Disusun oleh: Putri Widyasari, SPsi.
Pengertian Stres
Menurut Morgan dan King,
“…as an internal state which can be caused by physical demands on the body (disease conditions, exercise, extremes of temperature, and the like) or by environmental and social situations which are evaluated as potentially harmful, uncontrollable, or exceeding our resources for coping” (Morgan & King, 1986: 321)
Jadi stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol.
Stres juga didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek (Cooper, 1994).
Menurut Hager (1999), stres sangat bersifat individual dan pada dasarnya bersifat merusak bila tidak ada keseimbangan antara daya tahan mental individu dengan beban yang dirasakannya. Namun, berhadapan dengan suatu stressor (sumber stres) tidak selalu mengakibatkan gangguan secara psikologis maupun fisiologis. Terganggu atau tidaknya individu, tergantung pada persepsinya terhadap peristiwa yang dialaminya. Faktor kunci dari stres adalah persepsi seseorang dan penilaian terhadap situasi dan kemampuannya untuk menghadapi atau mengambil manfaat dari situasi yang dihadapi (Diana, 1991). Dengan kata lain, bahwa reaksi terhadap stres dipengaruhi oleh bagaimana pikiran dan tubuh individu mempersepsi suatu peristiwa.
Stressor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda, yaitu dapat sebagai peristiwa yang positif dan tidak berbahaya, atau menjadi peristiwa yang berbahaya dan mengancam. Penilaian kognitif individu dalam hal ini nampaknya sangat menentukan apakah stressor itu dapat berakibat positif atau negatif. Penilaian kognitif tersebut sangat berpengaruh terhadap respon yang akan muncul (Selye, 1956).
Penilaian kognitif bersifat individual differences, maksudnya adalah berbeda pada masing-masing individu. Perbedaan ini disebabkan oleh banyak faktor. Penilaian kognitif itu, bisa mengubah cara pandang akan stres. Dimana stres diubah bentuk menjadi suatu cara pandang yang positif terhadap diri dalam menghadapi situasi yang stressful. Sehingga respon terhadap stressor bisa menghasilkan outcome yang lebih baik bagi individu.
Jenis-jenis Stres
Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:
• Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
• Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.
Pengertian Stres Kerja
Definisi stres kerja dapat dinyatakan sebagai berikut :
“Work stress is an individual’s response to work related environmental stressors. Stress as the reaction of organism, which can be physiological, psychological, or behavioural reaction” (Selye, dalam Beehr, et al., 1992: 623)
Berdasarkan definisi di atas, stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Seperti yang telah diungkapkan di atas, lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja.
Sumber-sumber Stres Kerja
Banyak ahli mengemukakan mengenai penyebab stres kerja itu sendiri. Soewondo (1992) mengadakan penelitian dengan sampel 300 karyawan swasta di Jakarta, menemukan bahwa penyebab stres kerja terdiri atas 4 (empat) hal utama, yakni:
1. Kondisi dan situasi pekerjaan
2. Pekerjaannya
3. Job requirement seperti status pekerjaan dan karir yang tidak jelas
4. Hubungan interpersonal
Luthans (1992) menyebutkan bahwa penyebab stres (stressor) terdiri atas empat hal utama, yakni:
1. Extra organizational stressors, yang terdiri dari perubahan sosial/teknologi, keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, dan keadaan komunitas/tempat tinggal.
2. Organizational stressors, yang terdiri dari kebijakan organisasi, struktur organisasi, keadaan fisik dalam organisasi, dan proses yang terjadi dalam organisasi.
3. Group stressors, yang terdiri dari kurangnya kebersamaan dalam grup, kurangnya dukungan sosial, serta adanya konflik intraindividu, interpersonal, dan intergrup.
4. Individual stressors, yang terdiri dari terjadinya konflik dan ketidakjelasan peran, serta disposisi individu seperti pola kepribadian Tipe A, kontrol personal, learned helplessness, self-efficacy, dan daya tahan psikologis.
Sedangkan Cooper dan Davidson (1991) membagi penyebab stres dalam pekerjaan menjadi dua, yakni:
• Group stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari situasi maupun keadaan di dalam perusahaan, misalnya kurangnya kerjasama antara karyawan, konflik antara individu dalam suatu kelompok, maupun kurangnya dukungan sosial dari sesama karyawan di dalam perusahaan.
• Individual stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari dalam diri individu, misalnya tipe kepribadian seseorang, kontrol personal dan tingkat kepasrahan seseorang, persepsi terhadap diri sendiri, tingkat ketabahan dalam menghadapi konflik peran serta ketidakjelasan peran.
Dampak Stres Kerja
Pada umumnya stres kerja lebih banyak merugikan diri karyawan maupun perusahaan. Pada diri karyawan, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustrasi dan sebagainya (Rice, 1999). Konsekuensi pada karyawan ini tidak hanya berhubungan dengan aktivitas kerja saja, tetapi dapat meluas ke aktivitas lain di luar pekerjaan. Seperti tidak dapat tidur dengan tenang, selera makan berkurang, kurang mampu berkonsentrasi, dan sebagainya.
Sedangkan Arnold (1986) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat terjadi akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan psikologis, performance, serta mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan.
Penelitian yang dilakukan Halim (1986) di Jakarta dengan menggunakan 76 sampel manager dan mandor di perusahaan swasta menunjukkan bahwa efek stres yang mereka rasakan ada dua. Dua hal tersebut adalah:
• Efek pada fisiologis mereka, seperti: jantung berdegup kencang, denyut jantung meningkat, bibir kering, berkeringat, mual.
• Efek pada psikologis mereka, dimana mereka merasa tegang, cemas, tidak bisa berkonsentrasi, ingin pergi ke kamar mandi, ingin meninggalkan situasi stres.
Bagi perusahaan, konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah meningkatnya tingkat absensi, menurunnya tingkat produktivitas, dan secara psikologis dapat menurunkan komitmen organisasi, memicu perasaan teralienasi, hingga turnover (Greenberg & Baron, 1993; Quick & Quick, 1984; Robbins, 1993).
Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1999) mengkaji ulang beberapa kasus stres pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu:
1. Gejala psikologis
Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai stres pekerjaan :
• Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung
• Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)
• Sensitif dan hyperreactivity
• Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi
• Komunikasi yang tidak efektif
• Perasaan terkucil dan terasing
• Kebosanan dan ketidakpuasan kerja
• Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi
• Kehilangan spontanitas dan kreativitas
• Menurunnya rasa percaya diri
2. Gejala fisiologis
Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:
• Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular
• Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin)
• Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung)
• Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan
• Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome)
• Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada
• Gangguan pada kulit
• Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot
• Gangguan tidur
• Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker
3. Gejala perilaku
Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:
• Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan
• Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas
• Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan
• Perilaku sabotase dalam pekerjaan
• Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas
• Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi
• Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi
• Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas
• Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman
• Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri
Sumber bacaan:
Beehr, T. A. (1978). Psychologycal Stress In The Workplace. London: Rotledge.
Cooper, C. L., Dewe, P. J., & O’Driscoll, M. P. (1991). Organizational Stress: A Review and Critique of Theory, Research, and Applications. California: Sage Publications, Inc.
Cooper, C. L., & Payne, R. (1994). Causes, Coping & Consequences of Stress at Work. USA: John Wiley & Sons, Ltd.
Greenberg, J., & Baron, R. A. (1993). Behavior In Organizations: Understanding And Managing The Human Side Of Work. USA: Allyn & Bacon.
Luthans, F. (1992). Organizational Behavior (6th ed.). Singapore: McGraw-Hill, Inc.
Mitchell, T. R., & Larson, J. R. (1987). People in Organizations: An Introduction to Organizational Behavior (3rd ed.). USA: McGraw-Hill, Inc.
Morgan, C. T., King, R. A, & Weisz, J. R. (1986). Introduction to Psychology (7th ed.). New York: McGraw-Hill Book Co.
Quick, J. C., & Quick, J. D. (1984). Organizational Stress And Preventive Management. USA: McGraw-Hill, Inc.
Rice, P. L. (1999). Stress and Health (3rd ed.). California: Brooks/Cole Publishing Company.
Selye, H. (1956). The Stress of Life. New York : McGraw Hill.
Selye, H. (1983). Selye’s Guide To Stress Research (vol. 3). New York: Van Nostrand Reinhold Company, Inc. (SPP)
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Juli 2010
Minggu, 20 Juni 2010
Melihat kebaikan dari semua peristiwa, bukan keburukannya
Alkisah disebuah desa ada seorang anak yang sering menggerutu dan marah-marah. dia selalu bersikap seperti itu terhadap peristiwa baik maupun buruk yang menimpa dirinya, bahkan suatu kejadian yang baik maupun buruk, dilihat maupun didengarnya, secara langsung maupun tidak langsung, selalu di komentarinya dengan negatif. Bila ia diperingati oleh orang yang di hormati seperti kepala desa, guru maupun orangtuanya ia akan menggerutu dan berkata "sial-sial, hari ini benar-benar hari yang menyebalkan".
Pada suatu hari si anak penggerutu itu pergi bersama ayahnya menuju desa tetangga untuk menemui sanak saudara mereka disana, ditengah perjalanan mereka melewati sebuah sungai dengan jembatan. Tiba-tiba si anak terpeleset dan jatuh kesungai, ayahnya dengan sigap meloncat kedalam arus yang deras itu dan berhasil menyelamatkan anaknya.
Setelah sampai ditepi sungai si anak yang banyak menelan air tadi nafasnya mulai terengah-engah dan disertai batuk. Kemudian si anak bertanya kepada ayahnya. "Ayah ! mengapa perlu waktu yang lama untuk menyelematkan saya !" katanya, "apakah ayah ingin membiarkan saya mati tenggelam !?" lanjutnya. si ayah terperanjat mendengar kata-kata anaknya sedangkan si anak terus melakukan apa yang dilakukan oleh seorang penggerutu yaitu terus mengomel. Akhirnya ayahnya dengan sikap tenang dan pasrah mengajak anaknya untuk kembali pulang, mereka berdua berjalan dengan tenang, si ayah yang berjalan didepan seolah-olah tak terjadi apa-apa sedangkan si anak yang berjalan dibelakang terus mengomel disepanjang jalan.
Setelah sampai dirumah, mereka berdua membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu sang ayah mengambil selembar kertas putih, kemudian membuat suatu titik kecil hitam ditengah dengan tinta, kemudian si ayah memanggil anaknya dan bertanya "anakku coba katakan apa yang kau lihat dari kertas ini." "HITAM !" jawab anaknya, kemudian ayahnya berkata "anakku mengapa engkau seperti itu? di kertas ini lebih banyak putihnya daripada hitamnya, mengapa kau selalu begitu." "mengapa pula kau dengan mudah melihat hal-hal buruk pada orang lain, namun mengapa kau tak pernah melihat kebaikkannya." "anakku sayang, berubahlah"
anaknya terperangah dan malu mendengar nasehat ayahnya, kemudian dia merubah sudut pandangnya sedikit demi sedikit untuk melihat kebaikan dari semua peristiwa bukan pada keburukannya dan akhirnya ia menjadi orang bijak di desa tersebut. (SPP)
Pada suatu hari si anak penggerutu itu pergi bersama ayahnya menuju desa tetangga untuk menemui sanak saudara mereka disana, ditengah perjalanan mereka melewati sebuah sungai dengan jembatan. Tiba-tiba si anak terpeleset dan jatuh kesungai, ayahnya dengan sigap meloncat kedalam arus yang deras itu dan berhasil menyelamatkan anaknya.
Setelah sampai ditepi sungai si anak yang banyak menelan air tadi nafasnya mulai terengah-engah dan disertai batuk. Kemudian si anak bertanya kepada ayahnya. "Ayah ! mengapa perlu waktu yang lama untuk menyelematkan saya !" katanya, "apakah ayah ingin membiarkan saya mati tenggelam !?" lanjutnya. si ayah terperanjat mendengar kata-kata anaknya sedangkan si anak terus melakukan apa yang dilakukan oleh seorang penggerutu yaitu terus mengomel. Akhirnya ayahnya dengan sikap tenang dan pasrah mengajak anaknya untuk kembali pulang, mereka berdua berjalan dengan tenang, si ayah yang berjalan didepan seolah-olah tak terjadi apa-apa sedangkan si anak yang berjalan dibelakang terus mengomel disepanjang jalan.
Setelah sampai dirumah, mereka berdua membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu sang ayah mengambil selembar kertas putih, kemudian membuat suatu titik kecil hitam ditengah dengan tinta, kemudian si ayah memanggil anaknya dan bertanya "anakku coba katakan apa yang kau lihat dari kertas ini." "HITAM !" jawab anaknya, kemudian ayahnya berkata "anakku mengapa engkau seperti itu? di kertas ini lebih banyak putihnya daripada hitamnya, mengapa kau selalu begitu." "mengapa pula kau dengan mudah melihat hal-hal buruk pada orang lain, namun mengapa kau tak pernah melihat kebaikkannya." "anakku sayang, berubahlah"
anaknya terperangah dan malu mendengar nasehat ayahnya, kemudian dia merubah sudut pandangnya sedikit demi sedikit untuk melihat kebaikan dari semua peristiwa bukan pada keburukannya dan akhirnya ia menjadi orang bijak di desa tersebut. (SPP)
Adakah Arti Sebuah Kesuksesan?
Aku selalu bertanya-tanya apakah kesuksesan itu mempunyai arti ?
karena kesuksesan adalah hasil dari pengorbanan, jadi adakah yang bisa membanggakan semua ?
kesuksesan dalam pendidikan berarti pengorbanan selama lebih dari 16 tahun
kesuksesan dalam pekerjaan meraih jabatan yang lebih tinggi berarti kegagalan dari teman-teman kerja kita sekantor.
kesuksesan dalam bisnis berarti kegagalan dari kompetitor bersaing melawan kita.
kesuksesan sebuah bangsa meraih kemerdekaan berarti pengorbanan dari bangsa tsb maupun bangsa yang berkuasa sebelumnya.
kesuksesan para pemimpin besar dunia berarti malapetaka bagi keluarga mereka.
jadi adakah kesuksesan yang "membanggakan" ?
Sukses berarti suatu keinginan.
Keinginan mengakibatkan penderitaan.
berarti sebuah kesuksesan merupakan penderitaan.
Padahal akhir dari apa yang dicari oleh manusia adalah kebebasan yang kekal dari semua penderitaan
jadi adakah arti kesuksesan itu ?
Orang sukses itu tidak identik dengan orang kaya dan orang gagal itu tidak identik dengan miskin. Menang kalahnya seseorang, atau sukses gagalnya seseorang, tidak ditentukan oleh apakah ia kaya atau miskin, melainkan oleh kemenangan atau kekalahan mental orang itu terhadap kekayaan atau kemiskinan.
sukses adalah suatu perjuangan berat yg harus dilalui dgn suatu proses yg panjang. Tapi ketika sukses berubah menjadi suatu kegagalan apakah masih ada suatu perjuangan lagi untuk menuju sukses kembali?
Sukses seseorang yang menilai bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri. Seseorang bisa dikatakan sukses kalau ia sudah bisa merasa puas dan bahagia dengan apa yang telah diraihnya. (SPP)
karena kesuksesan adalah hasil dari pengorbanan, jadi adakah yang bisa membanggakan semua ?
kesuksesan dalam pendidikan berarti pengorbanan selama lebih dari 16 tahun
kesuksesan dalam pekerjaan meraih jabatan yang lebih tinggi berarti kegagalan dari teman-teman kerja kita sekantor.
kesuksesan dalam bisnis berarti kegagalan dari kompetitor bersaing melawan kita.
kesuksesan sebuah bangsa meraih kemerdekaan berarti pengorbanan dari bangsa tsb maupun bangsa yang berkuasa sebelumnya.
kesuksesan para pemimpin besar dunia berarti malapetaka bagi keluarga mereka.
jadi adakah kesuksesan yang "membanggakan" ?
Sukses berarti suatu keinginan.
Keinginan mengakibatkan penderitaan.
berarti sebuah kesuksesan merupakan penderitaan.
Padahal akhir dari apa yang dicari oleh manusia adalah kebebasan yang kekal dari semua penderitaan
jadi adakah arti kesuksesan itu ?
Orang sukses itu tidak identik dengan orang kaya dan orang gagal itu tidak identik dengan miskin. Menang kalahnya seseorang, atau sukses gagalnya seseorang, tidak ditentukan oleh apakah ia kaya atau miskin, melainkan oleh kemenangan atau kekalahan mental orang itu terhadap kekayaan atau kemiskinan.
sukses adalah suatu perjuangan berat yg harus dilalui dgn suatu proses yg panjang. Tapi ketika sukses berubah menjadi suatu kegagalan apakah masih ada suatu perjuangan lagi untuk menuju sukses kembali?
Sukses seseorang yang menilai bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri. Seseorang bisa dikatakan sukses kalau ia sudah bisa merasa puas dan bahagia dengan apa yang telah diraihnya. (SPP)
Menjadi Diri Sendiri
Jangan pernah malu dengan keadaan kita sendiri, kita adalah kita. Kemampuan yang kita miliki akan menjadi sumber kekuatan untuk menjadi diri sendiri dalam meraih kesuksesan. Pembelajaran untuk mengambil sebuah keputusan akan membantu pemikiran kita menjadi lebih dewasa. Lalu apa dewasa itu? Apa seseorang yang sudah cukup usia? atau seseorang yang sudah ditandai dengan beberapa perubahan pada fisiknya? Belum tentu, kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari usia, bentuk fisik, kekuatan, bahkan keberhasilannya, melainkan dilihat dari pola pikirnya dalam mengambil suatu tindakan.
