Tampilkan postingan dengan label Seputar Pindad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Pindad. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 Januari 2011
POINT PENTING PERTEMUAN SPP & SEPAKAD DENGAN DIRUT
Pertemuan SPP & SEPAKAD dengan Dirut Pindad Bpk. Adik A Soedarsono yang berlangsung pada tanggal 25 Januari 2011 bertempat di Sekretariat SPP kurang begitu banyak kabar baik yang kami terima. Dalam arahannya, Dirut hanya mengatakan bahwa kita harus ikhlas bekerja dan merubah budaya kerja kita selama ini menjadi budaya kerja industri. Untuk kenaikan gaji 2011, beliau mengatakan telah memberikan arahan sekitar 10% kenaikan dan sistem pembayarannya tidak pukul rata melainkan dibedakan antara mereka yang kerjanya bagus dan kerjanya kurang. Untuk Jasprod dan TP juga masih menunggu hasil audit KAP. So...kita masih tetap harus berjuang keras untuk memenuhi harapan kita semua dikaitkan dengan kenaikan remunerasi PNS TNI/POLRI dimana rekan-rekan kita juga ada yang termasuk pegawai PNS TNI. Namun katanya mereka tidak akan mendapatkan kenaikan remunerasi tersebut...Trus..apa yang harus kita lakukan????
Minggu, 25 April 2010
Panser Anoa Buatan Pindad Dilegalisasi PBB
STANDARDISASI ALUTSISTA
Sabtu, 24 April 2010
JAKARTA (Suara Karya): Sebanyak 13 unit kendaraan tempur jenis panser 6x6 Anoa produksi PT Pindad Indonesia siap dioperasikan oleh Satgas Batalyyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII (Indobatt) di wilayah konflik, Lebanon Selatan.
Beroperasinya Anoa, menandakan, bahwa alat utama sistem senjata (alutsista) produksi dalam negeri Indonesia diakui oleh Unifil/Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai ranpur yang berstandart internasional.
"Setelah melalui tahapan pemeriksaan kedatangan yang dilakukan oleh Contingent Owned Equipmen Unifil terhadap 13 unit ranpur beberapa waktu lalu, maka didapatkan sebuah hasil positif yang menyatakan bahwa seluruh ranpur tersebut siap operasional di jajaran Unifil," ujar Komandan Satgas Konga XXIII-D/Unifil, Letkol TNI Andi Perdana Kahar di Lebanon, seperti yang ditulis melalui surat elektroniknya kepada Suara Karya di Jakarta, Jumat (23/4).
Pemeriksaan Anoa serta senjata dan alat perlengkapannya, dilakukan di Markas Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) UN POSN 7-1 Adshit Al Qusayr, Lebanon. Ini dilakukan, agar pengoperasian Anoa di wilayah operasi tidak menemukan kendala yang mungkin ditimbulkan oleh ranpur itu sendiri.
Andi mengatakan, pemeriksaan ranpur maupun alutsista yang dipergunakan para pasukan perdamaian wajib melalui pemeriksaan dan legalisasi Unifil. "Pemeriksaan ini wajib, sehingga pelaksanaan tugas oleh pasukan dapat berjalan efektif. Itu dilakukan, guna mengetahui kesiapan operasional tersebut, maka tim pemeriksa COE melaksanakan pemeriksaan secara fisik dan detail (spesifikasi) terhadap setiap kendaraan tempur dan materiil pendukungnya," ujarnya.
Sebagai contoh, dijelaskan Andi, pemeriksaan secara detail dilakukan untuk mengetahui apakah lampu kendaraan berfungsi dengan baik. Setiap ranpur Anoa akan diberi plat nomor Unifil oleh pihak Unifil Transportation Section.
"Ini menandakan, ranpur Anoa diterima secara resmi sebagai alutsista yang dioperasionalkan oleh Unifil melalui Indobatt. Setelah melalui tahap pemeriksaan kedatangan tersebut, ranpur-ranpur Anoa ini digunakan untuk operasional awal berupa kegiatan latihan pengenalan daerah operasi," katanya. (Feber S)
Sabtu, 24 April 2010
JAKARTA (Suara Karya): Sebanyak 13 unit kendaraan tempur jenis panser 6x6 Anoa produksi PT Pindad Indonesia siap dioperasikan oleh Satgas Batalyyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII (Indobatt) di wilayah konflik, Lebanon Selatan.
