang berbakat dalam bidang tersebut. Sedangkan jika orang tidak mampu menunjukkan kualitas karyanya, maka orang akan berpendapat bahwa yang bersangkutan tidak mempunyai bakat. Pandangan inipun kerap diterapkan untuk diri sendiri.
Ketika kita mampu mengerjakan berbagai soal matematika dengan baik, kita cenderung berpendapat bahwa kita berbakat di bidang matematika. Namun ketika kita tidak mampu menulis dengan baik, kita pun pasrah bahwa kita memang tidak berbakat untuk menulis. Benarkah pendapat seperti ini?
Soal bakat sampai sekarang masih menjadi suatu misteri yang diperdebatkan banyak orang. Sebagian orang berpendapat bahwa orang tidak seharusnya tergantung pada bakat. Ungkapan Edison yang legendaris, yakni “Untuk berhasil orang hanya membutuhkan 10% bakat, dan 90% kerja keras atau usaha” memperkuat argumen ini. Namun di pihak lain, tidak sedikit orang yang percaya bahwa bakat sangatlah dominan menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam suatu bidang.
Mereka berpendapat bahwa bakatlah yang memampukan mereka mengerjakan sesuatu dengan lebih baik daripada rata-rata orang. Menurut mereka setiap orang mempunyai bakatnya masing-masing. Pendapat ini diperkuat oleh Howard Gardner dengan teori Kecerdasan Majemuk yang dicetuskannya. Nah, mana yang benar?
Sejujurnya saya sendiri juga tidak tahu mana yang benar. Namun dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman saya yang berkaitan dengan bakat dalam bidang menulis.
Sekitar tahun 1980-an saya membeli buku karya Arswendo Atmowiloto yang berjudul Mengarang Itu Gampang. Buku tersebut merupakan buku tentang menulis yang pertama kali saya baca dan pelajari. Arswemdo berpendapat bahwa menulis itu gampang karena bisa dipelajari (lihat Arswendo, halaman Prakata).
Kini, setelah dua puluh tahun lebih belajar menulis, ternyata saya belum benar-benar bisa menulis dengan baik. Selama kurun lebih dari dua dasawarsa saya telah mempelajari ratusan buku tentang menulis. Namun saya belum juga mampu menghasilkan banyak karya tulis yang dipublikasikan. Memang saya sering mengirim tulisan-tulisan ke berbagai media massa dan pernah juga mengirim naskah buku ke penerbit. Akan tetapi sampai sekarang tidak banyak artikel saya yang dimuat di majalah atau koran. Apakah ini berarti saya tidak mempunyai bakat menulis?
Bakat berarti kemampuan dasar atau kemampuan bawaan sejak lahir. Artinya orang yang memiliki bakat tertentu sebenarnya ia telah mempunyai kemampuan tersebut sejak lahir. Bakat membuat orang mampu mengerjakan sesuatu kegiatan lebih gampang dengan hasil yang lebih baik daripada orang lain yang tidak mempunyai bakat. Bakat juga membuat orang lebih cepat mempelajari atau menguasai suatu keterampilan. Jika memang demikian pengertian bakat, jelas saya tidak mempunyai bakat menulis.
Arswendo berpendapat bahwa yang disebut bakat itu mempunyai minat terus-menerus yang tak mudah patah(lihat Arswendo halaman Prakata). Jika ini yang disebut bakat, saya merasa mempunyai bakat menulis. Sampai sekarang minat saya untuk menulis tetap terjaga dengan baik meski menghadapi banyak rintangan. Sementara itu ada orang yang mampu menulis lebih baik daripada saya tetapi tidak berminat menjadi penulis.
Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan Arswendo. Kenyataannya minat dan bakat adalah dua hal yang berbeda. Ada orang yang berbakat tetapi tidak berminat. Ada juga orang yang berminat tetapi kurang berbakat. Kondisi yang terakhir ini lebih sering membuahkan hasil daripada kondisi yang pertama. Tentu saja yang ideal adalah mempunyai bakat dan sekaligus berminat.
