KAMI MEMANG BUKAN YANG TERBESAR, TAPI KAMI AKAN BERUSAHA UNTUK MENJADI YANG TERBAIK. SALAM SERIKAT PEGAWAI PINDAD
Tampilkan postingan dengan label Inkubator Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inkubator Bisnis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Mei 2010

Inilah Obat Tradisional yang Ditarik!

Berikut merek-merek obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat berbahaya yang ditarik:

A. Obat Pelangsing
1. Qianjiali Kapsul Pelangsing produksi Beijing Medi-Tech Development Co Ltd dengan importir PT True Man Segar
2. Jakarta (mengandung sibutramin hidroklorida, izin edar dibatalkan).
3. Lasmi Kapsul produksi PJ Herbalindo SM (mengandung sibutramin hidroklorida, izin edar dibatalkan).
4. Sera Kapsul produksi PJ Herbalindo SM (mengandung sibutramin hidroklorida, izin edar dibatalkan).
5. Sulami Kapsul produksi PJ Herbalindo SM (mengandung sibutramin hidroklorida, izin edar dibatalkan).
6. Li Da Dai Dai Hua Jiao Kapsul produksi Kunming Dali Industri & Trade Co Ltd (mengandung sibutramin hidroklorida, tidak terdaftar).
7. New Pro Slim Kapsul produksi the Trird Pharm Manufactory Harbin China (mengandung sibutramin hidroklorida, tidak terdaftar).

B. Penambah Stamina Pria
1. New Idola Kapsul produksi PT Pyridina Farma Cianjur (mengandung tadalafil, izin edar dibatalkan).
2. Ratax Kapsul produksi PT Pyridina Farma Cianjur (mengandung tadalafil, izin edar dibatalkan).
3. Sahe Hiki Kapsul produksi PT Sumber Waras Perkasa Cianjur (mengandung sildenafil sitrat, izin edar dibatalkan).
4. King Cobra 10X Lebih Kuat Serbuk produksi PJ Cobra Ayu Makassar (mengandung sildenafil sitrat, nomor izin edar fiktif).
5. Suwe-Xi kapsul produksi PJ Kaki Langit Jawa Tengah (mengandung sildenafil sitrat, nomor izin edar fiktif).
6. Tang Pe Fu Serbuk produksi PJ Alami Makassar (mengandung sildenafil sitrat, nomor izin edar fiktif).
7. Purwoceng Serbuk produksi PJ Sidowaras (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).
8. Tangkur Buaya Super Kapsul produksi PD Meringis Sehat Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
9. World Quick Strong Kapsul produksi World (Tianjin) Nutrition & Health Food Co Ltd/PT Woo Tekh Indonesia (mengandung tadalafil, tidak terdaftar).

C. Obat Tradisional Lain
1. Yin Chiao Tablet produksi Cengde Trad. Chinese Medicine Factory/PT Tjahaja Baru Surabaya (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
2. Zhongganling Pian Tablet produksi Guangdong Jiaying Pharm Co Ltd/PT Intra Aries Jakarta (mengandung metampiron, izin edar dibatalkan).
3. Zhong Gan Ling Pian Tablet produksi Heping Pharmaceutical Factory Guangdong Cina/PT Sinar Herba Radix Jakarta (mengandung metampiron, izin edar dibatalkan).
4. Wan Tong Pegal Linu Kapsul produksi PJ Herbalindo SM (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
5. Wan Tong Pegal Linu Rheumatik produksi PJ Herbalindo SM (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
6. Pegal Linu Cap Putri Sakti Cairan Obat Dalam produksi H Moh Khusni Banyuwangi (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
7. Salurat Putri Sakti Cairan Obat Dalam produksi H. Moh. Khusni Banyuwangi (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
8. Jaya Asli Anrat Serbuk produksi PJ Jaya Asli Cilacap (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
9. Akar Dewi Putri Multi Khasiat Serbuk produksi CV Laser Group (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
10. Pamong Raga Pegel Linu Serbuk produksi IKOT Kopja Aneka Sari Unit I Cilacap (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
11. Pegal Linu Kalimajaya Serbuk produksi Drs H Moh Nur Hidayat, Kopja Aneka Sari Unit IX Sifaul Mustajab Cilacap (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
12. Pegalinu No 2 Serbuk produksi PJ Cipta Rasa (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
13. Randa Linu (Asam Urat) Serbuk produksi Kopja Aneka Sari Unit III/PJ Gunung Sugih Cilacap (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
14. Sari Buana Serbuk produksi Kopja Aneka Sari Unit VII (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
15. Turrat Serbuk produksi Serbuk produksi IJ Sinar Mujarab Mojokerto (mengandung, parasetamol, izin edar dibatalkan).
16. Darah Tinggi Serbuk produksi CV Sinar Mujarab Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
17. Gatal Eksim Serbuk produksi PJ Sinar Mujarab Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
18. Sehat Boyok Sakit Pinggang Serbuk produksi CV Sinar Mujarab Mojokerto (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
19. Sekalor Serbuk produksi CV Sinar Mujarab Jawa Timur (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
20. Untabat (Batuk Pilek) Serbuk produksi CV Sinar Mujarab Mojokerto (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
21. Arum Jaya Gemuk Sehat Serbuk produksi PJ Arum Jaya Cilacap (mengandung deksametason, tidak terdaftar)
22. Asam Urat Akar Dewi Putri Serbuk produksi UD Lazer Group, Lamongan (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
23. Asam Urat cap Unta Kapsul produksi PJ Unta Mas Indonesia (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).
24. Asam Urat, Flu Tulang & Pengapuran Buah Merah Serbuk produksi PJ Buah Alam Papua, Purwokerto, (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
25. Asam Urat Nyeri Tulang Tjap Dua Daun Serbuk produksi PJ Brotowali, Solo, (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
26. Asam Urat Rheumatik Akar Sirih Serbuk produksi PJ Inti Sehat Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
27. Brantas, Obat Asam Urat Rheumatik, Nyeri Tulang Kapsul produksi PJ Ampuh Jaya, Cilacap, (mengandung parasetamol dan fenilbutason, tidak terdaftar).
28. Buah Naga, Asam Urat dan Nyeri Tulang Kapsul produksi PJ Dua Walet, Kopja Aneka Sari, Cilacap (mengandung parasetamol dan fenilbutason, tidak terdaftar).
29. Daun Dewa Kapsul produksi PJ Daun Dewa Makassar (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).
30. Dewi Bulan Capsul Sakit Gigi & Sakit Kepala Cekot-cekot Kapsul produksi PJ Songgo Geni, Tangerang (mengandung parasetamol dan asam mefenamat, tidak terdaftar).
31. Dua Walet Amrat Serbuk produksi PJ Dua Walet, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
32. Gemuk Sehat/Ideal Tirta Sehat Serbuk produksi PJ Tetap Sehat, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
33. Gemuk Sehat PJS Serbuk produksi PJ Pusaka Jaya Sakti, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
34. Gemuk Sehat SP Serbuk produksi Sehat Perkasa, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
35. Kembang Wijaya Serbuk produksi PJ Fisabillah, Cilacap (mengandung metampiron, tidak terdaftar).
36. Kencing Manis Serbuk produksi PK Tetap Sehat, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
37. Kuat Sehat Cap Kuda Liar Serbuk produksi RCK Jabar (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
38. New Singa Majapahit Serbuk produksi PD Lestari Wiji Dadi (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
39. Pasti Joss Tablet produksi PJ Mega Raya, Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
40. Ramuan Tradisional Remagel Serbuk produksi PJ Kasturi Dewi, Jawa Tengah (mengandung deksametason dan parasetamol, tidak terdaftar).
41. Ramuan Tradisional Sarang Semut plus Sirih Merah Tablet produksi PJ Cespleng Jaya, Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
42. Samurat Extra Serbuk produksi PJ Serbat Mustajab, Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
43. Simakit Serbuk produksi PJ Candi Wulan, Banyumas (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).
44. Temu Ginseng Plus Buah Merah Kapsul produksi PJ Sumber Utama Ginseng Indonesia (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
45. Walet Kembar Asam Urat Serbuk produksi PJ Kunci Sehat, Cilacap (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).

Sumber : Antara

50 Sentra industri kreatif dibidik raih silpa

Pendaftaran hak cipta dan merek 125 UMKM difasilitasi

JAKARTA: Kementerian Negara Koperasi dan UKM membidik 50 sentra industri kreatif untuk diberi program penguatan melalui implementasi HaKI dengan memanfaatkan dana sisa lebih anggaran (silpa).

Deputi Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM Choirul Djamhari mengatakan program dengan anggaran silpa ini mencakup tiga kegiatan, yakni pendampingan bagi kelompok produsen kreatif dalam mengembangkan desainnya oleh desainer.

Dua kegiatan lainnya adalah memberikan bantuan langsung berupa peralatan ke kelompok masyarakat produsen industri kreatif, serta memberikan jurnal dan katalog barang desain untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan kelompok masyarakat produsen industri kreatif tentang perkembangan desain.

"Pemanfaatan hak atas kekayaan intelektual (HaKI) oleh usaha kecil, menengah, dan koperasi belum optimal, padahal untuk meningkatkan daya saing produk di pasar global, pemanfaatan hak itu merupakan salah satu kuncinya," ujar Choirul, seusai rapat koordinasi dengan pejabar Departemen Perdagangan, belum lama ini.

Menurut dia, program dukungan pemanfaatan HaKI, di antaranya pembentukan Klinik HaKI, pendaftaran merek dan hak cipta, pendaftaran desain industri, dan pendaftaran paten.

Choirul mengatakan prinsip pengembangan industri kreatif adalah mendayagunakan usaha kecil menengah. Untuk itu, program pengembangan desain yang dilakukan sejak 2001 akan dilanjutkan melalui sosialisasi bagi 250 UMKM, kemudian pendampingan dan sertifikasi desain industri bagi 150 desain UMKM.

Untuk memotivasi dan meningkatkan keterampilan UMKM dalam mengembangkan desainnya, pemerintah juga akan melaksanakan fasilitasi pendaftaran hak cipta dan pendaftaran merek bagi 125 UMKM, pelatihan teknis bagi 120 UMKM.

Selanjutnya, pada kegiatan pameran produk UMKM diadakan pemilihan desain terbaik antarpeserta pameran. "Pemenang mendapat kesempatan untuk mengikuti promosi dagang ke luar negeri dan produknya didaftarkan hak desain," ujarnya.

Kerja sama

Deputi Choirul mengungkapkan institusinya menawari Depdag untuk bekerja sama dalam sejumlah program pengembangan industri kreatif, seperti sosialisasi bersama program; promosi, festival, dan pameran bersama produk industri kreatif; serta pilot project pengembangan produk terpilih di provinsi tertentu.

Selain itu, lanjutnya, pemetaan industri kreatif UMKM potensial; penyusunan praktik terbaik UMKM industri kreatif, peningkatan kapasitas kelembagaan; pendampingan UMKM industri kreatif; penumbuhkembangan koperasi etalase; pengembangan jejaring bisnis dan kemasan produk; serta pengembangan inovasi dalam teknologi produksi industri kreatif. (fatkhul.maskur@bisnis.co.id)

Oleh Moh. Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia

Produk UKM Bandung Belum Sepenuhnya Termanfaatkan

BANDUNG, (PR).-
Akibat lemahnya infrastruktur perdagangan, produk UKM asal Bandung yang memiliki
daya saing di pasar Asean, terutama untuk aneka produk handicraft, belum
sepenuhnya termanfaatkan. "Tingginya daya saing ini, dapat diindikasikan dari
tingkat penjualan produk UKM Bandung yang selalu tinggi, jika mengikuti pameran
dagang di negara-negara Asean," kata Ketua Kadin Kota Bandung, Deden Y. Hidayat,
akhir pekan lalu.
SEORANG pengunjung mencoba senapan angin produksi Cipacing pada pameran UKM
Jabar di Bandung, 17 November lalu. Akibat lemahnya infrastruktur perdagangan,
produk UKM asal Bandung yang memiliki daya saing di pasar ASEAN, terutama untuk
aneka produk "handicraft", belum sepenuhnya termanfaatkan.* ANDRI GURNITA/"PR"

"Ini memang potensi yang besar, tapi saat ini kita belum bisa memanfaatkannya
secara optimal. Terutama dalam konteks pengembangan usaha bagi pelaku UKM
Bandung. Karena berbagai infrastruktur perdagangannya belum siap," katanya.

Padahal, katanya, dari beberapa pameran dagang di Singapura, Malaysia, Brunei
Darusalam, Thailand, dan Myanmar, produk UKM asal Bandung selalu laku keras.
Malah dalam pameran yang dilangsungkan di Myanmar beberapa bulan lalu, hanya
dalam waktu dua jam beberapa stand UKM asal Bandung sudah kehabisan barang.

Dijelaskan, untuk bisa melakukan perdagangan dalam skala yang lebih besar dan
melibatkan lebih banyak UKM, diperlukan berbagai kelengkapan. Mulai dari masalah
pusat informasi bisnis, bank koresponden, hingga lembaga pendukungan untuk
membantu masalah-masalah legal perdagangan ekspor.

"Saat ini, potensi tersebut baru termanfaatkan sebagian pihak saja, terutama
para pelaku UKM yang kebetulan pernah mengikuti pameran. Beberapa dari mereka
sudah beberapa kali melakukan repeat order, tapi itu pun dalam skala yang
relatif masih kecil," katanya.

Karena itulah, ujar Deden, tahun depan Kadin Kota Bandung berencana untuk
membuat Representative Office (RO) di Singapura. Supaya potensi ekspor produk
UKM Bandung, bisa lebih dioptimalkan pemanfaatannya.

Ekspor UKM

Singapura sengaja dipilih, karena bisa menjadi pintu gerbang perdagangan. Baik
untuk tujuan ekspor Asean maupun negara lainnya di dunia. Pasalnya, buyer dalam
perdagangan internasional, umumnya memiliki kantor di Singapura. Begitu pun
untuk masalah keuangan, hampir setiap negara memiliki bank perwakilannya di
Singapura.

"Saat ini, kita sedangkan mengadakan berbagai penjajakan. Mudah-mudahan awal
tahun 2007 RO-nya sudah jadi dan bisa segera beroperasi. Ini memang harus segera,
supaya tidak kehilangan momentum," katanya.

