KAMI MEMANG BUKAN YANG TERBESAR, TAPI KAMI AKAN BERUSAHA UNTUK MENJADI YANG TERBAIK. SALAM SERIKAT PEGAWAI PINDAD
Tampilkan postingan dengan label Liputan Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan Media. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Mei 2010

Senapan Serbu Produksi Indonesia Juara Dunia


Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi mengungkapkan, senapan serbu produksi putra-putra bangsa Indonesia telah terbukti berhasil menunjukkan prestasi juara pada beberapa kejuaraan tingkat dunia.

"Yang jelas, demikian Fayakhun Andiradi, senapan serbu SS2-V1 V5 itu merupakan senjata buatan PT Pindad yang rekayasanya 100 persen dilakukan oleh putra-putra bangsa indonesia," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan itu, sehubungan dengan adanya ketertarikan sejumlah negara tetangga atas senjata produksi Indonesia tersebut.

"Jenis senapan serbu SS2-V1 hingga V5 yang diproduksi oleh PT Pindad di Bandung ini, dan kini sedang ditawarkan ke beberapa negara tetangga, terutama Malaysia yang menunjukkan minat besar untuk membelinya," katanya lagi.

Senapan serbu ini, menurutnya, berlaras panjang kaliber 5,56 mm yang beberapa kali menjadi senjata andalan dalam kejuaraan bertaraf internasional.

"Karena terbukti bisa membawa juara beberapa perutusan Indonesia, sehingga sejumlah negara tetangga tertarik membelinya," katanya lagi.

Fayakhun Andriadi atasnama rekan-rekannya di Komisi I DPR RI lalu mendesak Pemerintah RI melalui Kementerian Pertahanan, agar menyetop impor alat utama sistem persenjataan (Alutsista) tertentu yang sudah bisa direkayasa dan diproduksi di Indonesia.

"Khusus untuk peluru dan senapan berlaras pendek, yakni pistol, juga senapan berlaras panjang sejenis SS2, kita jangan lagi impor, lebih mengutamakan produksi dalam negeri, agar semakin mempercepat menuju swasembada Alutsista," ujarnya.

`Political will` Pemerintah RI, menurutnya, amat diperlukan untuk diwujudkonkretkan dalam `political action`, yakni di sektor kebijakan anggaran untuk mendukung percepatan menuju swasembada Alutsista secara bertahap.

"Kita harus bisa melakukannya dan jangan lagi terlalu bergantung kepada impor, sehingga kita tidak lagi selalu jadi korban kebijakan embargo sepihak dan lain-lain kebijakan yang merugikan kepentingan pertahanan nasional," tegas Fayakhun Andriadi.
(M036/R009)
(SPP)

PT Pindad Jual 32 Panser ke Malaysia


Penulis : Eriez M Rizal

BANDUNG--MI: PT Pindad dalam waktu dekat akan menjual 32 unit peralatan tempur jenis panser kepada Malaysia. Bersama Departemen Pertahanan, perusahaan itu juga tengah menjajaki kerja sama dengan beberapa negara lain.

Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto Soedarsono, Jumat (30/4), mengatakan penjualan sebanyak 32 unit panser ke Malaysia tinggal menunggu kesepakatan akhir yang rencananya baru akan dilakukan Mei mendatang.

Sedangkan mengenai rencana kerja sama (penjualan) panser ke Vietnam dan Filipina, dilakukan karena kedua negara itu mengaku tertarik dengan panser produksi PT Pindad. "Untuk sementara ini masih dalam tahap penjajakan," jelasnya.

Ia menjelaskan, penjualan panser ke sejumlah negara merupakan bukti keseriusan PT Pindad untuk mendominasi pasar regional Asia Tenggara, sekaligus mendongkrak penjualan peralatan tempur jenis panser.

Menurut Adik, hingga saat ini panser pesanan Malaysia masih dalam proses uji coba dengan beberapa komponen, seperti mesin, sistem pendingin, dan transmisi, masih perlu disempurnakan

Panser pesanan Malaysia, katanya, perangkat mesinnya tidak lagi menggunakan buatan Renault, melainkan menggunakan mesin Mercedes-Benz. "Karena Renault kini menjadi pesaing PT Pindad dalam memasok kendaraan ke Malaysia, sehingga harus mengganti komponen mesin," ujarnya.