Beroperasinya Anoa, menandakan, bahwa alat utama sistem senjata (alutsista) produksi dalam negeri Indonesia diakui oleh Unifil/Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai ranpur yang berstandart internasional.
"Setelah melalui tahapan pemeriksaan kedatangan yang dilakukan oleh Contingent Owned Equipmen Unifil terhadap 13 unit ranpur beberapa waktu lalu, maka didapatkan sebuah hasil positif yang menyatakan bahwa seluruh ranpur tersebut siap operasional di jajaran Unifil," ujar Komandan Satgas Konga XXIII-D/Unifil, Letkol TNI Andi Perdana Kahar di Lebanon, seperti yang ditulis melalui surat elektroniknya kepada Suara Karya di Jakarta, Jumat (23/4).
Pemeriksaan Anoa serta senjata dan alat perlengkapannya, dilakukan di Markas Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt) UN POSN 7-1 Adshit Al Qusayr, Lebanon. Ini dilakukan, agar pengoperasian Anoa di wilayah operasi tidak menemukan kendala yang mungkin ditimbulkan oleh ranpur itu sendiri.
Andi mengatakan, pemeriksaan ranpur maupun alutsista yang dipergunakan para pasukan perdamaian wajib melalui pemeriksaan dan legalisasi Unifil. "Pemeriksaan ini wajib, sehingga pelaksanaan tugas oleh pasukan dapat berjalan efektif. Itu dilakukan, guna mengetahui kesiapan operasional tersebut, maka tim pemeriksa COE melaksanakan pemeriksaan secara fisik dan detail (spesifikasi) terhadap setiap kendaraan tempur dan materiil pendukungnya," ujarnya.
Sebagai contoh, dijelaskan Andi, pemeriksaan secara detail dilakukan untuk mengetahui apakah lampu kendaraan berfungsi dengan baik. Setiap ranpur Anoa akan diberi plat nomor Unifil oleh pihak Unifil Transportation Section.
"Ini menandakan, ranpur Anoa diterima secara resmi sebagai alutsista yang dioperasionalkan oleh Unifil melalui Indobatt. Setelah melalui tahap pemeriksaan kedatangan tersebut, ranpur-ranpur Anoa ini digunakan untuk operasional awal berupa kegiatan latihan pengenalan daerah operasi," katanya. (Feber S)
Jumat, 23 April 2010
Indonesia-Malaysia Teken Kerjasama Pengembangan Industri Pertahanan

Kuala Lumpur - Indonesia dan Malaysia mempelopori kerjasama negara-negara ASEAN dalam pengembangan industri pertahanan. Kerjasama tersebut ditunjukkan dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Pindad Indonesia dengan SME Ordnance Sdn Bhd dari Malaysia.
Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro mengatakan, kesepakatan kerjasama di antara kedua negara melalui penandatangan MoU tersebut sebagai simbol spirit negara-negara ASEAN dalam mengembangkan industri pertahanan, khususnya antara Indonesia dan Malaysia.
"Dengan penandantangan ini, negara-negara ASEAN, terutama Indonesia dan Malaysia dapat membangun industri pertahanan yang baik dan bisa saling melengkapi keperluan pertahanan keamanan masing-masing negara," ujar Purnomo usai penandatanganan MoU di sela-sela 12th Defence Services Asia Exhibition and Conference, di Gedung Putra World Trade Centre (PWTC), Kuala Lumpur, Kamis (22/4/2010).
Selain Purnomo, penadantangan MoU tersebut disaksikan juga oleh Menteri Negara BUMN Mustafa Abu Bakar dan Duta Besar RI untuk Malaysia Dai Bachtiar. Sedangkan dari Malaysia, disaksikan oleh Perdana Menteri Malaysia Mohd Najib bin Tun Abdul Razak dan Menteri Pertahanan Malaysia Zahid Hamidi.
Presiden Direktur PT Pindad Indonesia, Adik Avianto Soedarsono mengatakan, pihaknya sedang terus melakukan perbincangan mengenai rencana pembelian 32 unit Panser jenis APC (Armoured Personal Carrier) 6x6 buatan PT Pindad oleh Malaysia. Jika rencana pembelian tersebut terwujud, dia menambahkan, maka menambah jumlah pemesanan Panser kepada PT Pindad yang sebelumnya telah ada pemesanan 154 unit dari dalam negeri.