Sementara, Manajer BPPKU (Badan Promosi dan Pengelola Keterkaitan Usaha) Kadin
Kota Bandung, Iman Hikmat Nugraha mengatakan, produk UKM Bandung tak hanya laku
di Asean, di Australia dan Jepang pun cukup diminati. Setidaknya hal itu
ditunjukkan kegiatan ekspor UKM yang menjadi mitra binaan BPPPKU.

"Saya kira potensi ekspor produk UKM Bandung ini, diketahui juga daerah lain.
Terbukti tanggal 21-28 Desember 2006, kita diundang menjadi peserta Sundanese
Expo, pameran khusus produk bernuansa Sunda, di Batam. Penyelenggaranya Kadin
Batam. Ini memang agak luar biasa," katanya.

Apalagi mengingat penyelenggara pameran tersebut, mempromosikan acaranya secara
besar-besaran, hingga ke negara Asean lainnya. "Ini sangat membantu promosi
produk UKM Bandung dan daerah lainnya di Jabar," katanya.(A-135)***

Jumat, 14 Mei 2010

Bob Sadino dan Kewirausahaan

Bob Sadino memberikan beberapa tips untuk mereka yang benar-benar ingin membangun jiwa enterpreneurship (jiwa kewirausahaan). Ia menyarankan agar orang tidak belajar jiwa wirausaha di dalam kelas, atau dari mereka yang tidak pernah menggeluti langsung dunia usaha.

Sebab biasanya yang diberikan adalah semua saran yang didasari oleh ‘ketakutan’ sehingga segalanya dipermudah dengan ide-ide logis padahal ‘hutan’ usaha adalah sering tidak mengikuti urutan dan sistematika berpikir biasa, faktor-faktor-faktor yang kelihatannya terkontrol padahal sangat sulit menerka gerak dan dinamika pasar, saran-saran yang berlawanan dengan hukum pasar yang cenderung liar, mengabaikan unsur lain yang justru sangat penting yaitu ‘naluri’ pengusaha, dsb.

Untuk membangun jiwa wirausaha, Bob menyuruh kita untuk melihat beberapa hal berikut:

1. Kita harus membebaskan diri kita dari RASA TAKUT. Inilah halangan terbesar. Inilah alasan terbesar mengapa pendidikan memakan waktu yang lama, yaitu untuk menghindari kesalahan dan resiko. Tapi justru itulah yang ingin dipangkas oleh Bob karena ia merasa rasa takut adalah penyebab tidak berkembangnya enterpreneurship. Kesulitan dan resiko selalu menyertakan peluang. Jadi, jika kita ingin mengembangkan jiwa enterpreneurship, jangan menghindari resiko. Resiko mengandung peluang.

2. Kita harus membebaskan diri dari tidakan TERLALU BERHARAP. Belum apa-apa sudah membayangkan hitungan khayal tentang keuntungan, kemudahan, kehebatan dan hasil besar. Jika begini, maka orang mudah kecewa karena ternyata lapangan mengajarkan yang berbeda. Orang harus belajar menghitung mulai dari angka kecil tetapi tekun dan komit. Bayangkan sukarnya dan hadapilah kesukarannya.

3. Kita harus bebaskan diri kita dari PIKIRAN SENDIRI. Biasaya berupa konsep, keyakinan, anggapan dsb. Belajarlah untuk ‘tidak tahu’ supaya pengertian masuk sebanyak-banyaknya. Lepaskan diri dari konsep-konsep, semua harus dijalani dulu dengan penuh keberanian, nanti ilmu akan datang sendiri. Itulah enterpreneurship kata Bob. Memang benar, jika kita berhadapan dengan orang yang merasa sudah tahu, kita kerepotan. Orang tidak mudah berubah karena sudah punya asumsi dulu dalam pikiran. Jadi, cara termudah mengadopsi teknik baru adalah dengan mengambil posisi ‘belajar’, ‘tidak tahu’. Atau merendahkan hati untuk menjalankan sesuatu yang baru.

Dengan ketiga kunci tersebut, Bob berharap mereka calon enterpreneur akan memakai prinsip-prinsip tadi sebagai modal mengembangkan jiwa kewirausahaan.

Nah, semoga tulisan pendek ini berguna bagi anda!

TEKNOLOGI BIOPROSES PEMBIBITAN DAN PRODUKSI JAMUR TIRAM


ABSTRAK
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah jamur yang hidup di kayu mudah dibudidayakan menggunakan substrat serbuk kayu dan diinkubasikan dalam kumbung. Jamur tiram termasuk jamur pangan potensial yang mempunyai nilai gizi tinggi, dengan kandungan senyawa aktif mampu mengendalikan kesehatan manusia. Pelaksananan kegiatan produksi jamur tiram pada tahun anggaran 2001 telah dipersiapkan 10.000 log menjadi 3 periode penanaman ke dalam 2 unit kumbnung. Untuk menjaga kesinambungan produksi maka pada tahun anggaran 2002 kegiatan diarahkan pada proses pemeliharaan hingga panen dan diseminasi melalui kegiatan pelatihan. Dari 3 periode tanam menunjukkan adanya peningkatan produksi jamur bertahap dari periode I sampai pada periode III. Kecenderungan ini ada hubungannya dengan tingkat pemahaman petani dalamproses pemeliharaan jamur tiram

Latar Belakang

Jamur tiram atau dalam bahasa latin disebut Pleurotus sp. merupakan jamur konsumsi termasuk kedalam Klas Bosidiomycetes. Spesies jamur tiram, Pleurotus ostreatus selain dapat dikonsumsi juga bernilai ekonomi tinggi. Selain itu masih banyak species jamur tiram lainnya dari Genus Pleurotus yang telah dibudidayakan antara lain Pleurotus umbellatus, P. flabellatus, P. dryngeus, P. sajor caju, P. iringii, P. abalonus. Jamur tiram yang banyak dikenal oleh petani jamur Indonesia secara umum antara lain : Tiram putih (Pleurotus ostreatus), jenis ini memiliki tangkai bercabang. Disebut jamur tiram putih karena jamur ini memang berwarna putih, tudungnya bulat 3-15 cm. Tiram abu-abu (Pleurotus cystidius), jenis jamur ini tangkainya tidak bercabang, tudung bulat dengan diameter lebih kecil dibandingkan dengan tiram putih. Tiram abu-abu keunggulannya mempunyai rasa manis. Tiram raja (Pleurotus umbellatus), atau King oyster tidak bercabang, tudung besar berwarna kecoklat-coklatan dan pecah-pecah bagian pinggirnya.

Kandungan protein jamur tiram rata-rata 3,5-4% dari berat basah. Berarti proteinnya dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Bila dihitung dari berat kering jamur tiram kandungan proteinnya adalah 19-35%, sementara beras 7,3%, gandum 13,2%, kedelai 39,1% dan susu sapi 25,2%. Jamur tiram juga mengandung sembilan asam-asam amino esensial yang tidak bisa disintesis dalam tubuh yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin dan fenilalanin. Kandungan lemak jamur tiram setidaknya 72% dari total asam-asam lemaknya adalah asam lemak tidak jenuh. Jamur tiram juga mengandung sejumlah vitamin penting terutama kelompok vitamin B, vitamin C dan provitamin D yang akan diubah menjadi vitamin D dengan bantuan sinar matahari. Kandungan vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), niasin dan provitamin D2 (ergosterol)-nya cukup tinggi. Jamur merupakan sumber mineral yang baik, Kandungan mineral utama yang tertinggi adalah kalium (K), kemudian fosfor (P), natrium (Na), kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Namun, jamur juga merupakan sumber mineral minor yang baik karena mengandung seng, besi, mangan, molibdenum, kadmium, dan tembaga. Konsentrasi K, P, Na, Ca dan Mg mencapai 56-70 persen dari total abu, dengan kandungan kalium sangat tinggi mencapai 45 persen.

Menurut Chang dan Miles kandungan logam berat itu masih jauh di bawah batas yang ditetapkan dalam undang-undang Fruit Product Order and Prevention of Food Adulteration Act tahun 1954. Oleh karena itu jamur tiram sebagai sayuran adalah aman dikonsumsi setiap hari, sumber yang baik untuk asam-asam amino yang diperlukan dalam membentuk protein dalam tubuh, sumber yang baik untuk vitamin terutama vitamin B1, B2 dan provitamin D2, dan sumber mineral terutama kalium dan fosfor.

Jamur tiram bisa hidup pada daerah yang bersuhu antara 10 s/d 32 oC. Artinya bila suhu <10 oC jamur tiram tumbuh kurang baik demikian pula apabila >32oC. Adapun pertumbuhan optimum jamur tiram adalah pada suhu 25-26 oC. Secara alamiah di Indonesia daerah yang mempunyai suhu 25-26 oC terdapat pada daerah dataran tinggi kira-kira pada ketinggian 500-1000 m dpl.

BPPT dalam pelaksanaan kegiatan IPTEKDA bekerjasama dengan PT. Tata Agro Nusantara Indah (TANI) membuat unit pilot percontohan budidaya produksi jamur tiram di Kabupaten Subang Jawa Barat. Kabupaten Subang dengan ketinggian 600 m dpl. dengan suhu rata-rata 24oC potensial untuk usaha budidaya jamur tiram. Menurut catatan TANI tahun 2001 bahwa dari hasil uji coba produksi jamur tiram di Karawang yang mempunyai suhu rata-rata 30 oC menunjukkan bahwa dari bibit dalam log berat 1 kg, dapat dipanen jamur 1-1,5 kg/log dari kemungkinan 1,5-2,0 kg jamur/log. Biasanya jamur tiram yang ditanam di dataran tinggi memiliki tudung lebih lebar dibandingkan dengan yang ditanam di dataran rendah. Tentunya hasil panen harapan untuk di daerah Subang akan berbeda.

Kesimpulan

Jamur tiram dapat ditumbuh kembangkan pada media serbuk kayu yang dikemas dalam kantong plastik.
Pemeliharaan dapat dilakukan di dalam kumbung yang difasilitasi hujan buatan, disusun diatas rak secara vertikal.
Pertumbuhan dan produksi jamur tiram sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, sehingga peranan ketekunan pemelihara sangat menentukan.
Kegiatan percontohan budidaya jamur tiram di desa Tambakan telah menjadi perhatian dan rujukan oleh masyarakat jamur di desa lain.

Sumber :
TEKNOLOGI BIOPROSES PEMBIBITAN DAN PRODUKSI JAMUR TIRAM UNTUK PENINGKATAN NILAI TAMBAH PERTANIAN
Henky Isnawan H., Netty Widyastuti, Donowati, Jamil, Uswindraningsih
PPP Teknologi Bioindustri, Henkisna1@Hotmail.com
Dalam Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003, Vol. II, hal. 123-126 /HUMAS-BPPT/ANY

http://www.iptek.net.id/ind/index.php?mnu=8&ch=jsti&id=35
16 Maret 2009

Sumber Gambar :
http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Oyster_mushroom_log.jpg

PASOKAN SI PUTIH MASIH DI NANTI


Bingung memilih usaha agribisnis yang akan dijalankan, tak ada salahnya mencoba budidaya jamur tiram putih atau dalam bahasa latinnya Pleurotus ostreatus. Dalam 10 tahun terakhir nilai ekonomis jamur tiram terus meningkat. Jamur jenis ini sudah lebih dikenal dan memasyarakat dibandingkan jenis jamur lainnya. Permintaan akan produk ini senantiasa meningkat juga disebabkan karena kebutuhan pasar akan produk kian meluas, tak hanya dalam bentuk segar, tetapi juga olahan.

Pasar jamur tiram putih sangat potensial. Dengan rasanya yang enak, selain untuk konsumsi dalam negeri, produk ini juga menembus pasar ekspor. Kebutuhan jamur tiram dalam bentuk kering maupun yang telah dikalengkan untuk beberapa negara seperti Singapura, Taiwan, Jepang, Hongkong cukup tinggi. Jangankan memenuhi pasokan tersebut, kebutuhan jamur dalam negeri saja, petani sulit memenuhi permintaannya.

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) adalah jamur yang hidup di kayu dan mudah dibudidayakan menggunakan substrat serbuk kayu dan diinkubasikan dalam kumbung. Jamur tiram dapat ditumbuhkembangkan pada media serbuk yang dikemas dalam kantong plastik.

Disebut jamur tiram putih karena memang berwarna putih, dengan tangkai bercabang dan tudungnya bulat berukuran 3-15 cm. Jamur tiram biasa hidup pada daerah bersuhu 10-32 derajat celcius.

Harga jamur tiram putih di pasaran bervariasi sekitar Rp1.500 hingga Rp2.000 per log. Ada juga yang menjual Rp 10.000 per kg untuk partai, atau harga eceran hingga Rp 12.000 per kg.

In House atau Sewa?

Sebagai modal awal untuk usaha jamur tiram setidaknya diperlukan biaya lahan, biaya membangun kumbung, ongkos pembuatan media dan juga tungku sterilisasi. Sebagai gambaran, biaya pembuatan kumbung berkonstruksi bambu bisa mencapai Rp100.000 per m2 .Jika menyimpan 5.000 baglog dibutuhkan kumbung 35m2, maka total biaya pembuatan kumbung sekitar Rp3,5 juta. Biaya tersebut juga ditambah dengan biaya pembuatan rak yang mencapai sekitar 30.000 per m2.

Bagi yang ingin mengurangi risiko di bagian biaya modal ini, bisa memilih jalan menyewa kumbung. Dengan jalan ini biaya modal awal bisa diperhemat.

Pertumbuhan dan produksi jamur sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, sehingga ketekunan pebisnis dalam merawat dan memelihara sangat menentukan keberhasilan. Untuk memperkaya pengetahuan pada produk ini, pebisnis harus rajin mengikuti pelatihan terkait produk akan sangat membantu. Berbagai informasi inovasi terbaru juga bisa didapat melalui kegiatan ini. Inovasi yang bisa mempermudah proses produksi bisa didapat. Misalnya, belum lama ini ditemukan inovasi baru untuk melipatgandakan produksi, yaitu sistem gantung dan penambahan eceng gondok sebagai media. Inovasi ini bisa memotong waktu panen hingga setengah dari biasanya.