Namun demikian, PT Pindad belum memastikan apakah panser yang akan dijual ke Malaysia akan menggunakan mesin Benz. Adik mengemukakan ada dua pilihan mesin yang akan dipakai untuk panser tersebut, yaitu Mercedes-Benz atau Deutz yang hampir sama dengan mesin Renault berkapasitas 7.000 cc dan berkekuatan 320 tenaga kuda. (EM/OL-01)
(SPP)

Dokumen untuk Modernisasi Pertahanan Negara Disiapkan

JAKARTA--MI: Pemerintah akan mempersiapkan dokumen strategis dalam pengelolaan negara. Dokumen itu akan menjadi rujukan dari kebijakan pembangunan kekuatan dan modernisasi postur pertahanan negara.

"Dokumen itu menuntut dan menjadi rujukan dari kebijakan pembangunan kekuatan dan modernisasi postur pertahanan negara kita. Termasuk di dalamnya postur TNI," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pembukaan rapat terbatas di Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jakarta, Selasa (4/5).

Rapat tersebut guna mendengarkan laporan dan presentasi dari menhan menyangkut draf atau konsep kebijakan pertahanan negara. Produk itu nantinya sebagaimana yang berlaku lima tahun yang lalu akan ditandatangani oleh presiden sebagai dokumen strategis dalam pengelolaan pertahanan negara.

Dalam dokumen itu juga akan membahas tentang anggaran yang diperlukan untuk memenuhi sasaran dokumen tersebut. "Dokumen ini sangat penting. Karena sangat penting, sebelum saya tanda tangani, kami ingin memastikan semuanya telah dipikirkan, disusun, dan dirumuskan dengan tepat dan benar," tukasnya.

Diakui presiden, anggaran pertahanan periode 2004-2009, jumlahnya relatif kecil. Kecil dalam arti kalau dibandingkan dengan anggaran pertahanan negara-negara ASEAN dan negara lain dan GDP Indonesia. Pasalnya, anggaran yang dimiliki negara saat itu digunakan untuk pemulihan ekonomi nasional pascakrisis dan penanggran untuk sektor-sektor prioritas yang lebih tinggi.

"Dengan makin besarnya GDP kita, makin besarnya APBN kita, dan insya Allah perekonomian kita akan terus meningkat bahkan bisa mencapai 7%. Maka sudah saatnya anggaran untuk pertahanan kita tingkatkan secara signifikan," tukasnya.

Anggaran yang diberikan diharapkan bisa efektif. Tapi tidak bisa diberikan secara keseluruhan dalam satu atau dua tahun tapi beberapa tahun. "Dengan strategi dan kebijakan yang tepat, harapan kita pada tahun 2014, postur pertahanan kita, postur TNI kita, sudah makin mendekati apa yang menjadi sasaran pembangunan kita, yakni dicapainya kekuatan minimal yang diperlukan minimun essential forces," tukasnya. (Rin/OL-04)
(SPP)

Pemerintah Akan Tingkatkan Rasio Anggaran Pertahanan

Penulis : Dinny Mutiah

JAKARTA--MI: Pemerintah akan meningkatkan rasio anggaran pertahanan hingga lima tahun ke depan. Kebijakan yang diambil adalah meningkatkan rasio hingga 1,5 dari pendapatan domestik bruto dalam waktu lima tahun.

Hal ini disampaikan oleh Menhan Purnomo Yusgiantoro kepada wartawan di Jakarta, Selasa (4/5).

"Tadi ada pernyataan Presiden ekonomi ke depan akan membaik sehubungan dengan peningkatan GDP. Untuk itu, karena patokan defense budget menggunakan GDP diharapkan juga budget ratio akan meningkat. Tadi sekitar 1,2-1,5 dari GDP. Sekarang adalah 0,9. Ini akan mendorong MEF. Diakhir tahun kelima kita pada akhir kabinet," ujarnya.

