Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:
1. Percaya/trust. Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:
a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, ketrampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.
c. Kualitas komunikasi dan sifatnya menggambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan tumbuh.
2. Prilaku suportif akan meningkatkan komunikasi. Beberapa ciri prilaku suportif yaitu:
a. Deskripsi: penyampaian pesan, perasaan dan persepsi tanpa menilai atau mengecam kelemahan dan kekurangannya.
b. Orientasi masalah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama- sama menetapkan tujuan dan menentukan cara mencapai tujuan.
c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam.
d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona.
e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan.
f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.
3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara objektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dan lain sebagainya.
Agar komunikasi interpersonal yang dilakukan menghasilkan hubungan interpersonal yang efektif dan kerja sama bisa ditingkatkan, kita perlu bersikap terbuka dan menggantikan sikap dogmatis. Kita perlu juga memiliki sikap percaya, sikap mendukung, dan terbuka yang mendorong timbulnya sikap saling memahami, menghargai dan saling mengembangkan kualitas. Hubungan interpersonal perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan memperbaiki hubungan dan kerjasama antara berbagai pihak, tidak terkecuali dalam lembaga pendidikan. (SPP)
Tampilkan postingan dengan label Sie Kerohanian Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sie Kerohanian Kristen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 20 Juni 2010
Kepribadian
Bagaimana kepribadian seseorang itu terbentuk? Bagaimana kita tahu apakah kepribadian kita? Kami yakin, pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering muncul dalam benak banyak orang. Berikut ini ikutilah cuplikan diskusi yang membahas tentang seputar kepribadian, bersama narasumber Pdt. Paul Gunadi, Ph.D. Selamat mengikuti!
T : Apa sebenarnya kepribadian itu?
J : Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat- sifat khas diri kita yang bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya, keluarga pada masa kecil kita dan juga bawaan-bawaan kita sejak lahir. Jadi yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.
T : Jadi setiap orang yang diciptakan oleh Tuhan itu, sudah dilengkapi dengan kepribadian?
J : Tepat sekali, jadi kepribadian itu sebetulnya adalah pemberian Tuhan yang sebetulnya sangat berkaitan dengan komposisi fisik kita ditambah dengan pengaruh lingkungan yang kita terima atau kita alami pada masa pertumbuhan kita. Misalnya, ada orang yang mudah cemas, kita tidak bisa langsung berkata orang ini beriman lemah, tapi memang sejak lahir jantungnya peka, mudah sekali merasakan getaran-getaran yang bersumber dari luar dirinya. Akibatnya dia lebih mudah dikejutkan, merasa tegang, dan lebih rawan terhadap kecemasan.
T : Apakah ada jalan yang sederhana supaya kita bisa tahu bagaimana kira-kira berkepribadian saya?
J : Saya jelaskan dulu empat penggolongan kepribadian yang pada umumnya dipakai agar kita bisa mencocokkan diri, kita termasuk dalam kategori yang mana.
TIPE SANGUIN. Tipe ini mempunyai banyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, bisa membuat lingkungannya gembira, senang. Tapi kelemahannya adalah cenderung impulsive, bertindak sesuai emosinya atau keinginannya. Jadi orang dengan kepribadian sanguin mudah sekali dipengaruhi oleh lingkungannya dan rangsangan-rangsangan dari luar dirinya. Dia kurang bisa menguasai diri atau penguasaan dirinya lemah. Dalam bukunya Tim LaHaye, orang-orang sanguin cenderung mudah jatuh ke dalam pencobaan, karena godaan dari luar bisa begitu memikatnya, dan dia bisa masuk terperosok ke dalamnya.
TIPE FLEGMATIK. Tipe flegmatik adalah orang yang cenderung tenang dan dari luar cenderung tidak beremosi. Dia tidak menampakkan emosi, misalnya, sedih atau senang. Jadi naik turun emosinya tidak nampak dengan jelas. Orang ini cenderung bisa menguasai dirinya dengan cukup baik dan introspektif sekali, memikirkan ke dalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Jadi dia adalah seorang pengamat yang kuat, penonton yang tajam dan juga seorang pengkritik yang berbobot. Kelemahannya adalah cenderung mau ambil mudahnya, tidak mau susah. Kelemahannya ini membuat dia jadi orang yang kurang mau berkorban bagi yang lain. Maka salah satu buah Roh Kudus yang perlu ditingkatkan dalam dirinya adalah kemurahan atau murah hati. Karena dia cenderung menjadi orang yang egois.
TIPE MELANKOLIK. Orang yang melankolik adalah orang yang terobsesi dengan karya yang paling bagus, yang paling sempurna, mengerti estetika keindahan hidup ini dan perasaannya sangat kuat, sangat sensitif. Kelemahan orang melankolik adalah mudah sekali dikuasai oleh perasaan dan cukup sering perasaan yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan yang murung. Tidak mudah bagi orang melankolik itu untuk terangkat, untuk senang, atau tertawa terbahak-bahak.
TIPE KOLERIK. Seorang kolerik berorientasi pada pekerjaan, dan pada tugas. Dia adalah seseorang yang mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi. Kelebihannya adalah dia bisa melaksanakan tugas dengan setia dan bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya. Kelemahan orang kolerik adalah kemampuannya untuk bisa merasakan perasaan orang lain agak kurang, belas kasihannya terhadap penderitaan orang lain juga agak minim, karena perasaannya kurang bermain.
T : Apa mungkin ada orang yang bisa memiliki dua tipe sekaligus?
J : Itu bisa saja terjadi, misalnya waktu kita berkata bahwa saya ini sanguin. Saya tidak murni sanguin, tapi saya juga punya kolerik sebagian, sedikit melankolik, dan kadang-kadang ada juga sedikit flegmatiknya. Jadi kebanyakan kita ini terdiri dari campuran dari keempat tipe tersebut. Namun dari keempat tipe itu pasti ada yang dominan.
T : Sampai sejauh mana dosa yang ada dalam diri kita berperan untuk mempengaruhi kepribadian kita?
J : Setiap tipe itu unik, pada dasarnya setiap tipe kepribadian itu netral, tidak lebih berdosa dari yang lainnya. Namun setiap tipe kepribadian itu mengundang masuknya keberdosaan kita. Misalnya, tipe sanguin, memang dia adalah orang yang bisa memberikan keceriaan dalam lingkungannya, tapi karena dia mudah sekali dikuasai oleh rangsangan dari luar, dia menjadi orang yang bisa mudah jatuh ke dalam pencobaan karena godaan-godaan dari luar dirinya. Di sinilah dia bisa terjebak ke dalam dosa.
T : Bagaimana dengan orang yang menggunakan alasan kepribadiannya untuk membenarkan diri sendiri, bahwa dia boleh melakukan dosa karena memang sifatnya seperti itu?
J : Kita bisa memahami bahwa tipe tertentu rawan terhadap dosa tertentu. Tapi kita tidak bisa berkata atau menyalahkan tipe kepribadian kita. Misalnya saya tahu saya ini seorang sanguin, saya mudah sekali mengambil keputusan jadi saya harus mendisiplin diri untuk tidak mengambil keputusan seketika. Seberapa bagusnya ide itu saya akan cenderung untuk menggumulinya lagi, untuk menunggu tanda-tanda lain dari Tuhan, menunggu apakah Tuhan menggerakkan orang lain untuk mencetuskan ide yang sama, dan sebagainya.
T : Mungkin Bapak bisa menunjukkan ayat Firman Tuhan yang menunjukkan bahwa tipe kepribadian seseorang bisa dikendalikan atau bisa diubah dengan pertolongan Firman Tuhan?
J : Firman Tuhan di Mazmur 139:23,24 berkata, "Selidikilah aku ya Allah dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. Lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal." Di sini kita melihat Pemazmur mengundang Tuhan. Jadi syarat yang kita lakukan adalah mengundang Tuhan untuk melihat, menilik, dan memeriksa jalannya. Kita juga harus mengundang Tuhan untuk menuntun kita ke jalan yang benar. Jadi kalau boleh saya simpulkan karakteristik yang paling penting adalah apakah kita bersedia mengundang Tuhan masuk menilik hati kita, dan apakah kita mau berubah. Itulah kuncinya. (SPP)
T : Apa sebenarnya kepribadian itu?
J : Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat- sifat khas diri kita yang bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya, keluarga pada masa kecil kita dan juga bawaan-bawaan kita sejak lahir. Jadi yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.
T : Jadi setiap orang yang diciptakan oleh Tuhan itu, sudah dilengkapi dengan kepribadian?
J : Tepat sekali, jadi kepribadian itu sebetulnya adalah pemberian Tuhan yang sebetulnya sangat berkaitan dengan komposisi fisik kita ditambah dengan pengaruh lingkungan yang kita terima atau kita alami pada masa pertumbuhan kita. Misalnya, ada orang yang mudah cemas, kita tidak bisa langsung berkata orang ini beriman lemah, tapi memang sejak lahir jantungnya peka, mudah sekali merasakan getaran-getaran yang bersumber dari luar dirinya. Akibatnya dia lebih mudah dikejutkan, merasa tegang, dan lebih rawan terhadap kecemasan.
T : Apakah ada jalan yang sederhana supaya kita bisa tahu bagaimana kira-kira berkepribadian saya?
J : Saya jelaskan dulu empat penggolongan kepribadian yang pada umumnya dipakai agar kita bisa mencocokkan diri, kita termasuk dalam kategori yang mana.
TIPE SANGUIN. Tipe ini mempunyai banyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, bisa membuat lingkungannya gembira, senang. Tapi kelemahannya adalah cenderung impulsive, bertindak sesuai emosinya atau keinginannya. Jadi orang dengan kepribadian sanguin mudah sekali dipengaruhi oleh lingkungannya dan rangsangan-rangsangan dari luar dirinya. Dia kurang bisa menguasai diri atau penguasaan dirinya lemah. Dalam bukunya Tim LaHaye, orang-orang sanguin cenderung mudah jatuh ke dalam pencobaan, karena godaan dari luar bisa begitu memikatnya, dan dia bisa masuk terperosok ke dalamnya.
TIPE FLEGMATIK. Tipe flegmatik adalah orang yang cenderung tenang dan dari luar cenderung tidak beremosi. Dia tidak menampakkan emosi, misalnya, sedih atau senang. Jadi naik turun emosinya tidak nampak dengan jelas. Orang ini cenderung bisa menguasai dirinya dengan cukup baik dan introspektif sekali, memikirkan ke dalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Jadi dia adalah seorang pengamat yang kuat, penonton yang tajam dan juga seorang pengkritik yang berbobot. Kelemahannya adalah cenderung mau ambil mudahnya, tidak mau susah. Kelemahannya ini membuat dia jadi orang yang kurang mau berkorban bagi yang lain. Maka salah satu buah Roh Kudus yang perlu ditingkatkan dalam dirinya adalah kemurahan atau murah hati. Karena dia cenderung menjadi orang yang egois.
TIPE MELANKOLIK. Orang yang melankolik adalah orang yang terobsesi dengan karya yang paling bagus, yang paling sempurna, mengerti estetika keindahan hidup ini dan perasaannya sangat kuat, sangat sensitif. Kelemahan orang melankolik adalah mudah sekali dikuasai oleh perasaan dan cukup sering perasaan yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan yang murung. Tidak mudah bagi orang melankolik itu untuk terangkat, untuk senang, atau tertawa terbahak-bahak.
TIPE KOLERIK. Seorang kolerik berorientasi pada pekerjaan, dan pada tugas. Dia adalah seseorang yang mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi. Kelebihannya adalah dia bisa melaksanakan tugas dengan setia dan bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya. Kelemahan orang kolerik adalah kemampuannya untuk bisa merasakan perasaan orang lain agak kurang, belas kasihannya terhadap penderitaan orang lain juga agak minim, karena perasaannya kurang bermain.
T : Apa mungkin ada orang yang bisa memiliki dua tipe sekaligus?
J : Itu bisa saja terjadi, misalnya waktu kita berkata bahwa saya ini sanguin. Saya tidak murni sanguin, tapi saya juga punya kolerik sebagian, sedikit melankolik, dan kadang-kadang ada juga sedikit flegmatiknya. Jadi kebanyakan kita ini terdiri dari campuran dari keempat tipe tersebut. Namun dari keempat tipe itu pasti ada yang dominan.
T : Sampai sejauh mana dosa yang ada dalam diri kita berperan untuk mempengaruhi kepribadian kita?
J : Setiap tipe itu unik, pada dasarnya setiap tipe kepribadian itu netral, tidak lebih berdosa dari yang lainnya. Namun setiap tipe kepribadian itu mengundang masuknya keberdosaan kita. Misalnya, tipe sanguin, memang dia adalah orang yang bisa memberikan keceriaan dalam lingkungannya, tapi karena dia mudah sekali dikuasai oleh rangsangan dari luar, dia menjadi orang yang bisa mudah jatuh ke dalam pencobaan karena godaan-godaan dari luar dirinya. Di sinilah dia bisa terjebak ke dalam dosa.
T : Bagaimana dengan orang yang menggunakan alasan kepribadiannya untuk membenarkan diri sendiri, bahwa dia boleh melakukan dosa karena memang sifatnya seperti itu?
J : Kita bisa memahami bahwa tipe tertentu rawan terhadap dosa tertentu. Tapi kita tidak bisa berkata atau menyalahkan tipe kepribadian kita. Misalnya saya tahu saya ini seorang sanguin, saya mudah sekali mengambil keputusan jadi saya harus mendisiplin diri untuk tidak mengambil keputusan seketika. Seberapa bagusnya ide itu saya akan cenderung untuk menggumulinya lagi, untuk menunggu tanda-tanda lain dari Tuhan, menunggu apakah Tuhan menggerakkan orang lain untuk mencetuskan ide yang sama, dan sebagainya.
T : Mungkin Bapak bisa menunjukkan ayat Firman Tuhan yang menunjukkan bahwa tipe kepribadian seseorang bisa dikendalikan atau bisa diubah dengan pertolongan Firman Tuhan?
J : Firman Tuhan di Mazmur 139:23,24 berkata, "Selidikilah aku ya Allah dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. Lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal." Di sini kita melihat Pemazmur mengundang Tuhan. Jadi syarat yang kita lakukan adalah mengundang Tuhan untuk melihat, menilik, dan memeriksa jalannya. Kita juga harus mengundang Tuhan untuk menuntun kita ke jalan yang benar. Jadi kalau boleh saya simpulkan karakteristik yang paling penting adalah apakah kita bersedia mengundang Tuhan masuk menilik hati kita, dan apakah kita mau berubah. Itulah kuncinya. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Jumat, 11 Juni 2010
PENGGUNAAN MENTOR
Penggunaan mentor telah menjadi kata yang banyak disebut-sebut sekarang ini. Meskipun demikian, hal itu benar-benar suatu konsep kuno, seorang diberi contoh oleh pembimbing yang lebih tua dan bijaksana, yang membantu anak didik yang lebih muda di sepanjang perjalanan. Yosua memiliki Musa sebagai mentornya. Elisa memiliki Elia. Timotius memiliki Paulus.
Kami telah menemukan bahwa kebanyakan pemimpin muda rindu akan orang yang lebih tua, yang benar-benar bersedia dan tertarik untuk menyediakan telinga yang mau mendengar dan hati yang mau memahami, serta menasihati apa saja yang dapat diberikan orang tersebut dari pengalaman dan pengetahuannya mengenai Tuhan, kehidupan, dan manusia.
Karena alasan ini, penggunaan mentor merupakan unsur kunci lain dalam Arrow Leadership Program. Setiap peserta, setelah satu minggu, diminta untuk mendapatkan seorang mentor berdasarkan pilihannya sendiri atau berhubungan dengan seorang mentor yang kami anjurkan. Kami memiliki satu daftar mentor yang potensial, yang telah setuju untuk melayani. Dan kami menanyakan mentor itu apakah dia mau bekerja dengan orang dari Arrow Program ini untuk masa satu setengah tahun mendatang.
Para mentor datang dari berbagai kondisi dan keadaan. Ada yang pensiunan. Ada juga yang masih bekerja purnawaktu. Mereka terdiri dari pria dan wanita. Sebagian berasal dari latar belakang bisnis, yang lainnya dari bidang pelayanan, dari profesi-profesi kesehatan, dan ada yang kontraktor perumahan. Para mentor ini diharapkan untuk memperlengkapi peserta Arrow Program, dengan cara berbagi modal pemberian Tuhan bersama mereka. Modal itu bisa meliputi kebijaksanaan, informasi, pengalaman, kepercayaan, wawasan, hubungan, dan status.
Penggunaan mentor bisa berlangsung dengan tingkat intensitas dan keterlibatan yang berbeda-beda. Bisa beraneka ragam mulai dari sangat hati-hati sampai ke sambil lalu.
• Penggunaan mentor secara intensif akan melibatkan para mentor yang bisa menjadi pencipta murid, pembimbing rohani, dan pelatih.
• Mentor yang bukan regular dapat merupakan konselor, guru, atau sponsor.