Kita akan bahagia apabila kita berhasil menyelesaikan satu masalah yang menurut diri kita masalah tersebut sulit diselesaikan, kita akan bahagia kalau diri kita berhasil mengerjakan tugas sekolah atau tugas dari kantor. Asalkan semua keberhasilan ini diperoleh dari hasil jeri payah kita sendiri. Tapi sebaliknya, apakah yang kita rasakan apabila kebahagian, keberhasilan, kesuksesan yang kita miliki berasal bukan dari jeri payah kita sendiri? Tentunya kebahagian ini tidak sepenuhnya kita rasakan, pasti ada ganjalan-ganjalan yang akan mempengaruhi perjalanan hidup kita.
Setiap hari, tentunya kita akan dihadapi dengan satu masalah, entah masalah itu berasal dari diri kita atau dari orang lain. Setiap masalah yang timbul ini akan selalu menjadi bahan berharga bagi kita, kenapa? Karena dari sinilah kita bisa belajar mengolah pikiran kita untuk lebih matang dalam menyelesaikan masalah. Apapun hasilnya tentu kita akan puas dan tentunya dengan hasil yang positif (yang tidak merugikan diri kita dan orang lain).
Kematangan pola pikir kita akan memperkuat jati diri kita untuk lebih meyakini bahwa diantara kelemahan yang kita miliki, kita masih bisa bertahan dan punya sumber kekuatan baru. Namun bagaimana kalau kita bimbang? Hal ini sangatlah wajar, mengingat kita hanya manusia biasa, punya keterbatasan. Tidak ada salahnya kebimbangan yang kita rasakan ini kita sharingkan dengan orang yang bisa kita percaya, dan apapun hasilnya tetaplah kita yang memutuskan. Titik akhir dari kebimbangan ini bisa kita wujudkan dalam do’a meminta pertolongan-NYA agar diberi kemudahan.
Raihlah keberhasilan ini dengan ‘menjadi diri sendiri’ jangan berpikir bagaimana jika kita gagal, tapi berpikirlah bagaimana jika berhasil. Dengan begitu, kita akan punya motivasi tersendiri sehingga kita lebih bijak dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul.
Selamat berjuang semoga sukses.... (SPP)
Kita akan bahagia apabila kita berhasil menyelesaikan satu masalah yang menurut diri kita masalah tersebut sulit diselesaikan, kita akan bahagia kalau diri kita berhasil mengerjakan tugas sekolah atau tugas dari kantor. Asalkan semua keberhasilan ini diperoleh dari hasil jeri payah kita sendiri. Tapi sebaliknya, apakah yang kita rasakan apabila kebahagian, keberhasilan, kesuksesan yang kita miliki berasal bukan dari jeri payah kita sendiri? Tentunya kebahagian ini tidak sepenuhnya kita rasakan, pasti ada ganjalan-ganjalan yang akan mempengaruhi perjalanan hidup kita.
Setiap hari, tentunya kita akan dihadapi dengan satu masalah, entah masalah itu berasal dari diri kita atau dari orang lain. Setiap masalah yang timbul ini akan selalu menjadi bahan berharga bagi kita, kenapa? Karena dari sinilah kita bisa belajar mengolah pikiran kita untuk lebih matang dalam menyelesaikan masalah. Apapun hasilnya tentu kita akan puas dan tentunya dengan hasil yang positif (yang tidak merugikan diri kita dan orang lain).
Kematangan pola pikir kita akan memperkuat jati diri kita untuk lebih meyakini bahwa diantara kelemahan yang kita miliki, kita masih bisa bertahan dan punya sumber kekuatan baru. Namun bagaimana kalau kita bimbang? Hal ini sangatlah wajar, mengingat kita hanya manusia biasa, punya keterbatasan. Tidak ada salahnya kebimbangan yang kita rasakan ini kita sharingkan dengan orang yang bisa kita percaya, dan apapun hasilnya tetaplah kita yang memutuskan. Titik akhir dari kebimbangan ini bisa kita wujudkan dalam do’a meminta pertolongan-NYA agar diberi kemudahan.
Raihlah keberhasilan ini dengan ‘menjadi diri sendiri’ jangan berpikir bagaimana jika kita gagal, tapi berpikirlah bagaimana jika berhasil. Dengan begitu, kita akan punya motivasi tersendiri sehingga kita lebih bijak dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul.
Selamat berjuang semoga sukses.... (SPP)
Kenapa saya ragu? padahal saya mampu...
Pernahkah anda mengalami seperti ini, maaf saya tidak bisa…, maaf saya nervous…, maaf orang lain saja… dan masih banyak yang lain.
Apasih yang menyebabkan kita ragu, padahal kita pasti bisa mengerjakannya. Ada pepatah dari pascal yang intinya ‘Pikiran positif datang dari kepercayaan, Pikiran negatif, datang dari keragu-raguan, rasa takut yang benar adalah rasa takut yang digabungkan dengan harapan, karena itu lahir dari kepercayaan, serta kita berharap pada Tuhan yang kita yakini. sementara rasa takut yang salah digabungkan dengan keputusasaan, karena kita takut pada Tuhan, beberapa orang takut kehilangan-Nya, sementara yang lain takut mencari-Nya’.
Keraguan yang muncul hanya akan memperlambat keberhasilan kita saja, diri kita harus yakin dengan kemampuan yang kita miliki, karena belum tentu kelebihan ini dimiliki oleh orang lain. Jadi tidak ada salahnya kalau tawaran menjadi ketua kelas untuk dicoba, tawaran menjadi MC patut dicoba, tawaran menjadi supervisor patut di terima dan tawaran-tawaran yang lain. Jadi kita tidak perlu ragu-ragu dalam memutuskannya, apalagi sibuk mencari alasan agar tawaran ini atau kesempatan terbaik ini diberikan ke orang lain. Karena dengan sikap demikian, berarti telah melemahkan mental kita bahkan akan merugikan diri sendiri. Rasa takutnya akan selalu mempengaruhi rasa keberaniannya, sehingga mereka tidak akan pernah berfikir tentang kesuksesan tapi selalu berfikir tentang kegagalan.
Belajar berfikir positif akan membantu kebiasaan kita untuk melakukan hal-hal yang belum pernah kita lakukan, atau dengan kata lain, hal-hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin jika kita percaya bahwa diri kita mampu mengatasi rasa ragu yang berlebihan. Selain itu kita harus yakin bahwa diri kita punya potensi yang hebat, sehingga segala tantangan dan rintangan yang ada di depan kita bisa teratasi, meskipun akan mengalami cidera, namun hal ini malah dijadikan tantangan yang berarti.
Pepatah mengatakan ‘mereka bisa menaklukkan apapun yang mereka percaya bisa taklukkan’ di kutip dari pepatah john Dryden
Jadi jelas bahwa keraguan hanya akan mempengaruhi gerak kita dalam mengambil sikap, tapi keberanianlah yang akan menuntun kita ke arah yang lebih baik. Dan yang terpenting adalah menguasai diri sendiri, dengan berfikir positif, serta memanfaatkan potensi hebat yang ada pada diri kita, niscaya rasa takut, rasa ragu, rasa minder akan hilang dengan sendirinya.
Berikut kata-kata mutiara yang diharapkan bisa membangkitkan rasa ‘pE-dE’ alias percaya diri kita,
Untuk sukses, Anda harus bisa berbicara; untuk berbicara, anda harus percaya diri; untuk percaya diri, anda harus memimpin diri sendiri. Anonymous
Percayalah pada diri sendiri. Dengan begitu, anda akan bisa berbuat banyak, lebih dari yang diperkirakan. Anonymous
Jangan malu untuk mengatakan apa yang anda sendiri tidak malu untuk memikirkannya. Montaigne
Membuat kesalahan adalah manusiawi; tersandung adalah lumrah; tertawa atas diri sendiri adalah kedewasaan. William Arthur Ward
Waktu tidak merubah apapun. Hanya anda yang dapat merubah diri anda sendiri. Anonymous
Jangan takut pada segala sesuatu. Satu-satunya yang harus ditakutkan adalah ketakutan itu sendiri. Franklin D. Roosevelt
Kalau anda menanyakan kapan anda akan dapat memimpin orang lain mungkin anda tidak bisa menjawab. Tapi kalau anda menanyakan kapan anda dapat memimpin diri sendiri anda pasti dapat menjawabnya. Anonymous
Mudah-mudahan postingan ini bermanfaat, sekali lagi….. hilangkan rasa ragu kita dihari ini, jika hari ini kita mau sukses. (SPP)
Apasih yang menyebabkan kita ragu, padahal kita pasti bisa mengerjakannya. Ada pepatah dari pascal yang intinya ‘Pikiran positif datang dari kepercayaan, Pikiran negatif, datang dari keragu-raguan, rasa takut yang benar adalah rasa takut yang digabungkan dengan harapan, karena itu lahir dari kepercayaan, serta kita berharap pada Tuhan yang kita yakini. sementara rasa takut yang salah digabungkan dengan keputusasaan, karena kita takut pada Tuhan, beberapa orang takut kehilangan-Nya, sementara yang lain takut mencari-Nya’.
Keraguan yang muncul hanya akan memperlambat keberhasilan kita saja, diri kita harus yakin dengan kemampuan yang kita miliki, karena belum tentu kelebihan ini dimiliki oleh orang lain. Jadi tidak ada salahnya kalau tawaran menjadi ketua kelas untuk dicoba, tawaran menjadi MC patut dicoba, tawaran menjadi supervisor patut di terima dan tawaran-tawaran yang lain. Jadi kita tidak perlu ragu-ragu dalam memutuskannya, apalagi sibuk mencari alasan agar tawaran ini atau kesempatan terbaik ini diberikan ke orang lain. Karena dengan sikap demikian, berarti telah melemahkan mental kita bahkan akan merugikan diri sendiri. Rasa takutnya akan selalu mempengaruhi rasa keberaniannya, sehingga mereka tidak akan pernah berfikir tentang kesuksesan tapi selalu berfikir tentang kegagalan.
Belajar berfikir positif akan membantu kebiasaan kita untuk melakukan hal-hal yang belum pernah kita lakukan, atau dengan kata lain, hal-hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin jika kita percaya bahwa diri kita mampu mengatasi rasa ragu yang berlebihan. Selain itu kita harus yakin bahwa diri kita punya potensi yang hebat, sehingga segala tantangan dan rintangan yang ada di depan kita bisa teratasi, meskipun akan mengalami cidera, namun hal ini malah dijadikan tantangan yang berarti.
Pepatah mengatakan ‘mereka bisa menaklukkan apapun yang mereka percaya bisa taklukkan’ di kutip dari pepatah john Dryden
Jadi jelas bahwa keraguan hanya akan mempengaruhi gerak kita dalam mengambil sikap, tapi keberanianlah yang akan menuntun kita ke arah yang lebih baik. Dan yang terpenting adalah menguasai diri sendiri, dengan berfikir positif, serta memanfaatkan potensi hebat yang ada pada diri kita, niscaya rasa takut, rasa ragu, rasa minder akan hilang dengan sendirinya.
Berikut kata-kata mutiara yang diharapkan bisa membangkitkan rasa ‘pE-dE’ alias percaya diri kita,
Untuk sukses, Anda harus bisa berbicara; untuk berbicara, anda harus percaya diri; untuk percaya diri, anda harus memimpin diri sendiri. Anonymous
Percayalah pada diri sendiri. Dengan begitu, anda akan bisa berbuat banyak, lebih dari yang diperkirakan. Anonymous
Jangan malu untuk mengatakan apa yang anda sendiri tidak malu untuk memikirkannya. Montaigne
Membuat kesalahan adalah manusiawi; tersandung adalah lumrah; tertawa atas diri sendiri adalah kedewasaan. William Arthur Ward
Waktu tidak merubah apapun. Hanya anda yang dapat merubah diri anda sendiri. Anonymous
Jangan takut pada segala sesuatu. Satu-satunya yang harus ditakutkan adalah ketakutan itu sendiri. Franklin D. Roosevelt
Kalau anda menanyakan kapan anda akan dapat memimpin orang lain mungkin anda tidak bisa menjawab. Tapi kalau anda menanyakan kapan anda dapat memimpin diri sendiri anda pasti dapat menjawabnya. Anonymous
Mudah-mudahan postingan ini bermanfaat, sekali lagi….. hilangkan rasa ragu kita dihari ini, jika hari ini kita mau sukses. (SPP)
Menjadi pemain yang handal
Seorang petinju akan menjadi bringas jika mendapat dukungan dari supporter-supporternya, pemain bulutangkis akan menjadi lincah jika mendapat applause dari supporter2nya, tim kesebelasan akan menjadi semangat jika mendapat teriakan yel-yel dari para supporternya dan masih banyak pemain2 lain yang menjadi semangat karena dukungan dari beberapa supporternya. Demikian juga sebaliknya, para supporter tidak akan menyerah, setiap detik, setiap menit selalu menyerukan yel yel kemenangan agar tim kesayangannya menang dalam sebuah pertandingan. Keduanya saling membutuhkan dan saling mengikat,si pemain butuh dukungan supaya menang dan supporter butuh kepuasan agar tim kesayangannya menang dalam pertandingan. Begitulah realita dalam sebuah kehidupan, tanpa di sadari untuk menggapai sebuah kesuksesan, disekitar kitapun harus ada yang memberikan dukungan atau supporter. Supporter ini akan membantu dan memotivasi langkah-langkah kita untuk menjadi pemain yang handal dan penuh semangat. Lalu siapa pendukung yang menjadi inspirator dalam hidup kita?
Tak lain mereka adalah orang tua kita, saudara/kakak/adik, suami/istri, anak-anak kita, dan teman-teman kita.
Peran orang tua: Beliau adalah motivator pertama yang akan selalu membantu kita dalam segala hal, beliau akan membimbing, mendoakan, mengarahkan bahkan rela berkorban apa saja agar buah hatinya menjadi yang terbaik.
Saudara/kakak/adik: Kakak dan adik adalah teman seperjuangan dalam menjalani sebuah kehidupan, bergandengan tangan dalam meraih kesuksesan, masing-masing akan selalu menjadi contoh dan selalu bijaksana dalam memberikan gagasan serta ide kepada saudara-saudaranya, saling menghargai, saling memberi, saling menghormati tidak selalu dianggap besar atau tidak merasa dibutuhkan dari saudara-saudaranya. Membantu dan akan menjadi penolong disaat saudaranya sedang mengalami kesusahan.
Yang ketiga Suami/Istri: Disinilah supporter yang akan membawa pengaruh besar dalam kehidupan kita, seorang istri akan selalu mendampingi suaminya di situasi apapun, dia akan menjadi inspirator bagi kehidupan kita. Keduanya saling membutuhkan dan saling bekerjasama dalam mengejar impian-impian yang telah di sepakati bersama.
Yang ke empat adalah anak-anak kita: Dia akan menjadi pelengkap bagi kehidupan yang kita jalani, setiap langkah yang akan kita tuju akan menjadi terarah, ada ikatan tersendiri yang bisa menuntun kita untuk menemukan inspirasi-inspirasi baru.
Sedang pendukung yang terakhir datang dari teman-teman kita, mereka akan membantu dalam segala hal tanpa perhitungan, gagasan serta ide-idenya akan membantu kita dalam menyelesaikan segala permasalahan. Tanpa hadirnya teman, kita tidak akan berhasil. Jadikan mereka sebagai partner yang kuat dalam hidup kita.
Mereka-mereka inilah yang nantinya bisa membantu kita untuk menjadi pemain yang handal, tapi perlu disadari bahwa berhasil tidaknya kita dalam menggapai kesuksesan tergantung dari diri kita sendiri. Mereka sudah menjadi supporter yang baik tapi kalau kita sendiri belum bisa mengikat perasaan-perasaan yang mereka berikan, jangan harap kita akan menang dalam sebuah pertandingan. Artinya apa jika semua sudah sepakat untuk memberikan dukungan,maka kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kita bisa menjadi pemain yang handal untuk mewujudkan impian-impian yang telah disepakati bersama.
Tunjukkan kepada mereka bahwa kita siap bertanding untuk meraih sebuah kesuksesan, karena jalan kesuksesan sudah ada di hadapan kita. (SPP)
Tak lain mereka adalah orang tua kita, saudara/kakak/adik, suami/istri, anak-anak kita, dan teman-teman kita.
Peran orang tua: Beliau adalah motivator pertama yang akan selalu membantu kita dalam segala hal, beliau akan membimbing, mendoakan, mengarahkan bahkan rela berkorban apa saja agar buah hatinya menjadi yang terbaik.
Saudara/kakak/adik: Kakak dan adik adalah teman seperjuangan dalam menjalani sebuah kehidupan, bergandengan tangan dalam meraih kesuksesan, masing-masing akan selalu menjadi contoh dan selalu bijaksana dalam memberikan gagasan serta ide kepada saudara-saudaranya, saling menghargai, saling memberi, saling menghormati tidak selalu dianggap besar atau tidak merasa dibutuhkan dari saudara-saudaranya. Membantu dan akan menjadi penolong disaat saudaranya sedang mengalami kesusahan.
Yang ketiga Suami/Istri: Disinilah supporter yang akan membawa pengaruh besar dalam kehidupan kita, seorang istri akan selalu mendampingi suaminya di situasi apapun, dia akan menjadi inspirator bagi kehidupan kita. Keduanya saling membutuhkan dan saling bekerjasama dalam mengejar impian-impian yang telah di sepakati bersama.
Yang ke empat adalah anak-anak kita: Dia akan menjadi pelengkap bagi kehidupan yang kita jalani, setiap langkah yang akan kita tuju akan menjadi terarah, ada ikatan tersendiri yang bisa menuntun kita untuk menemukan inspirasi-inspirasi baru.
Sedang pendukung yang terakhir datang dari teman-teman kita, mereka akan membantu dalam segala hal tanpa perhitungan, gagasan serta ide-idenya akan membantu kita dalam menyelesaikan segala permasalahan. Tanpa hadirnya teman, kita tidak akan berhasil. Jadikan mereka sebagai partner yang kuat dalam hidup kita.