Hal itu terangkum dalam kebijakan pertahanan negara yang sempat disampaikan kepada SBY dalam rapat terbatas di Kementerian Pertahanan. Presiden meminta Kemenhan untuk mempersiapkan pembangunan kekuatan minimal pokok (MEF) yang diarahkan agar bisa dicapai pada tiga renstra.

"Kami juga tadi sampaikan kekuatan kemampuan dan gelar dari masing-masing matra TNI saat ini. Kemudian, untuk mencapai kekuatan pokok minimal 2015 itu apa yang harus diperlukan. Apa yang bisa dibeli alutsista kita. Apa yang bisa dibangun dalam negeri apa yang tidak bisa dibangun dalam negeri tetapi berupa joint production bersama-sama produsen dalam negeri dan luar," imbuhnya.

Masalah pembiayaan juga sempat disinggung untuk menopang target tersebut hingga Indonesia bisa menangkal ancaman yang aktual dan mendesak. Beberapa poin ancaman yang disampaikan adalah terkait dengan masalah konflik horisontal, konflik vertikal, pengamanan alur laut kepulauan Indonesia juga masalah pencurian sumber kekayaan alam dan pengamanan energi yang lebih banyak berada di daerah perbatasan.

Irjen Kemenhan Marsdya Eris Herryanto menegaskan jika kebijakan untuk meningkatkan rasio anggaran pertahanan hanya bersifat pertahanan diri. Tidak ada niat untuk menyerang negara lain atau bersifat agresif.

"Ini terkait pertahanan diri. Kita bukan agresif tetapi mempertahankan diri. Tugas kita kan menjaga kedaulatan keutuhan wilayah," tukasnya. (Din/OL-7)
(SPP)

Kemenhan Terapkan Kebijakan Zero Growth

Penulis : Dinny Mutiah
JAKARTA--MI: Kementerian Pertahanan akan menerapkan kebijakan pertumbuhan nol (zero growth) untuk mengatasi borosnya anggaran belanja pegawai dan belanja pemeliharaan non perawatan. Meski demikian, Kemenhan menilai masih membutuhkan personel lebih dari jumlah yang sudah ada.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro kepada wartawan di Jakarta, Selasa (4/5).

"Jadi, jika sekarang komposisi anggaran untuk belanja pegawai dan non pemelihaan sekitar 50 persen dan sisanya untuk pembelian alutsista baru serta perawatan itu ke depan akan turun karena kita menerapkan kebijakan zero growth untuk pengembangan SDM," katanya.

Kebijakan pertumbuhan nol adalah jumlah personel yang masuk dan yang keluar diatur sama. Kebijakan tersebut juga didukung dengan kebijakan pengetatan ukuran dan restrukturisasi organisasi. Dengan demikian, bujet untuk belanja pegawai diatur tetap.

"Kita juga melakukan right sizing. Misalnya, untuk pembentukan Kodam baru di Kalbar tidak harus merekrut personel baru tapi bisa mengalokasikan personel yang ada itu. Kita juga merestrukturisasi, misalnya dengan menyesuaikan pengerahan armada laut kita yang ada. Kita kan ada armabar dan armatim kita harus melakukan penyesuaian. Prinsipnya pada pengembangan SDM kita menggunakan zero growth policy, restrukturisasi dan right sizing," tandasnya.

Irjen Kemenhan Marsdya Eris Herryanto menyatakan meski aturan diberlakukan, hal itu tidak berarti personel TNI sudah mencukupi kebutuhan yang ada. Hanya saja, itu akan berimbas pada anggaran untuk peningkatan profesionalitas TNI yang lebih besar.

"Kita tetap memberdayakan kewilayahan yang ada tetapi tetap mendeploy jika dibutuhkan," imbuhnya. (Din/OL-7)
(SPP)

Pindad Benahi Lini Produksi Sambut Kontrak Baru

Penulis : Dinny Mutiah

JAKARTA--MI: PT Pindad mengaku optimistis akan kebanjiran order alat utama sistem persenjataan dari pemerintah dan TNI. Pembenahan pun dilakukan agar ketepatan pemenuhan kontrak bisa terjadi.

Hal ini disampaikan oleh Dirut PT Pindad Adik Avianto Sudarsono kepada di Jakarta, Jumat (26/2).