Sebenarnya bakat itu sendiri bersifat relatif. Maksud saya, jarang sekali ada orang yang benar-benar mempunyai bakat yang lengkap dalam suatu bidang. Misalkan seseorang yang berbakat dalam bidang matematika, padahal dalam matematika sendiri ada statistika, aljabar, aritmetika, kalkulus, dan sebagainya. Bisa jadi seseorang mempunyai bakat di bidang statistika lebih besar daripada aljabar. Demikian juga dalam bidang menulis, ada fiksi dan non fiksi. Baik fiksi dan non fiksi masih banyak lagi ragamnya. Jadi rasanya jarang sekali kalau tidak boleh dikatakan tidak ada orang yang memiliki bakat yang lengkap dalam satu bidang. Sebaliknya saya juga percaya, jarang sekali orang sama sekali tidak memiliki bakat dalam suatu bidang, hanya mungkin yang bersangkutan kurang berminat menekuninya.
Saya kira tidaklah bijaksana membiarkan minat yang menentukan apakah kita akan belajar sesuatu atau tidak. Jika kita memang berminat terhadap sesuatu hal misalnya menulis, dengan minat yang terus-menerus seperti tulis Arswendo, suatu saat kita juga bisa menulis dengan baik. Masih banyak sekali hal yang menentukan kita berhasil menguasai suatu keterampilan atau tidak. Cara kita mempelajari sesuatu juga sangat menentukan, bukan? Kini para ahli pendidikan mengembangkan cara belajar yang lebih efektif. Nah, jika kita merasa kurang berbakat dalam suatu bidang, tentu akan lebih tertolong jika kita mempunyai minat dan cara belajar yang benar.
Penulis:
Peng Kheng Sun (SPP)
Ketika kita mampu mengerjakan berbagai soal matematika dengan baik, kita cenderung berpendapat bahwa kita berbakat di bidang matematika. Namun ketika kita tidak mampu menulis dengan baik, kita pun pasrah bahwa kita memang tidak berbakat untuk menulis. Benarkah pendapat seperti ini?
Soal bakat sampai sekarang masih menjadi suatu misteri yang diperdebatkan banyak orang. Sebagian orang berpendapat bahwa orang tidak seharusnya tergantung pada bakat. Ungkapan Edison yang legendaris, yakni “Untuk berhasil orang hanya membutuhkan 10% bakat, dan 90% kerja keras atau usaha” memperkuat argumen ini. Namun di pihak lain, tidak sedikit orang yang percaya bahwa bakat sangatlah dominan menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam suatu bidang.
Mereka berpendapat bahwa bakatlah yang memampukan mereka mengerjakan sesuatu dengan lebih baik daripada rata-rata orang. Menurut mereka setiap orang mempunyai bakatnya masing-masing. Pendapat ini diperkuat oleh Howard Gardner dengan teori Kecerdasan Majemuk yang dicetuskannya. Nah, mana yang benar?
Sejujurnya saya sendiri juga tidak tahu mana yang benar. Namun dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman saya yang berkaitan dengan bakat dalam bidang menulis.
Sekitar tahun 1980-an saya membeli buku karya Arswendo Atmowiloto yang berjudul Mengarang Itu Gampang. Buku tersebut merupakan buku tentang menulis yang pertama kali saya baca dan pelajari. Arswemdo berpendapat bahwa menulis itu gampang karena bisa dipelajari (lihat Arswendo, halaman Prakata).
Kini, setelah dua puluh tahun lebih belajar menulis, ternyata saya belum benar-benar bisa menulis dengan baik. Selama kurun lebih dari dua dasawarsa saya telah mempelajari ratusan buku tentang menulis. Namun saya belum juga mampu menghasilkan banyak karya tulis yang dipublikasikan. Memang saya sering mengirim tulisan-tulisan ke berbagai media massa dan pernah juga mengirim naskah buku ke penerbit. Akan tetapi sampai sekarang tidak banyak artikel saya yang dimuat di majalah atau koran. Apakah ini berarti saya tidak mempunyai bakat menulis?
Bakat berarti kemampuan dasar atau kemampuan bawaan sejak lahir. Artinya orang yang memiliki bakat tertentu sebenarnya ia telah mempunyai kemampuan tersebut sejak lahir. Bakat membuat orang mampu mengerjakan sesuatu kegiatan lebih gampang dengan hasil yang lebih baik daripada orang lain yang tidak mempunyai bakat. Bakat juga membuat orang lebih cepat mempelajari atau menguasai suatu keterampilan. Jika memang demikian pengertian bakat, jelas saya tidak mempunyai bakat menulis.