Mereka-mereka inilah yang nantinya bisa membantu kita untuk menjadi pemain yang handal, tapi perlu disadari bahwa berhasil tidaknya kita dalam menggapai kesuksesan tergantung dari diri kita sendiri. Mereka sudah menjadi supporter yang baik tapi kalau kita sendiri belum bisa mengikat perasaan-perasaan yang mereka berikan, jangan harap kita akan menang dalam sebuah pertandingan. Artinya apa jika semua sudah sepakat untuk memberikan dukungan,maka kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kita bisa menjadi pemain yang handal untuk mewujudkan impian-impian yang telah disepakati bersama.
Tunjukkan kepada mereka bahwa kita siap bertanding untuk meraih sebuah kesuksesan, karena jalan kesuksesan sudah ada di hadapan kita. (SPP)
Budaya Kambing Hitam
Beberapa hari lalu diberitakan melalui berita pagi di sebuah televisi yang memberitakan telah terjadi kecelakaan yang menewaskan seorang ibu dan anaknya. Mereka tewas karena tertabrak kereta api yang sedang melintas. Satu hal yang cukup menggelikan kebanyakan warga yang menempati ‘rumah-rumah’ disekitar rel justru menyalahkan kondisi lingkungan yang tidak ada pagar pembatas antara rel dan ‘rumah warga’. Mereka menutup mata terhadap kemungkinan kecerobohan dan ketidakwaspadaan sang ibu tadi. Menggelikan karena justru keberadaan warga di sekitar rel lah yang sebenarnya tidak pada tempatnya, karena sekitar kiri kanan rel sebenarnya merupakan daerah terlarang untuk hunian.
Dari fakta diatas jelas sekali terlihat kecenderungan masyarakat kita untuk menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang terjadi atas diri mereka. Ya ternyata budaya ‘kambing hitam’ masih melekat erat pada masyarakat kita. Bukti keengganan untuk berkaca terhadap kesalahan diri.
Bagaimana dengan situasi di tempat kerja ..? Saya cukup yakin bahwa di banyak situasi kerja budaya inipun masih sering muncul. Jika di tempat kerja kita masih ada pernyataan-pernyataan seperti : “ Ah, teman-teman saya saja nih yang pada sirik dan suka ngadu ke bos, sehingga saya masih sering dimarahin si bos” atau “ Atasan saya orangnya sulit, sukar diajak bicara, makanya prestasi kerja saya ya begini-begini aja tidak bisa berkembang apalagi selama dia yang menjadi atasan saya” atau “ Perusahaan tempat saya kerja pelit tidak bisa menghargai karyawannya, makanya gaji saya ya segini-segini aja, nggak pernah cukup buat kebutuhan keluarga “
Jika kata-kata seperti di atas masih atau sering terdengar di tempat kerja kita atau bahkan kita sendiri yang seperti itu maka waspadalah ( seperti kata bang napi ), artinya ‘kambing hitam’ masih jadi piaraan favorit
Memang paling mudah menimpakan kesalahan pada orang lain dan bertindak seakan – akan kita tidak punya andil dalam kesalahan yang terjadi. Umumnya orang berbuat seperti ini untuk menghindari sanksi, cemooh atau vonis atas kesalahan yang telah diperbuat entah sengaja maupun tidak atau bisa juga karena faktor gengsi, malu karena telah berbuat salah . Sikap seperti ini justru akan berdampak negatif terhadap diri kita sendiri, karena orang lain justru tidak akan respek disamping itu sikap mencari kambing hitam ini akan menutup ruang bagi diri kita untuk melakukan introspeksi terhadap diri kita. Kenapa ..? Ya karena waktu kita akan habis untuk mencari ‘kambing – kambing hitam‘ mana yang bisa ‘disembelih’ untuk dijadikan kurban. Akan lebih produktif jika waktunya kita gunakan untuk mencari cermin dimana kita bisa berkaca dan melihat dimana letak kesalahan maupun kekurangan yang kita miliki.
Faktor penyebab dari semua hal yang terjadi sebenarnya dapat kita golongkan menjadi dua yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor ekternal tentunya adalah hal-hal diluar diri dan kendali kita, seperti : kebijakan pemerintah, kebijakan perusahaan, instruksi atasan, kondisi mental lingkungan, dll. Faktor internal adalah semua hal yang bersumber dari diri kita sendiri dan ada dalam kendali kita.
Faktor eksternal ada diluar kendali kita sehingga sangat sulit kalau tidak mau dibilang tidak mungkin bagi kita untuk merubahnya menjadi selaras dengan keinginan kita. Sebaliknya faktor internal ada dalam kuasa kita untuk mengendalikan, merubah sesuai yang kita inginkan. Orang – orang yang cenderung melihat kesalahan orang / pihak lain tergolong orang yang hanya mau melihat faktor eksternal sebagai penyebab. Padahal kalau kita mau sedikit merenung, jika kita hanya berkonsentrasi terhadap faktor eksternal akan sangat minim hasil yang bisa kita dapatkan. Adalah hal yang sangat sulit untuk merubah hal-hal diluar kendali kita, contoh kasus apakah mudah merubah keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, walaupun banyak elemen masyarakat demo di sana – sini pemerintah tetap pada pendiriannya. Mungkin hanya stress atau rasa frustasi yang akan kita dapatkan jika kita selalu berharap atau menginginkan hal-hal eksternal ini berubah. Lalu apa yang dapat kita lakukan..? Ya, sebaiknya konsentrasilah terhadap faktor – faktor internal dalam diri kita, karena kita punya kuasa untuk merubahnya menjadi selaras dengan kondisi dan alam sekitar kita. Jika kita tidak dapat membuat pemerintah merubah keputusannya menaikkan harga BBM, ya berarti kitalah yang harus fleksibel melakukan berbagai perubahan semisal memperketat dan mengefisiensikan pos-pos pengeluaran .
Dalam konteks dunia kerja atau di kehidupan sehari –hari misalnya, kita harus berani berhenti menyalahkan atasan, perusahaan, pemerintah, lingkungan, dll atas hal – hal yang terjadi terhadap diri kita. Pasti ada hal – hal dalam diri kita yang menjadi penyebab itu semua. Fokuslah pada hal-hal internal diri kita, bersikap fleksibel dan mau melakukan perubahan – perubahan yang memang diperlukan agar kembali selaras dengan lingkungan di mana kita berada.
“ Jangan pernah berharap orang lain berubah, tapi ubahlah diri kita menjadi selaras dengan orang lain “
Michael Widi Susanto (SPP)
Dari fakta diatas jelas sekali terlihat kecenderungan masyarakat kita untuk menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang terjadi atas diri mereka. Ya ternyata budaya ‘kambing hitam’ masih melekat erat pada masyarakat kita. Bukti keengganan untuk berkaca terhadap kesalahan diri.
Bagaimana dengan situasi di tempat kerja ..? Saya cukup yakin bahwa di banyak situasi kerja budaya inipun masih sering muncul. Jika di tempat kerja kita masih ada pernyataan-pernyataan seperti : “ Ah, teman-teman saya saja nih yang pada sirik dan suka ngadu ke bos, sehingga saya masih sering dimarahin si bos” atau “ Atasan saya orangnya sulit, sukar diajak bicara, makanya prestasi kerja saya ya begini-begini aja tidak bisa berkembang apalagi selama dia yang menjadi atasan saya” atau “ Perusahaan tempat saya kerja pelit tidak bisa menghargai karyawannya, makanya gaji saya ya segini-segini aja, nggak pernah cukup buat kebutuhan keluarga “
Jika kata-kata seperti di atas masih atau sering terdengar di tempat kerja kita atau bahkan kita sendiri yang seperti itu maka waspadalah ( seperti kata bang napi ), artinya ‘kambing hitam’ masih jadi piaraan favorit
Memang paling mudah menimpakan kesalahan pada orang lain dan bertindak seakan – akan kita tidak punya andil dalam kesalahan yang terjadi. Umumnya orang berbuat seperti ini untuk menghindari sanksi, cemooh atau vonis atas kesalahan yang telah diperbuat entah sengaja maupun tidak atau bisa juga karena faktor gengsi, malu karena telah berbuat salah . Sikap seperti ini justru akan berdampak negatif terhadap diri kita sendiri, karena orang lain justru tidak akan respek disamping itu sikap mencari kambing hitam ini akan menutup ruang bagi diri kita untuk melakukan introspeksi terhadap diri kita. Kenapa ..? Ya karena waktu kita akan habis untuk mencari ‘kambing – kambing hitam‘ mana yang bisa ‘disembelih’ untuk dijadikan kurban. Akan lebih produktif jika waktunya kita gunakan untuk mencari cermin dimana kita bisa berkaca dan melihat dimana letak kesalahan maupun kekurangan yang kita miliki.
Faktor penyebab dari semua hal yang terjadi sebenarnya dapat kita golongkan menjadi dua yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor ekternal tentunya adalah hal-hal diluar diri dan kendali kita, seperti : kebijakan pemerintah, kebijakan perusahaan, instruksi atasan, kondisi mental lingkungan, dll. Faktor internal adalah semua hal yang bersumber dari diri kita sendiri dan ada dalam kendali kita.
Faktor eksternal ada diluar kendali kita sehingga sangat sulit kalau tidak mau dibilang tidak mungkin bagi kita untuk merubahnya menjadi selaras dengan keinginan kita. Sebaliknya faktor internal ada dalam kuasa kita untuk mengendalikan, merubah sesuai yang kita inginkan. Orang – orang yang cenderung melihat kesalahan orang / pihak lain tergolong orang yang hanya mau melihat faktor eksternal sebagai penyebab. Padahal kalau kita mau sedikit merenung, jika kita hanya berkonsentrasi terhadap faktor eksternal akan sangat minim hasil yang bisa kita dapatkan. Adalah hal yang sangat sulit untuk merubah hal-hal diluar kendali kita, contoh kasus apakah mudah merubah keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, walaupun banyak elemen masyarakat demo di sana – sini pemerintah tetap pada pendiriannya. Mungkin hanya stress atau rasa frustasi yang akan kita dapatkan jika kita selalu berharap atau menginginkan hal-hal eksternal ini berubah. Lalu apa yang dapat kita lakukan..? Ya, sebaiknya konsentrasilah terhadap faktor – faktor internal dalam diri kita, karena kita punya kuasa untuk merubahnya menjadi selaras dengan kondisi dan alam sekitar kita. Jika kita tidak dapat membuat pemerintah merubah keputusannya menaikkan harga BBM, ya berarti kitalah yang harus fleksibel melakukan berbagai perubahan semisal memperketat dan mengefisiensikan pos-pos pengeluaran .
Dalam konteks dunia kerja atau di kehidupan sehari –hari misalnya, kita harus berani berhenti menyalahkan atasan, perusahaan, pemerintah, lingkungan, dll atas hal – hal yang terjadi terhadap diri kita. Pasti ada hal – hal dalam diri kita yang menjadi penyebab itu semua. Fokuslah pada hal-hal internal diri kita, bersikap fleksibel dan mau melakukan perubahan – perubahan yang memang diperlukan agar kembali selaras dengan lingkungan di mana kita berada.
“ Jangan pernah berharap orang lain berubah, tapi ubahlah diri kita menjadi selaras dengan orang lain “
Michael Widi Susanto (SPP)
9 Tipe Kepribadian Manusia
Kepribadian manusia selalu menjadi tema yang menarik untuk dicari tahu, apalagi kepribadian kita sendiri. Rasa ingin tahu tersebutlah yang lantas membuat banyak orang pergi ke psikolog untuk menjalani tes-tes kepribadian. Semua ini dilakukan demi mengetahui “seperti apa sesungguhnya diri kita ini?”
Enneagram
Selain dengan mengikuti tes-tes psikologi, ada satu metode yang bisa digunakan untuk mengetahui kepribadian yaitu menggunakan enneagram. Enneagram diartikan sebagai “sebuah gambar bertitik sembilan”. Metode ini dikabarkan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan diajarkan secara lisan dalam suatu kelompok sufi di Timur Tengah, hingga akhirnya mulai berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Kepribadian manusia dalam sistem enneagram, terbagi menjadi 9 tipe. Renee Baron dan Elizabeth Wagele, lewat buku yang berjudul enneagram, berusaha untuk menjelaskan kesembilan tipe tersebut agar lebih mudah dimengerti.
Sembilan Tipe Kepribadian Manusia
Kesembilan tipe kepribadian tersebut adalah :
Tipe 1 perfeksionis
Orang dengan tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah.
Tipe 2 penolong
Tipe kedua dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif pada orang lain, dan menghindari kesan membutuhkan.
Tipe 3 pengejar prestasi
Para pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar dari kegagalan.
Tipe 4 romantis
Orang tipe romantis termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja.
Tipe 5 pengamat
Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban.
Tipe 6 pencemas
Orang tipe 6 termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan, dan terhindar dari kesan pemberontak.
Tipe 7 petualang
Tipe 7 termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita.
Tipe 8 pejuang
Tipe pejuang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat, memberi pengaruh pada dunia, dan terhindar dari kesan lemah.
Tipe 9 pendamai
Para pendamai dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari konflik.
Panah dan Sayap
panah dan sayap dalam enneagram Setiap tipe pada enneagram berhubungan langsung dengan 2 tipe lainnya yang disebut sebagai panah. Tipe 1 berhubungan dengan tipe 7 dan 4, tipe 2 dengan tipe 8 dan 4, dst (lihat gambar). Dinamika hubungan antar tipe ini terjadi sebagai berikut : jika dalam keadaan rileks tipe 1 akan mengambil karakter positif dari tipe 7, dan jika dalam keadaan tertekan akan mengambil karakter negatif dari panah sebaliknya, yaitu tipe 4. Sebagai contoh, tipe 1 yang mengambil sisi positif tipe 7 tidak akan terlalu mengkritik diri serta lebih menerima diri, lebih antusias dan optimis, bertindak lebih alami dan spontan. Sedangkan jika sedang tertekan akan mengarahkan kemarahan ke dalam diri sendiri lalu menjadi depresi, hilang kepercayaan diri, dan menginginkan apa yang tidak mereka miliki. Contoh lain, tipe 2 yang sedang rileks, akan mengambil karakter positif dari tipe 4, dan jika sedang tertekan akan mengambil karakter tipe 8. Dan begitu seterusnya dinamika hubungan pada tipe-tipe lainnya.
Selain panah, kepribadian kita dapat tercampur atau terpengaruhi oleh tipe di kanan dan kiri kita. Tipe di kanan dan kiri kita ini disebut dengan sayap. Contohnya, tipe 1 dengan sayap 2 yang lebih kuat, cenderung hangat, lebih suka menolong, mengkritik dan menguasai. Sedangkan tipe 1 dengan sayap 9 lebih kuat, cenderung lebih tenang, lebih santai, objektif dan menjaga jarak.
Tipe-tipe Enneagram dan Myers-Briggs Type Indicator
Bagian akhir buku Enneagram ini berisi penjelasan tentang tipe-tipe kepribadian yang sudah diakui, yaitu Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dan kecocokannya dengan tipe-tipe dalam enneagram. MBTI sendiri adalah suatu inventori kepribadian yang berlandaskan pemikiran dari Carl Gustav Jung, seorang psikiater asal Swiss. Inventori ini mengukur kecenderungan individu berdasarkan empat skala : ekstraversion atau introversion, sensing atau intuition, thinking atau feeling, serta judging atau perceiving. Terakhir, terdapat tabel hubungan antara sistem dalam enneagram dan MBTI. (SPP)
Enneagram
Selain dengan mengikuti tes-tes psikologi, ada satu metode yang bisa digunakan untuk mengetahui kepribadian yaitu menggunakan enneagram. Enneagram diartikan sebagai “sebuah gambar bertitik sembilan”. Metode ini dikabarkan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan diajarkan secara lisan dalam suatu kelompok sufi di Timur Tengah, hingga akhirnya mulai berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Kepribadian manusia dalam sistem enneagram, terbagi menjadi 9 tipe. Renee Baron dan Elizabeth Wagele, lewat buku yang berjudul enneagram, berusaha untuk menjelaskan kesembilan tipe tersebut agar lebih mudah dimengerti.
Sembilan Tipe Kepribadian Manusia
Kesembilan tipe kepribadian tersebut adalah :
Tipe 1 perfeksionis
Orang dengan tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah.
Tipe 2 penolong
Tipe kedua dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif pada orang lain, dan menghindari kesan membutuhkan.
Tipe 3 pengejar prestasi
Para pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar dari kegagalan.
Tipe 4 romantis
Orang tipe romantis termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja.
Tipe 5 pengamat
Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban.
Tipe 6 pencemas
Orang tipe 6 termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan, dan terhindar dari kesan pemberontak.
Tipe 7 petualang
Tipe 7 termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita.
Tipe 8 pejuang
Tipe pejuang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat, memberi pengaruh pada dunia, dan terhindar dari kesan lemah.
Tipe 9 pendamai
Para pendamai dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari konflik.
Panah dan Sayap
panah dan sayap dalam enneagram Setiap tipe pada enneagram berhubungan langsung dengan 2 tipe lainnya yang disebut sebagai panah. Tipe 1 berhubungan dengan tipe 7 dan 4, tipe 2 dengan tipe 8 dan 4, dst (lihat gambar). Dinamika hubungan antar tipe ini terjadi sebagai berikut : jika dalam keadaan rileks tipe 1 akan mengambil karakter positif dari tipe 7, dan jika dalam keadaan tertekan akan mengambil karakter negatif dari panah sebaliknya, yaitu tipe 4. Sebagai contoh, tipe 1 yang mengambil sisi positif tipe 7 tidak akan terlalu mengkritik diri serta lebih menerima diri, lebih antusias dan optimis, bertindak lebih alami dan spontan. Sedangkan jika sedang tertekan akan mengarahkan kemarahan ke dalam diri sendiri lalu menjadi depresi, hilang kepercayaan diri, dan menginginkan apa yang tidak mereka miliki. Contoh lain, tipe 2 yang sedang rileks, akan mengambil karakter positif dari tipe 4, dan jika sedang tertekan akan mengambil karakter tipe 8. Dan begitu seterusnya dinamika hubungan pada tipe-tipe lainnya.