"Kita belum ada produk baru. MoU kemarin saja sudah cukup banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Kita harus tambah lini produksi untuk kelancaran produksi," ujarnya.

Selan tambahan lini produksi, PT Pindad juga memperbaiki kinerja dari masing-masing mesin. Ketika mesin harus disetel ulang setiap beberapa menit sekali, jadwal produksi tentu terpengaruh. Ia menyatakan bahwa masa seting mesin menjadi perhatian sehingga tidak menghambat produksi ke depan.

"Kondisinya harus prima. Kita tidak mengarah pada produk baru, tapi bagaimana memenuhi tuntutan supaya produksi lancar," tukasnya.

Masalah pengiriman beberapa waktu lalu sempat dikeluhkan oleh TNI sebagai pengguna produk alutsista dalam negeri. Hal ini juga menjadi salah satu faktor keengganan dari TNI untuk lebih banyak menggunakan produk alutsista lokal. Kementerian Pertahanan kemudian berusaha membuat jembatan antara kedua belah pihak menyiasati hal tersebut.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan keterlambatan memang harus ditoleransi dalam industri yang baru bangkit. Meski kemudian, Meneg BUMN berjanji akan mengusahakan ketepatan pemenuhan waktu pengiriman tersebut. (DM/OL-7)
(SPP)

Tono Suratman Jabat Asisten Operasi Panglima TNI

Jakarta (ANTARA News) - Mayjen TNI Tono Suratman resmi menjabat sebagai Asisten Operasi Panglima TNI, menggantikan Mayjen TNI Supaidin AS yang memasuki masa pensiun.

Tono Suratman melaporkan jabatan barunya bersama pejabat lama kepada Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso di Mabes TNI Cilangkap Jumat.

Pengangkatan sebagai Asisten Operasi Panglima TNI itu berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/187/III/2010 tentang Pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI tanggal 25 Maret 2010.

Mayjen TNI Tono Suratman sebelumnya menjabat sebagai Pangdam VI/ Tanjung Pura, sedangkan Mayjen TNI Supiadin Yusuf A.S selanjutnya menjadi Pati Mabes TNI AD dalam rangka pensiun.

Mayjen TNI Tono merupakan lulusan Akabri Darat tahun 1975 dan memulai karier militernya sebagai Danton 2/113/Grup-1 Kopassus. Pria Kelahiran Makasar, 16 September itu, telah melaksanakan berbagai penugasan, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Penugasan operasi dalam negeri yang pernah dilakukan antara lain operasi Seroja (1978,1983, dan 1986), operasi Irian Jaya (1982) dan operasi Tim Tim (1988 dan 1996).

Sedangkan pengalaman penugasan keluar negeri meliputi tugas-tugas kemiliteran dan non militer ke 21 negara antara lain Belanda, Perancis, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jerman dan Korea Selatan.

Tono juga pernah menjadi atlit anggar yang pernah memperkuat Tim Nasional dalam berbagai kejuaraan anggar seperti Kejuaraan Anggar Antar Angkatan Bersenjata di Belanda tahun 1992 dan Atlit Kejuaraan Dunia Anggar di Bulgaria tahun 1986.

(T.R018/S026)
(SPP)

Pindad Gandeng Krakatau Steel Produksi Senjata


Jakarta (ANTARA News) - PT Pindad menggandeng PT Krakatau Steel untuk pemenuhan bahan baku laras senapan serbu (SS) TNI berbagai varian, kata Direktur Sistem Senjata PT Pindad Slamet Irianto di Depok, Senin.

"Selama ini, bahan baku untuk laras, kita impor dari Jerman, Italia dan beberapa negara lainnya," katanya menjawab ANTARA di sela lomba tembak Piala Kasad 2010 di Markas Divisi Infanteri-1 Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat.

Ia mengemukakan, penjajakan kerjasama dengan PT KS telah berlangsung empat bulan terutama untuk memastikan materi nyata, fisik, dimensi dan lainnya agar sesuai dengan spesifikasi teknis yang dibutuhkan TNI.

Selama ini, lanjut Slamet, pihaknya memproduksi senapan serbu dengan jangkauan efektif 300 meter, sesuai kebutuhan TNI.