Permasalahan yang sering timbul dari usaha ini biasanya adalah ketidakmampuan petani pebisnis memenuhi permintaan pasokan. Untuk mengatasi ini pebisnis bisa menjalin mitra dengan usaha sejenis lainnya. (SH)

Sumber :
http://www.wirausaha.com/bisnis/agribisnis/pasokan_si_putih_masih_dinanti.html
16 Maret 2009

Sumber Gambar :
http://jamurlestari.com/images/1183995107.jpg

RESEP SATE JAMUR TIRAM


BAHAN:
100 gr jamur tiram, potong-potong
5 buah tusuk sate

BUMBU KACANG:
50 gr kacang tanah goreng lalu haluskan
3 siung bawang merah, haluskan
1 siung bawang putih, haluskan
3 buah cabe merah, haluskan
3 sdm gula merah, sisir
1/4 sdt garam
3 sdm minyak goreng
Air matang

PELENGKAP:
Irisan halus kol
Irisan tomat merah

CARA MEMBUAT:
SATE JAMUR

1. Tusukkan potongan jamur ketusuk sate, kerjakan hingga selesai
2. Siapkan alat bakaran, bakar sate hingga berubah warna menjadi kecoklatan, angkat, sisihkan

BUMBU KACANG
1. Siapkan wajan. Panaskan minyak, tumis bawang putih dan bawang merah hingga matang dan harum.
2. Masukkan cabe merah, kacang tanah yang telah dihaluskan, gula merah, garam dan air. Masak hingga bumbu matang dan mengental, angkat. sisihkan.

Letakkan irisan kol dan tomat di pinggir piring, letakkan sate jamur lalu siram dengan bumbu kacang. Sajikan hangat.

Sumber :
http://resep-plus.blogspot.com/2008/07/sate-jamur.html
16 Maret 2009

Sumber Gambar :
http://restlessangel.files.wordpress.com/2008/12/sate-jamur-tiram.jpg

KEMITRAAN BISNIS JAMUR TIRAM


Caranya, ia menyediakan kumbung serta baglog, juga membantu dalam pemasaran jamur tiram yang diproduksi oleh petani mitra. Selain itu, ia juga memberi pelatihan cara budidaya jamur tiram yang baik, manajemen produksi dan keuangan, serta pemasaran.
Dalam satu periode panen (45 hari), umumnya petani sudah bisa kembali modal. Sedangkan kumbung bisa bertahan hingga lima tahun dengan perbaikan ringan di bagian rak baglog dan dinding yang terbuat dari bambu.

Konsentrasi di Pembesaran
Kumbung dan baglog dibuat agar sesuai dengan standar budidaya jamur tiram yang dikerjakan farm-nya yang terletak di Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Bogor. “Saya sudah memperhitungkan keuntungan buat mitra dan mengambil sedikit untuk biaya produksi dan anak-anak yang bekerja membuat baglog,” ujar H. Achmad.
Baglog produksinya dijual dengan harga Rp1.250/buah dengan biaya produksi sekitar Rp900/baglog. Dalam sehari, ia mampu memproduksi kurang lebih 5.000 baglog yang digunakan sendiri maupun untuk mitra.

Selain itu, kumbungnya juga menghasilkan 800—1.000 kg jamur tiram segar/hari, termasuk jamur produksi petani mitra. “Jika mereka sudah kuat, kemudian ingin produksi dan jual jamur sendiri, silakan. Saya justru senang karena mereka bisa berdikari,” ujarnya. Namun, ia tahu petani pemula umumnya belum menguasai budidaya dan pemasaran jamur. Itulah sebabnya mereka mencari aman dengan membeli baglog yang baik dan terjamin pemasarannya terjamin.

Menurutnya, pemula sebaiknya tidak mengelola usaha jamur dalam skala yang terlalu besar, yaitu sekitar 10.000—25.000 baglog dan hanya berkonsentrasi di bagian pembesaran (grower). “Setelah mengetahui seluk-beluk budidaya jamur dan lika-liku pemasaran jamur, petani dapat mulai belajar membuat baglog dan bibit jamur,” sarannya.

Sebagian orang menganggap aktivitas di kumbung tidak ada ilmunya. “Padahal sebaliknya, grower sangat banyak ilmunya dan tidak tertulis di buku manapun,” ujar Bahrul Ulum, Manajer Produksi jamur tiram milik H. Achmad. Berbeda dengan pembibitan yang sudah standar, pengelolaan grower sangat tidak standar dan banyak tantangannya.

Diserap Pasar Tradisional
Lili, salah satu petani mitra H. Achmad yang memulai usahanya dengan 10.000 baglog. Dalam waktu tiga bulan, ia mampu menghasilkan 3 ton jamur tiram atau rata-rata 35 kg/hari.

“Hasil ini belum maksimal karena kami baru belajar,” aku Lili yang mengerjakan usaha jamur tiramnya secara gotong royong dengan petani lain di wilayah Parung, Bogor.
Ia mengakui, awalnya sempat khawatir soal pemasaran, tetapi akhirnya menjadi percaya diri karena produksinya bisa diserap pasar tradisional setempat. “Saya yakin, kalau produksi jamur sudah mencapai 100 kg/hari, pedagang akan datang sendiri,” ujar Lili.
Menurut Bahrul Ulum, pemasaran jamur sebenarnya tidak ada masalah asalkan diproduksi dalam jumlah besar. “Oleh karena itu, saya sarankan agar pembudidaya jamur berkelompok sehingga produksi jamur dalam satu unit produksi cukup besar,” katanya lagi.

Tujuannya, agar pedagang pedagang dapat membeli jamur dalam jumlah besar sehingga menghemat biaya transpor. Selain itu, usahakan agar menghasilkan produk yang baik, yaitu jamur tiram yang bersih, segar, tidak basah, tidak pecah, dan rapi penataannya. Di tingkat petani, jamur tiram dijual dengan harga Rp6.500/kg untuk partai besar dan Rp7.500/kg untuk eceran. Jamur berkualitas baik dapat bertahan kesegarannya hingga 36 jam pada suhu kamar.

Sumber :
Enny Purbani T.
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=10&aid=645
19 Februari 2007

KEUNGGULAN DAN CARA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Keunggulan jamur tiram cukup banyak, selain harga yang relatif mahal, tingkat keuntungan yang dihasilkan relatif tinggi, umur singkat, tanaman ini juga sangat laku di pasaran.

Selain itu, keunggulan lainnya, cara budidaya mudah dan dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak memerlukan lahan yang luas. “Jamur tiram cukup toleran terhadap lingkungan dan dapat dijadikan sebagai pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan,” kata Krisnadi, petani jamur tiram Pontianak.

Diversifikasi produk jamur tiram cukup banyak dapat bentuk segar, kering, kaleng, serta diolah menjadi keripik, pepes, tumis, dan nugget.

Rantai budidaya jamur tiram dimulai dari; serbuk gergaji, pengayakan, pencampuran, sterilisasi, inokulasi, inkubasi, spawn running, growing, dan pemanenan.

Krisnadi kemudian menjelaskan secara rinci mengenai budidaya jamur tiram. Untuk media tanamnya dapat berupa serbuk kayu (gergajian), jerami padi, alang-alang, limbah kertas, ampas tebu dan lainnya.

Sebagai campuran dapat ditambahkan bahan-bahan lain berupa bekatul (dedak) dan kapur pertanian dengan perbandingan 80:15: 5. Media dimasukkan dalam plastik polypropilen dan dipadatkan kemudian diseterilisasi selama 10-12 jam. “Sterilisasi bertujuan untuk menekan pertumbuhan mikrobia lain yang bersifat antagonis dan menjadi penghambat pertumbuhan bagi tanaman induk dalam hal ini jamur tiram,” katanya.

Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara memanaskan baglog dengan uap panas selama 8-12 jam pada suhu ± 95 °C. Setelah sterilisasi selesai, baglog didinginkan dalam ruangan tertutup selama 24 jam untuk menghindari kontaminasi baglog.

Tahapan selanjutnya adalah proses inokulasi. Inokulasi adalah proses penularan miselium dari bibit (F3) ke media tanam. Proses ini dilakukan dengan steril dan dalam ruang inokulasi. Mengenai bibit, sebelumnya ia mendapatkannya dari Lembang dan Jogja. “Sekarang kami sudah bisa memproduksi sendiri,” katanya.

Proses lanjutan yakni masa inkubasi yakni tahap penumbuhan miselia jamur. Proses ini memerlukan waktu kurang lebih 40 - 60 hari sampai baglog berwarna putih. Krisnadi menegaskan, suhu ruang inkubasi harus dijaga dalam kondisi yang stabil dan rendah cahaya 22- 28 °C dengan kelembaban 70 – 90 %.

Setelah baglog berwarna putih merata, kemudian dipindahkan ke kumbung. Biasanya, umur baglog yang dipindahkan telah mencapai 40 hari.

Proses penumbuhan tubuh buah diawali dengan membuka ujung baglog untuk memberikan 02 pada tubuh buah jamur. Biasanya 7-14 hari kemudian, tubuh buah akan tumbuh.

Setelah 7-30 hari sejak penyobekan baglog akan tumbuh tubuh buah yang terus mernbesar hingga mencapai pertumbuhan optimal yang siap dipanen (3-4 hari).

Kata Krisnadi, selama masa pemeliharaan suhu dan kelembaban udara harus dijaga dengan baik pada kisaran suhu 20- 22 °C dan kelembaban 95 - 100 %, dengan cara pengembunan kumbung.

“Panen pertama 30 hari sejak penyobekan baglog, sedangkan pemanenan berikutnya setiap 10-14 hari. Tubuh buah yang sudah siap panen harus segara panen agar kualitas jamur baik,” katanya.

Bagaimana penanganan pascapanen? Kata dia, segera bersihkan jamur dari kotoran yang menempel pada tubuh buah jamur. Hal itu bertujuan untuk menjaga daya tahan produk. “Jamur tiram segera disimpan dalam freezer agar tahan dalam waktu 1 sampai dua minggu,” katanya. Sementara untuk produk jamur kering, dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari selama kurang lebih 5 hari.

Paket Pelatihan

Krisnadi dan kelompoknya memang berkeinginan kuat mempopulerkan jamur tiram di Pontianak. Dia berharap, jamur tiram bisa menjadi ikon selanjutnya untuk Kota Pontianak.

Dalam rangka pengembangan budidaya jamur tiram di Kota Khatulisiwa, Kelompok Pemuda Mushroom Prima yang digelutinya ini menerima peserta pelatihan budidaya.

Peserta pelatihan terdiri dari minimal lima orang dengan paket pelatihan selama empat hari.

Sumber :
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Liputankhusus&id=158949

JAMUR TIRAM TAK KENAL KRISIS (AGRINEX EXPO 2009)

Jamur tiram barangkali satu dari sedikit jenis sayuran berharga relatif mahal. Tiap kilogram jamur tiram putih dijual Rp 12.000. Akan tetapi, bukan itu saja yang menarik minat Widodo (67) untuk membudidayakan jamur. Selain harga dan biaya produksi murah, pasar jamur tiram juga terbuka.

Sebagai salah satu pilihan usaha skala kecil dan menengah, usaha jamur tiram (Pleurotus ostreatus) bisa menjadi tambahan penghasilan. Bila dikelola serius, tidak mustahil bisa berkembang menjadi usaha yang besar dan mandiri.

Apalagi di tengah krisis keuangan global, di mana banyak pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja. Alternatif pendapatan pun harus segera dicari. Dengan menjalankan usaha sampingan jamur tiram, sekadar mendapat pendapatan Rp 3 juta-Rp 5 juta per bulan tidaklah terlalu sulit.

Terbukti, 1,5 tahun merintis usaha jamur tiram, warga Kampung Panjaungan RT 01 RW 05, Desa Parakan Muncang, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini mampu memproduksi 20 kilogram jamur per hari.

Dengan rata-rata harga jamur Rp 12.000 per kilogram, untuk 20 kilogramnya, Widodo bisa mendapat penghasilan kotor Rp 240.000. Bila dihitung sebulan setelah dikurangi biaya produksi, pendapatan Widodo bisa mencapai Rp 5 juta.

”Usaha jamur tiram murah meriah. Modalnya tidak besar, tetapi untungnya lumayan,” kata Widodo, Jumat (13/3), di sela pameran produk pertanian Agrinex EXPO 2009 di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Dari sisi lokasi usaha, usaha jamur tiram juga tidak ”makan” tempat. Teknologi budidayanya juga tidak begitu rumit. Mudah dipelajari dan risiko kegagalannya rendah. Di sisi lain, permintaan pasar terus meningkat karena semakin banyak saja masyarakat yang menyukai jamur.

”Rasanya enak dan lezat, bisa dimasak model apa pun, seperti timus, bahan baku sop, pepes, kari, hingga dibuat makanan ringan,” kata Widodo.

Binaan IPB

Ketertarikan Widodo pada usaha jamur tiram muncul setelah dia pensiun dari perusahaan konstruksi tahun 2000. Posisinya waktu itu kepala logistik. ”Waktu saya pensiun, anak saya lima. Tiga masih SMA dan dua lagi di SMP. Mereka masih butuh biaya sekolah dan biaya hidup,” cerita Widodo.

Uang pesangon Rp 17 juta jelas tidak cukup menyambung hidup dan menyekolahkan anak. Dia pun mulai mencoba berjualan kelontong dengan membeli kios di pasar.

Meski usahanya sudah dijalani selama enam tahun, Widodo tetap merasa tidak berbakat berjualan. Ia berkeinginan mencoba usaha baru.

Pucuk dicinta ulam tiba. Institut Pertanian Bogor ketika itu mengadakan pelatihan bagaimana usaha budidaya jamur tiram. Selain teknis budidaya dan pembibitan, IPB juga mengajarkan strategi mengelola usaha dan memasarkan.

Berbekal modal Rp 20 juta, Widodo mulai merintis usahanya. Modal itu untuk membeli tanah 200 meter persegi, membuat bangunan seadanya, dan perlengkapan budidaya lain.

Sangat mudah

Bersama Kelompok Tani Family Mandiri, Widodo juga menyelenggarakan pelatihan usaha budidaya jamur tiram. Biaya pelatihan Rp 750.000 per orang untuk keperluan akomodasi dua hari, buku paket pelatihan, bibit induk lima botol, kunjungan ke mitra binaan, dan sertifikat.

Widodo menceritakan, cara membudidayakan jamur tiram amat sederhana.