"Saat ini ada pembicaraan potensi pembelian 32 unit Panser Pindad oleh Malaysia, tinggal menyelesaikan sedikit saja masalah teknis. Harga Panser Pindad 25 persen lebih murah dibandingkan dengan kompetitor lain," ungkapnya.
Sementara Meneg BUMN Mustafa Abu Bakar menmbahkan, pemerintah RI sedang menjajaki kemungkinan melakukan sistem barter komoditas antara produk pertahanan unggulan Indonesia dengan produk unggulan Malaysia.
"Salah satu yang dijajaki sekarang ini adalah kemungkinan untuk barter komoditas, apa yang kuat di Indonesia dan apa yang kuat di Malaysia," kata Mustafa.
Sementara itu, Direktur Eksekutif SME Ordnance Sdn Bhd, Ahmad Johan menambahkan, kerjasama industri pertahanan Indonesia-Malaysia diharapkan dapat meningkatkan produksi alutsista masing-masing negara.
"Jadi apa yang diproduksi Indonesia, Malaysia baiknya tidak perlu buat. Begitu sebaliknya," tuturnya.
Usai penandatanganan, Purnomo memberikan prototype Panser APC 6x6 yang digunakan pasukan TNI di Libanon dan senjata api jenis SS2-V1 dan SS2-V5 buatan PT Pindad yang sudah dikembangkan Indonesia sejak 20 tahun lalu kepada Najib Razak. Penyerahan prototype senjata tersebut dalam rangka memperkokoh hubungan kementerian pertahanan kedua negara.
(rmd/irw) sumber : detiknews.com
Panser Produksi Pindad Kalahkan Buatan Korsel
Metrotvnews.com, Kuala Lumpur: PT(Persero) Pindad menargetkan penjualan pertama 32 unit "Anoa" panser 6X6 buatan Pindad ke Malaysia dapat dilakukan akhir 2010."Kita berharap November atau paling telat Desember 2010," kata Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto di sela-sela kunjungannya di Defences Services Asia Exhibition and Conference 2010 dan PT SME Ordnance, Kuala Lumpur, Jumat (23/4).
Adik Avianto mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan panser 6x6, maka Malaysia telah melakukan penjajakan ke tiga perusahaan dari tiga negara yakni, PT Pindad (Indonesia), Dosaan (Korea Selatan) dan Renault (Perancis). Dari tiga perusahaan yang dilirik, Malaysia menetapkan dua calon perusahaan yang akan memenuhi kebutuhannya akan panser 6x6, yakni PT Pindad dan Renault.
"Jadi ini suatu kebanggaan juga, karena kita bisa mengungguli Korsel. Kita tinggal melakukan yang terbaik untuk bisa unggul dari Renault," ungkap Adik.
Ia mengemukakan, Pindad dan Renault akan unjuk kebolehan dihadapan tim pengadaan Malaysia pada Mei 2010. "Dari segi teknik dan kemampuan, produk kita tidak kalah dengan Renault. Bagaimanapun dia sudah ribuan unit yang diproduksi bahkan Indonesia pun sebagai salah salah pengguna panser buatan Renault," tutur Adik.
Namun, Pindad bisa memberikan harga yang lebih bersaing. "Ya kami berharap, bisa lolos pada unjuk kebolehan nanti. Sehingga bisa segera dilakukan kontrak," katanya.
Panser 6X6 Pindad merupakan kendaraan tempur pengangkut personel dengan sistem penggerak roda simetris yang dirancang khusus untuk TNI AD, khususnya kavaleri. Panser dapat mengangkut 10 personel dengan tiga kru, satu komandan, dan satu "gunner". Panser juga dilengkapi dengan "mounting" senjata 12,7 mm yang dapat berputar 360 derajat.
Panser "Anoa" tersebut merupakan salah satu produk primadona PT Pindad yang dipamerkan dalam arena Defences Services Asia Exhibition and Conference 2010 dan PT SME Ordnance di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain panser, PT Pindad juga menampilkan berbagai varian persenjataan personel baik senapan laras panjang maupun pendek.(Ant/RIZ)
Adik Avianto mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan panser 6x6, maka Malaysia telah melakukan penjajakan ke tiga perusahaan dari tiga negara yakni, PT Pindad (Indonesia), Dosaan (Korea Selatan) dan Renault (Perancis). Dari tiga perusahaan yang dilirik, Malaysia menetapkan dua calon perusahaan yang akan memenuhi kebutuhannya akan panser 6x6, yakni PT Pindad dan Renault.