"Jadi, kita harus selaraskan lagi dengan yang bahan baku yang PT KS, apakah mendukung untuk itu atau tidak," katanya.

Slamet mengatakan, saat ini PT Pindad memiliki kapasitas produksi 14.000 pucuk senjata per tahun. Namun, daya serap TNI hanya 10.000 per tahun.

"Kita tidak dapat memasok kepada TNI begitu saja, karena semua tergantung anggaran yang tersedia. Jadi, kita baru adakan setelah ada permintaan sekian banyak atau dalam jumlah tertentu," katanya.

Slamet menambahkan, selain memasok kebutuhan militer dalam negeri, PT Pindad juga mengimpor senjata seperti senapa serbu SS-1 dan SS-2 berbagai varian ke Malaysia, Singapura dan Filipina.

Dalam lomba tembak Piala Kasad 2010 itu, PT Pindad menampilkan sejumlah senjata dan amunisi produksinya seperti pistol G-2 Elite, G-2 Combat, P2-V2, SS-1 dan SS-2 berbagai varian, senapan runduk SPR1, SPR2 dan SPR3 dan lainnya.

Dalam kegiatan itu, sejumlah pejabat tinggi TNI Angkatan Darat dan wartawan diperkenankan melakukan tembakan uji coba produk-produk senjata tersebut.

R018/R007 (SPP)

PINDAD JAJAKI MESIN PANSER DARI MERCEDES

Bandung, 11/3 (Antara/FINROLL Automotive) - PT Pindad menjajaki penggunaan mesin dari pabrikan otomotif Jerman, Mercedes untuk mesin penggerak Panser 6x6 Anoa produksi BUMN strategis tersebut.

"Pindad akan menjajaki mesin dari Mercedes yang memiliki kapasitas power yang sama dengan mesin yang digunakan saat ini," kata Direktur Utama PT Pindad, Adik Aviantono di Bandung, Kamis.

Selama ini, panser Anoa produk PT Pindad menggunakan mesin dari pabrikan Renault Perancis. Menurut Adik mesin itu memiliki kapasitas 320 tenaga kuda (PH).

Panser tersebut, kata dia bisa menggunakan mesin dari manapun dengan spesifikasi dan kapasitas 320 PH.

"Produsen mesin dalam negeri belum ada yang sampai 320 PH, sedangkan standard untuk panser adalah sebesar itu. Sehingga kami belum bisa menggunakan mesin produk dalam negeri," kata Adik.

Ia menyebutkan, mesin produk nasional saat ini baru dapat menghasilan 220 HP sehingga belum memenuhi spesifikasi untuk power kendaraan tempur seperti panser itu.

Meski masih ada komponen yang harus didatangkan dari luar negeri atau import, namun penggunaan kandungan lokal panser Anoa produksi Pindad juga terus meningkatkan kandungan lokalnya dengan bersinergis dengan industri lokal.

Salah satunya plat baja kini sudah menggunakan produk baja PT Krakatau Steel Banten dengan spesifikasi yang standard kendaraan tempur. Sehingga tidak lagi harus mengimpor dari luar negeri.

"Kandungan lokal panser Anoa saat 6x6 Anoa saat ini sudah mencapai 53 persen, beberapa komponen masih impor seperti powerpack dan gearbox," kata Adik.

Ia menyebutkan, saat ini Pindad masih menyelesaikan panser pesanan Dephan yang akan diserahkan pada 2010 ini. Selain itu pihaknya juga terus mencsri pasar dengan mengikuti tender di luar negeri, salah satunya di Malaysia.

"Saat ini kami sudah bisa head to head dengan produsen panser lainnya di dunia, meski demikian masih terkendala untuk pengadaan mesinnya yang saat ini masih harus import," kata Adik menambahkan.

Selain memroduksi panser, PT Pindad juga memproduksi amunisi kaliber besar dan kecil, senjata genggam, senjata laras panjang SS-1 dan SS-2, senjata sniper serta beberapa alutsista lainnya.

PT Pindad juga memproduksi komponen prasarana kereta api, perlengkapan kapal laut, sparepart berbagai mesin serta produksi tabung gas elpiji. (SPP)