Selain panah, kepribadian kita dapat tercampur atau terpengaruhi oleh tipe di kanan dan kiri kita. Tipe di kanan dan kiri kita ini disebut dengan sayap. Contohnya, tipe 1 dengan sayap 2 yang lebih kuat, cenderung hangat, lebih suka menolong, mengkritik dan menguasai. Sedangkan tipe 1 dengan sayap 9 lebih kuat, cenderung lebih tenang, lebih santai, objektif dan menjaga jarak.
Tipe-tipe Enneagram dan Myers-Briggs Type Indicator
Bagian akhir buku Enneagram ini berisi penjelasan tentang tipe-tipe kepribadian yang sudah diakui, yaitu Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) dan kecocokannya dengan tipe-tipe dalam enneagram. MBTI sendiri adalah suatu inventori kepribadian yang berlandaskan pemikiran dari Carl Gustav Jung, seorang psikiater asal Swiss. Inventori ini mengukur kecenderungan individu berdasarkan empat skala : ekstraversion atau introversion, sensing atau intuition, thinking atau feeling, serta judging atau perceiving. Terakhir, terdapat tabel hubungan antara sistem dalam enneagram dan MBTI. (SPP)
Jumat, 18 Juni 2010
Action Pertama Untuk Sukses
Penulis : Ade Rai
Alangkah mencerahkannya apabila kita juga membuat keputusan untuk mengambil tindakan nyata (action) untuk merealisasikan apa yang sudah dicita-citakan.
Salah satu penyebab sulitnya mengambil langkah pertama untuk menjalankan gaya hidup bugar adalah ketakutan. Ada berbagai macam ketakutan yang dihadapi, seperti: ketakutan akan sakit dan pegal-pegal sesudah latihan, ketakutan akan gagal, atau ketakutan tubuh akan jauh lebih gemuk apabila sudah berhenti nanti, atau ketakutan gagal mencapai hasil yang diharapkan padahal sudah berusaha keras. Keterbatasan informasi mungkin menjadi salah satu kendala yang menyebabkan timbulnya ketakutan tersebut. Tetapi, di zaman informasi yang sudah demikian berlimpah, yang penting adalah bagaimana menemukan informasi dan pengetahuan yang tepat agar ketakutan itu bisa diatasi, dan hasil optimal yang bisa tecapai.
Buatlah langkah pertama itu, karena setidaknya berolahraga adalah lebih baik daripada tidak sama sekali. Kabar baiknya juga, apapun aktivitas olahraga yang kita lakukan, jika konsisten selama 3 bulan pertama, kita pasti akan menuai hasil positif. Dan waktu 3 bulan itu cukup bagi kita untuk secara paralel mencari informasi / pengetahuan baru yang mempersiapkan kita untuk bulan-bulan berikutnya.
"Only the ones who take action, push beyond the pain barrier, and keep learning deserve to enjoy the pleasure of achieving their goals." - Ade Rai
Stay strong, healthy, and happy! (SPP)
Alangkah mencerahkannya apabila kita juga membuat keputusan untuk mengambil tindakan nyata (action) untuk merealisasikan apa yang sudah dicita-citakan.
Salah satu penyebab sulitnya mengambil langkah pertama untuk menjalankan gaya hidup bugar adalah ketakutan. Ada berbagai macam ketakutan yang dihadapi, seperti: ketakutan akan sakit dan pegal-pegal sesudah latihan, ketakutan akan gagal, atau ketakutan tubuh akan jauh lebih gemuk apabila sudah berhenti nanti, atau ketakutan gagal mencapai hasil yang diharapkan padahal sudah berusaha keras. Keterbatasan informasi mungkin menjadi salah satu kendala yang menyebabkan timbulnya ketakutan tersebut. Tetapi, di zaman informasi yang sudah demikian berlimpah, yang penting adalah bagaimana menemukan informasi dan pengetahuan yang tepat agar ketakutan itu bisa diatasi, dan hasil optimal yang bisa tecapai.
Buatlah langkah pertama itu, karena setidaknya berolahraga adalah lebih baik daripada tidak sama sekali. Kabar baiknya juga, apapun aktivitas olahraga yang kita lakukan, jika konsisten selama 3 bulan pertama, kita pasti akan menuai hasil positif. Dan waktu 3 bulan itu cukup bagi kita untuk secara paralel mencari informasi / pengetahuan baru yang mempersiapkan kita untuk bulan-bulan berikutnya.
"Only the ones who take action, push beyond the pain barrier, and keep learning deserve to enjoy the pleasure of achieving their goals." - Ade Rai
Stay strong, healthy, and happy! (SPP)
Merencanakan Perjalanan Hidup
Penulis : Ace Ruhyat
Saya harus mengatur waktu, bukan diatur oleh waktu (Golda Meir)
Dalam setiap ceramahnya, Aa Gym selalu menekankan pentingnya perencanaan yang matang sebelum merencanakan sesuatu. "Awalilah setiap pekerjaan dengan perencanaan yang baik karena kegagalan dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan".
Hidup adalah sebuah perjalanan. Untuk menempuh sebuah perjalanan tentunya kita harus punya persiapan yang matang untuk menempuhnya. Perjalanan hidup penuh dengan persimpangan jika kita salah memilih jalan maka sama artinya dengan menghancurkan hidup kita sendiri.
Siapakah Anda?
Kenapa Anda lahir ke dunia ini?
Mau kemana Anda setelah kehidupan berakhir?
Rencanakan segera perjalanan hidup Anda. Apa yang akan Anda kerjakan hari ini? Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan?
Tanpa perencanaan yang matang kita akan mudah sekali untuk menyerah ketika menghadapi kegagalan dalam hidup. Zig Ziglar berkata, "Sebuah tujuan yang disusun secara biasa-biasa saja akan ditinggalkan dengan mudah pada rintangan pertama."
Dengan perencanaan maka kita bisa membuat peta jalan yang lebih banyak. Alasan mengapa orang sering putus asa ketika berhadapan dengan kegagalan adalah kurangnya pengetahuan tentang jalan yang harus ditempuh. Jika kita tahu banyak jalan maka kita tidak akan pernah mengalami putus asa karena begitu satu jalan terhalang kita bisa melalui jalan lain.
Rencana harus fleksibel. Ia harus bisa diubah kapanpun kita mau. Ibarat kita akan pergi dari Bandung ke Jakarta kita bisa lewat tol Cipularang ataupun lewat Puncak. Rencana bisa berubah namun tujuan harus pasti!
Tanpa perencanaan maka kita akan selalu disibukkan oleh hal-hal yang mendesak tapi sebenarnya itu tidak terlalu penting dan membawa manfaat bagi kita.
Setuju? Bagaimana pendapat teman-teman di sini? (SPP)
Saya harus mengatur waktu, bukan diatur oleh waktu (Golda Meir)
Dalam setiap ceramahnya, Aa Gym selalu menekankan pentingnya perencanaan yang matang sebelum merencanakan sesuatu. "Awalilah setiap pekerjaan dengan perencanaan yang baik karena kegagalan dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan".
Hidup adalah sebuah perjalanan. Untuk menempuh sebuah perjalanan tentunya kita harus punya persiapan yang matang untuk menempuhnya. Perjalanan hidup penuh dengan persimpangan jika kita salah memilih jalan maka sama artinya dengan menghancurkan hidup kita sendiri.
Siapakah Anda?
Kenapa Anda lahir ke dunia ini?
Mau kemana Anda setelah kehidupan berakhir?
Rencanakan segera perjalanan hidup Anda. Apa yang akan Anda kerjakan hari ini? Minggu depan? Bulan depan? Tahun depan?
Tanpa perencanaan yang matang kita akan mudah sekali untuk menyerah ketika menghadapi kegagalan dalam hidup. Zig Ziglar berkata, "Sebuah tujuan yang disusun secara biasa-biasa saja akan ditinggalkan dengan mudah pada rintangan pertama."
Dengan perencanaan maka kita bisa membuat peta jalan yang lebih banyak. Alasan mengapa orang sering putus asa ketika berhadapan dengan kegagalan adalah kurangnya pengetahuan tentang jalan yang harus ditempuh. Jika kita tahu banyak jalan maka kita tidak akan pernah mengalami putus asa karena begitu satu jalan terhalang kita bisa melalui jalan lain.
Rencana harus fleksibel. Ia harus bisa diubah kapanpun kita mau. Ibarat kita akan pergi dari Bandung ke Jakarta kita bisa lewat tol Cipularang ataupun lewat Puncak. Rencana bisa berubah namun tujuan harus pasti!
Tanpa perencanaan maka kita akan selalu disibukkan oleh hal-hal yang mendesak tapi sebenarnya itu tidak terlalu penting dan membawa manfaat bagi kita.
Setuju? Bagaimana pendapat teman-teman di sini? (SPP)
Mengubah Kebiasaan Sejak Saat Ini

Oleh : Arief Maulana
Kebiasaan Positif
Salah satu band yang bakal nongkrong di playlist saya kalau lagi pengen denger lagu yang rada bersemangat adalah Linkin Park. Dan diantara semua lagu-lagunya, ada 1 yang saya sering puter yaitu Breaking The Habit. Selain karena musiknya enak, makna di balik lagunya juga mengena tentang mengubah kebiasaan.
Mungkin sudah pernah ada yang mendengar bahwa lebih dari 80% kegiatan yang kita lakukan sehari-hari adalah di bawah kontrol alam bawah sadar (lebih lanjut soal ini, Anda bisa baca di buku “Manage Your Mind for Success” Adi W.Gunawan). Artinya kita apa yang kita lakukan selama ini kebanyakan hanya menjalankan saja program dari alam bawah sadar itu.
Yang perlu kita sadari adalah, sebelum program tersebut berjalan secara otomatis dan mengatur cara kita bertindak untuk merespon sesuatu, pada dasarnya kita lah yang pertama kali memberi masukan ke dalam program tersebut. Salah satunya adalah dengan membiasakan sesuatu.
Bukankah setiap manusia dilahirkan dengan kondisi pikiran yang kosong. Kemudian orang tua kita membimbing dan memberikan masukan bagaimana kita bertindak dan merespon sesuatu. Karena itu dilakukan berulang-ulang dan menjadi kebiasaan, akhirnya jadilah program otomatis yang mengatur kehidupan kita.
Contoh : Ketika Anda makan menggunakan sendok dan garpu, apakah masih harus berpikir lagi sendok di tangan mana dan garpu di tangan yang mana. Tentu tidak. Karena sejak kecil kita dibiasakan sendok di tangan kanan dan garpu di tangan kiri.
Sampai disini mudah-mudahan menangkap apa yang saya maksud, karena itu baru pembuka dari materi intinya.
Perlu diingat bahwa salah satu hal yang kerap menghambat kesuksesan kita adalah kebiasaan. Dan itu sulit diubah, terutama bila lingkungan kita dibesarkan dan tinggal selama ini kurang kondusif. Kebiasaan yang kurang baik melekat dan pada akhirnya memaksa kita merespon segala sesuatunya dengan kurang baik pula.
Bahkan ketika kita dihadapkan pada kondisi harus memutuskan sesuatu, otak kita akan mengambil dari bank memori alam bawah sadar juga sebagai referensi yang pada akhirnya membuahkan sebuah keputusan.
Sebelum semuanya terlambat dan program itu melekat semakin kuat dalam mengatur kehidupan kita, mari coba merenung dan menelaah, kira-kira kebiasaan apa dalam diri kita yang kurang baik. Mari mencoba untuk mengubahnya pelan-pelan. Memang sulit dan itu wajar. Karena pikiran kita yang sudah terprogram tadi merespon seperti layaknya antivirus yang mempertahankan sistem dari serangan inputan baru yang tidak dikenalnya.
Dengan mengubah kebiasaan ke arah positif, pelan tapi pasti kita mengubah program alam bawah sadar kita ke arah yang lebih baik. Dan bila sudah berubah, enak kan kalau kita tinggal menjalankan saja secara otomatis hal-hal yang baik itu. Cobalah mulai sekarang, untuk memasukkan kebiasaan-kebiasan positif ke dalam program alam bawah sadar Anda.
Ps. Sebuah buku pernah menyatakan bahwa ketika kita melakukan hal-hal baru, berturut-turut selama 90 hari, maka pada hari ke-91 itu akan menjadi kebiasaan baru kita.
Silahkan dikoreksi kalau saya ada yang salah, monggo kalau ada yang mau didiskusikan, dan silahkan dinikmati lagunya bagi yang belum pernah mendengar. Semoga bermanfaat.
Salam Sukses, (SPP)
Lakukan Saja Apa Yang Anda Ketahui
Oleh : Arief Maulana
Efek dari perubahan iklim adalah cuaca yang tak menentu seperti sekarang ini. Yang mestinya sudah masuk musim kemarau eh ternyata di Sidoarjo dan Surabaya masih saja sering dilanda hujan. Ngga tanggung-tanggung, rasanya hampir setiap hari turun hujan. Hal inilah yang membuat saya tidak lupa untuk selalu membawa jas hujan.
Saya rasa bukan hanya saya seorang yang menyadari masalah musim yang tidak menentu ini. Semua juga tahu kalau polanya sama, yakni hampir setiap hari turun hujan. Tapi anehnya, setiap kali hujan selalu saja saya temukan banyak orang yang menepi. Tidak bisa melanjutkan perjalanan karena terhalang hujan.
Mengherankan pastinya. Sudah tahu sering hujan kok ya, masih nekat tidak membawa jas hujan. Apalagi hujan tidak menentu. Iya kalau hujannya cuma guyonan, 1-5 menit doang terus berhenti. Kalau hujannya awet sampai berjam-jam? Apa mau terus menunggu hujan reda?
Itulah kecenderungan kita. “We know what to do, but we don’t do what we know.” Quotes yang sering didengungkan upline saya dulu di MLM. Kita tahu apa yang semestinya kita perbuat, tapi kita tidak melakukannya.
Saya tarik ke bisnis internet ataupun bisnis-bisnis lainnya. Masih juga terkait dengan posting sebelumnya, bagaimana kita tahu bisa sukses jika tidak mencoba. Kadang, niat kita untuk berubah dan melakukan sesuatu besar di awal. Termasuk juga menjadikan bisnis sebagai perantara kita meraih sukses. Tapi apa yang terjadi? Begitu kita tahu caranya, kecenderungannya adalah sedikit orang yang pada akhirnya memutuskan untuk benar-benar melakukan cara yang diberikan.
Ini bukan satu dua kasus. Sudah banyak. Terutama ketika ada temen-temen yang membeli panduan bisnis internet. Dalam hal ini saya mengabaikan panduan “sampah”. Asumsi saya temen-temen pegang panduan bisnis internet yang berkualitas, misalnya café bisnis, panduan affiliate marketing ataupun panduan facebook marketing.
What next? Kebanyakan ngga dipraktekkan. Bagaimana bisa praktek jika materi yang diberikan saja tidak berusaha dipahami. Padahal tentu para penulis panduan tersebut sudah berusaha memberikan tuntunan yang baik dan mudah dipahami. Kalaupun masih kesulitan, bukankah sudah disediakan sarana untuk konsultasi. Pun kita masih bisa searching di google untuk mencari solusinya.
Pada akhirnya semuanya akan bermuara pada satu hal. MINDSET. Ya, sebuah mindset yang salah akan mempengaruhi tindakan kita. Mindset cepat kaya ala instan sudah bisa dipastikan berseberangan dengan mindset sukses melalui proses (butuh waktu + trial error). Mindset yang salah juga kadang yang membuat teman-teman banyak yang putus asa di awal, melihat semuanya kok sepertinya terlalu rumit untuk dikerjakan. Padahal ketika dicoba boleh jadi tidak seseram yang kita bayangkan.
Mantapkan niat. Bila sudah ketemu jalan untuk mewujudkan semua dream Anda, LAKUKAN! Karena itu satu-satunya pilihan yang harus Anda tempuh untuk menjadi sukses sesuai definisi Anda masing-masing. (SPP)
Efek dari perubahan iklim adalah cuaca yang tak menentu seperti sekarang ini. Yang mestinya sudah masuk musim kemarau eh ternyata di Sidoarjo dan Surabaya masih saja sering dilanda hujan. Ngga tanggung-tanggung, rasanya hampir setiap hari turun hujan. Hal inilah yang membuat saya tidak lupa untuk selalu membawa jas hujan.
Saya rasa bukan hanya saya seorang yang menyadari masalah musim yang tidak menentu ini. Semua juga tahu kalau polanya sama, yakni hampir setiap hari turun hujan. Tapi anehnya, setiap kali hujan selalu saja saya temukan banyak orang yang menepi. Tidak bisa melanjutkan perjalanan karena terhalang hujan.
Mengherankan pastinya. Sudah tahu sering hujan kok ya, masih nekat tidak membawa jas hujan. Apalagi hujan tidak menentu. Iya kalau hujannya cuma guyonan, 1-5 menit doang terus berhenti. Kalau hujannya awet sampai berjam-jam? Apa mau terus menunggu hujan reda?
Itulah kecenderungan kita. “We know what to do, but we don’t do what we know.” Quotes yang sering didengungkan upline saya dulu di MLM. Kita tahu apa yang semestinya kita perbuat, tapi kita tidak melakukannya.
Saya tarik ke bisnis internet ataupun bisnis-bisnis lainnya. Masih juga terkait dengan posting sebelumnya, bagaimana kita tahu bisa sukses jika tidak mencoba. Kadang, niat kita untuk berubah dan melakukan sesuatu besar di awal. Termasuk juga menjadikan bisnis sebagai perantara kita meraih sukses. Tapi apa yang terjadi? Begitu kita tahu caranya, kecenderungannya adalah sedikit orang yang pada akhirnya memutuskan untuk benar-benar melakukan cara yang diberikan.