Serbuk kayu gergaji dan kapur dolomit atau kapur bangunan diaduk rata. Tambahkan air secukupnya. Selama sehari semalam, campuran serbuk kayu gergaji dan kapur dikompos.

Selanjutnya, tambahkan dedak dan gypsum, lalu diaduk rata dan ditambah air lagi secukupnya. Masukkan adukan itu dalam kantong plastik yang telah disediakan, dengan kepadatan tertentu.

Setelah itu, masukkan cincin dari bambu dengan diameter 4 sentimeter pada bagian atas adonan, lalu plastik diikat.

Polibag yang telah berisi adonan itu disusun dalam drum, lalu dikukus selama 8 jam. Selanjutnya, didinginkan sehari semalam. Bila sudah dingin, masukkan bibit jamur di ruang inokulasi secara serasi, dengan cara membuat lubang sedalam 6 sentimeter pada adonan itu.

Perhatikan pula suhu ruangan, harus 28-30 derajat celsius, dengan kelembaban 92-96 persen. Setelah 15 hari di ruang inkubasi, pindahkan media jamur ke ruang budidaya. Tunggu 30-40 hari agar meselium jamur tumbuh putih merata.

Lalu buka penutup media, dan jamur bisa dipanen 3-4 hari kemudian. Tanpa menebar benih kembali, pemanenan jamur pada media yang sama bisa dilakukan hingga lima kali.

Setelah cukup besar, jamur segar tinggal dijual ke pasar.

Sumber :
Hermas E. Prabowo
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/14/03443863/jamur.tiram.tak.kenal.krisis

Beli GINCU dapat APEL?

Oleh: Victor Asih

Beli Gincu dapat Apel? Apakah merupakan suatu musibah atau anugerah? Simak kisah nyata yang pernah saya alami dan petik manfaatnya sebagai tambahan motivitamin bagi kehidupan anda.

Sekitar 4 tahun yang lalu saya membeli sebuah pohon mangga cangkokan dengan harga yang cukup tinggi. Saya menanamnya ditengah halaman depan rumah. Yang saya beli adalah pohon mangga jenis Gedong Gincu asal Indramayu yang terkenal dengan rasa manisnya yang khas dan warnanya yang merah mencolok seperti gincu atau pemerah bibir (lipstick). Mangga jenis ini harganya relatif paling mahal dibandingkan dengan jenis mangga lokal lainnya. Harganya per kilogram bisa mencapai 25.000 sampai 40.000 rupiah.

Saya menanamnya dengan suatu harapan suatu nanti setiap tahun akan dapat menikmati panen buah mangga gedong gincu yang menjadi buah mangga kesukaan saya. Bukankah buah mangga yang diperoleh dari pohon yang ditanam sendiri akan terasa lebih nikmat dari pada mangga yang dibeli di pasar.

Pada bulan-bulan pertama pohon ini tumbuh subur berdaun sangat lebat tetapi tidak berbuah. Teman-teman dan saudara yang berkunjung ke rumah saya pada saat melihat pohon mangga itu berkomentar bahwa pohon itu tidak akan berbuah. Mereka juga menceritakan pengalaman. Mereka telah sering membeli pohon mangga cangkokan yang walau pun telah berbuah saat dibeli, tetapi tidak pernah berbuah lagi setelah ditanam di rumah. Hanya berdaun lebat saja sampai bertahun-tahun.

“Sebaiknya ditebang saja, diganti pohon lain yang mudah berbuah”, saran mereka.

Setelah ditunggu dengan penuh kesabaran selama setahun, ternyata pohon itu mulai berbunga dan lalu berbuah. Saya merasa sangat bahagia dan mulai timbul suatu harapan baru.

Tetapi beberapa saat kemudian saya merasa sangat kecewa setelah mengetahui bahwa saya telah dibohongi oleh penjual pohon mangga. Ternyata pohon yang saya tanam bukan pohon mangga Gedong Gincu, tetapi pohon mangga Gedong Apel yang buahnya berbentuk bulat seperti buah Apel.

Mangga Gedong Apel ini memang mirip bentuknya seperti mangga Gedong Gincu. Yang membedakan adalah rasa buahnya yang masam kecut, serat buah yang lebih halus, dan bentuk yang lebih bulat seperti buah apel.

Pupus sudah harapan saya memiliki pohon mangga Gedong Gincu. Perasaan sangat kesal dan kecewa timbul dalam hati saya, setelah sekian lama bersabar menunggu pohon itu berbuah.

Ingin rasanya saya marah-marah dan memaki penjual pohon mangga yang sekarang entah berada di mana. Mengingat selama setahun saya telah merawat pohon mangga tersebut dengan penuh perhatian, memberinya pupuk, menyiraminya, dengan harapan memiliki pohon berbuah mangga Gedong Gincu yang menjadi buah mangga favorit saya.

Sempat terpikir, untuk menebang pohon itu dan menggantinya dengan pohon buah yang lain. Tetapi kemudian terlintas dalam pikiran saya bahwa hal ini terjadi bukan karena kesalahan pohon mangga tersebut. Dia juga makhluk hidup yang ingin tumbuh dan berkembang. Kasihan kalau ditebang.

Mungkin anda berpendapat, “Pohon mangga saja kok dikasihani?”.

Tetapi itulah diri saya, senang mengasihi, termasuk kepada hewan mau pun tanaman.

Apakah mungkin karena saya diberi nama Victor Asih, ya?

“Nama yang agak aneh”, kata beberapa orang yang bingung menebak apakah ini adalah nama pria atau wanita.

Mungkin, harapan orang tua saya yang memberi nama itu, adalah supaya kelak saya menjadi orang yang penuh welas asih terhadap semua makhluk hidup?

Akhirnya, saya memutuskan untuk membiarkan pohon mangga itu tetap tumbuh subur di tengah-tengah halaman depan rumah. Saya tetap merawatnya dengan baik. Saya tetap memberinya pupuk, menyiraminya, dan terkadang menyiraminya dengan sisa air minum susu yang tidak dihabiskan oleh putri kecil saya yang cantik dan lucu.

Pada akhirnya saya hanya dapat menikmati indahnya puluhan buah mangga Gedong Apel yang berwarna merah mencolok seperti gincu dan berbentuk seperti apel bergelantungan di pohon. Pemandangan yang begitu indah dilihat, bisa meredakan pikiran yang kusut, dan terlihat menggiurkan untuk dipetik dan disantap.

Tetapi buah mangga tersebut tidak pernah saya petik, karena saya pernah merasakan masam kecutnya mangga yang saya petik. Untuk dibuat rujak pun rasanya masih terlalu masam.

Sampai pada suatu saat, buah-buah mangga Gedong Apel itu berjatuhan sendiri karena sudah terlalu matang di pohon. Saya mengambil buah-buah mangga yang berjatuhan dan menyimpannya di lemari pendingin. Buah mangga itu saya berikan pada siapa pun yang mau menerimanya.

Suatu saat saya terkejut saat mengetahui bahwa orang-orang yang telah memakan buah mangga tersebut berkata bahwa buah mangganya sangat manis sekali dan begitu enak sekali rasanya. Rasanya sangat unik dan lezat.

Saya lalu menjadi penasaran untuk mencoba memakannya lagi. Ternyata memang benar! Rasanya sangat manis lezat. Rasanya lebih unik daripada mangga Gedong Gincu yang biasa saya beli di pasar swalayan.

Tetapi anehnya, kalau buah mangga yang dipetik sewaktu masih bergelantungan di pohon akan terasa masam kecut walau pun sudah terlihat masak berwarna kuning kemerahan. Tetapi kalau buah mangga yang terjatuh sendiri dari pohon karena terlalu masak terasa sangat manis dan lembut daging buahnya.

Maka saya hanya menunggu buah mangga terjatuh sendiri untuk dapat menyantap buah mangga yang lezat. Untungnya, pohon itu berbuah lebat, sehingga saya tidak harus menunggu lama pasti selalu ada buah yang terjatuh karena telah terlalu masak.

Sekarang pohon itu membuat halaman rumah saya semakin teduh. Dia berbuah lebat walau pun pohonnya tidak besar dan tingginya pun hanya sekitar 3 meter saja. Hampir selalu berbunga dan berbuah terus menerus sepanjang tahun tidak mengenal musim.

Melalui jendela ruang kerja saya, saya bisa merasakan keteduhan menatap pohon mangga Gedong Apel sambil mengetik artikel ini di komputer notebook saya. Buah-buah mangga cantik yang bergantungan merupakan pemandangan indah yang menyenangkan hati. Saya bersyukur karena dahulu saya tidak menebang pohon mangga tersebut pada saat saya merasa kecewa dengan buahnya.

Saya mengambil suatu pelajaran berharga dari apa yang telah saya alami, bahwa “Semua akan menjadi indah tepat pada waktunya jika kita selalu berusaha memberi yg terbaik”. Seperti buah mangga Gedong Apel tadi yang menjadi sangat manis dan lezat tepat pada waktunya setelah menjadi masak dan terjatuh dari pohonnya.

Mungkin saja saat ini anda sedang mengalami persoalan hidup yang membuat anda kecewa dan sakit hati karena tidak sesuai dengan harapan anda. Tetapi tetaplah anda berusaha memberikan yang terbaik dengan hati yang ikhlas!

Jangan melihat hasil yang diperoleh saat ini, karena semua akan menjadi indah tepat pada waktunya. Semua bisa berubah!

Apa yang kita tabur akan kita tuai. Apa yang telah kita “tanam” tidak akan menjadi sia-sia asalkan kita mau bertekun dalam memberi yang terbaik dengan hati yang ikhlas.

*) Victor Asih, Founder Sekolah Bisnis Gratis USB, Mentor Entrepreneur, Inspirator, Motivator, Software Engineer, Information Technology & Business Consultant, Kolumnis, Penulis Buku Unik Bestseller “8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit”. Penulis bisa dihubungi melalui email victorasih@yahoo.co.id atau website www.usbschool.com atau blog usbschool.blogspot.com

Teknik Pengambilan Keputusan Bisnis Bagi Orang dengan Otak Kiri

Oleh: Riyanto Suwito

Menurut hasil penelitian Roger Sperry (dalam Adi W. Gunawan, Genius Learning Strategy - 2003) pada tahun 1960-an, kita mengenal adanya dua hemisfir otak, hemisfir kiri dan kanan, yang mempunyai struktur yang berbeda. Perbandingannya adalah sebagai berikut:

OTAK KIRI
• Hal-hal yang berurutan
• Detail ke global
• Membaca berdasar pada fonetik
• Kata-kata, simbol, dan huruf
• Terstruktur, dapat diprediksi
• Fokus internal
• Informasi yang faktual

OTAK KANAN
• Acak/random
• Global ke detail
• Membaca menyeluruh
• Gambar dan grafik
• Melihat dulu atau mengalami sesuatu
• Belajar spontan dan alamiah
• Fokus eksternal

Jadi jelas bahwa struktur dan fugsi keduanya memang berbeda. Masalahnya terjadi ketika kita cenderung dominant pada salah satunya. Idealnya, manusia menggunakan keduanya secara maksimal dan berimbang – tetapi sangat langka manusia yang mampu menjadi demikian – meskipun hal tersebut bisa dipelajari.

Para entrepreneur atau wirausahawan sering diidentikkan dengan orang yang memiliki kecenderungan otak kanan. Mereka dianggap lebih kreatif dan fleksibel serta memiliki visi yang kuat. Lantas bagaimana dengan orang yang memiliki kecenderungan otak kiri? Apakah mereka bisa dan boleh menjadi seorang wirausahawan? Tentu saja bisa dan boleh! Tergantung seberapa besar keinginan seseorang tersebut.

Kendala yang harus dihadapi memang seringkali lebih besar dibandingkan dengan orang yang berkecenderungan otak kanan – terlebih dalam pengambilan keputusan bisnis yang berisiko – dan seringkali tidak cukup data yang bisa menjadi referensinya.

Karena sejatinya sebuah bisnis adalah permainan pengambilan keputusan pada probabilitas antara peluang dan ancaman – antara keuntungan dan kerugian. Tidak ada hal yang pasti dalam bisnis selain ketidakpastian. Ini adalah masalah besar dan serius bagi seseorang dengan otak kiri.

Bagaimana mungkin bisa mengambil keputusan yang jelas-jelas tidak masuk dalam “logika berfikirnya”…? Ada sebuah nasehat dari wirausahawan sukses dari Jogja dan pemilik Grup Primagama, yaitu Purdhie E. Chandra, “kalau anda ingin memulai bisnis tinggalkan semua pengetahuan yang dimiliki – gunakan jika kita sudah berada dalam bisnis…!?”. Nasehat ini sangat bermanfaat terbukti banyak yang berhasil dimentor secara pribadi maupun melalui EU (Entrepreneurship University) oleh beliau dan menjadi pengusaha sukses, salah satunya yang cukup fenomenal di Yogyakarta yaitu Melia Laundry.

Tetapi menurut saya, yang kebetulan lebih dominant otak kiri sebagai akibat dari pendidikan sebagai sarjana ekonomi jurusan akuntansi – tentu tidak mudah untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa, padahal kita tahu..!? dan tidak mudah lagi ketika hal tersebut masih ditambah dengan berbagai kegagalan bisnis yang saya alami. Sehingga kepercayaan diri (self confidence) saya semakin terkoyak dan babak-belur. Lebih sulit lagi untuk memulai kembali dan bangkit dari keterpurukan. Belum lagi ditambah beban moral saya sebagai seorang pengajar dan pendidik (dosen, guru, trainer dan konsultan) … wah betapa malunya..?!!

Tetapi dari hal tersebut saya memetik sebuah pelajaran berharga dalam pengambilan keputusan bisnis bagi orang dengan otak kiri seperti berikut ini, “Jika kita tidak memiliki cukup data dan fakta yang mendukung – percayai intuisi kita. Akan tetapi jika kita tahu ada data dan fakta yang tersembunyi – cari dan gunakan hal tersebut sebagai alat pengambilan keputusan”.

Dalam hal ini saya terinspirasi oleh ucapan Gandalf (Dalam Lord of The Rings – Trilogy) ketika ditanya mengapa ia menunjukkan jalan satunya yang harus diambil (bukan yang lainnya) diantara dua lorong padahal ia tidak mengetahuinya - ia berkata (setelah mengendus-endus seperti mencium sesuatu), ”hidungku mengatakan bahwa kita harus menuju kesana…” dan ia melanjutkan dengan mengatakan, “bahkan orang paling bijak sekalipun tidak pernah tahu akhir dari semuanya”.