• Mentor pasif bisa termasuk orang-orang yang bisa dicontoh entah dari sejarah atau dari kehidupan zaman sekarang.[1]
Pandangan lain tentang proses ini diberikan oleh Edward Sellner, seorang teolog awam Katolik yang menulis buku "Mentoring". Untuk menunjukkan cara-cara lain di mana bimbingan bisa dilakukan, Sellner keluar dari konsep yang biasa, yaitu satu mentor untuk satu orang. Dia menulis satu bab tentang C.S. Lewis yang, sebagai seorang figur sastra, merupakan seorang mentor rohani jarak jauh bagi Sellner. Dia juga membahas konsep sejarah Celtic mengenai "sahabat jiwa". Dia percaya bahwa mimpi-mimpi bisa menjadi mentor bagi jiwa kita khususnya pada masa-masa transisi yang penting dalam hidup kita, sebagaimana Tuhan berbicara dari hati nurani kita.
Sellner membuat daftar karakteristik yang dapat membantu kita mengenali seorang mentor kontemporer atau sahabat jiwa.
• Kematangan, hikmat yang datang hanya bersama usia;
• Rasa belas kasihan, kemampuan untuk mendengar orang lain tanpa mengeluarkan kata yang sifatnya menghakimi.
• Rasa hormat yang sungguh-sungguh terhadap orang lain, terhadap cerita dan waktu mereka
• suatu rasa hormat yang di mulai dengan refleksi terhadap kisah diri kita sendiri;
• Kemampuan untuk menjaga hal-hal yang rahasia;
• Pengungkapan diri, kemauan untuk membagikan bagian-bagian perjalanan diri sendiri bila sesuai dan kemauan untuk jujur;
• Berlaku seperti seorang pakar yang terus-menerus merefleksikan pengalaman-pengalaman pribadi dan hubungan-hubungan dengan Tuhan;
• Kemampuan untuk melihat gerakan-gerakan roh dan gerakan-gerakan hati.
Sellner menggambarkan mentor sebagai "bidan", yaitu seorang yang secara mendalam terlibat dalam proses membantu orang lain "melahirkan sesuatu." Dia juga memperingatkan bahwa tak seorang pun sempurna dalam mewujudkan semua karakrer ini, dan bahwa akhirnya "orang harus melihat dalam hatinya sendiri dan kepada Tuhan yang berkarya melalui kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan kita."[2]
Pelayanan mentor sering kali diremehkan, tidak hanya menyangkut manfaatnya bagi orang-orang yang lebih muda, tetapi juga menyangkut manfaatnya bagi sang mentor. Saya yakin bahwa banyak pemimpin senior mempertahankan kekuasaan karena mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan jika mereka menyingkir dan melepaskan kekuasaan. Akan tetapi, salah satu tanda dari kematangan adalah peralihan dari gaya berkuasa kepada gaya hikmat, dengan mengingat Amsal yang mengatakan, "rambut putih" melambangkan kebijaksanaan (lih. Ams. 16:31). Secara pribadi, saya telah menemukan kepuasan luar biasa dalam kelompok kecil pemimpin-pemimpin muda, di mana saya mendapat kehormatan untuk menjadi mentor. Mereka telah membuat saya tetap berpikiran tajam, tetap waspada, dan tetap bertumbuh. Saya telah belajar dari mereka sebanyak yang saya sudah dapat bagikan kepada mereka.
Para pemimpin senior kadang-kadang takut menjadi mentor. Kami bertanya-tanya dalam hati apakah kami mempunyai banyak hal untuk dibagi. Kami tidak mempunyai hubungan dengan generasi yang lebih muda. Bisa saja kami merasa kurang cakap dalam hidup kami. Asalkan kami mau mengambil risiko, mau dikritik dan jujur, mau mendengarkan, dan mau membatalkan agenda-agenda pribadi, kami akan melihat bahwa pelayanan sebagai mentor merupakan salah satu sumbangan paling berarti dalam hidup kami.
Menjadi mentor bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang lebih tua. Saya mendorong setiap orang, muda atau tua, awam atau pendeta: "Anda seharusnya menceritakan apa yang Anda ketahui kepada orang lain, minimal yang berusia sepuluh tahun lebih muda dari Anda. Dengan siapa Anda sedang melakukan hal itu?"
Catatan kaki:
1. Banyak dari pemikiran dan praktik kami berkaitan dengan hubungan mentoring berdasarkan karya Paul Stanley dan Bobby Clinton. Di samping itu mereka pun secara aktif menciptakan proses mentoring kami, mereka telah menulis buku mengenai topik itu. Untuk mendapatkan wawasan mengenai bidang yang penting ini, lihat MENTOR: Anda Perlu Mentor dan Bersedia Menjadi Mentor oleh Paul Stanley dan J. Robert Clinton (Malang: Gandum Mas, 1996).
2. Edward Sellner, Mentoring: The Ministry of a Spiritual Kinship (Notre Dame, Indiana: Ave Maria Press, 1992), hlm. 76-79. (SPP)
Kami telah menemukan bahwa kebanyakan pemimpin muda rindu akan orang yang lebih tua, yang benar-benar bersedia dan tertarik untuk menyediakan telinga yang mau mendengar dan hati yang mau memahami, serta menasihati apa saja yang dapat diberikan orang tersebut dari pengalaman dan pengetahuannya mengenai Tuhan, kehidupan, dan manusia.
Karena alasan ini, penggunaan mentor merupakan unsur kunci lain dalam Arrow Leadership Program. Setiap peserta, setelah satu minggu, diminta untuk mendapatkan seorang mentor berdasarkan pilihannya sendiri atau berhubungan dengan seorang mentor yang kami anjurkan. Kami memiliki satu daftar mentor yang potensial, yang telah setuju untuk melayani. Dan kami menanyakan mentor itu apakah dia mau bekerja dengan orang dari Arrow Program ini untuk masa satu setengah tahun mendatang.
Para mentor datang dari berbagai kondisi dan keadaan. Ada yang pensiunan. Ada juga yang masih bekerja purnawaktu. Mereka terdiri dari pria dan wanita. Sebagian berasal dari latar belakang bisnis, yang lainnya dari bidang pelayanan, dari profesi-profesi kesehatan, dan ada yang kontraktor perumahan. Para mentor ini diharapkan untuk memperlengkapi peserta Arrow Program, dengan cara berbagi modal pemberian Tuhan bersama mereka. Modal itu bisa meliputi kebijaksanaan, informasi, pengalaman, kepercayaan, wawasan, hubungan, dan status.
Penggunaan mentor bisa berlangsung dengan tingkat intensitas dan keterlibatan yang berbeda-beda. Bisa beraneka ragam mulai dari sangat hati-hati sampai ke sambil lalu.
• Penggunaan mentor secara intensif akan melibatkan para mentor yang bisa menjadi pencipta murid, pembimbing rohani, dan pelatih.
• Mentor yang bukan regular dapat merupakan konselor, guru, atau sponsor.
• Mentor pasif bisa termasuk orang-orang yang bisa dicontoh entah dari sejarah atau dari kehidupan zaman sekarang.[1]
Pandangan lain tentang proses ini diberikan oleh Edward Sellner, seorang teolog awam Katolik yang menulis buku "Mentoring". Untuk menunjukkan cara-cara lain di mana bimbingan bisa dilakukan, Sellner keluar dari konsep yang biasa, yaitu satu mentor untuk satu orang. Dia menulis satu bab tentang C.S. Lewis yang, sebagai seorang figur sastra, merupakan seorang mentor rohani jarak jauh bagi Sellner. Dia juga membahas konsep sejarah Celtic mengenai "sahabat jiwa". Dia percaya bahwa mimpi-mimpi bisa menjadi mentor bagi jiwa kita khususnya pada masa-masa transisi yang penting dalam hidup kita, sebagaimana Tuhan berbicara dari hati nurani kita.
Sellner membuat daftar karakteristik yang dapat membantu kita mengenali seorang mentor kontemporer atau sahabat jiwa.
• Kematangan, hikmat yang datang hanya bersama usia;
• Rasa belas kasihan, kemampuan untuk mendengar orang lain tanpa mengeluarkan kata yang sifatnya menghakimi.
• Rasa hormat yang sungguh-sungguh terhadap orang lain, terhadap cerita dan waktu mereka
• suatu rasa hormat yang di mulai dengan refleksi terhadap kisah diri kita sendiri;
• Kemampuan untuk menjaga hal-hal yang rahasia;
• Pengungkapan diri, kemauan untuk membagikan bagian-bagian perjalanan diri sendiri bila sesuai dan kemauan untuk jujur;
• Berlaku seperti seorang pakar yang terus-menerus merefleksikan pengalaman-pengalaman pribadi dan hubungan-hubungan dengan Tuhan;
• Kemampuan untuk melihat gerakan-gerakan roh dan gerakan-gerakan hati.
Sellner menggambarkan mentor sebagai "bidan", yaitu seorang yang secara mendalam terlibat dalam proses membantu orang lain "melahirkan sesuatu." Dia juga memperingatkan bahwa tak seorang pun sempurna dalam mewujudkan semua karakrer ini, dan bahwa akhirnya "orang harus melihat dalam hatinya sendiri dan kepada Tuhan yang berkarya melalui kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan kita."[2]
Pelayanan mentor sering kali diremehkan, tidak hanya menyangkut manfaatnya bagi orang-orang yang lebih muda, tetapi juga menyangkut manfaatnya bagi sang mentor. Saya yakin bahwa banyak pemimpin senior mempertahankan kekuasaan karena mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan jika mereka menyingkir dan melepaskan kekuasaan. Akan tetapi, salah satu tanda dari kematangan adalah peralihan dari gaya berkuasa kepada gaya hikmat, dengan mengingat Amsal yang mengatakan, "rambut putih" melambangkan kebijaksanaan (lih. Ams. 16:31). Secara pribadi, saya telah menemukan kepuasan luar biasa dalam kelompok kecil pemimpin-pemimpin muda, di mana saya mendapat kehormatan untuk menjadi mentor. Mereka telah membuat saya tetap berpikiran tajam, tetap waspada, dan tetap bertumbuh. Saya telah belajar dari mereka sebanyak yang saya sudah dapat bagikan kepada mereka.
Para pemimpin senior kadang-kadang takut menjadi mentor. Kami bertanya-tanya dalam hati apakah kami mempunyai banyak hal untuk dibagi. Kami tidak mempunyai hubungan dengan generasi yang lebih muda. Bisa saja kami merasa kurang cakap dalam hidup kami. Asalkan kami mau mengambil risiko, mau dikritik dan jujur, mau mendengarkan, dan mau membatalkan agenda-agenda pribadi, kami akan melihat bahwa pelayanan sebagai mentor merupakan salah satu sumbangan paling berarti dalam hidup kami.
Menjadi mentor bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang lebih tua. Saya mendorong setiap orang, muda atau tua, awam atau pendeta: "Anda seharusnya menceritakan apa yang Anda ketahui kepada orang lain, minimal yang berusia sepuluh tahun lebih muda dari Anda. Dengan siapa Anda sedang melakukan hal itu?"
Catatan kaki:
1. Banyak dari pemikiran dan praktik kami berkaitan dengan hubungan mentoring berdasarkan karya Paul Stanley dan Bobby Clinton. Di samping itu mereka pun secara aktif menciptakan proses mentoring kami, mereka telah menulis buku mengenai topik itu. Untuk mendapatkan wawasan mengenai bidang yang penting ini, lihat MENTOR: Anda Perlu Mentor dan Bersedia Menjadi Mentor oleh Paul Stanley dan J. Robert Clinton (Malang: Gandum Mas, 1996).
2. Edward Sellner, Mentoring: The Ministry of a Spiritual Kinship (Notre Dame, Indiana: Ave Maria Press, 1992), hlm. 76-79. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
PEMIMPIN SEBAGAI MENTOR
"Setiap pemimpin cenderung memimpin sebagaimana ia pernah dipimpin."
Observasi ini terdengar sederhana, namun memiliki implikasi penting, khususnya terhadap pengembangan kepemimpinan. Mari kita baca sekali lagi: setiap pemimpin cenderung memimpin sebagaimana ia pernah dipimpin. Dengan kata lain, prinsip, pola, dan perilaku kepemimpinan seseorang lebih banyak ditentukan oleh orang-orang yang dahulu pernah menjadi pemimpinnya dibanding dengan, misalnya, buku yang pernah ia baca, program pelatihan yang pernah ia ikuti, seminar yang pernah ia hadiri, dan seterusnya.
Jika seorang pemimpin tidak memiliki mentor dengan prinsip, pola, dan perilaku kepemimpinan yang baik, kemungkinan besar ia juga tidak akan menjadi pemimpin yang baik.
Tidak heran kita terus-menerus dikecewakan oleh pemimpin dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tiran menghasilkan tiran. Manipulator menghasilkan manipulator.
Namun, sebaliknya juga benar, pemimpin-pelayan menghasilkan pemimpin-pelayan.
Memang, pemimpin dapat memimpin berdasarkan sikap natural yang inheren dalam dirinya, atau berdasarkan program pelatihan kepemimpinan yang ia ikuti, atau bahkan buku yang ia baca. Namun, kemungkinan dari semua itu sangat kecil dibanding yang pertama, yaitu kecenderungan memimpin sebagaimana ia pernah dipimpin.
Timotius adalah seorang yang dipakai Allah untuk menjadi pemimpin gereja-Nya sebagai generasi penerus Paulus. Ia masih muda menurut standar sosial Yahudi pada waktu itu (komentator memperkirakan usianya sekitar 30-40 tahun). Ia memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri (1Korintus 16:10; 1Timotius 4:12). Dan ia sakit- sakitan, khususnya gangguan perut (1Timotius 5:23). Pendek kata, ia bukan tipe pemimpin yang hebat menurut standar dunia.
Namun, Allah memakai Timotius di balik berbagai kelemahannya. Bahkan Allah telah mempersiapkan Timotius dari sejak ia masih sangat muda. Neneknya, Lois, dan ibunya, Eunike, memberi pengaruh yang besar dalam imannya kepada Allah. Fondasi iman telah tertanam dalam diri Timotius semenjak kecil. Dan setelah fondasi itu diletakkan, ia siap untuk menjalani proses pengembangan kepemimpinan yang menjadi perpaduan yang indah antara faktor manusiawi dan ilahi.
Faktor Manusiawi
Dalam perjalanan misi Paulus yang kedua, Timotius diajak untuk pergi dari Listra, kota kediamannya, dan ikut dalam perjalanan misi Paulus ke berbagai tempat mulai dari Makedonia, Akhaya, Efesus, Korintus, Asia Kecil, dan Yerusalem. Bahkan ia juga bersama Paulus saat Paulus pertama kali mengalami pemenjaraan (Filipi 1:1; Kolose 1:1; Filipi 1:1).
Proses pemberdayaan ini berlanjut dengan Paulus memercayakan Timotius untuk menangani tiga tugas gereja yang tidak mudah: di Tesalonika (1Tesalonika 3:1-10), di Korintus (1Korintus 4:16,17; 16:10,11), dan di Filipi (Filipi 2:19-24). Bahkan ia juga berkolaborasi dengan Paulus dalam menulis enam surat kepada jemaat (1 dan 2 Tesalonika, 2Korintus, Kolose, Filemon, dan Filipi). Dan Timotius taat belajar di bawah Paulus.
Relasi afektif antara Paulus dan Timotius berjalan kurang lebih dua puluh tahun, dari sejak pertama kali Paulus bertemu dengan Timotius di Listra (sekitar tahun 46-48) sampai dengan pemenjaraan kedua Paulus di Roma menjelang kematiannya (sekitar tahun 67-68). Timotius belajar dari Paulus segala sesuatu yang perlu ia ketahui untuk menjadi pemimpin-pelayan yang berkenan bagi Allah dan berpadanan dengan panggilan Injil. Ia telah meneladani ajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih, dan ketekunan Paulus, bahkan bersama-sama merasakan penderitaan dan aniaya dengan Paulus (2Timotius 2:10,11).
Bagaimana Anda memimpin orang lain sebagian besar ditentukan oleh bagaimana Anda pernah dipimpin. Siapakah yang Anda teladani sebagai pemimpin? Apakah prinsip, pola, dan perilaku kepemimpinannya selaras dengan firman Tuhan?
Jika ada orang yang Allah pakai dalam hidup Anda untuk menjadi mentor seperti Paulus terhadap Timotius, bersyukurlah kepada-Nya. Doakan orang tersebut. Dan berdoalah agar Anda dapat meneruskan pola tersebut dengan menjadi mentor yang baik bagi calon-calon pemimpin lain.
Fungsi pemimpin bukan menciptakan pengikut, tapi melahirkan pemimpin. Keberadaan pemimpin bukan untuk membuat generasi pengikut yang selalu berada dalam bayang-bayangnya. Bukan untuk kloning pengikut. Namun, pemimpin ada untuk melahirkan para pemimpin baru yang bahkan lebih baik dari dirinya. Proses ini sulit dan kompleks. Bukan hanya membutuhkan pengorbanan pribadi dari sisi waktu, tenaga, pemikiran, dan sumber daya lain, namun juga kerendahan hati untuk rela menelurkan pemimpin baru yang lebih kapabel dari dirinya sendiri.