Ini bukan satu dua kasus. Sudah banyak. Terutama ketika ada temen-temen yang membeli panduan bisnis internet. Dalam hal ini saya mengabaikan panduan “sampah”. Asumsi saya temen-temen pegang panduan bisnis internet yang berkualitas, misalnya café bisnis, panduan affiliate marketing ataupun panduan facebook marketing.
What next? Kebanyakan ngga dipraktekkan. Bagaimana bisa praktek jika materi yang diberikan saja tidak berusaha dipahami. Padahal tentu para penulis panduan tersebut sudah berusaha memberikan tuntunan yang baik dan mudah dipahami. Kalaupun masih kesulitan, bukankah sudah disediakan sarana untuk konsultasi. Pun kita masih bisa searching di google untuk mencari solusinya.
Pada akhirnya semuanya akan bermuara pada satu hal. MINDSET. Ya, sebuah mindset yang salah akan mempengaruhi tindakan kita. Mindset cepat kaya ala instan sudah bisa dipastikan berseberangan dengan mindset sukses melalui proses (butuh waktu + trial error). Mindset yang salah juga kadang yang membuat teman-teman banyak yang putus asa di awal, melihat semuanya kok sepertinya terlalu rumit untuk dikerjakan. Padahal ketika dicoba boleh jadi tidak seseram yang kita bayangkan.
Mantapkan niat. Bila sudah ketemu jalan untuk mewujudkan semua dream Anda, LAKUKAN! Karena itu satu-satunya pilihan yang harus Anda tempuh untuk menjadi sukses sesuai definisi Anda masing-masing. (SPP)
Aku Ingin Menjadi Luar Biasa
Oleh : Arief Maulana
Asal Anda Mau, Anda Pasti Bisa
Suatu waktu, pernahkah Anda melihat sosok yang begitu luar biasa dan Anda ingin menjadi seperti orang tersebut? Tapi kemudian Anda patah semangat karena kelihatannya ngga mungkin banget dengan kondisi yang ada seperti sekarang ini, Anda menjadi orang yang luar biasa.
Anda merasa bahwa menjadi luar biasa sudah kodrat dari Sang Pencipta. Yang artinya kalau kita ditakdirkan biasa-biasa, ya udah… jadinya juga biasa-biasa aja. Kalau itu yang Anda pikirkan, STOP! Sudah saatnya Anda BERUBAH…
Ketahuilah rekan-rekan, menjadi orang luar biasa adalah sebuah pilihan hidup. Semua orang bisa menjadi luar biasa asalkan mereka mau. Ingat kuncinya bukan bisa atau tidak bisa melainkan mau atau tidak mau.
Jika Anda masih ingin menjadi orang yang luar biasa dan senantiasa bermanfaat bagi banyak orang, Anda bisa terus membaca. Namun bila Anda sudah pesimis, silahkan berhenti membaca tulisan ini dan tutup saja halaman blog ini.
Saya pernah mengalami apa yang Anda rasakan. Saya pernah melihat sosok luar biasa dan ingin menjadi seperti itu. Ketika saya melihat kenyataan yang ada dalam diri, maka harapan itu seakan pupus. Hingga akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak dari sosok luar biasa tersebut (yang bersangkutan minta kepada saya untuk dirahasiakan namanya).
Waktu itu, saya tanya kepada beliau, ”Mas… gimana sih caranya supaya bisa menjadi luar biasa seperti mas?”
Jawab beliau, ”Mudah sebenarnya untuk diucapkan, tapi sangat berat untuk dilakukan. Masih mau mendengarnya?”
Saya jawab, ”Ngga apa-apa mas, biar berat akan saya coba jalani.”
Kemudian beliau pun mensharingkan kunci bagaimana kita bisa menjadi orang luar biasa. Bagaimana seorang ulat yang menjijikkan bisa berubah menjadi sebuah kupu-kupu yang indah. Dan saat ini alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk mensharingkannya kepada Anda semua. Inilah langkah-langkahnya :
MEMBUANG EGO
Adalah suatu hal yang amat sangat wajar bila manusia lebih sering menjunjung ego dalam dirinya. Ego yang membuat mereka terlihat lebih dalam segala hal dibandingkan dengan orang lain. Lihat saja ketika ada sebuah permasalahan, saya yakin dua belah pihak akan saling mempertahankan pendapatnya masing-masing, sekalipun salah satunya salah.
Ego ini terkadang membutakan mata dan menutup pintu hati kita untuk bisa belajar dari sekolah kehidupan yang luar biasa. Sebagai contoh : yang tua enggan belajar pada yang muda, padahal belum tentu yang tua lebih bijaksana. Atau yang merasa berilmu seringkali memandang remeh pada mereka yang masih baru belajar. Padahal boleh jadi ketika mereka yang baru belajar sudah paham, ilmunya bisa lebih tinggi.
Saya paling suka berguru sama anak kecil. Kenapa? Pernahkah Anda melihat bagaimana seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan? Ketika ia terjatuh, pasti akan berusaha untuk bangkit kembali dan mencoba berjalan lagi. Sesekali mungkin menangis, namun tidak lama kemudian terus mencoba hingga akhirnya bisa berjalan. Ia tidak mengenal kata menyerah, terus berjuang walau kegagalan terus melanda. Hingga akhirnya ia pun tiba di puncak kemenangan.
MAU BERUBAH DAN SIAP MENJALANI PROSESNYA
Menjadi orang luar biasa sama artinya memilih jalan untuk berubah. Dan yang namanya berubah itu sangatlah sulit. Butuh kemauan yang kuat dan diiringin dengan mental baja dalam menjalani setiap prosesnya.
Tidak ada orang sukses tanpa berubah. Apa yang harus diubah? Semuanya. Mulai dari sikap, pola pikir, penampilan / performance, dll. Intinya Anda harus mau mengembangkan diri setiap saat. Saya yakin dalam proses berubah itu akan banyak hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah Anda anut dan menjadi kebiasaan selama ini. Disitulah letak perjuangannya.
Disamping itu, jangan lupa dengan yang namanya hukum proses. Tidak ada segala sesuatu yang instan di dunia ini. Semuanya butuh proses dan waktu. Nah, dalam hal ini Anda dituntut untuk sabar menunggu proses perubahan dalam diri Anda. Perubahan yang instan biasanya tidak akan bertahan lama. Jadi tanamkan dalam diri Anda untuk selalu belajar dan berkembang.
TINGKATKAN NILAI DIRI ANDA
Di sebuah rekaman audio Financial Revolution, Pak Tung (Tung Desem Waringin) pernah mengatakan bahwa sebenarnya ketika kita bersaing secara sehat dalam hal apapun, kita tidak pernah menjatuhkan lawan kita.
Lantas apa namanya kalau kita tidak menjatuhkan / mengalahkan lawan kita? Jawabnya adalah mereka tidak sanggup mengejar nilai-nilai dalam diri (atau bisnis) kita yang selalu meningkat. Mereka tertinggal karena mereka enggan untuk turut meningkatkan nilai diri.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan nilai dalam diri kita? Jawabnya simpel. Senantiasa belajar dan terus mengembangkan diri kita. Buka mata pada setiap peluang yang ada. Kurangi porsi menilai segala sesuatunya dari sisi negatif. Dan terakhir, dekatkan diri pada Sang Pencipta, Allah SWT.
Biasanya bila nilai diri seseorang sudah meningkat, maka disana kita akan mulai melihat sosok yang berbeda, walaupun itu adalah adalah teman kita yang sejak kecil selalu bersama-sama dengan kita. Itulah kekuatan sebuah nilai lebih dalam diri seseorang. Dan nilai itu seringkali tidak terlihat namun bisa dirasakan (intangible value). Jadi tingkatkan nilai dalam diri Anda, dan jadilah orang luar biasa.
RENDAH HATI
Satu kesamaan yang selalu melekat pada orang yang luar biasa. Mereka selalu rendah hati. Ketika kita memuji dan mencoba belajar dari kehidupan mereka, biasanya mereka akan merendahkan hati dan balik memuji serta mengangkat kita. Ujung-ujungnya kita menjadi lebih bersemangat.
Mereka tidak sombong. Karena satu-satunya yang patut untuk sombong adalah Sang Pencipta. Why? Karena Dia lah Yang Maha Sempurna. Sementara para manusia, sehebat dan seluar biasa apapun tetap aja ngga ada artinya bila dibandingkan kedahsyatan Sang Pencipta. Dan karena sikap rendah hati inilah yang kadang membuat nilai lebih dalam diri mereka bertambah.
SEMANGAT BERBAGI
Satu prinsip yang sering didengung-dengungkan namun tidak dimengerti oleh banyak orang adalah, ”Semakin banyak kita memberi, makin banyak kita menerima.” Nah, biasanya yang kita lakukan adalah menerima dulu, baru mau memberi, betul…?
Orang-orang luar biasa memiliki semangat memberi yang tinggi. Mereka akan senantiasa membagikan apapun yang dirasa bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain. Bila yang ada hanyalah secuil ilmu, ya ilmu itu yang dibagikan. Bila yang dimiliki adalah harta yang melimpah, maka harta itulah yang dibagikan. Bila yang dimiliki adalah pengalaman hidup yang menjadi sebuah pelajaran, maka pengalaman itulah yang disharingkan.
Dari sini Anda sudah tahu bagaimana caranya untuk bisa berubah menjadi orang yang luar biasa. Tinggal bagaimana kedepannya adalah tergantung dari niat, usaha dan keyakinan Anda.
Saya menyampaikan ini, bukan berarti saya adalah orang yang luar biasa. Saya hanya meneruskan apa yang pernah disampaikan oleh rekan saya tersebut. Saya sama seperti Anda, juga sedang belajar dan mencoba berubah menjadi orang luar biasa…
Mari kita sama-sama berkembang dan berubah menjadi manusia luar biasa yang bisa bermanfaat bagi lingkungan di sekitar kita…
Salam Sukses, (SPP)
Asal Anda Mau, Anda Pasti Bisa
Suatu waktu, pernahkah Anda melihat sosok yang begitu luar biasa dan Anda ingin menjadi seperti orang tersebut? Tapi kemudian Anda patah semangat karena kelihatannya ngga mungkin banget dengan kondisi yang ada seperti sekarang ini, Anda menjadi orang yang luar biasa.
Anda merasa bahwa menjadi luar biasa sudah kodrat dari Sang Pencipta. Yang artinya kalau kita ditakdirkan biasa-biasa, ya udah… jadinya juga biasa-biasa aja. Kalau itu yang Anda pikirkan, STOP! Sudah saatnya Anda BERUBAH…
Ketahuilah rekan-rekan, menjadi orang luar biasa adalah sebuah pilihan hidup. Semua orang bisa menjadi luar biasa asalkan mereka mau. Ingat kuncinya bukan bisa atau tidak bisa melainkan mau atau tidak mau.
Jika Anda masih ingin menjadi orang yang luar biasa dan senantiasa bermanfaat bagi banyak orang, Anda bisa terus membaca. Namun bila Anda sudah pesimis, silahkan berhenti membaca tulisan ini dan tutup saja halaman blog ini.
Saya pernah mengalami apa yang Anda rasakan. Saya pernah melihat sosok luar biasa dan ingin menjadi seperti itu. Ketika saya melihat kenyataan yang ada dalam diri, maka harapan itu seakan pupus. Hingga akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak dari sosok luar biasa tersebut (yang bersangkutan minta kepada saya untuk dirahasiakan namanya).
Waktu itu, saya tanya kepada beliau, ”Mas… gimana sih caranya supaya bisa menjadi luar biasa seperti mas?”
Jawab beliau, ”Mudah sebenarnya untuk diucapkan, tapi sangat berat untuk dilakukan. Masih mau mendengarnya?”
Saya jawab, ”Ngga apa-apa mas, biar berat akan saya coba jalani.”
Kemudian beliau pun mensharingkan kunci bagaimana kita bisa menjadi orang luar biasa. Bagaimana seorang ulat yang menjijikkan bisa berubah menjadi sebuah kupu-kupu yang indah. Dan saat ini alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk mensharingkannya kepada Anda semua. Inilah langkah-langkahnya :
MEMBUANG EGO
Adalah suatu hal yang amat sangat wajar bila manusia lebih sering menjunjung ego dalam dirinya. Ego yang membuat mereka terlihat lebih dalam segala hal dibandingkan dengan orang lain. Lihat saja ketika ada sebuah permasalahan, saya yakin dua belah pihak akan saling mempertahankan pendapatnya masing-masing, sekalipun salah satunya salah.
Ego ini terkadang membutakan mata dan menutup pintu hati kita untuk bisa belajar dari sekolah kehidupan yang luar biasa. Sebagai contoh : yang tua enggan belajar pada yang muda, padahal belum tentu yang tua lebih bijaksana. Atau yang merasa berilmu seringkali memandang remeh pada mereka yang masih baru belajar. Padahal boleh jadi ketika mereka yang baru belajar sudah paham, ilmunya bisa lebih tinggi.
Saya paling suka berguru sama anak kecil. Kenapa? Pernahkah Anda melihat bagaimana seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan? Ketika ia terjatuh, pasti akan berusaha untuk bangkit kembali dan mencoba berjalan lagi. Sesekali mungkin menangis, namun tidak lama kemudian terus mencoba hingga akhirnya bisa berjalan. Ia tidak mengenal kata menyerah, terus berjuang walau kegagalan terus melanda. Hingga akhirnya ia pun tiba di puncak kemenangan.
MAU BERUBAH DAN SIAP MENJALANI PROSESNYA
Menjadi orang luar biasa sama artinya memilih jalan untuk berubah. Dan yang namanya berubah itu sangatlah sulit. Butuh kemauan yang kuat dan diiringin dengan mental baja dalam menjalani setiap prosesnya.
Tidak ada orang sukses tanpa berubah. Apa yang harus diubah? Semuanya. Mulai dari sikap, pola pikir, penampilan / performance, dll. Intinya Anda harus mau mengembangkan diri setiap saat. Saya yakin dalam proses berubah itu akan banyak hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah Anda anut dan menjadi kebiasaan selama ini. Disitulah letak perjuangannya.
Disamping itu, jangan lupa dengan yang namanya hukum proses. Tidak ada segala sesuatu yang instan di dunia ini. Semuanya butuh proses dan waktu. Nah, dalam hal ini Anda dituntut untuk sabar menunggu proses perubahan dalam diri Anda. Perubahan yang instan biasanya tidak akan bertahan lama. Jadi tanamkan dalam diri Anda untuk selalu belajar dan berkembang.
TINGKATKAN NILAI DIRI ANDA
Di sebuah rekaman audio Financial Revolution, Pak Tung (Tung Desem Waringin) pernah mengatakan bahwa sebenarnya ketika kita bersaing secara sehat dalam hal apapun, kita tidak pernah menjatuhkan lawan kita.
Lantas apa namanya kalau kita tidak menjatuhkan / mengalahkan lawan kita? Jawabnya adalah mereka tidak sanggup mengejar nilai-nilai dalam diri (atau bisnis) kita yang selalu meningkat. Mereka tertinggal karena mereka enggan untuk turut meningkatkan nilai diri.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan nilai dalam diri kita? Jawabnya simpel. Senantiasa belajar dan terus mengembangkan diri kita. Buka mata pada setiap peluang yang ada. Kurangi porsi menilai segala sesuatunya dari sisi negatif. Dan terakhir, dekatkan diri pada Sang Pencipta, Allah SWT.
Biasanya bila nilai diri seseorang sudah meningkat, maka disana kita akan mulai melihat sosok yang berbeda, walaupun itu adalah adalah teman kita yang sejak kecil selalu bersama-sama dengan kita. Itulah kekuatan sebuah nilai lebih dalam diri seseorang. Dan nilai itu seringkali tidak terlihat namun bisa dirasakan (intangible value). Jadi tingkatkan nilai dalam diri Anda, dan jadilah orang luar biasa.
RENDAH HATI
Satu kesamaan yang selalu melekat pada orang yang luar biasa. Mereka selalu rendah hati. Ketika kita memuji dan mencoba belajar dari kehidupan mereka, biasanya mereka akan merendahkan hati dan balik memuji serta mengangkat kita. Ujung-ujungnya kita menjadi lebih bersemangat.
Mereka tidak sombong. Karena satu-satunya yang patut untuk sombong adalah Sang Pencipta. Why? Karena Dia lah Yang Maha Sempurna. Sementara para manusia, sehebat dan seluar biasa apapun tetap aja ngga ada artinya bila dibandingkan kedahsyatan Sang Pencipta. Dan karena sikap rendah hati inilah yang kadang membuat nilai lebih dalam diri mereka bertambah.
SEMANGAT BERBAGI
Satu prinsip yang sering didengung-dengungkan namun tidak dimengerti oleh banyak orang adalah, ”Semakin banyak kita memberi, makin banyak kita menerima.” Nah, biasanya yang kita lakukan adalah menerima dulu, baru mau memberi, betul…?
Orang-orang luar biasa memiliki semangat memberi yang tinggi. Mereka akan senantiasa membagikan apapun yang dirasa bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain. Bila yang ada hanyalah secuil ilmu, ya ilmu itu yang dibagikan. Bila yang dimiliki adalah harta yang melimpah, maka harta itulah yang dibagikan. Bila yang dimiliki adalah pengalaman hidup yang menjadi sebuah pelajaran, maka pengalaman itulah yang disharingkan.
Dari sini Anda sudah tahu bagaimana caranya untuk bisa berubah menjadi orang yang luar biasa. Tinggal bagaimana kedepannya adalah tergantung dari niat, usaha dan keyakinan Anda.
Saya menyampaikan ini, bukan berarti saya adalah orang yang luar biasa. Saya hanya meneruskan apa yang pernah disampaikan oleh rekan saya tersebut. Saya sama seperti Anda, juga sedang belajar dan mencoba berubah menjadi orang luar biasa…
Mari kita sama-sama berkembang dan berubah menjadi manusia luar biasa yang bisa bermanfaat bagi lingkungan di sekitar kita…
Salam Sukses, (SPP)
Siap Belajar Dan Siap Juga Bekerja Keras Maka Kesuksesan Akan Berpihak Pada Anda
Jika anda siap belajar dan siap juga untuk bekerja keras maka kesuksesan akan berpihak pada Anda. Saya bukannya ngga pernah loh menjadi Mr Learner, artinya belajar melulu tapi kurang banget mempraktekkan apa yang saya pelajari. Hasilnya jelas hanya sampai pada level pengetahuan dan belum sampai pada level KEMAMPUAN. Padahal dalam dunia bisnis, yang diperlukan bukanlah hanya pengetahuan tetapi juga Take Action itu sendiri.