Arswendo berpendapat bahwa yang disebut bakat itu mempunyai minat terus-menerus yang tak mudah patah(lihat Arswendo halaman Prakata). Jika ini yang disebut bakat, saya merasa mempunyai bakat menulis. Sampai sekarang minat saya untuk menulis tetap terjaga dengan baik meski menghadapi banyak rintangan. Sementara itu ada orang yang mampu menulis lebih baik daripada saya tetapi tidak berminat menjadi penulis.
Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan Arswendo. Kenyataannya minat dan bakat adalah dua hal yang berbeda. Ada orang yang berbakat tetapi tidak berminat. Ada juga orang yang berminat tetapi kurang berbakat. Kondisi yang terakhir ini lebih sering membuahkan hasil daripada kondisi yang pertama. Tentu saja yang ideal adalah mempunyai bakat dan sekaligus berminat.
Sebenarnya bakat itu sendiri bersifat relatif. Maksud saya, jarang sekali ada orang yang benar-benar mempunyai bakat yang lengkap dalam suatu bidang. Misalkan seseorang yang berbakat dalam bidang matematika, padahal dalam matematika sendiri ada statistika, aljabar, aritmetika, kalkulus, dan sebagainya. Bisa jadi seseorang mempunyai bakat di bidang statistika lebih besar daripada aljabar. Demikian juga dalam bidang menulis, ada fiksi dan non fiksi. Baik fiksi dan non fiksi masih banyak lagi ragamnya. Jadi rasanya jarang sekali kalau tidak boleh dikatakan tidak ada orang yang memiliki bakat yang lengkap dalam satu bidang. Sebaliknya saya juga percaya, jarang sekali orang sama sekali tidak memiliki bakat dalam suatu bidang, hanya mungkin yang bersangkutan kurang berminat menekuninya.
Saya kira tidaklah bijaksana membiarkan minat yang menentukan apakah kita akan belajar sesuatu atau tidak. Jika kita memang berminat terhadap sesuatu hal misalnya menulis, dengan minat yang terus-menerus seperti tulis Arswendo, suatu saat kita juga bisa menulis dengan baik. Masih banyak sekali hal yang menentukan kita berhasil menguasai suatu keterampilan atau tidak. Cara kita mempelajari sesuatu juga sangat menentukan, bukan? Kini para ahli pendidikan mengembangkan cara belajar yang lebih efektif. Nah, jika kita merasa kurang berbakat dalam suatu bidang, tentu akan lebih tertolong jika kita mempunyai minat dan cara belajar yang benar.
Penulis:
Peng Kheng Sun (SPP)
Bagaimana mengenali bakat diri?
Setiap orang adalah individu yang unik. Setiap orang juga bertanggung jawab atas dirinya sendiri untuk menemukan misi hidupnya masing-masing. Agar kita bisa berkontribusi maksimal, tentunya akan sangat baik bila kita bekerja di bidang yang paling sesuai dengan keunikan kita. Ibaratnya bisa menjadi ikan dalam air, atau burung di udara.
Mengenali bakat merupakan hal yang gampang-gampang susah. Kenalkah Anda dengan JK Rowling? Itu loh, penulis Harry Potter yang buku terakhirnya terjual 8.9 juta hanya dalam waktu semalam di Amerika dan Inggris saja. Semula dia kerja sebagai pelayan toko. Hidupnya susah karena pendapatan yang pas-pasan. Tak disangka dia ternyata berbakat mendongeng. Setiap malam dia mendongeng kepada anaknya, yang kemudian oleh anaknya diceritakan kembali kepada teman-temannya. Tak disangka, dari sanalah muncul motivasi menulis buku fiksi Harry Potter yang ternyata sukses luar biasa di pasaran.
Bagaimana kita bisa mengenali bakat kita sendiri?
Berikut ini empat hal yang bisa dijadikan dugaan awal terhadap apa bakat kita, yaitu : reaksi spontan, tanda masa kecil, cepat belajar, dan kepuasan.