Sayangnya, banyak pemimpin yang melakukan mentoring dengan gaya guru kungfu. Ilmu yang tertinggi tidak pernah diajarkan karena sang guru khawatir hidupnya akan terancam oleh kelihaian muridnya. Dengan demikian, si murid tidak akan pernah berada pada level yang sama dengan sang guru. Apalagi pada level yang lebih tinggi!
Faktor Ilahi
Timotius bukan saja memiliki Paulus sebagai mentor yang berkualitas dan rela membagi hidupnya (dalam arti literal), namun ia juga memiliki karunia yang Allah percayakan kepadanya. Paulus menasihati Timotius untuk "mengobarkan" karunia tersebut (2Timotius 1:6).
Analogi yang tepat untuk mengerti kata "mengobarkan" di sini adalah upaya mengipas-ngipas nyala api yang hampir padam agar menyala-nyala kembali. Namun, ini tidak berarti Timotius sedang kehilangan iman. Tetapi bahwa dalam keterbatasannya, Timotius harus terus ingat untuk menggunakan dan menerapkan karunianya, atau karunia tersebut akan mubazir.
Kepemimpinan Kristen pada dasarnya adalah kepemimpinan berdasarkan karunia yang Allah berikan kepada para hamba-Nya. Kepemimpinan Kristen memang akan lebih efektif bila memanfaatkan dengan selektif segala pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan kepemimpinan yang ada. Namun, kepemimpinan Kristen adalah sebuah karunia. Paulus menaruh kepemimpinan dalam daftar karunia rohani di surat Roma 12:8.
Jika kita melalaikan hal ini, kepemimpinan yang dijalankan akan sangat mudah menjadi kepemimpinan sekuler, kepemimpinan yang mengandalkan diri sendiri dan menanggalkan Allah. Namun, jika kita selalu ingat bahwa kepemimpinan adalah sebuah karunia dari Allah, kita akan senantiasa bersandar pada Roh Allah dalam menjalankan fungsi kepemimpinan kita. Dan tidak memiliki satu pun alasan untuk menyombongkan diri.
Itu sebabnya, Paulus menulis agar Timotius bersandar pada Roh Allah yang membangkitkan tiga hal: kekuatan, kasih, dan ketertiban dalam menjalankan tugasnya yang berat di gereja Efesus. Roh yang membangkitkan kekuatan untuk berani berhadapan dengan guru-guru palsu yang muncul dari dalam gereja. Roh yang membangkitkan kasih akan umat Allah yang memotivasi Timotius untuk menghadapi berbagai risiko disalah mengerti, dikhianati, dan seterusnya. Dan Roh yang membangkitkan ketertiban (lebih tepatnya, "soundmindedness" atau pikiran yang terang/sistematis) untuk menjaga Timotius dari berbagai ajaran palsu dan tidak sehat yang muncul di sekitarnya.
Dengan bersandar pada Roh Allah, pemimpin Kristen dipersiapkan untuk berhadapan dengan segala macam bentuk tantangan, kesulitan, dan bahaya kepemimpinan. Bahkan kematian sekalipun.
Harmonisasi
Faktor manusiawi dan ilahi bekerja bersama dalam proses pengembangan kepemimpinan dalam diri calon pemimpin Kristen. Sungguh suatu hal yang indah! Inilah cara yang Allah pilih untuk mempersiapkan Timotius, dan banyak pemimpin Kristen lainnya dari zaman ke zaman.
Jika hanya berfokus kepada faktor ilahi, kita akan kehilangan relevansi dengan realita dunia di mana kita mencoba memimpin. Karena setiap orang yang Allah berikan secara khusus dalam hidup kita, diberikan dengan maksud tertentu. Seorang mentor sangat berperan dalam membentuk hidup seseorang. Juga setiap peristiwa dan setiap pengalaman yang Allah izinkan untuk kita alami, tidak terjadi secara kebetulan.
Jika kita berfokus kepada faktor duniawi, kita akan kehilangan substansi dari kepemimpinan yang coba kita jalankan. Dan perlahan- lahan kita akan kehilangan arti dan arah dari kepemimpinan tersebut.
Namun, kalau kedua faktor tersebut kita pertahankan, kita akan meneruskan pola kepemimpinan Kristus, yang diturunkan kepada Paulus, lalu kepada Timotius, lalu kepada orang-orang yang Allah pakai dari generasi ke generasi menjadi pemimpin-pelayan. (SPP)
Observasi ini terdengar sederhana, namun memiliki implikasi penting, khususnya terhadap pengembangan kepemimpinan. Mari kita baca sekali lagi: setiap pemimpin cenderung memimpin sebagaimana ia pernah dipimpin. Dengan kata lain, prinsip, pola, dan perilaku kepemimpinan seseorang lebih banyak ditentukan oleh orang-orang yang dahulu pernah menjadi pemimpinnya dibanding dengan, misalnya, buku yang pernah ia baca, program pelatihan yang pernah ia ikuti, seminar yang pernah ia hadiri, dan seterusnya.
Jika seorang pemimpin tidak memiliki mentor dengan prinsip, pola, dan perilaku kepemimpinan yang baik, kemungkinan besar ia juga tidak akan menjadi pemimpin yang baik.
Tidak heran kita terus-menerus dikecewakan oleh pemimpin dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tiran menghasilkan tiran. Manipulator menghasilkan manipulator.
Namun, sebaliknya juga benar, pemimpin-pelayan menghasilkan pemimpin-pelayan.
Memang, pemimpin dapat memimpin berdasarkan sikap natural yang inheren dalam dirinya, atau berdasarkan program pelatihan kepemimpinan yang ia ikuti, atau bahkan buku yang ia baca. Namun, kemungkinan dari semua itu sangat kecil dibanding yang pertama, yaitu kecenderungan memimpin sebagaimana ia pernah dipimpin.
Timotius adalah seorang yang dipakai Allah untuk menjadi pemimpin gereja-Nya sebagai generasi penerus Paulus. Ia masih muda menurut standar sosial Yahudi pada waktu itu (komentator memperkirakan usianya sekitar 30-40 tahun). Ia memiliki sifat pemalu dan kurang percaya diri (1Korintus 16:10; 1Timotius 4:12). Dan ia sakit- sakitan, khususnya gangguan perut (1Timotius 5:23). Pendek kata, ia bukan tipe pemimpin yang hebat menurut standar dunia.
Namun, Allah memakai Timotius di balik berbagai kelemahannya. Bahkan Allah telah mempersiapkan Timotius dari sejak ia masih sangat muda. Neneknya, Lois, dan ibunya, Eunike, memberi pengaruh yang besar dalam imannya kepada Allah. Fondasi iman telah tertanam dalam diri Timotius semenjak kecil. Dan setelah fondasi itu diletakkan, ia siap untuk menjalani proses pengembangan kepemimpinan yang menjadi perpaduan yang indah antara faktor manusiawi dan ilahi.
Faktor Manusiawi
Dalam perjalanan misi Paulus yang kedua, Timotius diajak untuk pergi dari Listra, kota kediamannya, dan ikut dalam perjalanan misi Paulus ke berbagai tempat mulai dari Makedonia, Akhaya, Efesus, Korintus, Asia Kecil, dan Yerusalem. Bahkan ia juga bersama Paulus saat Paulus pertama kali mengalami pemenjaraan (Filipi 1:1; Kolose 1:1; Filipi 1:1).
Proses pemberdayaan ini berlanjut dengan Paulus memercayakan Timotius untuk menangani tiga tugas gereja yang tidak mudah: di Tesalonika (1Tesalonika 3:1-10), di Korintus (1Korintus 4:16,17; 16:10,11), dan di Filipi (Filipi 2:19-24). Bahkan ia juga berkolaborasi dengan Paulus dalam menulis enam surat kepada jemaat (1 dan 2 Tesalonika, 2Korintus, Kolose, Filemon, dan Filipi). Dan Timotius taat belajar di bawah Paulus.
Relasi afektif antara Paulus dan Timotius berjalan kurang lebih dua puluh tahun, dari sejak pertama kali Paulus bertemu dengan Timotius di Listra (sekitar tahun 46-48) sampai dengan pemenjaraan kedua Paulus di Roma menjelang kematiannya (sekitar tahun 67-68). Timotius belajar dari Paulus segala sesuatu yang perlu ia ketahui untuk menjadi pemimpin-pelayan yang berkenan bagi Allah dan berpadanan dengan panggilan Injil. Ia telah meneladani ajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih, dan ketekunan Paulus, bahkan bersama-sama merasakan penderitaan dan aniaya dengan Paulus (2Timotius 2:10,11).
Bagaimana Anda memimpin orang lain sebagian besar ditentukan oleh bagaimana Anda pernah dipimpin. Siapakah yang Anda teladani sebagai pemimpin? Apakah prinsip, pola, dan perilaku kepemimpinannya selaras dengan firman Tuhan?
Jika ada orang yang Allah pakai dalam hidup Anda untuk menjadi mentor seperti Paulus terhadap Timotius, bersyukurlah kepada-Nya. Doakan orang tersebut. Dan berdoalah agar Anda dapat meneruskan pola tersebut dengan menjadi mentor yang baik bagi calon-calon pemimpin lain.
Fungsi pemimpin bukan menciptakan pengikut, tapi melahirkan pemimpin. Keberadaan pemimpin bukan untuk membuat generasi pengikut yang selalu berada dalam bayang-bayangnya. Bukan untuk kloning pengikut. Namun, pemimpin ada untuk melahirkan para pemimpin baru yang bahkan lebih baik dari dirinya. Proses ini sulit dan kompleks. Bukan hanya membutuhkan pengorbanan pribadi dari sisi waktu, tenaga, pemikiran, dan sumber daya lain, namun juga kerendahan hati untuk rela menelurkan pemimpin baru yang lebih kapabel dari dirinya sendiri.
Sayangnya, banyak pemimpin yang melakukan mentoring dengan gaya guru kungfu. Ilmu yang tertinggi tidak pernah diajarkan karena sang guru khawatir hidupnya akan terancam oleh kelihaian muridnya. Dengan demikian, si murid tidak akan pernah berada pada level yang sama dengan sang guru. Apalagi pada level yang lebih tinggi!
Faktor Ilahi
Timotius bukan saja memiliki Paulus sebagai mentor yang berkualitas dan rela membagi hidupnya (dalam arti literal), namun ia juga memiliki karunia yang Allah percayakan kepadanya. Paulus menasihati Timotius untuk "mengobarkan" karunia tersebut (2Timotius 1:6).
Analogi yang tepat untuk mengerti kata "mengobarkan" di sini adalah upaya mengipas-ngipas nyala api yang hampir padam agar menyala-nyala kembali. Namun, ini tidak berarti Timotius sedang kehilangan iman. Tetapi bahwa dalam keterbatasannya, Timotius harus terus ingat untuk menggunakan dan menerapkan karunianya, atau karunia tersebut akan mubazir.
Kepemimpinan Kristen pada dasarnya adalah kepemimpinan berdasarkan karunia yang Allah berikan kepada para hamba-Nya. Kepemimpinan Kristen memang akan lebih efektif bila memanfaatkan dengan selektif segala pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan kepemimpinan yang ada. Namun, kepemimpinan Kristen adalah sebuah karunia. Paulus menaruh kepemimpinan dalam daftar karunia rohani di surat Roma 12:8.
Jika kita melalaikan hal ini, kepemimpinan yang dijalankan akan sangat mudah menjadi kepemimpinan sekuler, kepemimpinan yang mengandalkan diri sendiri dan menanggalkan Allah. Namun, jika kita selalu ingat bahwa kepemimpinan adalah sebuah karunia dari Allah, kita akan senantiasa bersandar pada Roh Allah dalam menjalankan fungsi kepemimpinan kita. Dan tidak memiliki satu pun alasan untuk menyombongkan diri.
Itu sebabnya, Paulus menulis agar Timotius bersandar pada Roh Allah yang membangkitkan tiga hal: kekuatan, kasih, dan ketertiban dalam menjalankan tugasnya yang berat di gereja Efesus. Roh yang membangkitkan kekuatan untuk berani berhadapan dengan guru-guru palsu yang muncul dari dalam gereja. Roh yang membangkitkan kasih akan umat Allah yang memotivasi Timotius untuk menghadapi berbagai risiko disalah mengerti, dikhianati, dan seterusnya. Dan Roh yang membangkitkan ketertiban (lebih tepatnya, "soundmindedness" atau pikiran yang terang/sistematis) untuk menjaga Timotius dari berbagai ajaran palsu dan tidak sehat yang muncul di sekitarnya.
Dengan bersandar pada Roh Allah, pemimpin Kristen dipersiapkan untuk berhadapan dengan segala macam bentuk tantangan, kesulitan, dan bahaya kepemimpinan. Bahkan kematian sekalipun.
Harmonisasi
Faktor manusiawi dan ilahi bekerja bersama dalam proses pengembangan kepemimpinan dalam diri calon pemimpin Kristen. Sungguh suatu hal yang indah! Inilah cara yang Allah pilih untuk mempersiapkan Timotius, dan banyak pemimpin Kristen lainnya dari zaman ke zaman.
Jika hanya berfokus kepada faktor ilahi, kita akan kehilangan relevansi dengan realita dunia di mana kita mencoba memimpin. Karena setiap orang yang Allah berikan secara khusus dalam hidup kita, diberikan dengan maksud tertentu. Seorang mentor sangat berperan dalam membentuk hidup seseorang. Juga setiap peristiwa dan setiap pengalaman yang Allah izinkan untuk kita alami, tidak terjadi secara kebetulan.
Jika kita berfokus kepada faktor duniawi, kita akan kehilangan substansi dari kepemimpinan yang coba kita jalankan. Dan perlahan- lahan kita akan kehilangan arti dan arah dari kepemimpinan tersebut.
Namun, kalau kedua faktor tersebut kita pertahankan, kita akan meneruskan pola kepemimpinan Kristus, yang diturunkan kepada Paulus, lalu kepada Timotius, lalu kepada orang-orang yang Allah pakai dari generasi ke generasi menjadi pemimpin-pelayan. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
MENCARI FONDASI BAGI KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF
"Langkah pertama untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif adalah dengan bercermin. Kuasailah keterampilan dalam memimpin diri sendiri, dengan demikian Anda akan meletakkan dasar untuk membantu orang lain agar melakukan hal yang sama."
- Charles C. Manz -
Hukum Pengaruh dari John C. Maxwell menyebutkan bahwa, "Kepemimpinan adalah pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang". Apa yang dikatakan Maxwell benar. Terlepas dari apakah itu bersifat positif maupun negatif, seorang pemimpin dituntut untuk bisa memberikan pengaruh yang bisa menggerakkan setiap obyek yang dipimpinnya untuk bergerak, berubah mengikuti arah tertentu yang menjadi tujuan dan visi dari kepemimpinannya. Seorang pemimpin akan membawa orang yang dipimpinnya berangkat dari satu titik ke titik lainnya, atau dari satu kondisi ke kondisi yang dituju. Tapi darimana sumber kekuatan pengaruh itu bisa diperoleh? Apakah dengan kharisma atau materi yang dimilikinya, melalui otoritas jabatan, atau dengan intimidasi? Cara- cara di atas mungkin bisa berhasil digunakan dalam jangka pendek. Namun semua itu tidak akan menjadikan landasan yang kuat untuk kepemimpinan yang efektif. Apalagi jika area kepemimpinan kita adalah organisasi yang bersifat sukarela. Hal ini disebabkan karena cara-cara di atas cenderung akan memunculkan gerakan/respon yang tidak murni dari obyek kepemimpinan itu sendiri, yang menghasilkan fondasi kepemimpinan yang rapuh.
Dalam bukunya yang berjudul "Leadership Wisdom of Jesus", Charles C. Manz mencoba menjelaskan bagaimana membangun fondasi kepemimpinan yang kokoh, melalui ajaran Yesus di bawah ini:
"Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok di matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Matius 7:3-5)
Ayat di atas mengemukakan pandangan yang berbeda dari Yesus tentang bagaimana seharusnya pendekatan seorang pemimpin terhadap obyek kepemimpinan. Yaitu terlebih dahulu pemimpin ditantang untuk mencermati dan memperbaiki diri mereka sendiri.
Inilah yang sering tidak disadari oleh para pemimpin. Banyak orang yang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa untuk memimpin orang lain, seseorang terlebih dahulu harus terampil dalam memimpin diri sendiri.