Ini membuat saya lega, karena saya tidak harus berpura-pura tidak tahu apapun - tetapi juga menjadi percaya diri untuk mempercayai “hidung” saya ketika mata ini tertutupi oleh “kegelapan”.

Dan ini juga berarti bahwa kita tidak harus mengakui dengan terpaksa bahwa kita “kosong-melompong” – karena ini akan sangat menyakitkan – bagi harga diri orang yang sedikit banyak telah memiliki “sesuatu dalam kepalanya”. Namun, jika anda melakukan dengan cara yang terbalik atau setengah-setengah – maka bersiaplah untuk menuai kegagalan. Tidak percaya..?!! selamat mencoba.

*) Riyanto B. Suwito – entrepreneur, dosen, trainer dan penggiat pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif di PKPEK-Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui hp: 081 227 12426, email:riyantosuwito@gmail.com atau berkunjung ke blog di: http://riyantosuwito.wordpress.com)

Amankah Jatah Bulanan Anda?

Dalam beberapa kali menjalani usaha, saya selalu menghadapi kendala. Bukan satu dua, banyak malah. Tapi, dari semua kendala itu, justru saya belajar banyak hal. Salah satu adalah soal jatah bulanan. Lo kok, ada jatah bulanan? Emang pengusaha juga orang gajian?

Yang saya maksud dengan jatah bulanan sebenarnya adalah istilah saya untuk mengamankan keperluan bulanan (baca: harian). Sebab, jika kita tak waspada, usaha yang kita jalankan ketika mengalami penurunan, jatah untuk hidup sehari-hari bisa terganggu. Dan, akibat terganggunya arus kas harian ini, buntutnya bisa panjang lo… Otak panas, kebingungan menentukan arah, pikiran kalut, dan yang pasti, semua hal itu akan mengganggu kita dalam menjalankan usaha.

Sebagai pengusaha, tentu kita selalu mengharapkan untung. Dan, jika yang didapat untung besar, pastilah hal ini akan sangat membantu pengembangan usaha kita. Karena itu, tak jarang, kita selalu berusaha mendapat dan mencari “ikan-ikan besar” demi memperoleh orderan besar.

Tentu, hal tersebut tak salah. Sebab, adanya orderan besar pasti akan jadi darah segar bagi sebuah usaha kita. Tapi, yang jadi masalah biasanya orderan besar ini selalu banyak pemain yang berebut di dalamnya. Ibarat ladang emas, yang berusaha menguasainya pastilah banyak pihak. Akibatnya, order besar ini biasanya lebih sulit memperjuangkannya. Kalau pun dapat, kadang memerlukan banyak pengorbanan, dan bahkan kadang, perlu sogokan.

Yang terakhir disebut itu mungkin sudah jamak kita jumpai di dalam ranah kehidupan bisnis di tanah air. Karena itu, bagi yang miskin koneksi, kadang untuk memenangkan tender proyek-proyek besar sangat sulit. Tapi, jangan kuatir, sebenarnya “ikan-ikan kecil” pun kalau dikumpulkan juga akan memberikan keuntungan yang sama besar, atau bahkan bisa lebih besar.

Contoh nyata ada pada salah satu kenalan saya yang berjualan pulsa. Karena ia hanya mengambil untung sedikit dari pulsa yang dijual, ia justru dikenal sebagai penjual pulsa yang murah. Akibatnya, ia pun laris manis mendapat banyak konsumen yang membeli pulsa padanya. Akibatnya yang lain, ia pun dikenal sebagai penjual yang serbamurah, sehingga orang pun akan membeli padanya saat akan membeli handphone.

Yang saya sebut sebagai jatah bulanan dari kisah kenalan saya itu adalah jualan pulsa. Meski untungnya tak seberapa, asal masih dalam batas menguntungkan, pulsanya akan dijual untuk terus menghidupi usahanya. Sedangkan yang berjualan handphone, itu bisa dikategorikan semacam “ikan besar” untuk level pengusaha semacam dirinya. Meski jualan handphone tak selaris jualan pulsa, tapi dari satu handphone yang terjual, ia bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan besar.

Salah satu unit usaha saya, yakni DapurTulis, yang bergerak di bidang jasa penulisan, juga hidup dari “ikan-ikan kecil” namun rutin layaknya jualan pulsa tadi. Ini saya dapat dari orderan mengisi beberapa kolom di media online, mengelola website perusahaan atau perorangan, hingga ke pembuatan tulisan-tulisan pesanan untuk beriklan di beberapa media. Meski nilainya belum terlalu besar, tapi dengan adanya rutinitas orderan itu, DapurTulis bisa menghidupi beberapa tenaga penulisan yang terus produktif hingga kini.

Sedangkan untuk order besarnya, saya biasanya mendapatkan pesanan pembuatan buku, baik pesanan pribadi, misalnya untuk kampanye politik yang mulai kembali marak, hingga perusahaan yang ingin memperkuat merek usaha atau produknya dengan buku atau majalah eksternal. Selain itu, “ikan besar” lainnya saya dapatkan juga dari order yang diperoleh dari beberapa perusahaan periklanan yang memercayakan pekerjaaannya pada saya. Meski belum banyak, tapi satu nilai proyek seperti ini bisa beberapa kali lipat dari orderan harian yang saya dapatkan.

Inilah yang ingin saya ungkapkan sebagai bagian dari mengamankan jatah bulanan. Asal masih dalam batas menguntungkan, meski tipis, ambil saja semua orderan yang bermanfaat menjaga cashflow Anda. Sebab, dengan cashflow yang terjaga, kita akan lebih mudah mengendalikan dan membesarkan usaha. Mengutip kata rekan saya, “Asal menguntungkan, meski kecil, yang penting sikat dulu. Itu buat melancarkan cashflow usaha. Percayalah, yang besar-besar pasti akan menyusul kalau yang kecil digarap dengan benar.” Bukankah perjalanan satu mil pasti dimulai dari satu langkah? * Agoeng Widyatmoko adalah penulis buku-buku wirausaha laris, konsultan UKM, dan trainer SPP. Ia dapat dihubungi di email: agoeng.w@gmail.com atau sms di 0812 895 0818.

Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

Kalau dulu bekerja pada orang lain dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan uang, tetapi sekarang berwirausaha menjadi trend masa depan, karena dianggap lebih prospektif untuk meraih kebebasan waktu dan keuangan. Namun berwirausaha juga memerlukan pengetahuan, kecakapan, serta pengalaman, sehingga harus dipupuk sejak dini. Beberapa hal berikut ini merupakan hal yang perlu kita perhatikan dan lakukan berkenaan dengan upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan tersebut.

Menumbuhkan jiwa wirausaha terkait erat dengan usaha memperbaiki kualitas diri sendiri dan kehidupan rohani, agar kita mampu menjadi personifikasi yang dapat dipercaya dan dihormati karena memiliki standar moral tinggi. Keunikan atau kualitas produk atau jasa maupun kecanggihan pola pemasaran bukan faktor utama produk atau jasa yang kita tawarkan diterima dengan baik. Sebab sukses dalam berwirausaha erat kaitannya dengan kemampuan meraih kepercayaan banyak orang, yang membuat konsumen tidak pernah ragu untuk membeli produk atau memakai jasa yang kita tawarkan.

Dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan, kita juga harus membiasakan diri menciptakan impian, memiliki keyakinan luar biasa, serta ketekunan berusaha. Sebab seorang pewirausaha haruslah berjiwa pionir sejati. Artinya, syarat untuk menjadi pewirausaha yang berhasil itu harus mampu membuat perencanaan yang baik, cepat dan efisien, berani menanggung resiko dengan melakukan investasi materi, waktu, usaha, serta ekstra kesabaran memelihara dan menjaga usahanya dengan baik sebelum melihatnya tumbuh sukses.

Memupuk kebiasaan berpikir positif merupakan hal penting dalam menumbuhkan jiwa wirausaha. Sebagaimana diketahui bahwa tak seorangpun pebisnis sukses di dunia ini yang tidak pernah gagal. Disamping profesional, memiliki etos kerja dan dedikasi yang tinggi, mereka juga selalu mampu bangkit ketika mengalami kegagalan. Bila kita selalu dapat berpikir positif, tentu saja kita juga mampu menjadikan setiap kegagalan sebagai motivasi untuk terus bergerak maju.

Memupuk kemampuan mencetak laba adalah bagian dari upaya-upaya menumbuhkan jiwa wirausaha. Untuk itu kita harus belajar tentang bagaimana melakukan pemasaran yang baik dan juga meningkatkan kedisiplinan dalam melakukan manajemen keuangan. Sebab dalam dunia usaha, keuntungan sekecil apapun sangat penting untuk memperkuat stabilitas sekaligus untuk melakukan ekspansi usaha.

Mengembangkan rasa empati atau kepedulian juga penting berkenaan dengan usaha menumbuhkan jiwa wirausaha. Rasa empati yang tinggi akan membantu kita menghasilkan karya yang tidak hanya dapat dinikmati dan menguntungkan diri sendiri tetapi juga dapat dinikmati dan menguntungkan sesama. Prof. Philip Kotler, yang dijuluki Bapak Marketing Modern, memberikan nasihatnya kepada para pebisnis di Indonesia; “Think customers and you’ll be save. – Rengkuhlah para pelanggan Anda supaya bisnis Anda bisa tetap berlangsung baik.” Keunggulan bisnis seperti itu lebih menjamin kesuksesan dan pasti sulit dibajak pesaing manapun.

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan ini mencakup kemauan menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh dengan selalu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, cukup berolahraga, minum, dan istirahat. Sebab pada fase awal berwirausaha itu membutuhkan tingkat energi tinggi, ketahanan mental, dan motivasi yang besar, sehingga sangat membutuhkan kebugaran fisik. Lagipula tak mungkin bukan kita menikmati hasil usaha bila kita terbaring sakit?

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan artinya juga harus melatih diri kita menciptakan dan memperbarui visi masa depan serta merencanakan tindakan dan pencapaian-pencapaian untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Kemampuan menciptakan visi akan membuat kita mampu mengukur tingkat kemajuan, melakukan langkah-langkah perbaikan, mengurangi hambatan maupun dampak negatif, serta memaksimalkan keuntungan. Keahlian menciptakan dan memperbarui visi akan sangat kita perlukan jika ingin usaha yang kita jalankan terus mengalami perkembangan.

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan berarti juga harus meningkatkan kemampuan mengorganisasi, yaitu menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat pula. Mulailah dengan membuat jadwal yang teratur dan disiplin menjalankan jadwal tersebut dan berteman dengan orang-orang yang memberi inspirasi dan teladan mulia. Latihan semacam itu potensial menjadikan kita mampu mengorganisasi usaha dan memastikan usaha terus berekspansi.

Meningkatkan kemampuan berkomunikasi menjadi bagian penting dalam menumbuhkan jiwa wirausaha. Sebab kemampuan berkomunikasi ini sangat penting untuk menggali informasi dari target pasar tentang produk atau jasa yang sangat diinginkan sekaligus untuk menciptakan hubungan dan komunikasi yang baik dengan pelanggan. Bila kita sudah mampu memenuhi kebutuhan konsumen, lalu menjalin komunikasi dengan baik, menghargai, dan bersikap sopan terhadap mereka, maka dengan sendirinya para pelanggan akan selalu setia menggunakan produk atau jasa kita bahkan ikut mempopulerkan bisnis kita.

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan juga harus meningkatkan daya kreatifitas, yaitu mengubah sesuatu yang biasa menjadi komoditas yang bernilai tinggi dan mengguncang pasar. Mengembangkan keterampilan dan ilmu pengetahuan dari buku atau sumber informasi lainnya dan aktif memodifikasi bagian-bagian yang diperlukan sangat penting untuk menciptakan terobosan baru untuk produk, iklan, maupun mencari pelanggan. Kreatifitas menjadikan usaha Anda tidak pernah mengenal krisis.

Menumbuhkan jiwa kewirausahaan akan membantu kita menguasai seluruh kemampuan berwirausaha, mulai dari pola pikir, kemampuan, karakter, serta pengetahuan wirausaha itu sendiri. Oleh sebab itu, tumbuhkan terus jiwa kewirausahaan Anda, dengan terus mengembangkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. Pastikan di masa akan datang Anda menjadi orang yang lebih baik, sukses dalam berwirausaha, hidup lebih kaya dan bahagia, dan sekaligus berempati tinggi. Salam hebat dan luar biasa!

* Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku Bestseller.

JAMUR TIRAM UNTUK ANTIKOLESTEROL !

Khasiat jamur bagi kesehatan tubuh memang terbukti. Selain mengandung berbagai macam asam amino essensial, lemak, mineral, dan vitamin, juga terdapat zat penting yang berpengaruh terhadap aspek medis. Sejak berabad-abad lalu, jamur sudah menjadi makanan istimewa sehingga banyak orang menjadi penggemar.

Sudah turun-temurun masyarakat Jepang dan Cina melengkapi menu dengan jamur. Bukan saja kelezatan rasa, tetapi juga tinggi nilai gizinya. Orang Yunani kuno percaya, makan jamur menyebabkan seseorang menjadi lebih kuat dan sehat. Hasilnya mereka lebih kuat, berani dan perkasa. Firaun, Raja Mesir yang terkenal sangat keji, penghobi berat makan jamur. Saking istimewanya, raja itu menyebut jamur sebagai makanan para dewa.

Kandungan gizi

Tidak hanya menyedapkan, jamur mempunyai kandungan gizi cukup baik. Komposisi kimia yang terkandung tergantung jenis dan tempat tumbuhnya. Dari hasil penelitian, rata-rata jamur mengandung 19-35 persen protein. Dibanding beras (7,38 persen) dan gandum (13,2 persen), ia berkadar protein lebih tinggi. Asam amino esensial yang terdapat pada jamur, sekitar ada sembilan jenis dari 20 asam amino yang dikenal. Yang istimewa 72 persen lemaknya tidak jenuh, jamur juga mengandung berbagai jenis vitamin, antara lain B1 (thiamine), B2 (riboflavine), niasin dan biotin. Selain elemen mikro, jamur juga mengandung berbagai jenis mineral, antara lain K, P, Ca, Na, Mg, dan Cu. Kandungan serat mulai 7,4-24,6 persen sangat baik bagi pencernaan. Jamur mempunyai kandungan kalori yang sangat rendah sehingga cocok bagi pelaku diet.