Reaksi spontan
Langkah pertama mengenali bakat adalah memperhatikan reaksi spontan kita terhadap situasi yang muncul. MIsalnya Anda sedang berjalan-jalan di keramaian. Tiba-tiba ada teriakan keras, “Copeet…!” Apa reaksi Anda? Lari mengejar copet? Menghibur korban? Berdiri mematung menganalisa situasi? Bertanya-tanya ke beberapa orang, membuat konfirmasi atas kejadian sebenarnya? Semua itu adalah pilihan yang mungkin diambil. Manakah pilihan spontan Anda? Kalau Anda langsung bertindak, berarti Anda orang yang praktis dan desisif (membuat keputusan cepat). Pada satu situasi yang mendesak bakat mental seperti ini sangat berguna, karena Anda segera bertindak. Pada situasi yang lain, bakat ini justru merugikan, misalnya karena tidak melakukan konfirmasi maka bisa terjebak pada kesalahan penilaian. Bukankah bisa saja yang teriak “copeet..” itu ternyata adalah temannya si copet yang mengalihkan perhatian? Bisa saja ada orang lain yang kemudian menjadi salah sasaran Anda gebukin padahal dialah korban copet yang sesungguhnya.
Yang penting adalah, mengenali reaksi spontan kita. Apakah kita orang praktis? Apakah kita orang analitis? Apakah kita orang yang waspada (sehingga melakukan konfirmasi lebih dahulu)?
Contoh lain, misalnya Anda diajak datang ke sebuah pesta. Apakah Anda akan langsung berbaur dan mengobrol dengan orang lain, bahkan dengan orang yang baru Anda kenal? Ataukah Anda mengambil segelas minuman, lalu berdiri di pojok mengamati orang-orang lain? Atau Anda sibuk dengan ponsel Anda sendiri kirim-kirim SMS ke orang lain dan tidak peduli dengan pesta? Hal ini menunjukkan apakah pribadi Anda introvert (cenderung ke dalam) atau extrovert (cenderung ke luar).
Semua reaksi spontan Anda menunjukkan bakat mental yang sering disebut kepribadian.
Tanda masa kecil
Tanda masa kecil (yearnings) menunjukkan apa bakat natural Anda. Von Neumann, lahir di Hungaria tahun 1903, adalah perumus dasar-dasar komputer. Pada usia 6 tahun telah mampu menghitung pembagian 8 angka hanya di kepala. Pada usia 8 tahun dia sudah belajar kalkulus. Dia juga punya ingatan fotografik, cukup membaca sekilas buku telepon, dia bisa mengingatnya kembali dengan persis. Von Neumann menjadi peletak dasar-dasar komputer. Dia juga arsitek yang merancang bom atom Fat man, yang dijatuhkan di Nagasaki oleh tentara sekutu.
Anna Mary Robertson Moses lahir di pertanian dekat New York. Sejak kecil dia senang mencampur warna, dan membuat sketsa indah dari berbagai buah-buahan. Namun kehidupan pertanian membuatnya tak lagi melukis hingga 40 tahun lamanya. Pada usia 78 tahun barulah dia memiliki waktunya untuk melukis. Selama 23 tahun kemudian hingga saat kematiannya, Moses melukis ribuan karya, dan kemudian terkenal sebagai artis lukis Grandma Moses.
Apa ciri bakat kita saat masa kecil? Pada bidang apa karya Anda masa kecil diakui oleh lingkungan?
Cepat belajar
Cepat belajar (rapid learning/ fast learning) merupakan tanda bahwa Anda berbakat pada bidang tersebut. Terkadang kita sendiri tidak tahu, sampai suatu ketika mendapat kesempatan mempelajari hal baru, dan… blam! rasanya begitu mudah menguasainya.
Henri Matisse tidak pernah menyentuh kuas hingga usia 21 tahun. Pekerjaan sehari-hari adalah klerk seorang pengacara. Sampai suatu ketika dia sakit flu berat, sehingga harus istirahat di tempat tidur. Ibunya berusaha mencarikan kegiatan pengisi waktu. Saat itulah ibunya memberikan seperangkat kuas dan cat. Empat tahun berikutnya dia diterima sebagai mahasiswa berbakat di sekolah seni Paris.
JK Rowling, penulis Harry Potter, juga tidak menyadari punya bakat mendongeng hingga teman-teman anaknya menyatakan begitu menariknya kisah Harry Potter. Kini dia wanita kedua terkaya di Inggris, kalah hanya oleh Ratu Elizabeth.