Kepemimpinan terhadap orang lain harus datang dari suatu ekspresi yang jujur terhadap kelemahan diri sendiri. Carol A. Connor dalam bukunya "Leadership in A Week" mengungkapkan bahwa "Pemahaman diri bagi seorang pemimpin bisa dijadikan dasar untuk memperbaiki kinerja maupun untuk meningkatkan kepercayaan diri, dan pemahamannya terhadap orang lain". Dari sini jelas bahwa penting bagi seorang pemimpin untuk mendedikasikan waktunya untuk belajar memahami orang lain melalui pemahaman atas diri mereka sendiri. Pemahaman ini meliputi: semua aspek dan nilai-nilai moral yang dianutnya, kelemahan dan kelebihan, serta tujuan hidup dan visi yang sedang diperjuangkannya. Pendekatan melalui empati ini dikenal dengan istilah "Golden Rule", seperti yang dituliskan dalam Injil Matius, yang demikian bunyinya:
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." (Matius 7:12)
Ayat ini menjadi salah satu alasan yang juga mendasari pendapat mengapa seorang pemimpin harus terlebih dahulu bisa memimpin dirinya sebelum dia berusaha untuk memimpin orang lain. Seorang pemimpin harus belajar untuk peka terhadap reaksi orang-orang di sekitarnya terhadap sikap, tindakan dan ucapan mereka, karena tindakan orang lain terhadap kita, umumnya merupakan cerminan dari tindakan kita kepada mereka.
"Cara kita memperlakukan orang lain dapat menjadikan bentuk pemenuhan diri. Sebagai seorang pemimpin Anda akan menemukan yang Anda cari dalam diri orang lain. Mereka akan melakukannya sama seperti atau kurang dari pengharapan Anda."
- Charles C. Manz -
Dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan bahwa landasan yang kuat bagi seorang pemimpin adalah ketika pemimpin tersebut bisa membentuk sebuah model keteladanan (tentu saja dalam hal ini adalah keteladanan yang bernilai positif). Keteladanan akan menjadi kekuatan yang mampu mempengaruhi tanpa harus menggurui dan memaksa.
Keteladanan akan memunculkan sikap hormat dan penghargaan yang tulus yang akan menggerakkan orang lain dengan sukarela. Dengan menjadi model keteladanan, seorang pemimpin dimampukan untuk bisa memberikan dampak bagi lingkungannya, sekaligus menunjukkan kepada obyek yang dipimpinnya bagaimana cara melakukan pelayanan mengembangkan orang lain menjadi pribadi yang efektif, berkualitas dan berkarakter Kristus.
Jadi jika Anda ingin menjadi seorang pemimpin yang efektif, mulailah dengan belajar menguasai keterampilan dalam memimpin diri sendiri. Biarkan orang lain melihat karakter dan kualitas hidup Anda. Dengan demikian Anda akan meletakkan dasar yang kokoh bagi kepemimpinan Anda.
[Oleh: Kristian dari berbagai sumber](SPP)
- Charles C. Manz -
Hukum Pengaruh dari John C. Maxwell menyebutkan bahwa, "Kepemimpinan adalah pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang". Apa yang dikatakan Maxwell benar. Terlepas dari apakah itu bersifat positif maupun negatif, seorang pemimpin dituntut untuk bisa memberikan pengaruh yang bisa menggerakkan setiap obyek yang dipimpinnya untuk bergerak, berubah mengikuti arah tertentu yang menjadi tujuan dan visi dari kepemimpinannya. Seorang pemimpin akan membawa orang yang dipimpinnya berangkat dari satu titik ke titik lainnya, atau dari satu kondisi ke kondisi yang dituju. Tapi darimana sumber kekuatan pengaruh itu bisa diperoleh? Apakah dengan kharisma atau materi yang dimilikinya, melalui otoritas jabatan, atau dengan intimidasi? Cara- cara di atas mungkin bisa berhasil digunakan dalam jangka pendek. Namun semua itu tidak akan menjadikan landasan yang kuat untuk kepemimpinan yang efektif. Apalagi jika area kepemimpinan kita adalah organisasi yang bersifat sukarela. Hal ini disebabkan karena cara-cara di atas cenderung akan memunculkan gerakan/respon yang tidak murni dari obyek kepemimpinan itu sendiri, yang menghasilkan fondasi kepemimpinan yang rapuh.
Dalam bukunya yang berjudul "Leadership Wisdom of Jesus", Charles C. Manz mencoba menjelaskan bagaimana membangun fondasi kepemimpinan yang kokoh, melalui ajaran Yesus di bawah ini:
"Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok di matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Matius 7:3-5)
Ayat di atas mengemukakan pandangan yang berbeda dari Yesus tentang bagaimana seharusnya pendekatan seorang pemimpin terhadap obyek kepemimpinan. Yaitu terlebih dahulu pemimpin ditantang untuk mencermati dan memperbaiki diri mereka sendiri.
Inilah yang sering tidak disadari oleh para pemimpin. Banyak orang yang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa untuk memimpin orang lain, seseorang terlebih dahulu harus terampil dalam memimpin diri sendiri.
Kepemimpinan terhadap orang lain harus datang dari suatu ekspresi yang jujur terhadap kelemahan diri sendiri. Carol A. Connor dalam bukunya "Leadership in A Week" mengungkapkan bahwa "Pemahaman diri bagi seorang pemimpin bisa dijadikan dasar untuk memperbaiki kinerja maupun untuk meningkatkan kepercayaan diri, dan pemahamannya terhadap orang lain". Dari sini jelas bahwa penting bagi seorang pemimpin untuk mendedikasikan waktunya untuk belajar memahami orang lain melalui pemahaman atas diri mereka sendiri. Pemahaman ini meliputi: semua aspek dan nilai-nilai moral yang dianutnya, kelemahan dan kelebihan, serta tujuan hidup dan visi yang sedang diperjuangkannya. Pendekatan melalui empati ini dikenal dengan istilah "Golden Rule", seperti yang dituliskan dalam Injil Matius, yang demikian bunyinya:
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." (Matius 7:12)
Ayat ini menjadi salah satu alasan yang juga mendasari pendapat mengapa seorang pemimpin harus terlebih dahulu bisa memimpin dirinya sebelum dia berusaha untuk memimpin orang lain. Seorang pemimpin harus belajar untuk peka terhadap reaksi orang-orang di sekitarnya terhadap sikap, tindakan dan ucapan mereka, karena tindakan orang lain terhadap kita, umumnya merupakan cerminan dari tindakan kita kepada mereka.
"Cara kita memperlakukan orang lain dapat menjadikan bentuk pemenuhan diri. Sebagai seorang pemimpin Anda akan menemukan yang Anda cari dalam diri orang lain. Mereka akan melakukannya sama seperti atau kurang dari pengharapan Anda."
- Charles C. Manz -
Dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan bahwa landasan yang kuat bagi seorang pemimpin adalah ketika pemimpin tersebut bisa membentuk sebuah model keteladanan (tentu saja dalam hal ini adalah keteladanan yang bernilai positif). Keteladanan akan menjadi kekuatan yang mampu mempengaruhi tanpa harus menggurui dan memaksa.
Keteladanan akan memunculkan sikap hormat dan penghargaan yang tulus yang akan menggerakkan orang lain dengan sukarela. Dengan menjadi model keteladanan, seorang pemimpin dimampukan untuk bisa memberikan dampak bagi lingkungannya, sekaligus menunjukkan kepada obyek yang dipimpinnya bagaimana cara melakukan pelayanan mengembangkan orang lain menjadi pribadi yang efektif, berkualitas dan berkarakter Kristus.
Jadi jika Anda ingin menjadi seorang pemimpin yang efektif, mulailah dengan belajar menguasai keterampilan dalam memimpin diri sendiri. Biarkan orang lain melihat karakter dan kualitas hidup Anda. Dengan demikian Anda akan meletakkan dasar yang kokoh bagi kepemimpinan Anda.
[Oleh: Kristian dari berbagai sumber](SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
PEMIMPIN KRISTEN: BERDASAR KINERJA ATAU BERDASAR KARUNIA
Kesan orang banyak di kalangan Kristen adalah, bila pemimpin hidup berdasarkan karunia sering berarti ia tidak perlu bekerja keras, membuat strategic planning atau mengukur keberhasilannya. Di pihak lain, bila seseorang hidup berdasar karunia berarti ia harus mengabaikan kenyataan bahwa ia hidup di dalam kinerja. Benarkah dikotomi serupa itu?
Dalam kenyataan, bila seorang pemimpin hidup tanpa kerja keras dan tanggung jawab dalam meneliti kemajuannya, ia akan berhenti menjadi pemimpin yang membawa orang kepada visi, perubahan dan pergerakan. Ia hanya menjadi pengelola. Sebaliknya, tanpa kesadaran bahwa ia hidup di dalam karunia (baca: Yancey), maka ia cenderung hanya hidup dan memimpin demi dirinya sendiri. Ia akan mudah terjebak mengejar image yang baik. Ia menggunakan topeng demi memenuhi tuntutan orang yang dipimpinnya. Ia juga akan mudah menjelek-jelekan pemimpin lain, apa lagi yang lebih baik daripada dirinya. Contoh dalam Matius 6 mengenai orang Parisi mencerminkan bagaimana seorang pemimpin jatuh terbelenggu oleh hidup berdasarkan kinerja saja. Terhadap hal itu Kristus justru mengajarkan prinsip untuk menyembunyikan kinerja yang baik.
Apa arti hidup dalam karunia? Pertanyaan ini seakan merupakan suatu pertanyaan yang paling mendasar-hal yang semestinya diajukan kepada orang Kristen yang masih baru. Hidup di dalam karunia berarti adanya kepastian dan keamanan (security) bahwa apapun hasil pekerjaannya, Tuhan akan memahami dan menerima hasil kerja seorang pemimpin selama keintiman hubungan kasih di antara mereka terjaga dengan baik. Bagi Tuhan, sang pemimpin itu memiliki cacad dan kelemahan, namun justru Ia semakin menyayanginya karena lepas dari kelemahannya, orang itu justru bersedia menyambut panggilanNya dan terus belajar dariNya. Inilah misteri kebesaran kasih Tuhan. Ia memang mencintai anak-anakNya tanpa alasan lain kecuali bahwa, Ia memang mencintai mereka.
Karena karunia ini menjadi nafas hidup atau kesadaran setiap detik, maka aplikasinya tidak berarti bahwa sang pemimpin harus menjadi orang yang hidup santai, atau sekedar mengambang. Justru sebaliknya. Ia pantas mewujudkan kesadaran tadi dalam bentuk syukur yang mendalam atas kebaikan Tuhan bahkan dalam perilaku yang menyenangkanNya.
Karena komitmennya mewujudkan perilaku tadi, maka ia melayani Tuhan sesuai dengan cara Tuhan bekerja, yaitu ada keteraturan, ada penilaian, dan ada visi yang Tuhan berikan serta ia kejar. Dengan kata lain, sambil mengingat karunia Tuhan sebagai dasar keberadaannya dan motivasi pelayanannya, maka ia melayani dan bersedia mengejar kinerja yang terbaik agar visi dan misi persekutuannya dapat tercapai. Ia hidup bagaikan seorang pendaki gunung yang harus menjaga nafasnya, langkahnya, persiapan bekalnya, dan sebagainya sambil mengiringi Kristus (Kristus dan murid-murid naik gunung).
Jadi, apakah seorang pemimpin harus dinilai dalam prestasinya? Tentu saja. Apakah gerejanya atau komunitasnya dinilai? Tentu? Artinya semua yang Tuhan berikan, baik itu waktu, uang, tenaga dan metode harus dinilai secara berkala terhadap visi dan misi yang akan dicapai. Setiap upaya menilai tadi bukan diarahkan untuk mencari jalan mendiskreditkan, namun justru untuk memperlihatkan arah pembelajaran yang harus ditempuh. (SPP)
Dalam kenyataan, bila seorang pemimpin hidup tanpa kerja keras dan tanggung jawab dalam meneliti kemajuannya, ia akan berhenti menjadi pemimpin yang membawa orang kepada visi, perubahan dan pergerakan. Ia hanya menjadi pengelola. Sebaliknya, tanpa kesadaran bahwa ia hidup di dalam karunia (baca: Yancey), maka ia cenderung hanya hidup dan memimpin demi dirinya sendiri. Ia akan mudah terjebak mengejar image yang baik. Ia menggunakan topeng demi memenuhi tuntutan orang yang dipimpinnya. Ia juga akan mudah menjelek-jelekan pemimpin lain, apa lagi yang lebih baik daripada dirinya. Contoh dalam Matius 6 mengenai orang Parisi mencerminkan bagaimana seorang pemimpin jatuh terbelenggu oleh hidup berdasarkan kinerja saja. Terhadap hal itu Kristus justru mengajarkan prinsip untuk menyembunyikan kinerja yang baik.
Apa arti hidup dalam karunia? Pertanyaan ini seakan merupakan suatu pertanyaan yang paling mendasar-hal yang semestinya diajukan kepada orang Kristen yang masih baru. Hidup di dalam karunia berarti adanya kepastian dan keamanan (security) bahwa apapun hasil pekerjaannya, Tuhan akan memahami dan menerima hasil kerja seorang pemimpin selama keintiman hubungan kasih di antara mereka terjaga dengan baik. Bagi Tuhan, sang pemimpin itu memiliki cacad dan kelemahan, namun justru Ia semakin menyayanginya karena lepas dari kelemahannya, orang itu justru bersedia menyambut panggilanNya dan terus belajar dariNya. Inilah misteri kebesaran kasih Tuhan. Ia memang mencintai anak-anakNya tanpa alasan lain kecuali bahwa, Ia memang mencintai mereka.
Karena karunia ini menjadi nafas hidup atau kesadaran setiap detik, maka aplikasinya tidak berarti bahwa sang pemimpin harus menjadi orang yang hidup santai, atau sekedar mengambang. Justru sebaliknya. Ia pantas mewujudkan kesadaran tadi dalam bentuk syukur yang mendalam atas kebaikan Tuhan bahkan dalam perilaku yang menyenangkanNya.
Karena komitmennya mewujudkan perilaku tadi, maka ia melayani Tuhan sesuai dengan cara Tuhan bekerja, yaitu ada keteraturan, ada penilaian, dan ada visi yang Tuhan berikan serta ia kejar. Dengan kata lain, sambil mengingat karunia Tuhan sebagai dasar keberadaannya dan motivasi pelayanannya, maka ia melayani dan bersedia mengejar kinerja yang terbaik agar visi dan misi persekutuannya dapat tercapai. Ia hidup bagaikan seorang pendaki gunung yang harus menjaga nafasnya, langkahnya, persiapan bekalnya, dan sebagainya sambil mengiringi Kristus (Kristus dan murid-murid naik gunung).
Jadi, apakah seorang pemimpin harus dinilai dalam prestasinya? Tentu saja. Apakah gerejanya atau komunitasnya dinilai? Tentu? Artinya semua yang Tuhan berikan, baik itu waktu, uang, tenaga dan metode harus dinilai secara berkala terhadap visi dan misi yang akan dicapai. Setiap upaya menilai tadi bukan diarahkan untuk mencari jalan mendiskreditkan, namun justru untuk memperlihatkan arah pembelajaran yang harus ditempuh. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
6 TIPS BAGI KEPEMIMPINAN MELAYANI YANG EFEKTIF
1. Belajarlah bagaimana melontarkan pertanyaan dan gagasan untuk memberi masukan tim. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini?", "Apakah ada yang punya pendapat mengenai topik ini?", "Bagaimana kamu melihat proposal ini?" harus anda biasakan daripada secara sukarela menjawab semua hal sendiri.
2. Mencari kesepakatan. Kesepakatan tidak berarti semua pihak menyetujui 100% apa yang telah diputuskan, tapi kesepakatan adalah saat dimana seluruh tim mampu menerima dan mendukung keputusan yang telah diambil. Pemimpin yang melayani (Fasilitator) dapat membantu untuk membuat diskusi untuk mencapai kesepakatan dengan:
o memastikan kriteria evaluasi telah terbentuk dan berjalan
o memberikan waktu dan kesempatan yang memadai bagi tiap orang untuk berpartisipasi
o anggota tim tidak terburu-buru menyerah demi menghindari konflik
o konflik dapat diselesaikan dengan produktif
3. Fasilitator perlu mendorong partisipasi kelompok, khususnya di tahap-tahap awal pembentukan, jika perlu juga merancang topik yang akan didiskusikan sehingga semua mendapat bagian.
4. Fasilitator yang efektif menjalankan pertemuan-pertemuan yang efektif, yaitu pertemuan yang memiliki agenda dan waktu yang jelas, langkah-langkah dan kegiatan dicatat serta dibagikan, namun tetap memiliki cukup waktu bagi diskusi yang produktif.
5. Fasilitator perlu memonitor dan memproses tim, mengamati dimana saja potensi konflik dapat muncul, memberi dukungan yang lebih besar pada masa-masa penuh tekanan, mendorong anggota baru untuk bergabung dalam tim.
6. Terakhir, seorang fasilitator tidak takut menangani konflik dan mengatur hal-hal dalam tim secara produktif. Rintangan-rintangan bagi kesuksesan kelompok, baik hal-hal dari luar menyangkut pekerjaan yang harus segera diselesaikan atau anggota kelompok yang sulit harus diatasi supaya tim dapat tetap melangkah ke depan dan menyelesaikan apa yang mereka kerjakan.