"Jadi ini suatu kebanggaan juga, karena kita bisa mengungguli Korsel. Kita tinggal melakukan yang terbaik untuk bisa unggul dari Renault," ungkap Adik.
Ia mengemukakan, Pindad dan Renault akan unjuk kebolehan dihadapan tim pengadaan Malaysia pada Mei 2010. "Dari segi teknik dan kemampuan, produk kita tidak kalah dengan Renault. Bagaimanapun dia sudah ribuan unit yang diproduksi bahkan Indonesia pun sebagai salah salah pengguna panser buatan Renault," tutur Adik.
Namun, Pindad bisa memberikan harga yang lebih bersaing. "Ya kami berharap, bisa lolos pada unjuk kebolehan nanti. Sehingga bisa segera dilakukan kontrak," katanya.
Panser 6X6 Pindad merupakan kendaraan tempur pengangkut personel dengan sistem penggerak roda simetris yang dirancang khusus untuk TNI AD, khususnya kavaleri. Panser dapat mengangkut 10 personel dengan tiga kru, satu komandan, dan satu "gunner". Panser juga dilengkapi dengan "mounting" senjata 12,7 mm yang dapat berputar 360 derajat.
Panser "Anoa" tersebut merupakan salah satu produk primadona PT Pindad yang dipamerkan dalam arena Defences Services Asia Exhibition and Conference 2010 dan PT SME Ordnance di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain panser, PT Pindad juga menampilkan berbagai varian persenjataan personel baik senapan laras panjang maupun pendek.(Ant/RIZ)
Industri Pertahanan agar Berkembang

Jumat, 23 April 2010 | 03:58 WIB
Kuala Lumpur, Kompas - Pemerintah Indonesia berharap antarnegara di Asia Tenggara (ASEAN), terutama antarnegara bertetangga Indonesia-Malaysia, dapat bersama-sama merintis dan meningkatkan kerja sama pembangunan dan penguatan industri pertahanan di wilayah tersebut pada masa mendatang.
Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kamis (22/4), yang bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar menghadiri penandatanganan nota kesepahaman (MOU) PT Pindad (Indonesia) dan SME Ordnance Sdn Bhd (Malaysia).
Wartawan Kompas, Wisnu Dewabrata, melaporkan, penandatanganan digelar di acara pameran senjata Defence Services Asia Exhibition and Conference 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Turut hadir menyaksikan, mewakili Pemerintah Malaysia, Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Mohd Najib bin Tun Hj Abdul Razak dan Menteri Pertahanan Malaysia Dato’ Sri Zahid Hamidi. ”Dengan penandatanganan MOU ini, saya berharap negara-negara ASEAN bisa sama-sama membangun industri pertahanan dengan baik, terutama Indonesia dan Malaysia,” ujar Purnomo.
Saat ini, industri pertahanan dalam negeri, seperti PT Pindad, punya sejumlah produk unggulan yang berpotensi besar masuk pasar ekspor. Beberapa produk senjata unggulan adalah senjata personel senapan serbu, SS-1 dan SS-2 berbagai varian, serta kendaraan tempur Armored Personnel Carrier (APC) 6x6 Anoa.
Senjata SS-2 telah mengukir prestasi menjadi senjata andalan yang membawa Indonesia memenangi kejuaraan menembak antar-angkatan bersenjata di ASEAN dua tahun berturut-turut, 2008 dan 2009. APC 6x6 Anoa telah dipakai Pasukan Penjaga Perdamaian PBB asal TNI di Lebanon.
”Sekarang ini Indonesia berpotensi menjual APC 6x6 Anoa ke Malaysia sebanyak 32 unit. Tinggal menunggu sedikit urusan uji teknis dari pihak Malaysia. Jika berhasil, hal itu sekaligus bisa menjadi tanda kebangkitan kembali industri pertahanan nasional, terutama PT Pindad,” ujar Mustafa Abubakar.
Selain potensi ekspor ke Malaysia, PT Pindad selama ini juga menerima pesanan dalam negeri untuk kebutuhan persenjataan TNI sebanyak 154 unit APC 6x6 Anoa. Sebagian telah digunakan di Lebanon. Produk unggulan PT Pindad itu juga dipahami 25 persen lebih murah daripada produk sejenis buatan negara lain.