Jim Clark, seorang dosen yang jenius namun hidupnya kacau balau hingga 2 kali perkawinannya hancur. Lulus SMA dia melamar sebagai tentara Navy. Prestasinya sebagai kelasi begitu buruk sehingga sering dibilang bodoh oleh para atasannya. Sampai suatu ketika salah seorang instrukturnya bilang sebaiknya dia kuliah saja, karena tampaknya dia punya bakat matematika. Dan benar, dia meraih PhD di Computer Science! Setelah itu dia menjadi dosen. namun kebiasaan buruknya yang sering mengabaikan keluarga membuatnya bercerai. Tahun 1978 dia juga dipecat dari New York Institute of technology karena membangkang. Tak dijelaskan bagaimana, dia bergabung ke Stanford University. Pada usia 38 tahun, Clark yang menderita depresi berat, tiba-tiba menemukan pencerahan. Ternyata kehidupan kacaunya itu dikarenakan dia terlalu kreatif sehingga selalu mencari hal baru. Clark terlalu banyak ide. Sejak itu dia mendirikan perusahaan bernilai milyaran dolar, mulai dari Silicon Graphic Inc. (SGI), Netscape (pembuat browser internet), hingga Healtheon (perusahaan medical di internet) yang semuanya sukses besar jual saham dalam IPO. Bakat Jim Clark adalah ide dan visinya.
Tentunya Anda juga ingat dengan Kolonel Sanders. Dia memulai bisnis ayam goreng di usia 66 tahun. Ternyata bisnis restoran adalah hal yang menarik dan mudah dia pelajari.
Kalau ada bidang yang Anda begitu cepat menguasainya, mungkin di situlah bakat Anda.
Kepuasan
Ciri-ciri kita berada di jalur yang benar adalah kalau kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan. Orang-orang yang sukses di berbagai bidang menunjukkan kepuasan terhadap pekerjaan mereka, baik pekerjaan itu menghasilkan banyak uang maupun tidak. Kalau Anda senang melihat orang lain tumbuh karena bimbingan kita, maka Anda berbakat menajdi pembina/pendidik. Kalau Anda puas dengan menciptakan hal baru, yang unik dan beda, mungkin Anda berbakat menjadi kreator. Kalau Anda puas bisa traveling ke berbagai penjuru dunia, mungkin Anda berbakat menjadi explorer, seperti Marco Polo dan Ibnu Batutah.
Seringkali yang membuat puas bukanlah sesuatu yang tampak secara fisik. Anda mungkin dosen, yang kadang suka kadang tidak dengan pekerjaan Anda. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata Anda malas mengajar, tapi selalu tertarik dengan berita-berita riset terbaru. Jadi sebenarnya bakat Anda ada di riset, jadi bisa berada dimana saja, misalnya bergabung dengan grup riset di perusahaan besar. Seingat saya, Bondan Winarno adalah seorang pegawai maskapai penerbangan (atau di sekitar itu) yang melakukan banyak perjalanan ke luar negeri. Namun dia lebih dikenal sebagai kolumnis di majalah, yang menceritakan banyak pengalamannya saat pergi ke berbagai negara. Ternyata hobi dia yang lain adalah makanan (kuliner), bukan sebagai pembuat tapi sebagai penikmat makanan. Sekarang dia mengasuh rubrik kuliner di salah satu stasiun TV. Mungkin dia memang berbakat menjadi seorang explorer.
Apa saja yang membuat Anda puas?
Apapun kondisi dan pekerjaan Anda sekarang, tidak ada salahnya untuk terus mencari bakat terbaik kita. Kadang memang kita sendiri, entah kenapa, tidak peka dengan panggilan bakat kita. Tugas kita menemukannya, sampai kapanpun itu akan ditemukan. Seperti kata bijak dari timur, ” Setiap diri kita ini mempunyai misi, tugas kita adalah menemukan dan menjalaninya.”
Disarikan dari buku Now, Discover Your Strengths karya Marcus Buckingham. (SPP)
Mengenali bakat merupakan hal yang gampang-gampang susah. Kenalkah Anda dengan JK Rowling? Itu loh, penulis Harry Potter yang buku terakhirnya terjual 8.9 juta hanya dalam waktu semalam di Amerika dan Inggris saja. Semula dia kerja sebagai pelayan toko. Hidupnya susah karena pendapatan yang pas-pasan. Tak disangka dia ternyata berbakat mendongeng. Setiap malam dia mendongeng kepada anaknya, yang kemudian oleh anaknya diceritakan kembali kepada teman-temannya. Tak disangka, dari sanalah muncul motivasi menulis buku fiksi Harry Potter yang ternyata sukses luar biasa di pasaran.
Bagaimana kita bisa mengenali bakat kita sendiri?