JAWABAN YANG DIANJURKAN: Kami menganjurkan gaya kepemimpinan mengajar cocok dilaksanakan di situasi no 2 dan 3, sementara gaya kepemimpinan melayani lebih baik untuk dilakukan di no 1,4 dan 5. (SPP)
2. Mencari kesepakatan. Kesepakatan tidak berarti semua pihak menyetujui 100% apa yang telah diputuskan, tapi kesepakatan adalah saat dimana seluruh tim mampu menerima dan mendukung keputusan yang telah diambil. Pemimpin yang melayani (Fasilitator) dapat membantu untuk membuat diskusi untuk mencapai kesepakatan dengan:
o memastikan kriteria evaluasi telah terbentuk dan berjalan
o memberikan waktu dan kesempatan yang memadai bagi tiap orang untuk berpartisipasi
o anggota tim tidak terburu-buru menyerah demi menghindari konflik
o konflik dapat diselesaikan dengan produktif
3. Fasilitator perlu mendorong partisipasi kelompok, khususnya di tahap-tahap awal pembentukan, jika perlu juga merancang topik yang akan didiskusikan sehingga semua mendapat bagian.
4. Fasilitator yang efektif menjalankan pertemuan-pertemuan yang efektif, yaitu pertemuan yang memiliki agenda dan waktu yang jelas, langkah-langkah dan kegiatan dicatat serta dibagikan, namun tetap memiliki cukup waktu bagi diskusi yang produktif.
5. Fasilitator perlu memonitor dan memproses tim, mengamati dimana saja potensi konflik dapat muncul, memberi dukungan yang lebih besar pada masa-masa penuh tekanan, mendorong anggota baru untuk bergabung dalam tim.
6. Terakhir, seorang fasilitator tidak takut menangani konflik dan mengatur hal-hal dalam tim secara produktif. Rintangan-rintangan bagi kesuksesan kelompok, baik hal-hal dari luar menyangkut pekerjaan yang harus segera diselesaikan atau anggota kelompok yang sulit harus diatasi supaya tim dapat tetap melangkah ke depan dan menyelesaikan apa yang mereka kerjakan.
JAWABAN YANG DIANJURKAN: Kami menganjurkan gaya kepemimpinan mengajar cocok dilaksanakan di situasi no 2 dan 3, sementara gaya kepemimpinan melayani lebih baik untuk dilakukan di no 1,4 dan 5. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
PEMIMPIN YANG MELAYANI
Gaya kepemimpinan yang melayani memberi kebebasan bagi tim menikmati kesuksesan yang telah mereka peroleh sembari mengembangkan kemampuannya untuk bertindak. Gaya ini mempunyai beberapa perbedaan dari gaya pemimpin yang "mengajar".
PEMIMPIN YANG "MENGAJAR"- fokus pada pekerjaan- pemimpin mengambil keputusan- merupakan "Ahli" di bidangnya- Pemimpin menjawab pertanyaan- komunikasi satu arah.
PEMIMPIN YANG "MELAYANI"- fokus pada orang-orang dan pekerjaan- mendorong forum untuk ikut mengambil keputusan- mengembangkan keahlian- pemimpin melontarkan pertanyaan- komunikasi dua arah.
Kedua model kepemimpinan tersebut sesuai untuk diterapkan di situasi yang berbeda pula. Kita bisa ambil contoh pelayanan khotbah yang menggunakan gaya mengajar karena gaya itulah yang paling sesuai untuk tugas tersebut. Namun itu juga berarti pemimpin gereja akan menjadi terbiasa menggunakan gaya mengajar, meski seharusnya mereka juga harus ingat untuk menggunakan gaya melayani di lain situasi.
LATIHAN- Gaya yang mana yang anda sarankan untuk situasi berikut ini?
1. Sebuah organisasi gereja ingin mengevaluasi ulang strategi misinya.
2. Para jemaat mempunyai beberapa pertanyaan detail setelah mendengar seri khotbah di Roma.
3. Alarm kebakaran tiba-tiba berbunyi saat anda sedang memimpin pelayanan di gereja.
4. Staf keuangan yang baru bertanya apakah dia dapat mempresentasikan laporan keuangannya secara berbeda tahun ini.
5. Rapat evaluasi semester dengan guru-guru sekolah minggu mengenai program mereka. (SPP)
PEMIMPIN YANG "MENGAJAR"- fokus pada pekerjaan- pemimpin mengambil keputusan- merupakan "Ahli" di bidangnya- Pemimpin menjawab pertanyaan- komunikasi satu arah.
PEMIMPIN YANG "MELAYANI"- fokus pada orang-orang dan pekerjaan- mendorong forum untuk ikut mengambil keputusan- mengembangkan keahlian- pemimpin melontarkan pertanyaan- komunikasi dua arah.
Kedua model kepemimpinan tersebut sesuai untuk diterapkan di situasi yang berbeda pula. Kita bisa ambil contoh pelayanan khotbah yang menggunakan gaya mengajar karena gaya itulah yang paling sesuai untuk tugas tersebut. Namun itu juga berarti pemimpin gereja akan menjadi terbiasa menggunakan gaya mengajar, meski seharusnya mereka juga harus ingat untuk menggunakan gaya melayani di lain situasi.
LATIHAN- Gaya yang mana yang anda sarankan untuk situasi berikut ini?
1. Sebuah organisasi gereja ingin mengevaluasi ulang strategi misinya.
2. Para jemaat mempunyai beberapa pertanyaan detail setelah mendengar seri khotbah di Roma.
3. Alarm kebakaran tiba-tiba berbunyi saat anda sedang memimpin pelayanan di gereja.
4. Staf keuangan yang baru bertanya apakah dia dapat mempresentasikan laporan keuangannya secara berbeda tahun ini.
5. Rapat evaluasi semester dengan guru-guru sekolah minggu mengenai program mereka. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
TANPA KOMUNIKASI, SEORANG PEMIMPIN AKAN BERJALAN SENDIRIAN
Kesuksesan kepemimpinan, pekerjaan, dan hubungan-hubungan pribadi Anda sangat tergantung pada kemampuan Anda berkomunikasi. Orang takkan mengikuti Anda jika mereka tidak tahu apa yang Anda inginkan atau ke mana tujuan Anda. Anda dapat menjadi komunikator yang lebih efektif jika mengikuti empat kebenaran dasar berikut ini.
1. Sederhanakanlah Pesan Anda Komunikasi bukanlah sekadar soal apa yang Anda ucapkan, melainkan juga bagaimana Anda mengucapkannya. Kunci komunikasi yang efektif adalah kesederhanaan. Lupakanlah upaya mengesankan orang lain dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang canggih. Jika Anda ingin membina hubungan dengan sesama, utamakanlah kesederhanaan. Napoleon Bonaparte selalu mengatakan kepada para sekretarisnya, "Yang jelas, yang jelas".
Seorang eksekutif junior diundang untuk berbicara kepada orang banyak untuk pertama kalinya. Maka, ia pun mendekati pembimbingnya untuk meminta nasihat tentang berpidato yang baik. Kata pembimbingnya, "Siapkanlah pembukaan yang bersemangat, yang akan menarik perhatian seluruh hadirin. Lalu siapkanlah rangkuman serta penutupan yang dramatis, yang akan membuat orang jadi ingin bertindak. Lalu janganlah bertele-tele di tengah-tengahnya."
2. Pandanglah Lawan Bicara Anda Komunikator yang ulung berfokus pada lawan bicaranya. Mereka tahu bahwa tidak mungkin berkomunikasi dengan efektif kepada hadirin tanpa mengetahui apa pun menyangkut mereka.
Sementara Anda berkomunikasi dengan orang -- entah secara individu atau secara kelompok -- tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri sendiri. Siapakah pendengar saya? Apakah pertanyaan-pertanyaan mereka? Apakah yang perlu dicapai? Dan berapa banyakkah waktu yang saya miliki? Jika Anda ingin menjadi komunikator yang lebih baik, berorientasilah pada pendengar. Orang memercayai komunikator ulung karena komunikator ulung itu pun memercayai orang.
3. Tunjukkanlah Kebenaran
Kredibilitas mendahului komunikasi yang hebat. Ada dua cara untuk menyampaikan kredibilitas kepada pendengar Anda. Pertama, percayalah kepada apa yang Anda ucapkan. Orang biasa akan menjadi komunikator ulung jika memiliki semangat keyakinan yang tinggi. Jendral Lapangan Ferdinand Foch berkata, "Senjata yang paling ampuh di bumi adalah jiwa manusia yang berkobar-kobar." Kedua, amalkanlah ucapan Anda. Tak ada kredibilitas yang lebih besar ketimbang keyakinan pada tindakan.
4. Tariklah Respons Sementara Anda berkomunikasi, janganlah pernah lupa bahwa sasaran dari komunikasi adalah tindakan. Jika Anda melemparkan sejumlah informasi kepada orang lain, Anda bukan sedang berkomunikasi. Setiap kali Anda berbicara kepada orang lain, berilah mereka sesuatu untuk dirasakan, diingat, dan dilakukan. Jika sukses melakukannya, kemampuan Anda untuk memimpin orang lain akan meningkat. (SPP)
1. Sederhanakanlah Pesan Anda Komunikasi bukanlah sekadar soal apa yang Anda ucapkan, melainkan juga bagaimana Anda mengucapkannya. Kunci komunikasi yang efektif adalah kesederhanaan. Lupakanlah upaya mengesankan orang lain dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang canggih. Jika Anda ingin membina hubungan dengan sesama, utamakanlah kesederhanaan. Napoleon Bonaparte selalu mengatakan kepada para sekretarisnya, "Yang jelas, yang jelas".
Seorang eksekutif junior diundang untuk berbicara kepada orang banyak untuk pertama kalinya. Maka, ia pun mendekati pembimbingnya untuk meminta nasihat tentang berpidato yang baik. Kata pembimbingnya, "Siapkanlah pembukaan yang bersemangat, yang akan menarik perhatian seluruh hadirin. Lalu siapkanlah rangkuman serta penutupan yang dramatis, yang akan membuat orang jadi ingin bertindak. Lalu janganlah bertele-tele di tengah-tengahnya."
2. Pandanglah Lawan Bicara Anda Komunikator yang ulung berfokus pada lawan bicaranya. Mereka tahu bahwa tidak mungkin berkomunikasi dengan efektif kepada hadirin tanpa mengetahui apa pun menyangkut mereka.
Sementara Anda berkomunikasi dengan orang -- entah secara individu atau secara kelompok -- tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri sendiri. Siapakah pendengar saya? Apakah pertanyaan-pertanyaan mereka? Apakah yang perlu dicapai? Dan berapa banyakkah waktu yang saya miliki? Jika Anda ingin menjadi komunikator yang lebih baik, berorientasilah pada pendengar. Orang memercayai komunikator ulung karena komunikator ulung itu pun memercayai orang.
3. Tunjukkanlah Kebenaran
Kredibilitas mendahului komunikasi yang hebat. Ada dua cara untuk menyampaikan kredibilitas kepada pendengar Anda. Pertama, percayalah kepada apa yang Anda ucapkan. Orang biasa akan menjadi komunikator ulung jika memiliki semangat keyakinan yang tinggi. Jendral Lapangan Ferdinand Foch berkata, "Senjata yang paling ampuh di bumi adalah jiwa manusia yang berkobar-kobar." Kedua, amalkanlah ucapan Anda. Tak ada kredibilitas yang lebih besar ketimbang keyakinan pada tindakan.
4. Tariklah Respons Sementara Anda berkomunikasi, janganlah pernah lupa bahwa sasaran dari komunikasi adalah tindakan. Jika Anda melemparkan sejumlah informasi kepada orang lain, Anda bukan sedang berkomunikasi. Setiap kali Anda berbicara kepada orang lain, berilah mereka sesuatu untuk dirasakan, diingat, dan dilakukan. Jika sukses melakukannya, kemampuan Anda untuk memimpin orang lain akan meningkat. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
KEPEMIMPINAN KRISTEN: APAKAH ITU?
Kepemimpinan dapat dilihat dari banyak sudut yang berbeda. Kepemimpinan adalah suatu posisi. Perusahaan mempunyai para pemimpin. Organisasi mempunyai para pemimpin. Kelompok mempunyai pemimpin. Kepemimpinan adalah suatu hubungan. Pemimpin adalah orang yang mempunyai pengikut - menurut definisinya. Mungkin orang-orang mengikuti karena inspirasi, kepentingan pribadi, atau karena struktur organisasi, tetapi pengikut mutlak harus ada. Kepemimpinan adalah tindakan. Pemimpin dikenal melalui tindakan kepemimpinan yang diperlihatkan mereka. Seseorang mungkin mempunyai sederetan sifat seorang pemimpin, tetapi bila ia tidak pernah mengambil tindakan untuk memimpin, ia bukan (belum menjadi) seorang pemimpin. Pada dasamya kepemimpinan Kristen berbeda dari bentukbentuk kepemimpinan yang lain dalam hal motivasinya, yaitu alasan dari tindakan- tindakannya.
BAGAIMANA MENDEFINISIKAN SEORANG PEMIMPIN .
Selama bertahun-tahun telah berlangsung perdebatan mengenai bagaimana mendefinisikan seorang pemimpin. Apakah seseorang disebut pemimpin karena kualitas atau sifat yang diperankannya?
Apakah seseorang disebut pemimpin sebagai akibat dari hubungannya dengan satu kelompok? Apakah seseorang disebut pemimpin karena hal- hal yang dilakukannya? Selama ini ada kebingungan yang umum antara pribadi atau peran dari pemimpin dengan peran manajer (atau administratur atau eksekutif atau direktur atau jenderal atau penguasa atau apa pun nama yang diberikan pada kedudukan seseorang). Kebingungan ini cukup wajar. Orang-orang yang temyata merupakan pemimpin yang baik temyata duduk dalam kedudukan pemimpin. Karena mereka jarang dikenal sebagai pemimpin sampai mereka mengambil peran pemimpin, maka sulit untuk membedakan individu dengan perannya. "Kepemimpinan sangatlah penting. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menggantikannya. Tetapi kepemimpinan tidak dapat diciptakan atau dipromosikan. Kepemimpinan tidak dapat diajarkan ataupun dipelajari". Itulah yang ditulis oleh pakar manajemen, Peter Drucker, dalam bukunya, The Practice of Management (Harper & Row, 1954, hal. 158). Drucker percaya bahwa tugas dari suatu organisasi adalah menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kualitas kepemimpinan yang potensial menjadi efektif. Dengan kata lain, sifat-sifat kepemimpinan adalah bagian dari susunan dasar seseorang. Sifat-sifat tersebut tidak dengan sendirinya akan menjadi jelas sampai orang itu ada dalam situasi kepemimpinan. Sebagian besar, walaupun tidak semua, orang yang ada dalam posisi memimpin telah ditempatkan di sana karena kemampuan memimpin mereka telah diketahui. Bila Anda atau rekan Anda tidak mempunyai karakter dasar seorang pemimpin, Anda tidak akan menjadi seorang pemimpin. Tetapi tidak berarti bahwa orang yang mempunyai potensi sebagai pemimpin akan dengan sendirinya mendapatkan peran sebagai pemimpin. Kalau begitu, apa definisi seorang pemimpin itu? Definisi yang paling tepat ialah seseorang yang mempunyai pengikut-pengikut dalam situasi tertentu. Tidak semua orang akan menjadi pemimpin dalam setiap situasi. Tetapi seorang pemimpin akan dikenali dari kenyataan bahwa ia mempunyai pengikut.
APAKAH ADA KUALITAS DASAR?