What is Mr Action Club? Club ini merupakan tempat pelatihan bisnis online yang menitik beratkan pada Take Action (Praktek). Ya, sesuai dengan namanya Mr Action Club. Jika Anda ingin termotivasi untuk benar-benar belajar bisnis online serta juga siap kerja keras untuk mempraktekkan setiap pelajaran Mr Action, artinya Anda memang sudah siap dan pastinya berpotensi jauh lebih sukses.
Sudahkan Anda bergabung bersama Mr Action Club untuk mencapai kesuksesan Anda yang lebih nyata dalam bisnis online?. Jika sudah, saya ucapkan selamat dan jangan lupa evaluasi kegiatan Anda agar tetap berada di jalur kerja keras dan kesuksesan. Jika belum, anda bisa bergabung sekarang disini: Mr Action Club
So pastinya juga, apapun hasil-hasil yang akan kita dapatkan memang wajib kita syukuri, tiada pula keinginan dan cita-cita kita yang mutlak akan tercapai, sebab rejeki tetaplah misteri Yang Kuasa. Namun demikian, alaminya adalah jika kita berusaha dan bersyukur dan berkontribusi pada sesama maka kita akan berhasil. (SPP)
What is Mr Action Club? Club ini merupakan tempat pelatihan bisnis online yang menitik beratkan pada Take Action (Praktek). Ya, sesuai dengan namanya Mr Action Club. Jika Anda ingin termotivasi untuk benar-benar belajar bisnis online serta juga siap kerja keras untuk mempraktekkan setiap pelajaran Mr Action, artinya Anda memang sudah siap dan pastinya berpotensi jauh lebih sukses.
Sudahkan Anda bergabung bersama Mr Action Club untuk mencapai kesuksesan Anda yang lebih nyata dalam bisnis online?. Jika sudah, saya ucapkan selamat dan jangan lupa evaluasi kegiatan Anda agar tetap berada di jalur kerja keras dan kesuksesan. Jika belum, anda bisa bergabung sekarang disini: Mr Action Club
So pastinya juga, apapun hasil-hasil yang akan kita dapatkan memang wajib kita syukuri, tiada pula keinginan dan cita-cita kita yang mutlak akan tercapai, sebab rejeki tetaplah misteri Yang Kuasa. Namun demikian, alaminya adalah jika kita berusaha dan bersyukur dan berkontribusi pada sesama maka kita akan berhasil. (SPP)
Kerja Keras Untuk Mencapai Hasil Maksimal
Motivasi kerja ini menekankan pentingnya kerja keras agar kita mencapai hasil dari kerja keras itu yang memuaskan tentunya motivasi ini harus benar-benar kita praktekkan untu mencapai hasil yang diharapkan tanpa praktek maka sama dengan hal yang tidak mungkin terjadi.
Kita harus mencontoh orang-orang hebat mereka sukses karena kerja keras mereka bukan warisan bukan pula pinjaman. Sebagai orang yang akan mewarisi genersi tua untuk mencapai kesuksesan dalam kerja maka kita harus motivasi diri dan berjalah dengan keras tapi yang harus kita ingat kerja keras disini bukan berarti kita kerja sampai sakit bahkan jadi pesakitan tapi kerja yang memaksimalkan segaa potensi yang ada misalnya kita belajar belajar bahasa inggris maka kita harus termotivasi untuk kerja keras misalnya teman kita sudah bayar beli suatu barang untuk buat blog misalnya didomain handal dan hebat tapi kita tidak pernah kerja ekstra keras maka tentu hasilnya akan biasa-biasa saja.
Salah satu agar kita termotivasi untuk kerja keras adalah kita kenal apa yang akan kita kerjakan contohnya saja anda belum pernah ketemu kenal baru sekali itu eeee…orang tua sudah langsung memaksa nikah hari itu otomatis kita akan bekerja keras untuk mencari solusi yang terbaik begitu juga dalam internet marketing kita tidak mungkin langsung jadi hebat tapi harus ada proses dan belajar misalnya dari cafebisnis walau kerja keras kalau tahu ilmunya kan jadi lumayan mudah bukan. (SPP)
Kita harus mencontoh orang-orang hebat mereka sukses karena kerja keras mereka bukan warisan bukan pula pinjaman. Sebagai orang yang akan mewarisi genersi tua untuk mencapai kesuksesan dalam kerja maka kita harus motivasi diri dan berjalah dengan keras tapi yang harus kita ingat kerja keras disini bukan berarti kita kerja sampai sakit bahkan jadi pesakitan tapi kerja yang memaksimalkan segaa potensi yang ada misalnya kita belajar belajar bahasa inggris maka kita harus termotivasi untuk kerja keras misalnya teman kita sudah bayar beli suatu barang untuk buat blog misalnya didomain handal dan hebat tapi kita tidak pernah kerja ekstra keras maka tentu hasilnya akan biasa-biasa saja.
Salah satu agar kita termotivasi untuk kerja keras adalah kita kenal apa yang akan kita kerjakan contohnya saja anda belum pernah ketemu kenal baru sekali itu eeee…orang tua sudah langsung memaksa nikah hari itu otomatis kita akan bekerja keras untuk mencari solusi yang terbaik begitu juga dalam internet marketing kita tidak mungkin langsung jadi hebat tapi harus ada proses dan belajar misalnya dari cafebisnis walau kerja keras kalau tahu ilmunya kan jadi lumayan mudah bukan. (SPP)
Apakah uang itu suatu motivator?
Insentif finansial adalah salah satu bentuk hal yang sejak lama dianggap oleh perusahaan bisa meningkatkan motivasi pekerja memberikan job performance yang tinggi.
“Di dunia ini tidak ada yang lebih meruntuhkan moral daripada uang.”
Sopochles, Antigone
“Daya bujuk uang jauh lebih kuat daripada alasan yang logis.”
Euripidies, Medea
Finansial atau keuangan adalah hal yang tidak bisa dihindari jika kita berbicara tentang motivasi seseorang dalam bekerja.
Jadi sudah tiba waktunya untuk berkonfrontasi dengan pertanyaan, “Apakah uang itu suatu motivator?” Jika kita membatasi definisi motivasi itu hanya pada dorongan internal, mestinya jawabannya adalah tidak. Namun, secara praktis, bagi siapa saja yang lebih berkepentingan untuk membangkitkan kinerja daripada kebenaran psikologis, pertanyaan yang lebih penting barangkali berbunyi, “Apakah uang (atau usaha untuk mendapatkannya) memberi semangat kepada pekerja dan memacu mereka ke kinerja yang superior?”
Terdapat dua jawaban yang berbeda dari pertanyaan di atas, ya dan tidak. Perbedaan jawaban tersebut telah berlangsung selama beberapa milenium, berikut penjelasan dari kedua belah pihak:
Pihak yang mendukung jawaban “ya”.
Jika Anda membaca tentang uang dalam jumlah besar yang dibayar oleh organisasi untuk membujuk eksekutif berprofil tinggi guna menduduki kedudukan penting di perusahaan mereka, sulit untuk membantah bahwa uang itu bukan motivator. Tidak ada satupun perusahaan yang bersedia membayar uang sebanyak itu kepada seseorang yang berkata, “Jangan Anda mengkhawatirkan gaji atau bonus atau opsi saham. Saya tidak peduli jika itu tida seberapa besar. Bagi saya yang menarik adalah tantangannya”.
Uang tidak saja berbicara di eselon atas. Berapa kali Anda mendengar seorang karyawan menggumam, “Berikan saja uangnya! Ucapan terima kasih tidak bisa membayar uang konrakan rumah”.
Uang berpengaruh kepada perilaku di pekerjaan disebabkan oleh dua alasan, karena apa yang dapat dibeli dengannya dan karena apa yang disimbolkan olehnya.
1. Apa yang dapat dibeli dengan uang. Jutaan orang di seluruh dunia berusaha keras dalaam pekerjaan yang tidak atau hanya sedikit memberikan imbalan intrinsik, tetapi yang memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, mendapatkan sandang, pangan, dan papan. Pada tingkatan paling elementer, uang membeli jaminanh yang paling mendasar; Maslow mengenali itu sebagai kebutuhan manusia sementara Herzberg menempatkannya di antara faktor higienenya—sesuatu yang kta butuhkan untuk menolak ketidakpuasan. Bagi siapapun yang tidak dilahirkan sebagi orang yang beruntung, maka bekerja adalah jalan yang diterima oleh umum untuk mendapatkan uang.
2. Apa yang disimbolkan oleh uang. Banyak orang yang membaca uang seperti mereka membaca daun teh. Uang mengungkapkan betapa pentingnya mereka di dalam organisasi tempat mereka bekerja, bagaimana peringkat mereka dibandingkan rekan kerja, kedudukan mereka dalam komunitas dan di kalangan sangat terbatas, prestise mereka di dunia. Bagi mereka uang adalah ukuran bagi bobot pencapaian. Semua hal menyenangkan yang dapat dibeli dengan uang bukan hanya mainan atau barang yang kita sanjung karena milik kita. Semua itu adalah simbil status. Rumah di mana kita tinggal, mobil yang kita kendarai, berlangganan konser, dan peristiwa olah raga, tujuan liburan kita—semua ini bercerita kepada dunia bahwa kita sudah mapan, atau tidak mapan. Mampu memiliki perhiasan yang psestise membuat kita memperoleh awalan yang tepat, undangan yang tepat, dan rasa hormat dari tetangga.
Pihak yang mendukung jawaban “tidak”.
Siapa pun menyepakati bahwa uang dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk dapat menerima suatu pekerjaan, khususnya jika orang itu sedang kesulitan mencari pekerjaan sementara tagihan sudah menggunung, atau—di sisi lain—orang itu mendapat tawaran yang secara intrinsik sama menarinya. Uang dapat juga mempengaruhi seseorang untuk meninggalkan suatu pekerjaan dan menerima yang lain. Namun di antara keduanya uang digunakan untuk membuat karyawan bersemangat dan produktif secara konsisten—itulah keterbatasannya jika hanya mengandalkan uang.
“Bagi kebanyakan manajer, memotivasi dengan uang dihadapkan kepada dua rintangan. Rintangan pertama adalah kendali mereka yang terbatas atas imbalan keuangan bagi karyawan. Rintangan kedua adalah bahwa keberhasilan uang sebagai motivator, dalam keadaan terbaik pun tidak menentu”. Deeprose, D
How to recognize and Reward Emplyees
Hal-hal yang menyebabkan imbalan keuangan kadang kurang efektif untuk memotivasi karyawan:
1. Dampak yang sementara. Ketika seorang karyawan menerima kenaikan gaji, dan kebetulan kenaikannya memuaskan karyawan tersebut, maka pada saat itu dia akan merasakan suatu kenyamanan dan siap memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Beberapa bulan kemudian, karyawan tersebut sudah merasa biasa dengan kenaikan gaji tersebut. Semangat yang mengebu-gebu pun mulai hilang. Itulah kekurangan uang sebagai motivator. Ia dapat meghasilkan suatu semburan kegiatan pendek tetapi dampaknya tidak bertahan lama.
2. Faktor merasa berhak. Dengan berlalunya waktu, gejolak semangat dan energi yang dibangkitkan oleh suatu kenaikan gaji yang baik akan mulai memudar. Hal ini karena apa yang tadi dirsakan sebagai imbalan kini berevolusi menjadi rasa berhak. Jika seseorang merasa apa yang dia dapatkan adalah hak yang harus dia peroleh, maka ia tidak lagi termotivasi untuk melakukan hal lebih guna mndapatkan imbalan tersebut.
3. Tidak pernah cukup. Jika Anda mengelola orang lain, hanya ada satu hal yang pasti yang Anda ketahui tentang uang. Di dalam anggaran Anda tidak pernah ada uang yang cukup untuk membuat semua orang uang. Lalu jika melihat dampaknya dalam jangka pendek, Anda menyadari bahwa mungkin tidak ada cukup uang untuk menjaga agar setiap orang tetap termotivasi. Tidak seperti motivator intrinsik, persediaan uang selalu terbatas.
4. Membunuh kesenangan. Dalam beberapa eksperimennya tentang motivasi, ahli psikologi Edward L. Deci menemukan bahwa membayar orang untuk melakukan suatu tugas menghilangkan kesenangan mengerjakan bagi pelakunya. Mereka yang tidak ia bayar untuk memecahkan teka-teki tetap masih mencoba kendati waktu yang telah disepakati telah lewat. Sebaliknya yang ia bayar untuk melakukan hal tersebut menerima uangnya lalu pergi.
Kehidupan nyata dan eksperimen tidak seratus persen sama. Akan tetapi pelajaran yang dapat diambil adalah Anda mungkin tidak boleh mengharapkan dedikasi yang sama dari orang yang hanya bekerja karena uang, dibandingkan yang dapat Anda peroleh dari orang yang menyenangi pekerjannya dan puas menjadi bagian dari organisasi Anda.
Referensi :
Deeprose, Donna. 2006. Smart Things to Konow About Motivation. Jakarta: Elex Media Komputindo (SPP)
“Di dunia ini tidak ada yang lebih meruntuhkan moral daripada uang.”
Sopochles, Antigone
“Daya bujuk uang jauh lebih kuat daripada alasan yang logis.”
Euripidies, Medea
Finansial atau keuangan adalah hal yang tidak bisa dihindari jika kita berbicara tentang motivasi seseorang dalam bekerja.
Jadi sudah tiba waktunya untuk berkonfrontasi dengan pertanyaan, “Apakah uang itu suatu motivator?” Jika kita membatasi definisi motivasi itu hanya pada dorongan internal, mestinya jawabannya adalah tidak. Namun, secara praktis, bagi siapa saja yang lebih berkepentingan untuk membangkitkan kinerja daripada kebenaran psikologis, pertanyaan yang lebih penting barangkali berbunyi, “Apakah uang (atau usaha untuk mendapatkannya) memberi semangat kepada pekerja dan memacu mereka ke kinerja yang superior?”
Terdapat dua jawaban yang berbeda dari pertanyaan di atas, ya dan tidak. Perbedaan jawaban tersebut telah berlangsung selama beberapa milenium, berikut penjelasan dari kedua belah pihak:
Pihak yang mendukung jawaban “ya”.
Jika Anda membaca tentang uang dalam jumlah besar yang dibayar oleh organisasi untuk membujuk eksekutif berprofil tinggi guna menduduki kedudukan penting di perusahaan mereka, sulit untuk membantah bahwa uang itu bukan motivator. Tidak ada satupun perusahaan yang bersedia membayar uang sebanyak itu kepada seseorang yang berkata, “Jangan Anda mengkhawatirkan gaji atau bonus atau opsi saham. Saya tidak peduli jika itu tida seberapa besar. Bagi saya yang menarik adalah tantangannya”.
Uang tidak saja berbicara di eselon atas. Berapa kali Anda mendengar seorang karyawan menggumam, “Berikan saja uangnya! Ucapan terima kasih tidak bisa membayar uang konrakan rumah”.
Uang berpengaruh kepada perilaku di pekerjaan disebabkan oleh dua alasan, karena apa yang dapat dibeli dengannya dan karena apa yang disimbolkan olehnya.
1. Apa yang dapat dibeli dengan uang. Jutaan orang di seluruh dunia berusaha keras dalaam pekerjaan yang tidak atau hanya sedikit memberikan imbalan intrinsik, tetapi yang memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, mendapatkan sandang, pangan, dan papan. Pada tingkatan paling elementer, uang membeli jaminanh yang paling mendasar; Maslow mengenali itu sebagai kebutuhan manusia sementara Herzberg menempatkannya di antara faktor higienenya—sesuatu yang kta butuhkan untuk menolak ketidakpuasan. Bagi siapapun yang tidak dilahirkan sebagi orang yang beruntung, maka bekerja adalah jalan yang diterima oleh umum untuk mendapatkan uang.
2. Apa yang disimbolkan oleh uang. Banyak orang yang membaca uang seperti mereka membaca daun teh. Uang mengungkapkan betapa pentingnya mereka di dalam organisasi tempat mereka bekerja, bagaimana peringkat mereka dibandingkan rekan kerja, kedudukan mereka dalam komunitas dan di kalangan sangat terbatas, prestise mereka di dunia. Bagi mereka uang adalah ukuran bagi bobot pencapaian. Semua hal menyenangkan yang dapat dibeli dengan uang bukan hanya mainan atau barang yang kita sanjung karena milik kita. Semua itu adalah simbil status. Rumah di mana kita tinggal, mobil yang kita kendarai, berlangganan konser, dan peristiwa olah raga, tujuan liburan kita—semua ini bercerita kepada dunia bahwa kita sudah mapan, atau tidak mapan. Mampu memiliki perhiasan yang psestise membuat kita memperoleh awalan yang tepat, undangan yang tepat, dan rasa hormat dari tetangga.
Pihak yang mendukung jawaban “tidak”.
Siapa pun menyepakati bahwa uang dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk dapat menerima suatu pekerjaan, khususnya jika orang itu sedang kesulitan mencari pekerjaan sementara tagihan sudah menggunung, atau—di sisi lain—orang itu mendapat tawaran yang secara intrinsik sama menarinya. Uang dapat juga mempengaruhi seseorang untuk meninggalkan suatu pekerjaan dan menerima yang lain. Namun di antara keduanya uang digunakan untuk membuat karyawan bersemangat dan produktif secara konsisten—itulah keterbatasannya jika hanya mengandalkan uang.