Berikut ini empat hal yang bisa dijadikan dugaan awal terhadap apa bakat kita, yaitu : reaksi spontan, tanda masa kecil, cepat belajar, dan kepuasan.
Reaksi spontan
Langkah pertama mengenali bakat adalah memperhatikan reaksi spontan kita terhadap situasi yang muncul. MIsalnya Anda sedang berjalan-jalan di keramaian. Tiba-tiba ada teriakan keras, “Copeet…!” Apa reaksi Anda? Lari mengejar copet? Menghibur korban? Berdiri mematung menganalisa situasi? Bertanya-tanya ke beberapa orang, membuat konfirmasi atas kejadian sebenarnya? Semua itu adalah pilihan yang mungkin diambil. Manakah pilihan spontan Anda? Kalau Anda langsung bertindak, berarti Anda orang yang praktis dan desisif (membuat keputusan cepat). Pada satu situasi yang mendesak bakat mental seperti ini sangat berguna, karena Anda segera bertindak. Pada situasi yang lain, bakat ini justru merugikan, misalnya karena tidak melakukan konfirmasi maka bisa terjebak pada kesalahan penilaian. Bukankah bisa saja yang teriak “copeet..” itu ternyata adalah temannya si copet yang mengalihkan perhatian? Bisa saja ada orang lain yang kemudian menjadi salah sasaran Anda gebukin padahal dialah korban copet yang sesungguhnya.
Yang penting adalah, mengenali reaksi spontan kita. Apakah kita orang praktis? Apakah kita orang analitis? Apakah kita orang yang waspada (sehingga melakukan konfirmasi lebih dahulu)?
Contoh lain, misalnya Anda diajak datang ke sebuah pesta. Apakah Anda akan langsung berbaur dan mengobrol dengan orang lain, bahkan dengan orang yang baru Anda kenal? Ataukah Anda mengambil segelas minuman, lalu berdiri di pojok mengamati orang-orang lain? Atau Anda sibuk dengan ponsel Anda sendiri kirim-kirim SMS ke orang lain dan tidak peduli dengan pesta? Hal ini menunjukkan apakah pribadi Anda introvert (cenderung ke dalam) atau extrovert (cenderung ke luar).
Semua reaksi spontan Anda menunjukkan bakat mental yang sering disebut kepribadian.
Tanda masa kecil
Tanda masa kecil (yearnings) menunjukkan apa bakat natural Anda. Von Neumann, lahir di Hungaria tahun 1903, adalah perumus dasar-dasar komputer. Pada usia 6 tahun telah mampu menghitung pembagian 8 angka hanya di kepala. Pada usia 8 tahun dia sudah belajar kalkulus. Dia juga punya ingatan fotografik, cukup membaca sekilas buku telepon, dia bisa mengingatnya kembali dengan persis. Von Neumann menjadi peletak dasar-dasar komputer. Dia juga arsitek yang merancang bom atom Fat man, yang dijatuhkan di Nagasaki oleh tentara sekutu.
Anna Mary Robertson Moses lahir di pertanian dekat New York. Sejak kecil dia senang mencampur warna, dan membuat sketsa indah dari berbagai buah-buahan. Namun kehidupan pertanian membuatnya tak lagi melukis hingga 40 tahun lamanya. Pada usia 78 tahun barulah dia memiliki waktunya untuk melukis. Selama 23 tahun kemudian hingga saat kematiannya, Moses melukis ribuan karya, dan kemudian terkenal sebagai artis lukis Grandma Moses.
Apa ciri bakat kita saat masa kecil? Pada bidang apa karya Anda masa kecil diakui oleh lingkungan?
Cepat belajar
Cepat belajar (rapid learning/ fast learning) merupakan tanda bahwa Anda berbakat pada bidang tersebut. Terkadang kita sendiri tidak tahu, sampai suatu ketika mendapat kesempatan mempelajari hal baru, dan… blam! rasanya begitu mudah menguasainya.
Henri Matisse tidak pernah menyentuh kuas hingga usia 21 tahun. Pekerjaan sehari-hari adalah klerk seorang pengacara. Sampai suatu ketika dia sakit flu berat, sehingga harus istirahat di tempat tidur. Ibunya berusaha mencarikan kegiatan pengisi waktu. Saat itulah ibunya memberikan seperangkat kuas dan cat. Empat tahun berikutnya dia diterima sebagai mahasiswa berbakat di sekolah seni Paris.