Hasil studi di Massachusett University menyimpulkan bahwa riboflavin, asam Nicotinat, Pantothenat, dan biotin (Vitamin B) masih terpelihara dengan baik meskipun jamur telah dimasak. Hasil penelitian dari Beta Glucan Health Center menyebutkan bahwa jamur tiram (Pleurotus ostreatus) mengandung senyawa Pleuran (di Jepang, jamur tiram disebut Hiratake sebagai jamur obat), mengandung protein (19-30 persen), karbohidrat (50-60 persen), asam amino, vit B1 (thiamin), B2 (riboflavin), B3 (Niacin), B5 (asam panthotenat), B7 (biotin), Vit C dan mineral Calsium, Besi, Mg, Fosfor, K, P, S, Zn. Dapat juga sebagai antitumor, menurunkan kolesterol, dan antioksidan.

Para peneliti dari Ujagar Group (India) menyampaikan, bahwa jamur tiram memiliki nilai nutrisi yang sangat bagus dengan alasan: 100 persen sayuran dan bersih; mengandung protein tinggi dan kaya vitamin-mineral; rendah karbohidrat, lemak dan kalori; bagus untuk liver, pasien diabetes, dan menurunkan berat badan; berserat tinggi membantu pencernaan; antiviral dan antikanker; mudah memasaknya dan mudah dicerna; dan jamur tiram merupakan jamur yang paling enak rasanya dibanding jamur pangan lainnya.

Dari hasil penelitian Departemen Sain, Kementerian Industri Thailand, jamur tiram (Oyster mushroom) mempunyai kandungan: protein 5,94 persen, karbohidrat 50,59 persen, serat 1,56 persen, lemak 0,17 persen, abu 1,14 persen. Per 100 gram jamur tiram segar, mengandung 45,65 kalori, 8,9 miligram (mg) kalsium, 1,9 mg besi, 17,0 mg fosfor, 0,15 mg vitamin B-1, 0,75 mg vitamin B-2, dan 12,40 mg Vitamin C. Jamur juga mengandung folic acid yang cukup tinggi, konon mampu menyembuhkan anemia.

Sebagai perbandingan, tempe yang terbuat dari kedelai yang kaya serat dan juga sebagai sumber berbagai nutrien seperti calsium, Vitamin B, dan besi, mempunyai kandungan sebagai berikut: kalori 204, protein 17 gram, lemak 8 gram, karbohidrat 15 gram, calium 80 mg, Fe (Besi) 2 mg, dan Zn 0,2 mg.

Bisa dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun karbohidratnya 0,0 gram dan Vitamin C-nya juga 0,0 gram. Maka, kandungan gizi jamur masih lebih komplet sehingga tidak salah apabila dikatakan jamur merupakan bahan pangan masa depan.

Antikolesterol

Disebutkan bahwa para peneliti penyakit kanker menyarankan bahwa sebaiknya manusia mengonsumsi daging merah tidak lebih dari tiga ons per hari atau kurang dari itu. Daging tersebut adalah daging sapi, kerbau, kambing, dan babi yang dapat menyebabkan risiko lebih tinggi sebagai penyebab kanker usus, dan juga kemungkinan payudara, prostat, pankreas, perut, dan kanker ginjal. Kecil kemungkinan terkena kanker apabila mengonsumsi ayam dan ikan, dan untuk beberapa kasus malahan dapat melawan kanker. Sehubungan dengan hal itu, untuk yang senang mengkonsumsi burger disarankan untuk diselang-seling dengan ayam, seafood, sayuran, dan jamur (Anonympus, 1999).

Saat ini beberapa jamur digunakan sebagai obat untuk melawan kolesterol, kanker, dan AIDS. Senyawa aktif jamur yang terkandung dikabarkan dapat sebagai antijamur, antibakteri, dan antivirus dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat membunuh serangga dan nematoda. Pada tahun 1960, para peneliti berhasil menemukan pengaruh beberapa jamur sebagai antitumor. Komponen aktif yang dimaksud adalah polysaccharida, dan khususnya adalah Beta - D - Glucans. Sebagai standardisasi produk dari jamur tiram (Plurotus ostreatus dan P. eryngii) disebut Plovastin yang dipasaran sebagai suplemen penurun kolesterol. Komponen aktif dari Plovastin adalah statin, secara baik menghambat metabolisme kolesterol di dalam tubuh manusia (Itzkovich, 2001).

Hasil dari penelitian Bobek (1999) dari Research Institute of Nutrition Bratislava tentang "Natural products with hypolipemic and anti oxidant effect". Telah dilakukan studi pada sebuah grup dengan 57 laki-laki: perempuan = 1:1, usia setengah umur, dengan kasus hyperlipoproteinemia. Selama satu bulan mereka mengonsumsi 10 gram jamur tiram secara teratur. Kesimpulan, secara statistik sangat menjanjikan, yakni kolesterol dan serum turun 12,6 persen dan triglycerol turun 27,2 persen. Jamur tiram juga mempunyai efek antioksidan dengan turunnya hasil peroksidasi di dalam eritrosit.

Beta-1,3/1-6-Glucan secara alami berasal dari polysaccharida yang secara intensif dipelajari sejak tahun 1950 sebagai antitumor dan perangkat immunostimulating (pemicu kekebalan). Pleuran adalah Beta- 1,3/1-6-Glucan diisolasi dari jamur tiram yang mempunyai kandungan polysaccharida tinggi, biasa digunakan untuk cream, salep, suspensi, dan bedak untuk perawatan wajah di dunia oleh peneliti dan perusahaan kosmetik untuk formulasinya (Contoh; Estee Lauder dan Clinique). Konsentrasi 0,5-2,00 persen. Perawatan wajah ini berguna untuk mengikat air, melembabkan kulit dan anti-inflamasi. Percobaan pada 121 pasien berjerawat kronis, diberikan setiap hari selama 21 hari, hasilnya 73,5 persen kondisinya membaik, 18,2 persen sembuh total (Kuniak et al, 1995. Faculty of Pharmacy and STV, Batislava, Slovak Republic in Beta Glucan Health Center, www.glucan.com/therapy 2002).

Sumber:
Kompas, Jum'at 30 Agutus 2002 dalam :
http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1030678870,22766,

USAHA JAMUR TIRAM

USAHA JAMUR TIRAM MODAL RP 1,2 JUTA, UNTUNG RP 6 JUTA/BULAN

BAGI para penikmat makanan, Jamur Tiram dikenal sebagai bahan baku olahan aneka masakan lezat. Mulai dari burger, bakso, soto, saus, lumpia, krispi hingga ongseng-ongseng. Namun tahukah Anda, bahan baku masakan olahan dari Jamur Tiram tersebut bibitnya dipasok dari Kota Batu?

Desa Pendem Kecamatan Junrejo, merupakan penghasil utama bibit Jamur Tiram di Kota Batu yang banyak dipasok ke beberapa daerah lain di Jatim bahkan Bali. Bahkan, pembibitan Jamur Tiram sudah menjadi pilihan utama mata pencaharian warga setempat. Mereka tidak saja membudidayakan, tetapi juga mengolah dan membuat bibit Jamur Tiram guna dipasok ke beberapa daerah.

Pembibit Jamur Tiram, Takari Bambang Israwan, ST, kepada Malang Post menuturkan hampir semua rumah tangga di RW 03 desa tersebut membentuk home industry pembuatan bibit unggul Jamur Tiram.
“Bibit Jamur Tiram dari Pendem ini mampu memberikan daun dan batang jamur lebih besar dan merekah serta lebih lunak dengan masa panen 7 hingga 8 kali dalam setahun. Bibit jamur kami buat dalam bentuk logmedia atau baglog dalam kantong-kantong plastik berbentuk botol,”imbuh alumni Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang tahun 1993 itu.

Bambang bersama rekannya Agus Mulyadi memulai usaha dan merintis pembibitan Jamur Tiram di Pendem pada bulan September 2007, usai mendapatkan pelatihan singkat tentang pertanian Jamur Tiram selama dua pekan oleh PT Sampoerna di Pandaan. ‘’Dengan modal awal Rp 1,2 juta, kami berdua tahun 2007 mulai membuka usaha pembibitan Jamur Tiram. Hanya sebulan saja sejak awal mulai usaha, modal kembali,”tukas Bambang.

Berharga jual Rp 2.500 per logmedia atau kantong plastik, dalam sebulan mereka mampu menjual 7.000 hingga 9.000 bibit jamur tiram ke pasaran di dalam dan luar Malang. Per bibit Jamur Tiram dalam sekali panen bisa memberikan hasil 8,5 ons jamur dengan masa panen maksimal delapan kali dalam setahun untuk satu kantong bibit. Atau lebih banyak dibandingkan bibit dari daerah lainnya yang rata-rata hanya 5 kali. ‘’Kami menerima banyak pesanan dari luar kota. Dari usaha ini, kami bisa mendapat keuntungan bersih Rp 6 juta hingga Rp 7 juta. Lumayanlah,’’ tutupnya.

Sumber :
noval/nug/malangpost dalam :
http://malangraya.web.id/2009/06/19/usaha-jamur-tiram-modal-rp-12-juta-untung-rp-6-jutabulan/
19 Juni 2009

Sumber Gambar:
http://wb8.itrademarket.com/pdimage/85/1033285_picture0089.jpg

Persoalan Dasar Kewirausahaan di Indonesia

Apabila kita berkecimpung disektor bisnis, kita banyak dituntut lingkungan untuk te¬rus berinisiatif, kreatif, dinamis, agresif dan se¬lalu harus mampu mengantisipasi tuntutan lingkungan yang terus berturnbuh. ini semua justru mematangkan pola berpikir dan kehi¬dupan kita untuk terus menempa jiwa wira¬swasta kita.

Istilah kewiraswastaan (entrepreneurship) sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, walaupun maknanya belum be¬gitu difahami benar. Masih banyak di antara kita belum me¬nyadari pentingnya kewiraswastaan.

Sektor bisnis yang sangat kompetitif dan peka terhadap pengaruh lingkungan, mutlak membutuhkan manusia wira¬swasta, yang memiliki dinamika, motivasi, kreativitas dan ini¬siatif nyata. Mereka ini mampu bekerja sama dengan penuh tanggung jawab dalam setiap penugasan yang dibebankan ke¬padanya. Begitu pula, sektor pendidikan yang relatif tidak atau kurang kompetitif tetap membutuhkan manusia wiraswasta.

Jangan beranggapan bahwa apabila kita ingin mendidik calon wiraswasta, kita sendiri tidak perlu berjiwa ataupun ber¬prilaku sebagai wiraswasta. Ini keliru namanya. Kita harus ter¬lebih dulu menjiwai dan mempraktekkan kewiraswastaan ter¬sebut, barulah kita akan berhasil mendidik orang lain. Saya kira keseluruhan aspek kehidupan manusia menuntut agar ke¬wiraswastaan bertumbuh di sanubari masing-masing insan demi keberhasilannya dalam hidup ini.


Penyebab Rendahnya Jiwa Wirausaha

Harus diakui bahwa kegiatan yang lebih mementingkan hasil dan prestasi kerja, akan lebih mendorong terciptanya pola mekanisme kerja yang lebih obyektif. Sayang hal ini masih me-rupakan cita-cita belaka. Sebagian besar dari kita belum memi¬liki jiwa wiraswasta secara nyata. Jiwa ambtenaar masih me¬warnai dan menghantui tingkah laku serta kebiasaan kita.

Mengapa demikian ? Banyak faktor yang menyebabkan¬nya. Mulai dari lingkungan keluarga sampai pada kebiasaan kerja atau praktek-praktek yang terjadi di masyarakat memang kurang mendukung tumbuhnya jiwa wiraswasta di kalangan masyarakat kita.
Nilai-nilai yang diyakini masyarakat kita pada hakekatnya merupakan warisan sejarah kolonial. Struktur masyarakat me¬mang kurang memberi peluang kepada pribumi bangsa kita untuk bisa menempa, mengembangkan atau memiliki jiwa wiraswasta yang baik. Struktur masyarakat pada masa kolonial sengaja diatur agar kita tidak bisa maju. Kesempatan untuk berkembang dibatasi. Pendidikan sangat dibatasi, hanya orang-orang tertentu saja yang memperoléh peluang untuk rnengenyam kemudahan pendidikan dengan baik.

Mulai masa kanak-kanak sampai melangkah dewasa dan bekerja, kita kurang dibekali prin¬sip-prinsip, hidup positif. dinamis dan kreatif. Paling-paling kita diharapkan bisa mèmpelaja¬ri dari contoh-contoh yang terjadi di masyara¬kat melalui cara coba-coba.

Kegiatan dan lapangan kerja dibatasi pula. Paling tinggi kita bisa bekerja sebagai pegawai negeri di kantor-kantor pemerintahan ini pun terbatas bagi orang-orang kaya dan keturunan bangsawan. Sebagian terbesar rakyat justru bekerja sebagai buruh dan petani kecil. Kegiatan di sektor ekonomi, perdagangan dan sektor bisnis lainnya diserahkan pada orang-orang Eropa dan golongan non pribumi. Sektor-sektor inilah yang sebenarnya mampu menempa kewiraswastaan kita. Tetapi justru kita kurang diberi kesempatan di bidang ini. Paling-paling satu dua, alias terbatas sekali jumlahnya.
Apabila kita berkecimpung di sektor bisnis, kita banyak dituntut lingkungan untuk terus berinisiatif, kreatif, dinamis agresif dan selalu harus mampu mengantisipasi tuntutan lingkungan yang terus bertumbuh. ini semua justru mematangkan pola berpikir dan kehidupan kita untuk terus menempa jiwa wiraswasta kita.

Tempo dulu orang kita kalau sudah bisa bekerja di kantor gubernemen. sebagai ambtenaar atau pegawai sudah merasa status sosialnya tinggi. Orang yang bekerja di luar gubernemen dianggap sebagai masyarakat kelas dua atau rendah martabatnya. Kebiasaan ini sudah bertahun-tahun kita alami. Konsekuensinya jiwa ambtenaar telah merasuk ke lubuk hati kita dan telah menjadi keyakinan sebagian terbesar orang kita. Sampai kinipun hal ini masih tertekan.