Kalau begitu, apakah ada kualitas dasar yang dimiliki oleh semua pemimpin pada tingkat tertentu? Para pengamat pemimpin, dan mereka yang pernah menjadi pemimpin, tampaknya menunjukkan sejumlah sifat yang universal. Beberapa sifat tersebut bersifat keturunan atau berkaitan erat dengan lingkungan khusus. Yang lainnya adalah sifat yang dipelajari. Dedikasi tanpa pamrih adalah hal pertama yang dikemukakan oleh Jenderal Eisenhower ("What is Leadership", majalah Reader's Digest, Juni 1965, hal. 50). Dalam diri seorang pemimpin ada keyakinan terhadap apa yang sedang dilakukannya, sasaran yang ingin diraihnya, alasan yang didukungnya, yang melampaui pribadinya. Ia bahkan bersedia mengorbankan dirinya untuk menyelesaikan tugasnya. Ini membutuhkan keberanian. Bertahan walaupun menghadapi berbagai rintangan yang nyata, membuat keputusan dengan informasi yang tidak memadai, mempertaruhkan reputasi dan kesejahteraan materi, membutuhkan keberanian yang didasarkan pada keyakinan. Sebagian besar dari keberanian ini akan menampakkan dirinya dalam ketegasan mengambil keputusan. Keputusan harus diambil. Orang lain boleh bimbang, namun pemimpin membuat keputusan dan melaksanakannya. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan persuasif. Bila orang-orang mau ikut, mereka harus diyakinkan bahwa sasaran dan aspirasi pemimpin layak untuk memperoleh dedikasi mereka dan dimotivasi untuk mencobanya. Yang menarik, hampir ada kesepakatan yang universal bahwa para pemimpin yang paling menonjol mempunyai kerendahan hati yang membuat mereka bersedia menerima tanggung jawab atas kegagalan dan juga keberhasilan. Sampai pada tahap ini kita membicarakan kualitas yang mungkin dimiliki oleh siapa saja dalam bidang apa saja. Tetapi bagi sebagian besar situasi kepemimpinan, harus ada kecakapan; orang tersebut harus mempunyai kecakapan dalam bidang yang sedang dikerjakannya. Tanpa kecakapan hanya sedikit peperangan yang akan dimenangkan, tidak akan ada kapal laut yang berlabuh, tidak akan ada organisasi (Kristen ataupun yang lain) yang bertahan lama. Tentu saja kecakapan, membutuhkan kecerdasan dan kreativitas sampai pada tingkat mana pun yang dibutuhkan. Banyak orang berpikir bahwa para pemimpin mempunyai kepribadian atau karisma yang hebat. Baik pengamatan pribadi maupun sedikit penelitian akan segera memperlihatkan kepada Anda bahwa "kepribadian" bukanlah salah satu kualitas dasar. Ada pemimpin yang pribadinya hangat dan ramah. Ada juga yang dingin dan tidak ramah, dan ada juga yang sangat dikenal oleh umum karena gaya mereka, dan mereka yang pendiam. Para pemimpin juga tidak dapat digolongkan berdasarkan cara mereka mengerjakan tugas mereka. Ada berbagai gaya kepemimpinan yang berbeda - diktator, otokrasi, penuh kebajikan, demokrasi. Beberapa orang memimpin melalui teladan. Yang lain memimpin dengan mengacu kepada acus orang banyak. Beberapa pemimpin adalah orang-orang pemecah masalah yang bekerja dengan baik dalam kelompok. Yang lainnya mungkin membanggakan diri mereka atas kemampuan mereka dalam mengambil keputusan dan bersukacita dengan keputusan pribadi yang dibuat dengan cepat. Dalam masyarakat yang kompleks di mana sebagian besar dari kita bekerja, mereka yang memegang posisi kepemimpinan. dalam organisasi yang dinamis telah belajar menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka pada situasi tersebut.
BAGAIMANA MENEMUKAN PEMIMPIN YANG BAIK
Bila Drucker benar, bila kepemimpinan "tidak dapat diajarkan atau dipelajari", lalu apakah yang dapat kita lakukan untuk menemukan, mempersiapkan, dan memilih pemimpin yang terbaik? Jawabannya terletak dalam pembentukan organisasi yang mendorong dan mempromosikan kualitas-kualitas dasar ini. Kepemimpinan berkaitan erat dengan situasi. Kepemimpinan adalah kombinasi antara pemimpin yang tepat yang memimpin kelompok yang tepat dalam serangkaian situasi yang tepat. (Pemimpin yang paling kompeten adalah pemimpin yang dapat meneruskan kepemimpinannya dalam sejumlah situasi dalam arti yang paling luas.) Apakah Anda ingin menarik dan memupuk pemimpin yang baik? Bangunlah di dalam organisasi Anda sasaran dan tujuan yang membutuhkan dedikasi dan keberanian. Tentukanlah standar perilaku, tanggung jawab, dan kinerja yang tinggi. Perlihatkan rasa hormat kepada seseorang dan pekerjaannya. Ciptakanlah iklim di mana pemimpin yang baik akan terlihat dan dipupuk.
Sekali iklim tersebut hadir, pemimpin-pemimpin yang baik akan mulai mengidentifikasi diri mereka. Pada saat itulah latihan dapat dimulai. Sebagaimana yang kami katakan sebelumnya, pemimpin harus mempunyai kecakapan yang memadai di bidang mereka. Bila seseorang harus memikul tanggung jawab yang lebih luas, ia harus memperoleh latihan khusus yang diperlukan. Hal ini dapat diperoleh secara formal melalui pendidikan akademis lanjutan atau latihan kerja. Bila dipilih latihan kerja, maka harus diperhatikan bahwa baik orang tersebut maupun pengawas mengerti tujuan-tujuan (yang dapat diukur) dari latihan tersebut.
Ini tidak berarti bahwa karena seseorang menonjol secara teknis, maka dengan sendirinya ia adalah pemimpin. Menaruh seseorang yang cakap secara teknis dalam kedudukan pemimpin sementara orang tersebut bukan pemimpin hanya akan membuktikan kebenaran Prinsip Peter. ("Setiap orang pada akhirnya sampai kepada tingkat ketidakmampuannya".)
APAKAH KEPEMIMPINAN KRISTEN ITU?
Sejauh ini kita belum banyak berbicara mengenai kepemimpinan Kristen, selain mengemukakan bahwa hal itu berbeda secara mendasar dalam motivasinya. Akan tetapi, selama ini kami memperhatikan bahwa organisasi-organisasi yang memberi prioritas yang tinggi kepada pentingnya individu, kepada standar perilaku pribadi yang tinggi, kepada komunikasi yang baik, baik ke atas maupun ke bawah, organisasi-organisasi yang mempunyai keyakinan yang benar, bisa melampaui yang lainnya. Kami juga memperhatikan bahwa terlalu sering organisasi-organisasi Kristen mempunyai standar individu dan prestasi bersama yang lebih rendah daripada organisasi-organisasi sekuler.
Apakah kepemimpinan Kristen itu? Kepemimpinan Kristen ialah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih dan disediakan khusus untuk melayani. Itu merupakan kepemimpinan yang telah diserahkan kepada kekuasaan Kristus dan teladan-Nya. Para pemimpin Kristen yang terbaik memperlihatkan sifat-sifat yang penuh dengan dedikasi tanpa pamrih, keberanian, ketegasan, belas kasihan, dan kepandaian persuasif yang menjadi ciri pemimpin agung.
Pemimpin Kristen sejati telah menemukan bahwa kepemimpinan dimulai dari handuk dan baskom - dalam peran seorang pelayan:
1. Dedikasi tanpa pamrih dimungkinkan karena orang Kristen tahu bahwa Allah mempunyai strategi besar di mana ia menjadi bagiannya.
2. Keberanian diperbesar oleh kekuatan yang datang dari Roh yang berdiam di dalam hati kita.
3. Ketegasan datang karena mengetahui bahwa tanggung jawab akhir tidak terletak pada dirinya.
4. Kepandaian persuasif didasarkan pada kesetiaan kepada satu alasan yang melampaui segala alasan lainnya.
5. Kerendahan hati berasal dari kesadaran bahwa Allahlah yang melakukan pekerjaan tersebut.
APAKAH ANDA SEORANG PEMIMPIN?
Apakah Anda seorang pemimpin Kristen? Memimpinlah! Maksud dari kepemimpinan adalah untuk memimpin. (SPP)
Sumber:
Buku : Kepemimpinan Kristen
Penulis : Dr. Yakob Tomatala
Penerbit : YT Leadership Foundation, Jakarta, 2002
Hal : 12 - 15
BAGAIMANA MENDEFINISIKAN SEORANG PEMIMPIN .
Selama bertahun-tahun telah berlangsung perdebatan mengenai bagaimana mendefinisikan seorang pemimpin. Apakah seseorang disebut pemimpin karena kualitas atau sifat yang diperankannya?
Apakah seseorang disebut pemimpin sebagai akibat dari hubungannya dengan satu kelompok? Apakah seseorang disebut pemimpin karena hal- hal yang dilakukannya? Selama ini ada kebingungan yang umum antara pribadi atau peran dari pemimpin dengan peran manajer (atau administratur atau eksekutif atau direktur atau jenderal atau penguasa atau apa pun nama yang diberikan pada kedudukan seseorang). Kebingungan ini cukup wajar. Orang-orang yang temyata merupakan pemimpin yang baik temyata duduk dalam kedudukan pemimpin. Karena mereka jarang dikenal sebagai pemimpin sampai mereka mengambil peran pemimpin, maka sulit untuk membedakan individu dengan perannya. "Kepemimpinan sangatlah penting. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menggantikannya. Tetapi kepemimpinan tidak dapat diciptakan atau dipromosikan. Kepemimpinan tidak dapat diajarkan ataupun dipelajari". Itulah yang ditulis oleh pakar manajemen, Peter Drucker, dalam bukunya, The Practice of Management (Harper & Row, 1954, hal. 158). Drucker percaya bahwa tugas dari suatu organisasi adalah menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kualitas kepemimpinan yang potensial menjadi efektif. Dengan kata lain, sifat-sifat kepemimpinan adalah bagian dari susunan dasar seseorang. Sifat-sifat tersebut tidak dengan sendirinya akan menjadi jelas sampai orang itu ada dalam situasi kepemimpinan. Sebagian besar, walaupun tidak semua, orang yang ada dalam posisi memimpin telah ditempatkan di sana karena kemampuan memimpin mereka telah diketahui. Bila Anda atau rekan Anda tidak mempunyai karakter dasar seorang pemimpin, Anda tidak akan menjadi seorang pemimpin. Tetapi tidak berarti bahwa orang yang mempunyai potensi sebagai pemimpin akan dengan sendirinya mendapatkan peran sebagai pemimpin. Kalau begitu, apa definisi seorang pemimpin itu? Definisi yang paling tepat ialah seseorang yang mempunyai pengikut-pengikut dalam situasi tertentu. Tidak semua orang akan menjadi pemimpin dalam setiap situasi. Tetapi seorang pemimpin akan dikenali dari kenyataan bahwa ia mempunyai pengikut.
APAKAH ADA KUALITAS DASAR?
Kalau begitu, apakah ada kualitas dasar yang dimiliki oleh semua pemimpin pada tingkat tertentu? Para pengamat pemimpin, dan mereka yang pernah menjadi pemimpin, tampaknya menunjukkan sejumlah sifat yang universal. Beberapa sifat tersebut bersifat keturunan atau berkaitan erat dengan lingkungan khusus. Yang lainnya adalah sifat yang dipelajari. Dedikasi tanpa pamrih adalah hal pertama yang dikemukakan oleh Jenderal Eisenhower ("What is Leadership", majalah Reader's Digest, Juni 1965, hal. 50). Dalam diri seorang pemimpin ada keyakinan terhadap apa yang sedang dilakukannya, sasaran yang ingin diraihnya, alasan yang didukungnya, yang melampaui pribadinya. Ia bahkan bersedia mengorbankan dirinya untuk menyelesaikan tugasnya. Ini membutuhkan keberanian. Bertahan walaupun menghadapi berbagai rintangan yang nyata, membuat keputusan dengan informasi yang tidak memadai, mempertaruhkan reputasi dan kesejahteraan materi, membutuhkan keberanian yang didasarkan pada keyakinan. Sebagian besar dari keberanian ini akan menampakkan dirinya dalam ketegasan mengambil keputusan. Keputusan harus diambil. Orang lain boleh bimbang, namun pemimpin membuat keputusan dan melaksanakannya. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan persuasif. Bila orang-orang mau ikut, mereka harus diyakinkan bahwa sasaran dan aspirasi pemimpin layak untuk memperoleh dedikasi mereka dan dimotivasi untuk mencobanya. Yang menarik, hampir ada kesepakatan yang universal bahwa para pemimpin yang paling menonjol mempunyai kerendahan hati yang membuat mereka bersedia menerima tanggung jawab atas kegagalan dan juga keberhasilan. Sampai pada tahap ini kita membicarakan kualitas yang mungkin dimiliki oleh siapa saja dalam bidang apa saja. Tetapi bagi sebagian besar situasi kepemimpinan, harus ada kecakapan; orang tersebut harus mempunyai kecakapan dalam bidang yang sedang dikerjakannya. Tanpa kecakapan hanya sedikit peperangan yang akan dimenangkan, tidak akan ada kapal laut yang berlabuh, tidak akan ada organisasi (Kristen ataupun yang lain) yang bertahan lama. Tentu saja kecakapan, membutuhkan kecerdasan dan kreativitas sampai pada tingkat mana pun yang dibutuhkan. Banyak orang berpikir bahwa para pemimpin mempunyai kepribadian atau karisma yang hebat. Baik pengamatan pribadi maupun sedikit penelitian akan segera memperlihatkan kepada Anda bahwa "kepribadian" bukanlah salah satu kualitas dasar. Ada pemimpin yang pribadinya hangat dan ramah. Ada juga yang dingin dan tidak ramah, dan ada juga yang sangat dikenal oleh umum karena gaya mereka, dan mereka yang pendiam. Para pemimpin juga tidak dapat digolongkan berdasarkan cara mereka mengerjakan tugas mereka. Ada berbagai gaya kepemimpinan yang berbeda - diktator, otokrasi, penuh kebajikan, demokrasi. Beberapa orang memimpin melalui teladan. Yang lain memimpin dengan mengacu kepada acus orang banyak. Beberapa pemimpin adalah orang-orang pemecah masalah yang bekerja dengan baik dalam kelompok. Yang lainnya mungkin membanggakan diri mereka atas kemampuan mereka dalam mengambil keputusan dan bersukacita dengan keputusan pribadi yang dibuat dengan cepat. Dalam masyarakat yang kompleks di mana sebagian besar dari kita bekerja, mereka yang memegang posisi kepemimpinan. dalam organisasi yang dinamis telah belajar menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka pada situasi tersebut.
BAGAIMANA MENEMUKAN PEMIMPIN YANG BAIK
Bila Drucker benar, bila kepemimpinan "tidak dapat diajarkan atau dipelajari", lalu apakah yang dapat kita lakukan untuk menemukan, mempersiapkan, dan memilih pemimpin yang terbaik? Jawabannya terletak dalam pembentukan organisasi yang mendorong dan mempromosikan kualitas-kualitas dasar ini. Kepemimpinan berkaitan erat dengan situasi. Kepemimpinan adalah kombinasi antara pemimpin yang tepat yang memimpin kelompok yang tepat dalam serangkaian situasi yang tepat. (Pemimpin yang paling kompeten adalah pemimpin yang dapat meneruskan kepemimpinannya dalam sejumlah situasi dalam arti yang paling luas.) Apakah Anda ingin menarik dan memupuk pemimpin yang baik? Bangunlah di dalam organisasi Anda sasaran dan tujuan yang membutuhkan dedikasi dan keberanian. Tentukanlah standar perilaku, tanggung jawab, dan kinerja yang tinggi. Perlihatkan rasa hormat kepada seseorang dan pekerjaannya. Ciptakanlah iklim di mana pemimpin yang baik akan terlihat dan dipupuk.
Sekali iklim tersebut hadir, pemimpin-pemimpin yang baik akan mulai mengidentifikasi diri mereka. Pada saat itulah latihan dapat dimulai. Sebagaimana yang kami katakan sebelumnya, pemimpin harus mempunyai kecakapan yang memadai di bidang mereka. Bila seseorang harus memikul tanggung jawab yang lebih luas, ia harus memperoleh latihan khusus yang diperlukan. Hal ini dapat diperoleh secara formal melalui pendidikan akademis lanjutan atau latihan kerja. Bila dipilih latihan kerja, maka harus diperhatikan bahwa baik orang tersebut maupun pengawas mengerti tujuan-tujuan (yang dapat diukur) dari latihan tersebut.
Ini tidak berarti bahwa karena seseorang menonjol secara teknis, maka dengan sendirinya ia adalah pemimpin. Menaruh seseorang yang cakap secara teknis dalam kedudukan pemimpin sementara orang tersebut bukan pemimpin hanya akan membuktikan kebenaran Prinsip Peter. ("Setiap orang pada akhirnya sampai kepada tingkat ketidakmampuannya".)
APAKAH KEPEMIMPINAN KRISTEN ITU?
Sejauh ini kita belum banyak berbicara mengenai kepemimpinan Kristen, selain mengemukakan bahwa hal itu berbeda secara mendasar dalam motivasinya. Akan tetapi, selama ini kami memperhatikan bahwa organisasi-organisasi yang memberi prioritas yang tinggi kepada pentingnya individu, kepada standar perilaku pribadi yang tinggi, kepada komunikasi yang baik, baik ke atas maupun ke bawah, organisasi-organisasi yang mempunyai keyakinan yang benar, bisa melampaui yang lainnya. Kami juga memperhatikan bahwa terlalu sering organisasi-organisasi Kristen mempunyai standar individu dan prestasi bersama yang lebih rendah daripada organisasi-organisasi sekuler.
Apakah kepemimpinan Kristen itu? Kepemimpinan Kristen ialah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih dan disediakan khusus untuk melayani. Itu merupakan kepemimpinan yang telah diserahkan kepada kekuasaan Kristus dan teladan-Nya. Para pemimpin Kristen yang terbaik memperlihatkan sifat-sifat yang penuh dengan dedikasi tanpa pamrih, keberanian, ketegasan, belas kasihan, dan kepandaian persuasif yang menjadi ciri pemimpin agung.
Pemimpin Kristen sejati telah menemukan bahwa kepemimpinan dimulai dari handuk dan baskom - dalam peran seorang pelayan:
1. Dedikasi tanpa pamrih dimungkinkan karena orang Kristen tahu bahwa Allah mempunyai strategi besar di mana ia menjadi bagiannya.