JK Rowling, penulis Harry Potter, juga tidak menyadari punya bakat mendongeng hingga teman-teman anaknya menyatakan begitu menariknya kisah Harry Potter. Kini dia wanita kedua terkaya di Inggris, kalah hanya oleh Ratu Elizabeth.
Jim Clark, seorang dosen yang jenius namun hidupnya kacau balau hingga 2 kali perkawinannya hancur. Lulus SMA dia melamar sebagai tentara Navy. Prestasinya sebagai kelasi begitu buruk sehingga sering dibilang bodoh oleh para atasannya. Sampai suatu ketika salah seorang instrukturnya bilang sebaiknya dia kuliah saja, karena tampaknya dia punya bakat matematika. Dan benar, dia meraih PhD di Computer Science! Setelah itu dia menjadi dosen. namun kebiasaan buruknya yang sering mengabaikan keluarga membuatnya bercerai. Tahun 1978 dia juga dipecat dari New York Institute of technology karena membangkang. Tak dijelaskan bagaimana, dia bergabung ke Stanford University. Pada usia 38 tahun, Clark yang menderita depresi berat, tiba-tiba menemukan pencerahan. Ternyata kehidupan kacaunya itu dikarenakan dia terlalu kreatif sehingga selalu mencari hal baru. Clark terlalu banyak ide. Sejak itu dia mendirikan perusahaan bernilai milyaran dolar, mulai dari Silicon Graphic Inc. (SGI), Netscape (pembuat browser internet), hingga Healtheon (perusahaan medical di internet) yang semuanya sukses besar jual saham dalam IPO. Bakat Jim Clark adalah ide dan visinya.
Tentunya Anda juga ingat dengan Kolonel Sanders. Dia memulai bisnis ayam goreng di usia 66 tahun. Ternyata bisnis restoran adalah hal yang menarik dan mudah dia pelajari.
Kalau ada bidang yang Anda begitu cepat menguasainya, mungkin di situlah bakat Anda.
Kepuasan
Ciri-ciri kita berada di jalur yang benar adalah kalau kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan. Orang-orang yang sukses di berbagai bidang menunjukkan kepuasan terhadap pekerjaan mereka, baik pekerjaan itu menghasilkan banyak uang maupun tidak. Kalau Anda senang melihat orang lain tumbuh karena bimbingan kita, maka Anda berbakat menajdi pembina/pendidik. Kalau Anda puas dengan menciptakan hal baru, yang unik dan beda, mungkin Anda berbakat menjadi kreator. Kalau Anda puas bisa traveling ke berbagai penjuru dunia, mungkin Anda berbakat menjadi explorer, seperti Marco Polo dan Ibnu Batutah.
Seringkali yang membuat puas bukanlah sesuatu yang tampak secara fisik. Anda mungkin dosen, yang kadang suka kadang tidak dengan pekerjaan Anda. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata Anda malas mengajar, tapi selalu tertarik dengan berita-berita riset terbaru. Jadi sebenarnya bakat Anda ada di riset, jadi bisa berada dimana saja, misalnya bergabung dengan grup riset di perusahaan besar. Seingat saya, Bondan Winarno adalah seorang pegawai maskapai penerbangan (atau di sekitar itu) yang melakukan banyak perjalanan ke luar negeri. Namun dia lebih dikenal sebagai kolumnis di majalah, yang menceritakan banyak pengalamannya saat pergi ke berbagai negara. Ternyata hobi dia yang lain adalah makanan (kuliner), bukan sebagai pembuat tapi sebagai penikmat makanan. Sekarang dia mengasuh rubrik kuliner di salah satu stasiun TV. Mungkin dia memang berbakat menjadi seorang explorer.
Apa saja yang membuat Anda puas?
Apapun kondisi dan pekerjaan Anda sekarang, tidak ada salahnya untuk terus mencari bakat terbaik kita. Kadang memang kita sendiri, entah kenapa, tidak peka dengan panggilan bakat kita. Tugas kita menemukannya, sampai kapanpun itu akan ditemukan. Seperti kata bijak dari timur, ” Setiap diri kita ini mempunyai misi, tugas kita adalah menemukan dan menjalaninya.”
Disarikan dari buku Now, Discover Your Strengths karya Marcus Buckingham. (SPP)
Langganan:
Postingan (Atom)