Sudah sejak kecil kita selalu dibebani gambaran bahwa menjadi pegawai adalah satu-satunya tujuan yang harus dicapai. Orang tua kita menginginkan agar anaknya bisa menjadi ambtenaar. Target yang harus diraih anaknya ialah menjadi pegawai kantoran saja. Prestige lebih diunggulkan dibandingkan dengan prestasi. Orang cenderung lebih memperhatikan gengsi dibandingkan kerja keras untuk berprestasi. Yang lebih di utamakan adalah kepentingan status pribadi ini semakin lama semakin berkembang negatif.

Lebih-lebih dengan pengaruh materialisme yang semakin menghantui kehidupan manusia. Kualitas dan prestasi kerja kurang diperhatikan bahkan nyaris diabaikan. Orang hanya mengejar kedudukan dan materi. Bahkan unit kerja yang menjadi favoritpun mempengaruhi gairah kerja setiap orang. Unit yang basah dirasa semakin penting dibanding dengan unit yang kering. Orang akhirnya akan selalu memperhatikan materi melulu, tidak melihat makna pekerjaan yang harus ditangani.

Etika dan aturan permainan dalam organisasi diabaikan begitu saja. Fungsi manajemenpun tidak akan berperan baik. Akibatnya pola manajemen dan mekanisme organisasi tidak akan bisa terkendali. Sistem tidak akan mampu mengatur dan mengendalikan kegiatan organisasi. Individu yang menduduki pucuk pimpinan organisasi seharusnya mampu mengendali¬kan mekanisme kerja organisasi. Tetapi justru mereka kurang memperhatikan aktivitas organisasi secara utuh. Ia hanya mengutamakan kepentingan pribadinya demi kelangsungan dan kesinambungan posisi dan kedudukannya. Ia kurang memperhatikan detail operasional organisasi yang ia pimpin. Segala urusan teknis operasional dipercayakan kepada bawah¬an dengan otoritas yang dibatasi pula. Konsekuensinya, kelan¬caran operasionalpun akan terganggu. Sebab orang yang ber¬hak mengambil keputusan berada jauh dari pihak yang mem¬butuhkan keputusan tersebut. Kesenjangan komunikasi ini semakin menganga lebar dan pada gilirannya akan cukup merugikan organisasi secara keseluruhan.

Perkembangan juga memperlihatkan adanya kecende¬rungan pucuk pimpinan untuk berusaha mendominasi organi¬sasi. Otoritas sebagai Pimpinan dicoba untuk ditonjolkan. Segala sesuatu diarahkan agar tergantung pada pucuk pimpin¬an sepenuhnya. Sampai-sampai sewaktu pimpinan menjalan¬kan cutipun, semua pekerjaan terpaksa harus menunggu sam¬pai ia kembali bertugas. Merah-hitamnya organisasi beserta nasib anggotanya tergantung belas kasihan beliau. Dialah yang berwenang mengatur segalanya.
Masyarakat serta lembaga pendidikan benar¬-benar dituntut peran-sertanya untuk bersama - sama pemerintah memikirkan tersusunnya dan terlaksananya pola pendidikan yang inte¬gral.

Praktek-praktek demikian telah mampu meruntuhkan jiwa wiraswasta, jiwa mandiri ataupun kemauan bekerja keras bagi setiap pendatang dalam organisasi. Orang yang baru me-ninggalkan bangku sekolah atau universitas, setelah melihat, merasakan dan mengalami sendiri, idealisme mereka akan mu¬dah luntur atau hilang. Ia akan larut ke dalam arus materialistis, egoisme individu dan berorientasi pada status saja. Pengeta¬huan manajemen ataupun pengetahuan lain yang sempat di¬peroleh selama studi akan tersimpan rapat dalam benaknva tanpa perlu dipraktekkan atau diamalkan demi kepentingan masyarakat banyak. Inisiatif ataupun kreativitas seseorang akan mudah hilang lenyap dalam kemelut demikian.

Apabila kita mau mengkaji semuanya itu, ternyata hal ter¬sebut wajar kalau terjadi demikian. Sebab sudah sejak kecil kita secara tidak sadar telah diarahkan untuk memiliki nilai-nilai hidup demikian. Mulai masa kanak-kanak sampai melangkah dewasa dan bekerja, kita kurang dibekali prinsip-prinsip hi¬dup positif, dinamis dan kreatif. Paling-paling kita diharapkan bisa mempelajari dan contoh-contoh yang terjadi di masyara¬kat melalui cara coba-coba. Ya, kalau ketemu contoh yang baik. Tetapi kalau terus-menerus dihadapkan pada hal-hal yang ne-gatif, kemungkinan besar pola berpikir kitapun akan negatif.


Masa Pra-Sekolah

Umar kalau sudah besar mau jadi Apa ? Jadi dokter begitu jawab bocah berusia 5 tahun yang bernama Umar. Ya sejak kecil kita memang sudah diajari untuk memiliki cita-cita semacam dokter, Insinyur, guru dan pekerjaan formal lainnya yang Kyosaki menyebutnya sebagi self employee. Jarang orangtua kita mengajarkan, mengarahkan dan membimbing kita untuk jadi pengusaha. Pemikiran seperti itu bisa dimaklumi dalam masyarakat kita yang mementingkan status dan kedudukan social yang mapan disamping peran cultural sebagai sisa-sia penjajahan yang begitu lama.

Sejak kanak-kanak kita sudah terbiasa dihadapkan pada kenyataan hidup yang sebenarnya cukup merugikan pertumbuhan jiwa dan pribadi kita di kemudian hari. Lebih-lebih bagi masyarakat masa kini yang sudah termasuk golongan masyarakat dengan kehidupan ekonomi atau sosial cukup baik. Pola kehidupannya ternyata kurang menguntungkan pendidikan anak-anak mereka sendiri.

Karena kecukupan materi anak dibiasakan diasuh, didampingi pembantu, istilah kerennya baby – sitter. Segala kebutuhannya diatur dan disediakan oleh si pembantu. Ia dimanja oleh lingkungan keluarga. Akibatnya ia akan suka memerintah, tahu beres saja. Ia tidak pernah mau berusaha sendiri. Ia selalu menggantungkan diri pada orang lain.

Dari kecil kita sudah diajari pula untuk membatasi diri pada lingkungan hidup tertentu saja. Muncullah pengelompokan-pengelompokan dalam masyarakat yang non-formal sifatnya. Sebagai keturunan orang gedongan, ia tidak diperke¬nankan sembarangan bergaul. Ia diisolir oleh gambaran-gam¬baran yang bisa meracuni keyakinan hidupnya di kemudian hari. Konsekuensinya ia akan bisa menutup diri dan hanya bergaul dengan sekelompok masyarakat tertentu saja. Pan¬dangan hidup dan pola berpikirnya akan sempit dan kerdil. Kebiasaan ini nantinya akan dapat mernpertebal orientasinya yang hanya menitik beratkan pada gengsi-gengsian atau status saya, kalau ia memang tidak dibekali prinsip-prinsip hidup yang kokoh.

Bagi orang berada, segala kebutuhan, ke¬perluan anak selaiu tersedia. Pokoknya tugas anak hanya sekolah dan belajar. Pendekatan rnanusiawi oleh kedua orang tua dalam masa pendidikan banyak terlupakan.


Masa Sekolah

Sewaktu mendaftarkan diri masuk sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi, anak-anak sudah dibiasakan dibantu orang tua. Ini dilakukan dengan dalih bahwa untuk bisa masuk sekolah atau mendaftarkan diri sering ada uang ini dan itu. Yang dapat mengatur hal tersebut hanyalah orang tua. Akibatnya anak-anak kurang dididik un¬tuk bisa berusaha sendiri. Minimal mulai masuk Sekolah Lan¬jutan Tingkat Atas, seyogyanya anak-anak mulai diarahkan untuk berusaha mendaftarkan sendiri. Bahkan sering pula ter¬jadi bahwa jurusan pendidikan yang harus diikuti anak-anak juga diatur berdasarkan keinginan orang tua.

Pergi ke sekolahpun selalu diantar oleh orang tua atau pembantu. Ada yang diantar dengan mobil, motor ataupun sepeda. Ada yang harus sewa becak atau minibus antar jemput secara bulanan. lni wajar diiakukan untuk anak kecil bukan untuk remaja, karena kondisi transportasi memang kurang me¬mungkinkan. Syukur apabila sekolah-sekolah, melalui KOPE¬RASI SEKOLAH misalnya, bisa menyediakan kendaraan antar jemput, sekalipun harus membayar bulanan. Karena hal ini akan dapat mendidik anak-anak untuk berusaha sendiri, ber¬inisiatif dan mulai mandiri. Lalu dilepas dari sifat ketergantung¬annya pada orang lain. Anak-anak diberi kebebasan memang baik. Tetapi jangan pula sampai jor-joran seperti sekarang atau mereka (siswa SLTP/SLTA) sudah diperbolehkan mem¬bawa mobil sendiri ke sekolahan. Penggunaan sepeda motor-pun seyogyanya bisa dibatasi dengan disediakannya kemu¬dahan transportasi yang nyaman aman. Satu dan lain untuk mencegah persaingan yang tidak sehat ser¬ta tumbuhnya kecongkakan kekuasaan yang bisa menekan wibawa para pendidik.

Pola pendidikan di negara kita memang belum memikir¬kan secara menyeluruh demikian Pemerintah baru berusaha membenahi sistem dan kurikulum péndidikan yang memang harus segera ditangani secara serius. Di sini masyarakat serta lembaga pendidikan benar-benar dituntut peran sertanya Un¬tuk bersama-sama pemerintah memikirkan tersusunnya dan terlaksananya pola pendidikan yang integral. Jadi orangtua wajib ikut berperan aktif dalam menata masa depan anaknya dengan menumbuhkan kemandirian si anak. Jangan hanya memanjakan saja. Jangan hanya menyerahkan kepada lembaga pendidikan untuk membentuk watak dan kepribadiannya.

Dewasa inipun kita sering mendengar apabila seorang anak tidak naik kelas, tidak lulus ujian atau tidak diterima ma¬suk sesuatu sekolah, orang tuanya segera tampil untuk menga¬tasinya. Dengan kekuasaanya, entah berupa gertak dan atau kekayaan, ia memaksa agar anaknya dinaikkan, diluluskan atau diterima saja. Kenyataan ini nampak sudah biasa atau sudah jamak di masyarakat kita. Sistem backing bertumbuh. Muncullah kecongkakan kekuasaan atas diri anak-anak. Begitu ada masalah, anak-anak berlindung pada Babenya untuk minta bantuan. Akhirnya si anak tidak akan menjadi orang berprin¬sip ataupun menjadi orang yang penuh tanggung jawab. Ini berbahaya.

Sistem pendidikan yang kurang membantu bertumbuhnya inisiatif, dinamika ataupun kreativitas anak didik. Murid seca¬ra pasif hanya mendengarkan teori yang dikemukakan oleh sang guru. Sifat pelajaran relatif banyak hafalan. Baru sekarang ini saja sifat pelajaran yang menanamkan pengertian mulai di¬ajarkan. Murid kurang pula dibekali dengan pemberian penger¬tian melalui gambaran kenyataan hidup yang ada. Bahkan pe¬nyediaan bahan bacaan yang terbatas kurang membantu peningkatan pengetahuan anak didik. Untunglah dewasa ini Pe¬merintah mulai menjamah dan menangani hal tersebut secara lebih serius. Pola dan sistem pendidikan yang partisipatif seca¬ra bertahap nampak ditumbuhkan.

Disamping itu, banyak dari kita kurang menyadari bahwa kita semua wajib belajar dengan cara melihat, mengamati, mendengarkan, merasakan atau mengalami langsung. Saat ini masih banyak kecenderungan orang untuk hanya mendengar¬kan kata guru atau dosen dan membaca buku pelajaran saja. Kita relatif belum mendayagunakan kelima indera kita untuk mendengarkan dan melihat kenyataan hidup yang kita alami. Perkembangan lingkungan kehidupan kitapun nyaris tidak di¬perhatikan sama sekali. Akibatnya banyak dari kita memisah¬kan secara nyata antara teori dengan praktek. Kita kurang meyakini akan pentingnya ilmu pengetahuan yang kita per¬oleh demi keberhasilan hidup kita.

Kita sudah cukup banyak mencetak tenaga-tenaga sarjana yang diharapkan akan mampu menumbuhkan serta mencipta¬kan manager-manager profesional dengan kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi nyatanya hal tersebut masih merupakan harapan. Kemampuan para cendekiawan untuk mengembangkan buah pikirannya nampak masih terba¬tas, karena mereka kurang mau berusaha untuk itu. Apalagi se¬bagian besar dari sarjana kita begitu selesai studinya berhenti belajar. Ia kurang berusaha untuk mengkaji terus kenyataan¬ - kenyataan yang ada untuk diolah secara ilmiah. Kerja ya kerja. Baca buku dianggap buang tempo atau dianggap teoritis melu¬lu dan ini tidak perlu. Yang penting praktek. Kalaupun ada yang berkeinginan untuk membaca, ternyata harga bukunya pun tidak terjangkau oleh kantongnya.

Orang tua dalam mendidik anak-anaknya pun kurang me¬mikirkan perlunya inisiatif dan kepribadian anak ditumbuh¬kan. Orang tua selalu mengarahkan agar anaknya memilih ju¬rusan yang dianggap menguntungkan kehidupan materi dikemudian hari, sekalipun yang bersangkutan tidak mampu untuk studi di bidang tersebut. Keinginan orang tua harus di¬turuti. Kepribadian anak sering terguncang akibatnya. Ia tidak sempat memupuk kepercayaan diri ataupun menumbuhkan prinsip hidup yang kokoh agar bisa hidup mandiri.