2. Keberanian diperbesar oleh kekuatan yang datang dari Roh yang berdiam di dalam hati kita.
3. Ketegasan datang karena mengetahui bahwa tanggung jawab akhir tidak terletak pada dirinya.
4. Kepandaian persuasif didasarkan pada kesetiaan kepada satu alasan yang melampaui segala alasan lainnya.
5. Kerendahan hati berasal dari kesadaran bahwa Allahlah yang melakukan pekerjaan tersebut.
APAKAH ANDA SEORANG PEMIMPIN?
Apakah Anda seorang pemimpin Kristen? Memimpinlah! Maksud dari kepemimpinan adalah untuk memimpin. (SPP)
Sumber:
Buku : Kepemimpinan Kristen
Penulis : Dr. Yakob Tomatala
Penerbit : YT Leadership Foundation, Jakarta, 2002
Hal : 12 - 15
Label:
Sie Kerohanian Kristen
MOTIVASI
Apa sebenarnya motivasi itu? Kata motivasi berasal dari akar kata "motive" atau "motiwum" yang berarti 'a moving cause' yang berhubungan dengan 'inner drive, impulse, intension'. Kata "motive" atau "motif" ini bila berkembang menjadi motivasi, artinya menjadi 'sedang digerakkan atau telah digerakkan oleh sesuatu, dan apa yang menggerakkan itu terwujud dalam tindakan'.
Menyoroti istilah motivasi dari sumber yang memberikan dorongan, maka dapat ditemukan bahwa sumber dorongan itu bisa datang dari dalam atau dari sesuatu yang menggerakkan keinginan dari luar. Sumber penggerak motivasi yang berasal dari dalam cenderung beranjak dari kebiasaan individu (yang telah berkembang secara kompleks), sedangkan motivasi yang sumber penggeraknya datang dari luar selalu disertai oleh persetujuan, kemauan, dan kehendak individu.
Dilihat dari segi etika, motif didefinisikan sebagai pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang menjadi penyebab seseorang melakukan suatu tindakan. Motivasi di sini berarti dorongan yang menggerakkan serta mengarahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang berdasarkan apa yang dikehendakinya, tertuju kepada tujuan yang diinginkannya.
Dengan demikian, motivasi ialah kekuatan yang mendorong untuk bertindak atau dorongan oleh kekuatan dari dalam ataupun dari luar (yang dilakukan dengan mendorong atau menarik). Motivasi jelas datang dari pelbagai macam sumber. Motivasi dapat digerakkan oleh kebutuhan (yang kompleks) seseorang, ataupun dorongan dari seorang motivator yang memberi pengaruh motivasi kepada orang lain.
SUMBER MOTIVASI BAGI KETERLIBATAN DALAM TUGAS
Seorang pemimpin dapat melibatkan orang-orang yang dipimpinnya dengan menciptakan kondisi yang mendorong motivasi para karyawan.
1. Motivasi dapat dikembangkan dengan menemukan kebutuhan (bawahan) yang bersifat fisik, keamanan, mental, psikologi, sosial, dan ekonomi dalam lingkungan kerja dan menciptakan kondisi bagi pemenuhan kebutuhan tersebut. Faktor kebutuhan dapat menjadi motivasi yang mampu mendorong para bawahan untuk bekerja.
2. Motivasi dapat dikembangkan dengan menciptakan suatu keinginan untuk bekerja keras/giat, berprestasi dan sukses. Keinginan untuk bekerja keras, berprestasi, dan sukses dapat didorong dengan memberikan tantangan sugestif yang memberi motivasi untuk bertindak.
DASAR PENGEMBANGAN MOTIVASI
Seorang pemimpin yang bijak dapat mengembangkan motivasi para karyawannya dengan dasar-dasar berikut ini.
1. Perlu ada sasaran (target) pencapaian kerja yang jelas bagi setiap individu dalam setiap unit kerja.
2. Doronglah setiap orang untuk mencintai tugas dan dorong pula mereka untuk mengembangkan keinginan kuat untuk mencapai sasaran (target) kerja (sukses).
3. Jelaskanlah secara rinci dan terang manfaat pencapaian sasaran (target) kerja untuk pribadi, kelompok dan organisasi, serta imbalan yang akan diperoleh setiap individu yang bekerja dengan baik.
4. Doronglah/kembangkanlah sikap kebanggaan akan pekerjaan dan setiap hasil (kesuksesan) yang dicapai dalam pelaksanaan kerja. Ajarlah setiap bawahan untuk belajar bersyukur atas hasil kerja yang mereka capai.
5. Ciptakanlah kondisi, peluang, dan keinginan untuk menyenangi serta menikmati lingkungan kerja bagi setiap individu.
6. Ciptakan dan gerakkanlah keinginan kuat dari setiap individu untuk berorientasi kepada prestasi serta keberhasilan kerja.
Motivasi dalam kepemimpinan dimaksudkan untuk memberikan dorongan bagi setiap karyawan guna terlibat dalam kerja secara maksimal. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun, mendorong, serta mendukung semangat dan moral dengan gaya positif (untuk menghindari manipulasi). Pemimpin perlu memberikan dorongan agar orang-orang yang dipimpinnya belajar menghargai pekerjaan dan bersyukur untuk setiap hasil kerja yang dicapainya. Mereka harus disadarkan, bahwa berprestasi dalam pekerjaan justru menaikkan harga diri mereka. Mereka juga perlu diberi dorongan untuk bekerja aktif yang dilakukan dengan sukacita, sehingga membawa manfaat positif serta nilai lebih bagi diri, pemimpin, organisasi, serta lingkungan kerja.
LIMA KISI MOTIVASI
Pada dasarnya, motivasi dilakukan dengan mengadakan sentuhan-sentuhan manusiawi yang menyentuh personalitas setiap individu. Motivasi dapat dilakukan dengan cara berikut.
1. Motivasi melalui sentuhan tubuh
Manusia adalah makhluk yang "complex unity", yang meliputi roh, jiwa, dan tubuh. Tubuh sebagai bagian yang riil dari manusia, berhubungan dengan roh serta jiwanya secara integral. Roh serta jiwa manusia dapat dipuaskan dengan jalan sentuhan tubuh. Sentuhan tubuh dapat dilakukan dengan tersenyum, berjabat tangan, menepuk bahu, dsb., yang dilakukan dengan penuh kesopanan serta penghargaan kepada pegawai yang harus dilihat sebagai subyek.
Kebutuhan fisik berhubungan erat dengan kebutuhan roh serta jiwa. Hubungan erat ini menyebabkan adanya hubungan pemenuhan kebutuhan yang utuh. Apabila tubuh diberi sentuhan sebagai tanda hormat, pujian, dan dukungan, maka akan ada respons kepuasan roh serta jiwa. Sentuhan-sentuhan ini dengan sendirinya akan memberi dorongan kuat (motivasi) untuk "menjadi lebih baik", sehingga tergerak untuk lebih aktif dan maju.
2. Motivasi melalui sentuhan rohani
Motivasi melalui sentuhan rohani ialah motivasi yang menyentuh kisi moral. Motivasi ini berkaitan dengan pengembangan "integritas serta komitmen". Di sini para pegawai ditolong untuk memberikan tempat kepada faktor rohani, agar mereka memiliki prioritas tinggi dalam motivasi. Kepuasan rohani akan membawa kestabilan moral terhadap integritas terhadap diri, integritas rohani, integritas sosial, integritas ekonomi, dan integritas kerja yang tetap serta ditandai oleh komitmen yang pasti. Sentuhan rohani dapat dilakukan dengan memberikan nasihat/ajaran moral/hikmat, dsb., yang memberi dorongan untuk mempertebal rasa/keinginan moral untuk menjadi lebih baik, lebih setia, lebih jujur, lebih aktif/giat, lebih bertanggung jawab, dsb., dalam melakukan tugas.
3. Motivasi melalui sentuhan psikologi
Pemimpin dapat membuat gerakan motivasi dengan sentuhan psikologis kepada orang-orang yang dipimpinnya. Sentuhan psikologis dapat berupa pujian (praising} atau teguran (reprimend), sesuai dengan kondisi langsung yang ditemukan pemimpin pada setiap pegawainya. Motivasi psikologis yang diberikan dengan tulus akan memberi dorongan yang kuat bagi para karyawan untuk bergerak maju, memperbaiki diri dan bekerja dengan lebih baik (bekerja semakin efektif, efisien, dalam hubungan manusia/organisasi yang sehat).
4. Motivasi sukses
Motivasi sukses berhubungan dengan prestasi sosial atau imbalan ekonomi, dsb. Motivasi sukses dapat diwujudkan dalam bentuk kenaikan pangkat/promosi sebagai tanda prestasi, dan imbalan lebih yang dapat menjawab kebutuhan ekonomi serta penghargaan sosial lain. Apabila dilakukan dengan bijak, motivasi sukses ini akan memberi dorongan yang kuat untuk bekerja dengan lebih giat/bersemangat, yang akan membawa hasil lebih dalam bekerja.
5. Motivasi diri
Motivasi diri atau "self motivation" adalah upaya membangunkan semangat diri dengan sugesti diri secara positif. Sugesti diri secara positif dapat dikembangkan dengan cara terus-menerus mengembangkan sikap positif, pilihan-pilihan positif, dan keputusan positif yang membangun diri dan orang lain. Motivasi diri bertujuan menjaga kestabilan sikap serta tekad untuk terus maju dan berprestasi. Motivasi diri seperti ini akan meredam gejolak-gejolak negatif dalam diri serta memberi kekuatan ganda menghadapi krisis hidup. Motivasi diri memberi tanda kematangan dan membangun tekad untuk bertahan serta maju/sukses.
MEMASTIKAN MOTIVASI DALAM KEWENANGAN KEPEMIMPINAN
Setiap pemimpin dengan kewenangan kepemimpinan yang ada padanya dapat memastikan bahwa ia dapat memberi motivasi bagi para karyawannya, yaitu dengan memberikan sentuhan serta dorongan yang pasti terhadap setiap karyawannya. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan berikut ini.
1. Buatlah sasaran (target) kerja yang dapat dicapai oleh setiap individu/kelompok dengan menolong/mengarahkan mereka untuk mewujudkan usaha kerja yang memadai dan lebih baik daripada yang telah dilakukan.
2. Organisasikanlah pekerjaan dan tempatkanlah setiap individu pada tugas yang tepat (dan bimbinglah mereka dalam doa). Berikan keyakinan, bahwa upaya kerja dari setiap individu akan berhasil dengan baik.
3. Tambahkanlah beban kerja pada setiap individu yang disesuaikan dengan tambahan kemampuan kerja yang dibutuhkan dalam proses kerja di setiap tugas.
4. Pastikanlah bahwa setiap orang bekerja dalam batas maksimum kekuatan yang ada padanya, bukan melebihi batas kekuatan yang wajar.
5. Libatkanlah semua orang dalam pekerjaan secara emosi, mental, rohani, dan fisik dengan memberikan dorongan dalam bidang berikut.
a. Tetapkan tujuan bersama yang disepakati, dipahami, dan diketahui dengan jelas oleh setiap individu.
b. Libatkanlah setiap orang dalam upaya pencapaian tujuan dengan mencari metodologi pelaksanaan kerja yang relevan untuk dipakai.
c. Delegasikan tugas kepada setiap individu dengan penuh dan jelas.
d. Libatkanlah setiap anggota dalam membuat keputusan, sehingga mereka merasa memiliki keputusan tersebut.
e. Bagilah kemenangan atau kekalahan yang dialami kepada setiap/semua anggota kelompok untuk dinikmati/ditanggung bersama.
f. Kembangkanlah sistem motivasi jangka pendek untuk diterapkan setiap saat.
g. Tunjukkanlah kepada setiap pegawai, bahwa Anda memahami dan memerhatikan kebutuhan mereka.
h. Kembangkanlah motivasi jangka panjang, dengan menunjukan bahwa akan ada kemenangan akhir yang akan dinikmati bersama.
TINDAKAN PEMASTIAN BAGI KEBERHASILAN MOTIVASI
Pemimpin yang tegas dan tekun akan memberi motivasi kepada para karyawannya, agar dapat mengambil langkah pemastian keberhasilan motivasi, seperti di bawah ini.
1. Pilihlah dan tetapkanlah untuk menang secara bersama yang dilakukan dengan sikap mental positif yang membangun.
2. Masuklah dengan pasti dalam perang melalui doa dengan keyakinan, bahwa akan ada kemenangan yang akan dicapai bersama.
3. Bersiaplah untuk membayar harga kemenangan dengan bekerja baik (efektif, efisien dalam hubungan organisasi yang sehat) dan bekerja keras secara konsisten.
4. Usahakanlah untuk terus menginterpretasi hidup dan proses kerja dari kaca mata kemenangan, karena kegagalan pun dapat diterima sebagai kemenangan yang tertunda.
Dengan mengingat kepentingan motivasi seperti telah disinggung di atas, setiap pemimpin yang ingin maju dan berhasil harus belajar serta bersungguh-sungguh menerapkannya dalam kepemimpinan, yang pada akhirnya akan menjamin keberhasilan dirinya sebagai pemimpin. (SPP)
Menyoroti istilah motivasi dari sumber yang memberikan dorongan, maka dapat ditemukan bahwa sumber dorongan itu bisa datang dari dalam atau dari sesuatu yang menggerakkan keinginan dari luar. Sumber penggerak motivasi yang berasal dari dalam cenderung beranjak dari kebiasaan individu (yang telah berkembang secara kompleks), sedangkan motivasi yang sumber penggeraknya datang dari luar selalu disertai oleh persetujuan, kemauan, dan kehendak individu.
Dilihat dari segi etika, motif didefinisikan sebagai pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang menjadi penyebab seseorang melakukan suatu tindakan. Motivasi di sini berarti dorongan yang menggerakkan serta mengarahkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang berdasarkan apa yang dikehendakinya, tertuju kepada tujuan yang diinginkannya.
Dengan demikian, motivasi ialah kekuatan yang mendorong untuk bertindak atau dorongan oleh kekuatan dari dalam ataupun dari luar (yang dilakukan dengan mendorong atau menarik). Motivasi jelas datang dari pelbagai macam sumber. Motivasi dapat digerakkan oleh kebutuhan (yang kompleks) seseorang, ataupun dorongan dari seorang motivator yang memberi pengaruh motivasi kepada orang lain.
SUMBER MOTIVASI BAGI KETERLIBATAN DALAM TUGAS
Seorang pemimpin dapat melibatkan orang-orang yang dipimpinnya dengan menciptakan kondisi yang mendorong motivasi para karyawan.
1. Motivasi dapat dikembangkan dengan menemukan kebutuhan (bawahan) yang bersifat fisik, keamanan, mental, psikologi, sosial, dan ekonomi dalam lingkungan kerja dan menciptakan kondisi bagi pemenuhan kebutuhan tersebut. Faktor kebutuhan dapat menjadi motivasi yang mampu mendorong para bawahan untuk bekerja.
2. Motivasi dapat dikembangkan dengan menciptakan suatu keinginan untuk bekerja keras/giat, berprestasi dan sukses. Keinginan untuk bekerja keras, berprestasi, dan sukses dapat didorong dengan memberikan tantangan sugestif yang memberi motivasi untuk bertindak.
DASAR PENGEMBANGAN MOTIVASI
Seorang pemimpin yang bijak dapat mengembangkan motivasi para karyawannya dengan dasar-dasar berikut ini.
1. Perlu ada sasaran (target) pencapaian kerja yang jelas bagi setiap individu dalam setiap unit kerja.
2. Doronglah setiap orang untuk mencintai tugas dan dorong pula mereka untuk mengembangkan keinginan kuat untuk mencapai sasaran (target) kerja (sukses).
3. Jelaskanlah secara rinci dan terang manfaat pencapaian sasaran (target) kerja untuk pribadi, kelompok dan organisasi, serta imbalan yang akan diperoleh setiap individu yang bekerja dengan baik.
4. Doronglah/kembangkanlah sikap kebanggaan akan pekerjaan dan setiap hasil (kesuksesan) yang dicapai dalam pelaksanaan kerja. Ajarlah setiap bawahan untuk belajar bersyukur atas hasil kerja yang mereka capai.
5. Ciptakanlah kondisi, peluang, dan keinginan untuk menyenangi serta menikmati lingkungan kerja bagi setiap individu.
6. Ciptakan dan gerakkanlah keinginan kuat dari setiap individu untuk berorientasi kepada prestasi serta keberhasilan kerja.
Motivasi dalam kepemimpinan dimaksudkan untuk memberikan dorongan bagi setiap karyawan guna terlibat dalam kerja secara maksimal. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun, mendorong, serta mendukung semangat dan moral dengan gaya positif (untuk menghindari manipulasi). Pemimpin perlu memberikan dorongan agar orang-orang yang dipimpinnya belajar menghargai pekerjaan dan bersyukur untuk setiap hasil kerja yang dicapainya. Mereka harus disadarkan, bahwa berprestasi dalam pekerjaan justru menaikkan harga diri mereka. Mereka juga perlu diberi dorongan untuk bekerja aktif yang dilakukan dengan sukacita, sehingga membawa manfaat positif serta nilai lebih bagi diri, pemimpin, organisasi, serta lingkungan kerja.