Terkait rencana pembelian oleh Malaysia, Mustafa mengakui, cara pembelian kemungkinan besar dalam bentuk imbal dagang komoditas unggulan antar-kedua negara. Hal itu masih terus dibicarakan, terutama untuk mencari komoditas apa saja yang bisa diimbaldagangkan.
PT Pindad-WGR Malaysia Sepakati Penjualan Panser

22 April 2010, Kuala lumpur -- PT Pindad dan WGR Malaysia, di Kuala Lumpur, Malaysia, menyepakati penjualan enam panser 6X6 "Anoa" produksi Pindad.
Kesepakatan itu dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani kedua pihak di arena "Defences Services Asia Exhibition and conference 2010", di Kuala Lumpur, Kamis.
Penandatanganan disaksikan Menhan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri BUMN Mustafa Abubakar.
Panser 6X6 Pindad merupakan kendaraan tempur pengangkut personel dengan sistem penggerak roda simetris yang dirancang khusus untuk TNI AD, khususnya kavaleri.
Panser ini dapat mengangkut 10 personel dengan tiga kru, satu komandan, dan satu "gunner".
Panser juga dilengkapi dengan "mounting" senjata 12,7 mm yang dapat berputar 360 derajat.
ANTARA News
Indonesia Perkenalkan Senjata SS2 di Malaysia

Menhan Purnomo Yusgiantoro (kanan) memberikan satu senapan SS2 produksi PT Pindad kepada Menhan Malaysia A Zahid Hamidi (2kiri) disaksikan PM Malaysia Najib Tun Razak dan menteri BUMN Mustafa Abu Bakar (kiri) , usai penandatanganan MOU kerjasama perdagangan peralatan militer antara SME Ordnance Sdn Bhd dengan PT Pindad di Kuala Lumpur, Kamis. (Foto: ANTARA/Adi Lazuardi/ed/nz/10)
22 April 2010, Kuala Lumpur -- Indonesia memperkenalkan senapan serbu SS2 V1 dan SS2 V5 di arena "Defences Services Asia Exhibitiosn and Conference 2010" di Kuala Lumpur, Kamis.
Perkenalan salah satu produk unggulan PT Pindad itu ditandai dengan penyerahan secara simbolis pucuk SS2 V5 dari Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro kepada Menteri Pertahanan Malaysia Dato Sri Zahid Hamidi.
"Senjata SS1 dan SS2 ini merupakan salah satu produk unggulan Indonesia yang diproduksi PT Pindad, setelah melalui proses riset dan pengembangan yang telah dilakukan hampir 20 tahun diawali kerja sama bersama Belgia," kata Purnomo.
Ia menambahkan, produk persenjataan SS1 dan SS2 berbagai varian yang dihasilkan PT Pindad telah teruji keandalannya baik dalam operasi militer maupun dalam perlombaan menembak militer.
"SS2 Pindad telah terbukti berhasil mengungguli persenjataan-persenjataan lain sejenis," ujar Purnomo
Sementara itu, Direktur Utama PT Adik Avianto mengatakan, dengan perkenalan produk tersebut diharapkan dapat memantapkan pangsa pasar senapan serbu tersebut di kawasan ASEAN.
"Produk ini sudah terbukti unggul. Produk murni buatan Indonesia ini telah digunakan seluruh satuan TNI. Dan diharapkan setelah perkenalan dengan Malaysia, senapan serbu PT Pindad dapat menjadi senjata andalan yang digunakan negara tetangga," katanya.
Pada kesempatan itu, PT Pindad menyiapkan sepuluh pucuk senjata SS yakni SS2 V1 dan SS2 V5 masing-masing lima unit.
ANTARA News
PINDAD – SMEO Kerja Sama Industri Pertahanan
Kuala Lumpur ( Berita ) : Perusahaan industri pertahanan strategis Indonesia, PT Pindad, dan SME Ordnance asal Malaysia sepakat memantapkan kerja sama industri pertahanan untuk mendukung pertahanan kedua negara.
Kesepakatan itu ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman antara PT Pindad dengan SME Ordnance Malaysia di Arena Defences Services Asia Exhibition and Conference 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis [22/04].
Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan Menhan Purnomo Yusgiantoro, Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Mohd Najib bin Tun Hj Abdul Razak, dihadiri Menhan Malaysia Dato’ Sri Zahid Hamidi dan Menneg BUMN Mustafa Abubakar.
Dalam nota kesepahaman itu, dua negara sepakat untuk bekerja sama dalam bidang produksi amunisi dan bahan peledak.
Menhan Purnomo mengatakan, kerja sama itu menandakan komitmen kedua negara untuk meningkatkan industri pertahanan ASEAN, khususnya antara RI dengan Malaysia.
“Kerja sama itu bisa menjadi tonggak kedua negara untuk saling melengkapi industri pertahanan masing-masing,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Meneg BUMN Mustafa Abubakar yang mengatakan, kerja sama antardua industri pertahanan kedua negara, bisa menjadi pintu masuk bagi kerja sama industri pertahanan kedua pihak untuk peningkatan yang lebih tinggi dan luas. Perwakilan SME Ordnance Ahmad Johan mengatakan, kerja sama tersebut dapat menjadi ajang kedua negara untuk melakukan produksi bersama.
Sepakati Penjualan Panser
PT Pindad dan WGR Malaysia, di Kuala Lumpur, menyepakati penjualan enam panser 6X6 “Anoa” produksi Pindad.
Kesepakatan itu dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani kedua pihak di arena “Defences Services Asia Exhibition and conference 2010″ di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis.
Penandatanganan disaksikan Menhan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri BUMN Mustafa Abubakar.Panser 6X6 Pindad merupakan kendaraan tempur pengangkut personel dengan sistem penggerak roda simetris yang dirancang khusus untuk TNI AD, khususnya kavaleri.
Panser itu dapat mengangkut 10 personel dengan tiga kru, satu komandan, dan satu “gunner”.Panser juga dilengkapi dengan “mounting” senjata 12,7 mm yang dapat berputar 360 derajat. Pameran pertahanan Malaysia yang berlangsung sejak 19 April 2010 diikuti 2 perusahaan asal Indonesia yakni PT Pindad dan PT Sritex. (antara)
Kesepakatan itu ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman antara PT Pindad dengan SME Ordnance Malaysia di Arena Defences Services Asia Exhibition and Conference 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis [22/04].
Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan Menhan Purnomo Yusgiantoro, Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Mohd Najib bin Tun Hj Abdul Razak, dihadiri Menhan Malaysia Dato’ Sri Zahid Hamidi dan Menneg BUMN Mustafa Abubakar.
Dalam nota kesepahaman itu, dua negara sepakat untuk bekerja sama dalam bidang produksi amunisi dan bahan peledak.
Menhan Purnomo mengatakan, kerja sama itu menandakan komitmen kedua negara untuk meningkatkan industri pertahanan ASEAN, khususnya antara RI dengan Malaysia.
“Kerja sama itu bisa menjadi tonggak kedua negara untuk saling melengkapi industri pertahanan masing-masing,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Meneg BUMN Mustafa Abubakar yang mengatakan, kerja sama antardua industri pertahanan kedua negara, bisa menjadi pintu masuk bagi kerja sama industri pertahanan kedua pihak untuk peningkatan yang lebih tinggi dan luas. Perwakilan SME Ordnance Ahmad Johan mengatakan, kerja sama tersebut dapat menjadi ajang kedua negara untuk melakukan produksi bersama.
Sepakati Penjualan Panser
PT Pindad dan WGR Malaysia, di Kuala Lumpur, menyepakati penjualan enam panser 6X6 “Anoa” produksi Pindad.
Kesepakatan itu dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani kedua pihak di arena “Defences Services Asia Exhibition and conference 2010″ di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis.
Penandatanganan disaksikan Menhan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri BUMN Mustafa Abubakar.Panser 6X6 Pindad merupakan kendaraan tempur pengangkut personel dengan sistem penggerak roda simetris yang dirancang khusus untuk TNI AD, khususnya kavaleri.
Panser itu dapat mengangkut 10 personel dengan tiga kru, satu komandan, dan satu “gunner”.Panser juga dilengkapi dengan “mounting” senjata 12,7 mm yang dapat berputar 360 derajat. Pameran pertahanan Malaysia yang berlangsung sejak 19 April 2010 diikuti 2 perusahaan asal Indonesia yakni PT Pindad dan PT Sritex. (antara)
Langganan:
Komentar (Atom)