Bagi orang berada, segala kebutuhan, keperluan anak sela¬lu tersedia. Pokoknya tugas anak hanya sekolah dan belajar. Pendekatan manusiawi oleh kedua orang tua dalam masa pen-didikan banyak terlupakan. Orang tua sibuk dengan urusan¬nya. Mereka menganggap materi yang disediakan bagi anak-¬anaknya sudah lebih dan cukup. Kalau sudah menyediakan Segala kebutuhan materi anak, orang tua merasa bahwa ia sudah mampu berperan sebagai orang tua yang penuh tanggung ja¬wab. Mereka lupa bahwa ia berkewajiban memberikan dasar pandangan hidup, keyakinan hidup serta membimbing kehi¬dupan rohaninya. Bahkan tidak jarang terjadi dalam suatu ke¬luarga adanya kesenjangan komunikasi yang dalam antara orang tua dengan anak-anaknya.
Pendidikan non-formal yang banyak kita te¬mui, kita alami dalam kenyataan hidup berma-syarakat, justru yang paling banyak memben¬tuk pola berpikir dan sikap hidup kita. Inipun kalau kita benar- benar bersikap antisipasif ter¬hadap lingkungan hidup dan kerja kita.

Unsur materialisme saat ini memang sangat mencekam kehidupan kita semua. Segala sesuatunya diukur hanya de¬ngan nilai uang. Uang dan materilah yang menentukan segala - -galanya. Anak-anak orang berada, di sekolahnya pun bertingkah dan dihinggapi kecongkakan kekuasaan. Dengan kekayaannya mereka memberikan warna pergaulan hidup yang ku¬rang baik sok kuasa dan meremehkan orang lain. Keadaan de¬mikian merupakan konsekuensi logis tidak atau kurang berfungsinva orang tua sebagai pengayom dan panutan anak-¬anaknya.

Bapak sebagai kepala keluarga sudah disibukkan dengan urusan kantor, bisnis, rapat, sidang, urusan golf sampai pro¬gram jantung sehat segala. Sang lbu tak kalah sibuk. Aktif de¬ngan organisasi wanita, kegiatan sosial dan pertemuan-perte¬muan lain sebagai pendamping suami yang notabene diwajib¬kan demi kemajuan atau kelangsungan kedudukan sang suami. Luruhlah posisi dan peranan keluarga sebagai lembaga pendidikan non-formal terpenting bagi pertumbuhan perso¬nalitas serta kematangan pola berpikir si anak. Bahkan secara tidak sadar banyak orang tua sudah melepaskan tanggung ja¬wabnya sebagai pendidik watak dan kepribadian anak mereka. Akibatnya pertumbuhan kepribadian, kepercayaan diri atau¬pun keyakinan hidup si anak tidak bisa bertumbuh stabil. Tanpa bekal iman dan kepribadian dari rumah secara mantap, anak-anak akan mudah diguncang oleh pengaruh lingkungan. Mereka mudah terombang-ambing karena memang belum me¬miliki prinsip hidup yang mantap.

Pendidikan formal tidak cukup sebagai bekal hidup di ma¬syarakat yang telah banyak dipengaruhi unsur-unsur material¬isme dan kemajuan teknologi. Tanpa bekal yang kuat, orang akan mudah mengagungkan materi di atas segala-galanya. Kehidupan materialistis ini jelas lebih banyak berpengaruh negatif terhadap perilaku manusia. Orang hanya akan meng¬hargai sesamanya diukur dari harta atau status sosialnya saja. Saat ini pun sudah banyak contoh dan buktinya.

Lain pula dengan golongan yang kurang begitu mampu, yang kehidupan ekonominya cukupan saja. Hasrat dan kemau¬an belajarnya umumnya tinggi. Mereka mau menghayati dan memahami makna kesulitan hidup. Kreativitas dan inisiatif akan mudah bertumbuh karena memang harus benar-benar berjuang untuk hidup. Mereka umumnya memiliki pandangan hidup atau pegangan hidup yang baik. Mereka tahan uji, tahan dari hantaman dan percobaan. Mereka umumnya tekun dan ulet dalam perjuangan hidupnya. Kenyàtaan ini bisa kita lihat dari pola kehidupan bapak-bapak kita yang mengalami pahit getirnya perjuangan fisik dibandingkan dengan pola kehidup¬an anak-anak beliau yang relatif berkecukupan dalam kehidupannya di masa pembangunan ini.

Karena kerasnya perjuangan fisik dan pahitnya kehidupan tempo dulu, bapak-bapak tersebut cukup ulet, tabah dan pantang menyerah sehingga sekarang beliau hidup sukses. Penga¬laman pahit demikian inilah yang banyak mendorong mereka untuk cenderung memanjakan anak-anaknya supaya jangan ikut merasakan getirnya kehidupan yang pernah dialaminya. Akibatnya bisa kita lihat dalam kehidupan sekarang ini. Ba¬nyak anak kurang memiliki disiplin, inisiatif ataupun kreativi¬tas yang tinggi. Lingkungan kehidupan telah memanjakan dan menina-bobokannya sehingga mereka tidak bisa hidup man¬diri.

Guna membenahi ini semua dan untuk menumbuhkan jiwa wiraswasta di kalangan masyarakat, perlu kiranya dibe¬nahi pola pendidikan kita secara menyeluruh. Untuk itu, anta¬ra Pemerintah dengan masyarakat harus terjalin kerjasama yang saling mendukung. lnterdependensi antar seluruh ang¬gota masyarakat harus bisa dikembang-tumbuhkan ke arah yang lebih positif. Lembaga pendidikan tidak akan mampu membentuk pribadi-pribadi manusia yang tangguh tanpa pe¬ran serta anggota masyarakat secara nyata. Orangtua wajib membekali dasar pembentukan watak dan kepribadian serta keyakinan anak-anaknya. Masyarakat wajib ikut serta meng¬endalikan atau mengamankan pola pengaturan tatanan masyara¬kat sesuai peraturan yang berlaku. Pemerintah dan unsur ma¬svarakat lainnya aktif melaksanakan kegiatan pendidikan seca¬ra integral.


Masa Pendewasaan

Pematangan pola berpikir harus terus dilakukan dalam ke¬hidupan bermasyarakat ini. Bukan berarti kalau kita sudah se¬lesai atau tamat sekolah, kesempatan belajarnya pun terhenti. Proses belajar sebenarnya tidak akan ada henti-hentinya sela¬ma hayat dikandung badan. Proses ini dilakukan dengan me¬manfaatkan seluruh indera kita semaksimal mungkin. Pendi¬dikan non-formal yang banyak kita temui, kita alami dalam ke¬nyataan hidup bermasyarakat, justru yang paling banyak membentuk pola berpikir dan sikap hidup kita. Inipun kalau kita benar-benar bersikap antisipatif terhadap lingkungan hidup dan kerja kita.

Kita belajar dari hasil membaca, melihat kenyataan, mendengarkan pengalaman-pengalaman orang lain, merasakan dan mengalami sendiri suatu kejadian. Dari pengalaman kita inilah, kita akan mampu mengkaji sesuatu dan mematangkan kemampuan kita. Dari pola atau cara belajar demikianlah, masa pendewasaan tersebut harus kita lalui sehingga pola berpikir kita akan semakin matang, luas, mendalam dan mantap.
Dalam mengkaji pengalaman tersebut, kita harus pandai-pandai menyaring agar diperoleh hasil akhir yang justru mematangkan pola berpikir kita.

Selama proses pendewasaan demikianlah, saya rasa letak titik kritisnya. Banyak orang merasa kalau sudah bekerja dan berkeluarga, sasaran utamanya ialah mencari uang saja. Lain tidak. Segala upaya difokuskan untuk itu. Sejalan dengan upaya tersebut, setiap orang minimal akan berusaha untuk bisa meraih kedudukan , posisi ataupun status demi prestige dan gengsinya dalam kehidupan masyarakat. Berkembanglah praktek-praktek yang membawa ekses negatif bagi pola manajemen serta mekanisme organisasi.
Kenyataan ini diperburuk dengan semakin kompleksnya perkembangan organisasi. Dalam organisasi yang membengkak timbul berbagai ekses yang cukup menghambat pertumbuhan manajemen. Antara lain timbulnya klik dan koncoisme. Sistem manajemen atau sistem operasional akan kurang bermakna karena aktivitas organisasi sepenuhnya berkiblat pada selera pucuk pimpinan.

Pola manajemen dan mekanisme organisasi semacam ini wajar akan muncul bertambah mengingat latar belakang kehidupan keluarga, sosial dan masyarakat yang kita alami memang kurang menguntungkan. Kita sebagai masyarakat panutan ternyata kurang konsekuen sebab banyak senior kita yang justru kurang bisa berperan sebagai panutan yang baik. Lagi pula lingkungan kerja kitapun kurang mendorong bertumbuhnya jiwa wiraswasta yang mandiri dalam sanubari pegawai, dimana pegawai seyogyanya merupakan tenaga PILAR suatu organisasi. Tenaga PILAR yakni tenaga yang memiliki karakteristik berikut :

1. “Pandai”. Tingkat kepandaiannya dapat diandalkan.
2. “Inisiatif”. Kemampuan untuk mengambil inisiatif tampak nyata.
3. “Lugas”. Sifat hidupnya jujur dan tegas penuh disiplin serta tanggung jawab.
4.”Antisipatif”. Kemampuan untuk terhadap perkembangan lingkungan hidup atau kerjanya cukup baik.
5. ”Rasional”. Pola berpikirnya sangat rasional.

Seyogyanya kalau senioritas digunakan sebagai dasar penilaian pegawai, maka kita ha¬rus menganut makna senioritas yang murni tanpa mengurangi unsur prestasi Sistem senioritas tetap bisa dimanfaatkan asal diga¬bungkan dengan sistem penilaian prestasi yang berlandaskan kematangan atau kedewa¬saan pola berpikir pegawai.
Dalam prakteknya. Pucuk Pimpinanlah yang menentukan segala-galanya. Pola kerja demikian sangat merugikan organisasi. Pendapat pribadi pegawai sulit dilontarkan, Bahkan nyaris tidak diberi hak untuk mengemukakan pandangannya.

Selama ini tenaga-tenaga PILAR sulit dikembangkan karena memang kita sudah terlena, sudah terbawa arus pola berpikir yang lebih mementingkan prestige dibandingkan dengan prestasi.

1. UNSUR SENIORITAS
Dalam masyarakat paternalistik atau panutan, unsur senioritas sangat diperhatikan. Tetapi yang diperhatikan nampaknya baru senioritas dalam arti sempit yakni hanya dilihat masa kerjanya, bukan ketrampilan atau kemampuan pegawai yang dapat diperoleh selama masa kerja tersebut. Masa kerja pegawai sudah 15 (lima belas) tahun. Hanya saja selama itu pegawai kurang mau atau mampu berusaha untuk menghayati dan mendalami sifat atau karakteristik serta detail penugasan yang dibebankan kepadanya. Keluasan dan kedalaman penguasaan tugas yang bersangkutanpun setingkat dengan pengalaman kerja selama 1 (satu) tahun saja. Seyogyanya, seseorang dikatakan sudah berpengalaman kerja atau bisa dikatakan pejabat senior, apabila ia benar-benar

1. Berpengalaman kerja yang dapat diandalkan bobot dan kadarnya.
2. Berpengetahuan dan memiliki pandangan yang luas.
3. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup dalam, serta
4. Memiliki pola berpikir yang matang dan mantap.
5. Memiliki kearifan (wisdom)

Apabila kita mau menganut sistem senioritas, ya harus konsekuen. Jangan hanya karena ia sudah lama bekerja lantas dikatakan senior. Unsur pengalaman sesuai penempatan tidak dihiraukan, sehingga arti senior sudah tidak murni lagi dan memberikan citra yang kurang baik.

Seyogyanya kalau senioritas digunakan sebagai dasar penilaian pegawai, maka kita harus menganut makna senioritas yang murni tanpa mengurangi unsur prestasi. Tegasnya kita wajib melakukan pelurusan sistem senioritas yang selaras dengan keyakinan masyarakat kita. Melalui pendidikan dan pembinaan yang mendasar dan integral, diharapkan kita bisa mulai meluruskan sistem dan mekanisme pengorganisasian setiap unit kerja. Sistem senioritas tetap bisa dimanfaatkan asal digabungkan dengan sistem penilaian prestasi yang berlandaskan kematangan atau kedewasaan pola berpikir pegawai,

2. MEKANISME PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan dalam suatu organisasi di negara kita, sebagian terbesar dilakukan kelompok (oleh kelompok PIMPINAN) yakni berlandaskan musyawarah dan mufakat. Demikian pula keputusan yang sifatnya penting. Sayangnya, cara demikian kurang dilakukan secara konsisten , hanya setengah-tengah saja.

Dengan dalih musyawarah untuk mufakat, dalam suatu organisasi sering diadakan rapat ataupun pertemuan-pertemuan konsultatif. Apapun nama pertemuan tersebut, tetapi setiap keputusan rapat relatif tidak ada yang mengikat sifatnya. Keputusan rapat nampaknya hanya sekedar keputusan di atas kertas.

Dalam prakteknya, Pucuk Pimpinanlah yang menentukan segala-galanya. Pola kerja demikian sangat merugikan organisasi. Pendapat pribadi pegawai sulit dilontarkan bahkan nyaris tidak diberi hak untuk pendapatnya. Akibatnya, inisiatif, kreativitas pegawai memudar, atau malah mati impoten. Dan ini membuat kesenjangan semakin dalam. Pada gilirannya pimpinan akan kurang mampu menghayati posisi organisasinya secara obyektif lagi.

Marilah kita renungkan benar-benar, apakah dengan pola kerja demikian, partisipasi pegawai dalam organisasi dapat dikembang-tumbuhkan ? Sulit untuk dikatakan saya kira. Sebab nampak adanya kecenderungan pola manajemen yang otoriterlah yang akan berkembang subur. Dan kalau diamati, tindakan otoriter tersebut sebenarnya sebagai akibat ketidak atau kekurang-matangan para senior dan kekurang-mampuan kita mengartikan istilah beserta makna :

• Senioritas dan sistem pembinaan pegawai,
• Pola pengambilan keputusan secara musyawarah/mufakat serta
• Pola manajemen yang partisipatif.

Perbaikan pola manajemen sebenarnya bisa terus digalakkan asalkan Pucuk Pimpinan dan seluruh jajaran Pimpinan organisasi benar-benar sadar akan perlunya perbaikan tersebut.


Sumber :
Ahmad Kurnia
http://elqorni.wordpress.com/2008/05/23/persoalan-dasar-kewirausahaan-indonesia/
14 Januari 2009