“Bagi kebanyakan manajer, memotivasi dengan uang dihadapkan kepada dua rintangan. Rintangan pertama adalah kendali mereka yang terbatas atas imbalan keuangan bagi karyawan. Rintangan kedua adalah bahwa keberhasilan uang sebagai motivator, dalam keadaan terbaik pun tidak menentu”. Deeprose, D
How to recognize and Reward Emplyees
Hal-hal yang menyebabkan imbalan keuangan kadang kurang efektif untuk memotivasi karyawan:
1. Dampak yang sementara. Ketika seorang karyawan menerima kenaikan gaji, dan kebetulan kenaikannya memuaskan karyawan tersebut, maka pada saat itu dia akan merasakan suatu kenyamanan dan siap memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Beberapa bulan kemudian, karyawan tersebut sudah merasa biasa dengan kenaikan gaji tersebut. Semangat yang mengebu-gebu pun mulai hilang. Itulah kekurangan uang sebagai motivator. Ia dapat meghasilkan suatu semburan kegiatan pendek tetapi dampaknya tidak bertahan lama.
2. Faktor merasa berhak. Dengan berlalunya waktu, gejolak semangat dan energi yang dibangkitkan oleh suatu kenaikan gaji yang baik akan mulai memudar. Hal ini karena apa yang tadi dirsakan sebagai imbalan kini berevolusi menjadi rasa berhak. Jika seseorang merasa apa yang dia dapatkan adalah hak yang harus dia peroleh, maka ia tidak lagi termotivasi untuk melakukan hal lebih guna mndapatkan imbalan tersebut.
3. Tidak pernah cukup. Jika Anda mengelola orang lain, hanya ada satu hal yang pasti yang Anda ketahui tentang uang. Di dalam anggaran Anda tidak pernah ada uang yang cukup untuk membuat semua orang uang. Lalu jika melihat dampaknya dalam jangka pendek, Anda menyadari bahwa mungkin tidak ada cukup uang untuk menjaga agar setiap orang tetap termotivasi. Tidak seperti motivator intrinsik, persediaan uang selalu terbatas.
4. Membunuh kesenangan. Dalam beberapa eksperimennya tentang motivasi, ahli psikologi Edward L. Deci menemukan bahwa membayar orang untuk melakukan suatu tugas menghilangkan kesenangan mengerjakan bagi pelakunya. Mereka yang tidak ia bayar untuk memecahkan teka-teki tetap masih mencoba kendati waktu yang telah disepakati telah lewat. Sebaliknya yang ia bayar untuk melakukan hal tersebut menerima uangnya lalu pergi.
Kehidupan nyata dan eksperimen tidak seratus persen sama. Akan tetapi pelajaran yang dapat diambil adalah Anda mungkin tidak boleh mengharapkan dedikasi yang sama dari orang yang hanya bekerja karena uang, dibandingkan yang dapat Anda peroleh dari orang yang menyenangi pekerjannya dan puas menjadi bagian dari organisasi Anda.
Referensi :
Deeprose, Donna. 2006. Smart Things to Konow About Motivation. Jakarta: Elex Media Komputindo (SPP)
Minggu, 13 Juni 2010
Normal dan lurus
Bila Anda pernah kuliah statistik, tentu kenal dengan bentuk Distribusi Normal. Kenapa disebut distibusi normal? Apakah ada distribusi yang tidak normal, alias gila?
Ternyata bentuk distribusi tersebut sebenarnya disebut Gaussian. Bentuknya seperti lonceng terbalik, ‘bell-shaped’ istilah kerennya. Penyebutan distribusi Gaussian sebagai distribusi ‘normal’ dikarenakan distribusi ini yang paling sering dipakai sebagai rujukan, acuan, atau norma. Dari sinilah ada istilah normal yang berarti ‘norm’ atau acuan. Distribusi normal ini merupakan distribusi yang sering dipakai sebagai alat uji hipotesis statistik. Seringkali untuk memecahkan masalah statistik, bentuk distribusi lain seperti misalnya Lognormal, dapat dikonversi menjadi bentuk distribusi normal.
Jadi jelaslah bahwa normal itu sesuatu yang menjadi rujukan. Orang yang normal adalah orang yang bertindak sesuai norma masyarakat. Misalnya pakai baju. Jadi kalau tidak pakai baju, ya tidak normal. Bisa jadi orang tersebut sedang hilang ingatan, atau mungkin sedang melakukan tirakat aneh untuk mendapatkan ilmu yang aneh-aneh. Kita menyebutnya gila. Tentu saja di masyarakat yang budayanya masih berbaju minim, maka yang berpenutup sekedarnya justru yang normal, dan yang memakai pakaian lengkap justru yang gila. Hehe.
Kalau lurus tuh apa ya? Menurut definisi matematika, garis lurus adalah garis dengan jarak terpendek yang menghubungkan dua titik.
Kalau hidup di jalan yang lurus? Ya tentu saja hidup di jalan yang terpendek. Tapi terpendek antara apa dan apa? Saya juga tak tahu pasti. Tapi mungkin yang dimaksud adalah jarak terpendek dengan Tuhan. Maksudnya, secara kiasan, jalur terdekat dengan Tuhan, jalur yang diperintahkan, jalur yang disuruh manusia menempuhnya. Lurus itu berarti dekat dengan Tuhan.
Tapi rasanya jalan lurus itu kok tidak enak ya? Yang bengkok-bengkok kayaknya lebih enak? Mungkin karena nafsu manusia itu suka yang bengkok-bengkok, padahal hati nuraninya suka yang lurus. Itu kalau kita mau jujur dengan nurani kita sendiri.
Yang normal belum tentu lurus. Yang lurus belum tentu normal.
Lihat saja budaya pergaulan bebas. Sekarang semakin dipandang ‘normal’, padahal nurani kita tentu merasakan hal tersebut tidak lurus. Sebaliknya, yang lurus sering dipandang tidak normal. Bersegera menikah tentu masih dipandang tidak normal. Memang sih, kalau kita mempelajari sejarah para nabi dan orang suci, maka sudah biasa mereka itu disebut tidak normal, gila, tidak waras.
Anda pilih menjadi normal atau menjadi lurus?
Mari kita jadikan yang normal bisa sekaligus lurus. Dan yang lurus bisa semakin dipandang normal. (SPP)
Ternyata bentuk distribusi tersebut sebenarnya disebut Gaussian. Bentuknya seperti lonceng terbalik, ‘bell-shaped’ istilah kerennya. Penyebutan distribusi Gaussian sebagai distribusi ‘normal’ dikarenakan distribusi ini yang paling sering dipakai sebagai rujukan, acuan, atau norma. Dari sinilah ada istilah normal yang berarti ‘norm’ atau acuan. Distribusi normal ini merupakan distribusi yang sering dipakai sebagai alat uji hipotesis statistik. Seringkali untuk memecahkan masalah statistik, bentuk distribusi lain seperti misalnya Lognormal, dapat dikonversi menjadi bentuk distribusi normal.
Jadi jelaslah bahwa normal itu sesuatu yang menjadi rujukan. Orang yang normal adalah orang yang bertindak sesuai norma masyarakat. Misalnya pakai baju. Jadi kalau tidak pakai baju, ya tidak normal. Bisa jadi orang tersebut sedang hilang ingatan, atau mungkin sedang melakukan tirakat aneh untuk mendapatkan ilmu yang aneh-aneh. Kita menyebutnya gila. Tentu saja di masyarakat yang budayanya masih berbaju minim, maka yang berpenutup sekedarnya justru yang normal, dan yang memakai pakaian lengkap justru yang gila. Hehe.
Kalau lurus tuh apa ya? Menurut definisi matematika, garis lurus adalah garis dengan jarak terpendek yang menghubungkan dua titik.
Kalau hidup di jalan yang lurus? Ya tentu saja hidup di jalan yang terpendek. Tapi terpendek antara apa dan apa? Saya juga tak tahu pasti. Tapi mungkin yang dimaksud adalah jarak terpendek dengan Tuhan. Maksudnya, secara kiasan, jalur terdekat dengan Tuhan, jalur yang diperintahkan, jalur yang disuruh manusia menempuhnya. Lurus itu berarti dekat dengan Tuhan.
Tapi rasanya jalan lurus itu kok tidak enak ya? Yang bengkok-bengkok kayaknya lebih enak? Mungkin karena nafsu manusia itu suka yang bengkok-bengkok, padahal hati nuraninya suka yang lurus. Itu kalau kita mau jujur dengan nurani kita sendiri.
Yang normal belum tentu lurus. Yang lurus belum tentu normal.
Lihat saja budaya pergaulan bebas. Sekarang semakin dipandang ‘normal’, padahal nurani kita tentu merasakan hal tersebut tidak lurus. Sebaliknya, yang lurus sering dipandang tidak normal. Bersegera menikah tentu masih dipandang tidak normal. Memang sih, kalau kita mempelajari sejarah para nabi dan orang suci, maka sudah biasa mereka itu disebut tidak normal, gila, tidak waras.
Anda pilih menjadi normal atau menjadi lurus?
Mari kita jadikan yang normal bisa sekaligus lurus. Dan yang lurus bisa semakin dipandang normal. (SPP)
Uang sumber kejahatan?
Dia datang ke kantorku di suatu sore, duduk di dekat meja, dan bicara kepadaku, “ Tuan Kepala, saya kira sudah tugasku untuk datang menyampaikan kepadamu.” “Apa yang terjadi?” Dia menjawab,” Saya dengar Tuan mengatakan di sekolah, bahwa menurut pemikiran tuan adalah ambisi yang baik buat anak muda untuk menginginkan kekayaan. Ini akan membuat mereka menjadi orang yang baik. Tuan, saya harus menyampaikan kepada Anda bahwa Bibel suci telah mengatakan bahwa ‘money is the root of all evil‘ (uang adalah akar dari segala kejahatan).
Aku bilang kepadanya bahwa aku belum pernah melihat pernyataan itu. Aku suruh dia mengambil Bibel ke kapel dan menunjukkan pernyataan itu kepadaku. Segera dia pergi, dan tak lama kemudian telah kembali dengan membawa kitab suci dan suatu penafsiran dari salah satu aliran yang saya duga bias . “Lihat Tuan Kepala, Anda bisa membacanya sendiri.” Saya bilang ke dia, “Anak muda, nanti kalau dirimu sudah lebih besar, kamu akan lebih memahami bahwa kita tidak bisa langsung percaya dengan penafsiran. Kamu harus membacanya dari kitab suci aslinya. Sekarang, bisakah kau ambil Bibel itu dan berikan pernyataan aslinya?”
Dia membuka Bibel dan membaca pernyataan di situ, “The love of money is the root of all evil (Kecintaan pada uang adalah akar dari segala kejahatan).”
Tiba-tiba ia mendapatkan kejelasan!
* diceritakan oleh Russel H Conwell, pendiri Temple University, dalam Acres of Diamonds. Dikutip dengan penyingkatan. (SPP)
Aku bilang kepadanya bahwa aku belum pernah melihat pernyataan itu. Aku suruh dia mengambil Bibel ke kapel dan menunjukkan pernyataan itu kepadaku. Segera dia pergi, dan tak lama kemudian telah kembali dengan membawa kitab suci dan suatu penafsiran dari salah satu aliran yang saya duga bias . “Lihat Tuan Kepala, Anda bisa membacanya sendiri.” Saya bilang ke dia, “Anak muda, nanti kalau dirimu sudah lebih besar, kamu akan lebih memahami bahwa kita tidak bisa langsung percaya dengan penafsiran. Kamu harus membacanya dari kitab suci aslinya. Sekarang, bisakah kau ambil Bibel itu dan berikan pernyataan aslinya?”
Dia membuka Bibel dan membaca pernyataan di situ, “The love of money is the root of all evil (Kecintaan pada uang adalah akar dari segala kejahatan).”
Tiba-tiba ia mendapatkan kejelasan!
* diceritakan oleh Russel H Conwell, pendiri Temple University, dalam Acres of Diamonds. Dikutip dengan penyingkatan. (SPP)
Menyikapi Nasib Buruk
Mendapatkan keberuntungan bukan sekedar tentang menciptakan dan menangkap peluang. Prinsip penting lain adalah cara kita menyikapi nasib buruk, demikian disampaikan Profesor Richard Wiseman, peneliti faktor keberuntungan.
Bayangkan Anda menjadi atlet Olimpiade dan berhasil memenagkan medali perunggu nomor lari atletik. Tentu Anda akan senang, gembira berbunga-bunga. Bayangkan tahun berikutnya Anda kembali mengikuti lomba atletik dan kali ini meraih medali perak. Tentu Anda semakin gembira. Betul demikian? Ternyata tidak. Riset menunjukkan bahwa atlit peraih medali perunggu lebih merasa puas dibandingkan dengan peraih perak. Mengapa demikian? Peraih medali perak relatif kurang puas karena merasa ‘dengan sedikit usaha lagi’ dia bisa meraih emas. Sedangkan peraih medali perunggu merasa sangat puas karena ‘untung tidak kurang usaha’ sehingga masih bisa mendapat medali.
Penelitian Wiseman menunjukkan bahwa orang beruntung menggunakan ‘counter-factual thinking’ untuk meredam dampak dari kejadian buruk. Psikolog menyebut ‘counter-factual’ sebagai kemampuan imajinasi untuk membayangkan kejadian lain yang mungkin terjadi sebagai kemungkinan altrnatif kejadian sesungguhnya yang kita alami. Wiseman menanyakan kepada kelompok orang beruntung dan orang yang merasa sial tanggapan atas suatu kejadian imajinatif di bank. Mereka diminta membayangkan sedang berada di bank saat tiba-tiba terjadi perampokan. Tanpa sengaja perampok menembakkan senjata sehingga mengenai lengan tangan dan menyebabkan luka parah. Para partisipan percobaan diminta memberikan tanggapan tentang hal itu. Apakah kejadian ini untung atau sial? Kelompok orang yang merasa tidak beruntung cenderung mengatakan bahwa mereka sial karena berada di bank pada saat yang salah. Kelompok orang yang beruntung sebaliknya mengatakan bahwa situasi bisa lebih buruk dari yang mereka alami. “Untung cuma kena tangan, coba kalau kena kepala…” demikian komentar pasrtisipan yang masuk kelompok orang-orang beruntung. Partisipan lain bahkan mamapu membalik nasib buruk itu menjadi kemungkinan nasib baik. “Kamu bisa jual ceritamu ke koran dan mendapat uang… “, ujarnya.
Orang beruntung cenderung mambayangkan kejadian yang mungkin lebih buruk, sehingga mereka merasa beruntung dengan kejadian yang telah menimpa mereka. Hal ini membuat mereka merasa lebih baik tentang nasib mereka, membuat mereka tetap optimis dengan masa depan, dan meningkatkan kemungkinan untuk menikmati kehidupan yang beruntung di kemudian hari.
Profesor Richard Wiseman akhirnya membuat sekolah untuk meningkatkan keberuntungan, yang menurut dia bukanlah hal mistis. Salah satu muridnya adalah partisipan dari kelompok sial dalam penelitiannya. Pendidikannya sederhana. Awalnya setiap murid diminta untuk menggambarkan berapa beruntung dia, dan berapa puas mereka dalam enam hal utama di kehidupannya. Setelah itu mereka diajari empat prinsip keberuntungan dan dijelaskan bagaimana orang-orang yang beruntung menggunakan hal itu dalam kehidupannya. Dijelaskan pula bagaimana kiat sederhana untuk berperilaku seperti orang beruntung, misalnya menggunakan berbagai cara untuk menciptakan peluang, mengubah rutinitas dengan mencoba hal baru, dan berimajinasi kejadian yang lebih buruk daripada yang sedang ia hadapi sekarang. Para murid diminta menggunakan kiat itu selama beberapa bulan.
Hasilnya dramatis. Sebanyak 80% murid menjadi lebih bahagia, lebih puas dengan kehidupannya, dan menjadi lebih beruntung. Yang awalnya sial berubah menjadi beruntung, dan yang awalnya beruntung menjadi lebih beruntung lagi. Salah satu contoh adalah Patricia. Patricia adalah seorang pramugari yang dianggap pembawa sial. Salah satu penerbangannya terpaksa berhenti sementara karena ada penumpang mabuk dan bertindak kasar. Penerbangan lainnya tersambar petir. beberapa minggu kemudian penerbangannya terpaksa mendarat darurat. Patricia dianggap pembawa sial. Dia juga berkali-kali putus dengan pacarnya, dan sepertinya selalu berada di waktu dan tempat yang salah. Setelah ikut sekolah, Patricia menjadi orang yang berbeda. Segala kesialannya lenyap, tak lagi mengalami penerbangan bermasalah, dan menjadi lebih bahagia dengan hidupnya. Murid yang lain menemukan pasangan hidup lewat pertemuan tak sengaja, dan ada juga yang mendapat promosi pekerjaan lewat suatu kesempatan tak disangka.
Empat ciri orang beruntung, hasil penelitian Prof. Wiseman adalah :
1. terlatih mengenali dan menciptakan peluang
2. membuat keputusan yang menguntungkan dengan mendengarkan intuisi
3. membuat ramalan-yang-terpenuhi-sendiri (self-fulfilling prophesies) melalui pikiran positif
4. luwes menanggapi kejadian buruk menjadi kejadian baik
Setelah 10 tahun meneliti faktor keberuntungan, Profesor Richard Wiseman mengambil kesimpulan bahwa keberuntungan lebih disebabkan pikiran dan perilaku. Lebih penting lagi bahwa setiap orang mempunyai kesempatan meningkatkan peruntungan di dalam hidupnya. (SPP)
Bayangkan Anda menjadi atlet Olimpiade dan berhasil memenagkan medali perunggu nomor lari atletik. Tentu Anda akan senang, gembira berbunga-bunga. Bayangkan tahun berikutnya Anda kembali mengikuti lomba atletik dan kali ini meraih medali perak. Tentu Anda semakin gembira. Betul demikian? Ternyata tidak. Riset menunjukkan bahwa atlit peraih medali perunggu lebih merasa puas dibandingkan dengan peraih perak. Mengapa demikian? Peraih medali perak relatif kurang puas karena merasa ‘dengan sedikit usaha lagi’ dia bisa meraih emas. Sedangkan peraih medali perunggu merasa sangat puas karena ‘untung tidak kurang usaha’ sehingga masih bisa mendapat medali.
Penelitian Wiseman menunjukkan bahwa orang beruntung menggunakan ‘counter-factual thinking’ untuk meredam dampak dari kejadian buruk. Psikolog menyebut ‘counter-factual’ sebagai kemampuan imajinasi untuk membayangkan kejadian lain yang mungkin terjadi sebagai kemungkinan altrnatif kejadian sesungguhnya yang kita alami. Wiseman menanyakan kepada kelompok orang beruntung dan orang yang merasa sial tanggapan atas suatu kejadian imajinatif di bank. Mereka diminta membayangkan sedang berada di bank saat tiba-tiba terjadi perampokan. Tanpa sengaja perampok menembakkan senjata sehingga mengenai lengan tangan dan menyebabkan luka parah. Para partisipan percobaan diminta memberikan tanggapan tentang hal itu. Apakah kejadian ini untung atau sial? Kelompok orang yang merasa tidak beruntung cenderung mengatakan bahwa mereka sial karena berada di bank pada saat yang salah. Kelompok orang yang beruntung sebaliknya mengatakan bahwa situasi bisa lebih buruk dari yang mereka alami. “Untung cuma kena tangan, coba kalau kena kepala…” demikian komentar pasrtisipan yang masuk kelompok orang-orang beruntung. Partisipan lain bahkan mamapu membalik nasib buruk itu menjadi kemungkinan nasib baik. “Kamu bisa jual ceritamu ke koran dan mendapat uang… “, ujarnya.
Orang beruntung cenderung mambayangkan kejadian yang mungkin lebih buruk, sehingga mereka merasa beruntung dengan kejadian yang telah menimpa mereka. Hal ini membuat mereka merasa lebih baik tentang nasib mereka, membuat mereka tetap optimis dengan masa depan, dan meningkatkan kemungkinan untuk menikmati kehidupan yang beruntung di kemudian hari.
Profesor Richard Wiseman akhirnya membuat sekolah untuk meningkatkan keberuntungan, yang menurut dia bukanlah hal mistis. Salah satu muridnya adalah partisipan dari kelompok sial dalam penelitiannya. Pendidikannya sederhana. Awalnya setiap murid diminta untuk menggambarkan berapa beruntung dia, dan berapa puas mereka dalam enam hal utama di kehidupannya. Setelah itu mereka diajari empat prinsip keberuntungan dan dijelaskan bagaimana orang-orang yang beruntung menggunakan hal itu dalam kehidupannya. Dijelaskan pula bagaimana kiat sederhana untuk berperilaku seperti orang beruntung, misalnya menggunakan berbagai cara untuk menciptakan peluang, mengubah rutinitas dengan mencoba hal baru, dan berimajinasi kejadian yang lebih buruk daripada yang sedang ia hadapi sekarang. Para murid diminta menggunakan kiat itu selama beberapa bulan.
Hasilnya dramatis. Sebanyak 80% murid menjadi lebih bahagia, lebih puas dengan kehidupannya, dan menjadi lebih beruntung. Yang awalnya sial berubah menjadi beruntung, dan yang awalnya beruntung menjadi lebih beruntung lagi. Salah satu contoh adalah Patricia. Patricia adalah seorang pramugari yang dianggap pembawa sial. Salah satu penerbangannya terpaksa berhenti sementara karena ada penumpang mabuk dan bertindak kasar. Penerbangan lainnya tersambar petir. beberapa minggu kemudian penerbangannya terpaksa mendarat darurat. Patricia dianggap pembawa sial. Dia juga berkali-kali putus dengan pacarnya, dan sepertinya selalu berada di waktu dan tempat yang salah. Setelah ikut sekolah, Patricia menjadi orang yang berbeda. Segala kesialannya lenyap, tak lagi mengalami penerbangan bermasalah, dan menjadi lebih bahagia dengan hidupnya. Murid yang lain menemukan pasangan hidup lewat pertemuan tak sengaja, dan ada juga yang mendapat promosi pekerjaan lewat suatu kesempatan tak disangka.
Empat ciri orang beruntung, hasil penelitian Prof. Wiseman adalah :
1. terlatih mengenali dan menciptakan peluang
2. membuat keputusan yang menguntungkan dengan mendengarkan intuisi
3. membuat ramalan-yang-terpenuhi-sendiri (self-fulfilling prophesies) melalui pikiran positif
4. luwes menanggapi kejadian buruk menjadi kejadian baik
Setelah 10 tahun meneliti faktor keberuntungan, Profesor Richard Wiseman mengambil kesimpulan bahwa keberuntungan lebih disebabkan pikiran dan perilaku. Lebih penting lagi bahwa setiap orang mempunyai kesempatan meningkatkan peruntungan di dalam hidupnya. (SPP)
Faktor Keberuntungan
Donal bebek selalu sial, kenapa si Untung selalu beruntung?
Luck factor. Faktor keberuntungan. Hoki. Untung. Bejo.
Inilah sebutan untuk kejadian misterius yang sering diharapkan orang. Apakah hoki itu memang ada? Kalau ya, apakah kita dapat meningkatkan faktor keberuntungan diri kita?
Pertanyaan semacam itulah yang menggerakkan Profesor Richard Wiseman, psikolog dari University of Hertfordshire, Inggris, untuk meneliti perbedaan antara mereka yang sering beruntung dan mereka yang selalu sial.
Masalah pertama adalah tentang pertanda-pertanda sial seperti angka, lokasi tangga dan sebagainya. Penelitian organisasi survey Gallup terhadap 1000 orang Amerika apakah mereka percaya dengan hal-hal yang mistik menunjukkan bahwa 53% agak percaya, 25% sangat percaya. Survey lainnya menghasilkan data bahwa 72% orang di Amerika percaya dengan minimal memiliki sebuah jimat.
Namun tak dapat dipungkiri bahwa beda budaya beda pula sumber peruntungannya. Angka 13 yang bagi orang barat adalah sesuatu yang membawa kesialan, ternyata tidak berlaku bagi orang Cina yang lebih percaya bahwa angka 4 lah pembawa kesialan. Bagaimana kalau di masyarakat yang tidak mengenal angka berbasis 10? Artinya, kepercayaan tersebut tidak berlaku universal di seluruh dunia, namun terkait dengan kebudayaan tertentu.
Profesor Wiseman melakukan percobaan kecil dengan memberikan jimat kepada sekelompok orang untuk mengetahui efek dari jimat terhadap keberuntungan. Setelah beberapa minggu, dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah membawa jimat, Wiseman menemukan bahwa tidak ada sama sekali pengaruh jimat. Bahkan beberapa orang menyatakan merasa semakin sial dengan jimat tersebut dan kemudian mengembalikannya.
Akhirnya Wiseman membuat penelitian dengan mengundang 400 orang yang telah dikumpulkan dari pemasangan iklan di koran dan majalah selama setahun. Orang-orang tersebut sebagian adalah orang yang sering beruntung, sebagian adalah ‘pembawa sial’. Umurnya bervariasi dari siswa 18 tahun hingga pensiunan akuntan 84 tahun, pekerjaannya pun bervariasi dari pebisnis, pekerja pabrik, guru, dokter, salesman, hingga pramugari.
Percobaan awal cukup sederhana. Semua diberi koran khusus dan diminta menghitung berapa foto yang ada dalam koran tersebut. Hasilnya luar biasa. Rata-rata mereka yang sial membutuhkan waktu 2 menit, sedangkan kelompok beruntung hanya memerlukan beberapa detik saja. Mengapa bisa demikian?
Wiseman secara sengaja telah menaruh di halaman 2 koran tersebut sebuah tulisan berbunyi “Stop counting - There are 43 photographs in this newspapaer.” Tulisah tersebut mengambil separuh halaman koran dan ditulis dengan huruf lebih dari 2 inci tingginya. Semua orang akan melihat langsung tulisan itu tepat di hadapan mereka. Anehnya mereka yang sial mengabaikan tulisan tersebut! Biar lebih lucu, Wiseman menaruh tulisan yang mirip di halaman lainnya dengan bunyi, “Stop counting, tell the experimenter you have seen this and win $250.” Lagi-lagi mereka yang sial mengabaikannya karena sibuk menghitung foto di sepanjang koran tersebut. Kasihan.
Tes kepribadian menunjukkan bahwa mereka yang sial adalah orang yang relatif lebih tegang dan cemas dibanding mereka yang beruntung. Riset menunjukkan bahwa kecemasan menghentikan kemampuan seseorang dalam memperhatikan sesuatu yang tidak disangkanya. Ketika seseorang bekerja terlalu keras kepada sesuatu, mereka semakin sedikit memperhatikan yang lain. Dan begitulah halnya dengan keberuntungan, mereka yang tidak beruntung sering kehilangan kesempatan untuk beruntung karena mereka ‘terlalu fokus’ mencari hal lainnya. Mereka datang ke pesta untuk mencari pasangan sempurna sehingga luput mendapatkan kawan baik. Mereka membuka koran mencari pekerjaan yang sesuai dengan mereka sehingga luput melihat kesempatan yang lain. Orang yang beruntung lebih santai dan terbuka. Mereka melihat apa yang tersedia dan bukan sekedar mencari apa yang mereka mau.
Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa orang beruntung mempunyai kebiasaan mencari hal-hal baru untuk meningkatkan peluang keberuntungan. Orang yang beruntung mencaoba variasi baru dalam hidupnya. Seorang partisipan sering mencoba rute baru menuju tempat kerjanya. Partisipan lainmengatakan bahwa untuk membuat variasi maka bila dia pergi ke pesta maka dia akan memaksa diri untuk bicara dengan orang berbaju warna tertentu. Misalnya kali ini akan bicara dengan wanita yang berbaju merah, kali lain hanya dengan laki-laki berbaju hitam.
Walaupun mungkin aneh, kebiasaan mencoba situasi baru memungkinkan munculnya peluang baru. Psikolog Stanford Alfred Bandura berkisah tentang pengalaman dirinya. Suatu ketika sebagai mahasiswa S-2 dia merasa bosan dengan tugas-tugas kuliah, maka bersama temannya dia mencoba main golf. Ternyata saat golf mereka bertemu dengan dua gadis cantik yang juga golf. Akhirnya mereka main golf berempat. Setelah itu Bandura mengatur pertemuan kembali dengan salah satu gadis tersebut, dan akhirnya mereka menikah. Kesempatan bertemu di golf mengubah jalan hidup Bandura.
Sesuatu yang baru membuka peluang yang baru. Ini dapat diibaratkan Anda masuk ke sebuah perkebunan apel yang sangat besar. Awalnya akan mudah bagi Anda untuk sembarang masuk dan menemukan apel di sana. Namun lama kelamaan apel di tempat yang sering Anda masuki menjadi semakin jarang, sehingga mendapatkan apel menjadi semakin sulit. Bayangkan Anda untuk mau mencoba wilayah lain kebun tersebut, maka Anda meningkatkan kemungkinan mendapat apel yang lain. Bayangkan selalu bertemu dengan orang yang sama, bicara hal yang sama, pergi ke tempat yang sama, dan melakukan hal yang sama. Tentu peluang yang dihadapi menjadi tetap sama. Pengalaman baru, bahkan bila random, akan meningkatkan potensi menemukan peluang baru. (SPP)
Luck factor. Faktor keberuntungan. Hoki. Untung. Bejo.
Inilah sebutan untuk kejadian misterius yang sering diharapkan orang. Apakah hoki itu memang ada? Kalau ya, apakah kita dapat meningkatkan faktor keberuntungan diri kita?
Pertanyaan semacam itulah yang menggerakkan Profesor Richard Wiseman, psikolog dari University of Hertfordshire, Inggris, untuk meneliti perbedaan antara mereka yang sering beruntung dan mereka yang selalu sial.
Masalah pertama adalah tentang pertanda-pertanda sial seperti angka, lokasi tangga dan sebagainya. Penelitian organisasi survey Gallup terhadap 1000 orang Amerika apakah mereka percaya dengan hal-hal yang mistik menunjukkan bahwa 53% agak percaya, 25% sangat percaya. Survey lainnya menghasilkan data bahwa 72% orang di Amerika percaya dengan minimal memiliki sebuah jimat.
Namun tak dapat dipungkiri bahwa beda budaya beda pula sumber peruntungannya. Angka 13 yang bagi orang barat adalah sesuatu yang membawa kesialan, ternyata tidak berlaku bagi orang Cina yang lebih percaya bahwa angka 4 lah pembawa kesialan. Bagaimana kalau di masyarakat yang tidak mengenal angka berbasis 10? Artinya, kepercayaan tersebut tidak berlaku universal di seluruh dunia, namun terkait dengan kebudayaan tertentu.
Profesor Wiseman melakukan percobaan kecil dengan memberikan jimat kepada sekelompok orang untuk mengetahui efek dari jimat terhadap keberuntungan. Setelah beberapa minggu, dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah membawa jimat, Wiseman menemukan bahwa tidak ada sama sekali pengaruh jimat. Bahkan beberapa orang menyatakan merasa semakin sial dengan jimat tersebut dan kemudian mengembalikannya.
Akhirnya Wiseman membuat penelitian dengan mengundang 400 orang yang telah dikumpulkan dari pemasangan iklan di koran dan majalah selama setahun. Orang-orang tersebut sebagian adalah orang yang sering beruntung, sebagian adalah ‘pembawa sial’. Umurnya bervariasi dari siswa 18 tahun hingga pensiunan akuntan 84 tahun, pekerjaannya pun bervariasi dari pebisnis, pekerja pabrik, guru, dokter, salesman, hingga pramugari.
Percobaan awal cukup sederhana. Semua diberi koran khusus dan diminta menghitung berapa foto yang ada dalam koran tersebut. Hasilnya luar biasa. Rata-rata mereka yang sial membutuhkan waktu 2 menit, sedangkan kelompok beruntung hanya memerlukan beberapa detik saja. Mengapa bisa demikian?
Wiseman secara sengaja telah menaruh di halaman 2 koran tersebut sebuah tulisan berbunyi “Stop counting - There are 43 photographs in this newspapaer.” Tulisah tersebut mengambil separuh halaman koran dan ditulis dengan huruf lebih dari 2 inci tingginya. Semua orang akan melihat langsung tulisan itu tepat di hadapan mereka. Anehnya mereka yang sial mengabaikan tulisan tersebut! Biar lebih lucu, Wiseman menaruh tulisan yang mirip di halaman lainnya dengan bunyi, “Stop counting, tell the experimenter you have seen this and win $250.” Lagi-lagi mereka yang sial mengabaikannya karena sibuk menghitung foto di sepanjang koran tersebut. Kasihan.
Tes kepribadian menunjukkan bahwa mereka yang sial adalah orang yang relatif lebih tegang dan cemas dibanding mereka yang beruntung. Riset menunjukkan bahwa kecemasan menghentikan kemampuan seseorang dalam memperhatikan sesuatu yang tidak disangkanya. Ketika seseorang bekerja terlalu keras kepada sesuatu, mereka semakin sedikit memperhatikan yang lain. Dan begitulah halnya dengan keberuntungan, mereka yang tidak beruntung sering kehilangan kesempatan untuk beruntung karena mereka ‘terlalu fokus’ mencari hal lainnya. Mereka datang ke pesta untuk mencari pasangan sempurna sehingga luput mendapatkan kawan baik. Mereka membuka koran mencari pekerjaan yang sesuai dengan mereka sehingga luput melihat kesempatan yang lain. Orang yang beruntung lebih santai dan terbuka. Mereka melihat apa yang tersedia dan bukan sekedar mencari apa yang mereka mau.
Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa orang beruntung mempunyai kebiasaan mencari hal-hal baru untuk meningkatkan peluang keberuntungan. Orang yang beruntung mencaoba variasi baru dalam hidupnya. Seorang partisipan sering mencoba rute baru menuju tempat kerjanya. Partisipan lainmengatakan bahwa untuk membuat variasi maka bila dia pergi ke pesta maka dia akan memaksa diri untuk bicara dengan orang berbaju warna tertentu. Misalnya kali ini akan bicara dengan wanita yang berbaju merah, kali lain hanya dengan laki-laki berbaju hitam.
Walaupun mungkin aneh, kebiasaan mencoba situasi baru memungkinkan munculnya peluang baru. Psikolog Stanford Alfred Bandura berkisah tentang pengalaman dirinya. Suatu ketika sebagai mahasiswa S-2 dia merasa bosan dengan tugas-tugas kuliah, maka bersama temannya dia mencoba main golf. Ternyata saat golf mereka bertemu dengan dua gadis cantik yang juga golf. Akhirnya mereka main golf berempat. Setelah itu Bandura mengatur pertemuan kembali dengan salah satu gadis tersebut, dan akhirnya mereka menikah. Kesempatan bertemu di golf mengubah jalan hidup Bandura.
Sesuatu yang baru membuka peluang yang baru. Ini dapat diibaratkan Anda masuk ke sebuah perkebunan apel yang sangat besar. Awalnya akan mudah bagi Anda untuk sembarang masuk dan menemukan apel di sana. Namun lama kelamaan apel di tempat yang sering Anda masuki menjadi semakin jarang, sehingga mendapatkan apel menjadi semakin sulit. Bayangkan Anda untuk mau mencoba wilayah lain kebun tersebut, maka Anda meningkatkan kemungkinan mendapat apel yang lain. Bayangkan selalu bertemu dengan orang yang sama, bicara hal yang sama, pergi ke tempat yang sama, dan melakukan hal yang sama. Tentu peluang yang dihadapi menjadi tetap sama. Pengalaman baru, bahkan bila random, akan meningkatkan potensi menemukan peluang baru. (SPP)
Langganan:
Komentar (Atom)