LIMA KISI MOTIVASI
Pada dasarnya, motivasi dilakukan dengan mengadakan sentuhan-sentuhan manusiawi yang menyentuh personalitas setiap individu. Motivasi dapat dilakukan dengan cara berikut.
1. Motivasi melalui sentuhan tubuh
Manusia adalah makhluk yang "complex unity", yang meliputi roh, jiwa, dan tubuh. Tubuh sebagai bagian yang riil dari manusia, berhubungan dengan roh serta jiwanya secara integral. Roh serta jiwa manusia dapat dipuaskan dengan jalan sentuhan tubuh. Sentuhan tubuh dapat dilakukan dengan tersenyum, berjabat tangan, menepuk bahu, dsb., yang dilakukan dengan penuh kesopanan serta penghargaan kepada pegawai yang harus dilihat sebagai subyek.
Kebutuhan fisik berhubungan erat dengan kebutuhan roh serta jiwa. Hubungan erat ini menyebabkan adanya hubungan pemenuhan kebutuhan yang utuh. Apabila tubuh diberi sentuhan sebagai tanda hormat, pujian, dan dukungan, maka akan ada respons kepuasan roh serta jiwa. Sentuhan-sentuhan ini dengan sendirinya akan memberi dorongan kuat (motivasi) untuk "menjadi lebih baik", sehingga tergerak untuk lebih aktif dan maju.
2. Motivasi melalui sentuhan rohani
Motivasi melalui sentuhan rohani ialah motivasi yang menyentuh kisi moral. Motivasi ini berkaitan dengan pengembangan "integritas serta komitmen". Di sini para pegawai ditolong untuk memberikan tempat kepada faktor rohani, agar mereka memiliki prioritas tinggi dalam motivasi. Kepuasan rohani akan membawa kestabilan moral terhadap integritas terhadap diri, integritas rohani, integritas sosial, integritas ekonomi, dan integritas kerja yang tetap serta ditandai oleh komitmen yang pasti. Sentuhan rohani dapat dilakukan dengan memberikan nasihat/ajaran moral/hikmat, dsb., yang memberi dorongan untuk mempertebal rasa/keinginan moral untuk menjadi lebih baik, lebih setia, lebih jujur, lebih aktif/giat, lebih bertanggung jawab, dsb., dalam melakukan tugas.
3. Motivasi melalui sentuhan psikologi
Pemimpin dapat membuat gerakan motivasi dengan sentuhan psikologis kepada orang-orang yang dipimpinnya. Sentuhan psikologis dapat berupa pujian (praising} atau teguran (reprimend), sesuai dengan kondisi langsung yang ditemukan pemimpin pada setiap pegawainya. Motivasi psikologis yang diberikan dengan tulus akan memberi dorongan yang kuat bagi para karyawan untuk bergerak maju, memperbaiki diri dan bekerja dengan lebih baik (bekerja semakin efektif, efisien, dalam hubungan manusia/organisasi yang sehat).
4. Motivasi sukses
Motivasi sukses berhubungan dengan prestasi sosial atau imbalan ekonomi, dsb. Motivasi sukses dapat diwujudkan dalam bentuk kenaikan pangkat/promosi sebagai tanda prestasi, dan imbalan lebih yang dapat menjawab kebutuhan ekonomi serta penghargaan sosial lain. Apabila dilakukan dengan bijak, motivasi sukses ini akan memberi dorongan yang kuat untuk bekerja dengan lebih giat/bersemangat, yang akan membawa hasil lebih dalam bekerja.
5. Motivasi diri
Motivasi diri atau "self motivation" adalah upaya membangunkan semangat diri dengan sugesti diri secara positif. Sugesti diri secara positif dapat dikembangkan dengan cara terus-menerus mengembangkan sikap positif, pilihan-pilihan positif, dan keputusan positif yang membangun diri dan orang lain. Motivasi diri bertujuan menjaga kestabilan sikap serta tekad untuk terus maju dan berprestasi. Motivasi diri seperti ini akan meredam gejolak-gejolak negatif dalam diri serta memberi kekuatan ganda menghadapi krisis hidup. Motivasi diri memberi tanda kematangan dan membangun tekad untuk bertahan serta maju/sukses.
MEMASTIKAN MOTIVASI DALAM KEWENANGAN KEPEMIMPINAN
Setiap pemimpin dengan kewenangan kepemimpinan yang ada padanya dapat memastikan bahwa ia dapat memberi motivasi bagi para karyawannya, yaitu dengan memberikan sentuhan serta dorongan yang pasti terhadap setiap karyawannya. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan berikut ini.
1. Buatlah sasaran (target) kerja yang dapat dicapai oleh setiap individu/kelompok dengan menolong/mengarahkan mereka untuk mewujudkan usaha kerja yang memadai dan lebih baik daripada yang telah dilakukan.
2. Organisasikanlah pekerjaan dan tempatkanlah setiap individu pada tugas yang tepat (dan bimbinglah mereka dalam doa). Berikan keyakinan, bahwa upaya kerja dari setiap individu akan berhasil dengan baik.
3. Tambahkanlah beban kerja pada setiap individu yang disesuaikan dengan tambahan kemampuan kerja yang dibutuhkan dalam proses kerja di setiap tugas.
4. Pastikanlah bahwa setiap orang bekerja dalam batas maksimum kekuatan yang ada padanya, bukan melebihi batas kekuatan yang wajar.
5. Libatkanlah semua orang dalam pekerjaan secara emosi, mental, rohani, dan fisik dengan memberikan dorongan dalam bidang berikut.
a. Tetapkan tujuan bersama yang disepakati, dipahami, dan diketahui dengan jelas oleh setiap individu.
b. Libatkanlah setiap orang dalam upaya pencapaian tujuan dengan mencari metodologi pelaksanaan kerja yang relevan untuk dipakai.
c. Delegasikan tugas kepada setiap individu dengan penuh dan jelas.
d. Libatkanlah setiap anggota dalam membuat keputusan, sehingga mereka merasa memiliki keputusan tersebut.
e. Bagilah kemenangan atau kekalahan yang dialami kepada setiap/semua anggota kelompok untuk dinikmati/ditanggung bersama.
f. Kembangkanlah sistem motivasi jangka pendek untuk diterapkan setiap saat.
g. Tunjukkanlah kepada setiap pegawai, bahwa Anda memahami dan memerhatikan kebutuhan mereka.
h. Kembangkanlah motivasi jangka panjang, dengan menunjukan bahwa akan ada kemenangan akhir yang akan dinikmati bersama.
TINDAKAN PEMASTIAN BAGI KEBERHASILAN MOTIVASI
Pemimpin yang tegas dan tekun akan memberi motivasi kepada para karyawannya, agar dapat mengambil langkah pemastian keberhasilan motivasi, seperti di bawah ini.
1. Pilihlah dan tetapkanlah untuk menang secara bersama yang dilakukan dengan sikap mental positif yang membangun.
2. Masuklah dengan pasti dalam perang melalui doa dengan keyakinan, bahwa akan ada kemenangan yang akan dicapai bersama.
3. Bersiaplah untuk membayar harga kemenangan dengan bekerja baik (efektif, efisien dalam hubungan organisasi yang sehat) dan bekerja keras secara konsisten.
4. Usahakanlah untuk terus menginterpretasi hidup dan proses kerja dari kaca mata kemenangan, karena kegagalan pun dapat diterima sebagai kemenangan yang tertunda.
Dengan mengingat kepentingan motivasi seperti telah disinggung di atas, setiap pemimpin yang ingin maju dan berhasil harus belajar serta bersungguh-sungguh menerapkannya dalam kepemimpinan, yang pada akhirnya akan menjamin keberhasilan dirinya sebagai pemimpin. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Selasa, 08 Juni 2010
Siapa saya di dalam Kristus?
Pertanyaan: Siapa saya di dalam Kristus?
Jawaban: Menurut 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ada dua kata bahasa Yunani yang diterjemahkan “baru” dalam Alkitab. Yang pertama adalah neos yang merujuk pada sesuatu yang baru saja dibuat, namun sudah ada lainnya yang serupa. Kata yang diterjemahkan baru dalam ayat ini adalah kata kainos yang berarti sesuatu yang dibuat tanpa ada yang serupa yang pernah ada. Di dalam Kristus kita dijadikan ciptaan yang sama sekali baru, sebagaimana pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi-Allah menciptakannya dari yang tidak ada, dan demikian pula dengan kita. Dia bukan hanya membersihkan diri kita yang lama; Dia membuat kita sama sekali baru dan diri yang baru ini adalah bagian dari Kristus sendiri. Ketika kita ada di dalam Kristus, kita “mendapat bagian dalam kodrat illahi” (2 Petrus 1:4). Allah sendiri, berdiam di dalam hati kita. Kita ada di dalam Kristus, dan Dia di dalam kita.
Ketika kita ada di dalam Kristus dan Dia di dalam kita, kita diregenerasikan, diperbaharui, dan dilahirkan kembali, dan ciptaan baru ini berpusat pada hal-hal rohani, sementara natur yang lama berpusat pada hal-hal yang duniawi. Natur baru adalah dalam persekutuan dengan Allah, taat kepada kehendak-Nya dan diabdikan untuk melayani Dia. Ini adalah hal-hal yang natur lama tidak mampu lakukan atau bahkan tidak memiliki niat. Natur lama mati kepada hal-hal dari roh dan tidak dapat membangkitkan diri sendiri. Natur itu “mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa” (Efesus 2:1), dan hanya dapat dihidupkan kembali dengan dengan kebangkitan supranatural yang terjadi ketika kita datang kepada Kristus dan didiami oleh-Nya. Dia memberi kita natur yang sama sekali baru dan suci serta hidup yang tidak dapat rusak. Hidup kita yang lama, yang sebelumnya mati terhadap Allah karena dosa, dikuburkan, dan kita dibangkitkan untuk “hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:4).
Di dalam Kristus kita dipersatukan dengan Dia dan bukan lagi hamba-hamba dosa (Roma 6:5-6); dihidupkan bersama dengan Kristus (Efesus 2:5); menjadi serupa dengan gambar-Nya (Roma 8:29); bebas dari hukuman dan tidak berjalan menurut daging, namun menurut Roh (Roma 8:10, dan menjadi anggota tubuh Kristus bersama dengan orang-orang percaya lainnya (Roma 12:5). Orang-orang percaya sekarang memiliki hati yang baru (Yehezkiel 11:19), dan diberkati dengan “segala berkat rohani di dalam sorga” (Efesus 1:3).
Kita mungkin akan memikirkan mengapa kita sering tidak hidup dengan cara yang digambarkan sekalipun kita telah memberi hidup kita kepada Kristus dan kita yakin akan keselamatan kita. Hal ini adalah karena natur baru kita mendiami tubuh jasmani kita yang lama dan keduanya bertentangan satu dengan yang lainnya. Natur lama sudah mati, namun natur baru masih memerangi “kemah” lama yang didiaminya. Kejahatan dan dosa masih ada, namun seorang percaya kini melihatnya dengan perspektif baru, dan tidak lagi dikendalikan oleh kejahatan dan dosa sebagaimana dulu. Di dalam Kristus kita kini bisa memilih untuk menolak dosa, sementara dalam natur yang lama kita tidak sanggup. Sekarang kita bisa memilih mau memberi makan kepada natur baru melalui Firman Tuhan, doa dan ketaatan, atau memberi makan kepada daging dengan mengabaikan hal-hal itu dan terlibat dalam dosa.
Ketika kita berada di dalam Kristus, “Dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37) dan dapat bersukacita dalam Juruselamat kita yang telah memungkinkan segalanya! Di dalam Kristus kita dikasihi, diampuni, dan dijanjikan keselamatan. Di dalam Kristus kita diangkat anak, dibenarkan, ditebus, diperdamaikan, dan dipilih. Di dalam Kristus kita menang, penuh dengan sukacita dan damai, diberikan makna kehidupan yang sejati. Betapa luar biasanya Kristus sebagai Juruselamat! (SPP)
Jawaban: Menurut 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ada dua kata bahasa Yunani yang diterjemahkan “baru” dalam Alkitab. Yang pertama adalah neos yang merujuk pada sesuatu yang baru saja dibuat, namun sudah ada lainnya yang serupa. Kata yang diterjemahkan baru dalam ayat ini adalah kata kainos yang berarti sesuatu yang dibuat tanpa ada yang serupa yang pernah ada. Di dalam Kristus kita dijadikan ciptaan yang sama sekali baru, sebagaimana pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi-Allah menciptakannya dari yang tidak ada, dan demikian pula dengan kita. Dia bukan hanya membersihkan diri kita yang lama; Dia membuat kita sama sekali baru dan diri yang baru ini adalah bagian dari Kristus sendiri. Ketika kita ada di dalam Kristus, kita “mendapat bagian dalam kodrat illahi” (2 Petrus 1:4). Allah sendiri, berdiam di dalam hati kita. Kita ada di dalam Kristus, dan Dia di dalam kita.
Ketika kita ada di dalam Kristus dan Dia di dalam kita, kita diregenerasikan, diperbaharui, dan dilahirkan kembali, dan ciptaan baru ini berpusat pada hal-hal rohani, sementara natur yang lama berpusat pada hal-hal yang duniawi. Natur baru adalah dalam persekutuan dengan Allah, taat kepada kehendak-Nya dan diabdikan untuk melayani Dia. Ini adalah hal-hal yang natur lama tidak mampu lakukan atau bahkan tidak memiliki niat. Natur lama mati kepada hal-hal dari roh dan tidak dapat membangkitkan diri sendiri. Natur itu “mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa” (Efesus 2:1), dan hanya dapat dihidupkan kembali dengan dengan kebangkitan supranatural yang terjadi ketika kita datang kepada Kristus dan didiami oleh-Nya. Dia memberi kita natur yang sama sekali baru dan suci serta hidup yang tidak dapat rusak. Hidup kita yang lama, yang sebelumnya mati terhadap Allah karena dosa, dikuburkan, dan kita dibangkitkan untuk “hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:4).
Di dalam Kristus kita dipersatukan dengan Dia dan bukan lagi hamba-hamba dosa (Roma 6:5-6); dihidupkan bersama dengan Kristus (Efesus 2:5); menjadi serupa dengan gambar-Nya (Roma 8:29); bebas dari hukuman dan tidak berjalan menurut daging, namun menurut Roh (Roma 8:10, dan menjadi anggota tubuh Kristus bersama dengan orang-orang percaya lainnya (Roma 12:5). Orang-orang percaya sekarang memiliki hati yang baru (Yehezkiel 11:19), dan diberkati dengan “segala berkat rohani di dalam sorga” (Efesus 1:3).
Kita mungkin akan memikirkan mengapa kita sering tidak hidup dengan cara yang digambarkan sekalipun kita telah memberi hidup kita kepada Kristus dan kita yakin akan keselamatan kita. Hal ini adalah karena natur baru kita mendiami tubuh jasmani kita yang lama dan keduanya bertentangan satu dengan yang lainnya. Natur lama sudah mati, namun natur baru masih memerangi “kemah” lama yang didiaminya. Kejahatan dan dosa masih ada, namun seorang percaya kini melihatnya dengan perspektif baru, dan tidak lagi dikendalikan oleh kejahatan dan dosa sebagaimana dulu. Di dalam Kristus kita kini bisa memilih untuk menolak dosa, sementara dalam natur yang lama kita tidak sanggup. Sekarang kita bisa memilih mau memberi makan kepada natur baru melalui Firman Tuhan, doa dan ketaatan, atau memberi makan kepada daging dengan mengabaikan hal-hal itu dan terlibat dalam dosa.
Ketika kita berada di dalam Kristus, “Dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37) dan dapat bersukacita dalam Juruselamat kita yang telah memungkinkan segalanya! Di dalam Kristus kita dikasihi, diampuni, dan dijanjikan keselamatan. Di dalam Kristus kita diangkat anak, dibenarkan, ditebus, diperdamaikan, dan dipilih. Di dalam Kristus kita menang, penuh dengan sukacita dan damai, diberikan makna kehidupan yang sejati. Betapa luar biasanya Kristus sebagai Juruselamat! (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Apakah itu spiritualitas Kristiani?
Pertanyaan: Apakah itu spiritualitas Kristiani?
Jawaban: Ketika seseorang dilahirkan kembali, dia menerima Roh Kudus yang memeteraikan orang percaya itu untuk hari penebusan (Efesus 1:13, 4:30). Yesus berjanji bahwa Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam “seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13). Roh Kudus memimpin kita dengan mengambil hal-hal dari Allah dan menerapkannya kepada kehidupan kita. Ketika itu terjadi, orang percaya memutuskan untuk mengizinkan Roh Kudus menguasai dia. Spiritualitas Kristiani adalah berdasarkan sampai sejauh mana orang percaya yang sudah dilahirkan kembali mengizinkan Roh Kudus memimpin dan menguasai hidupnya.
Rasul Paulus memberitahukan orang-orang percaya untuk “dipenuhi” oleh Roh Kudus. “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:18). Penuh dengan Roh berarti mengizinkan Roh Kudus menguasai kita dan bukan menaklukkan diri kepada keinginan duniawi kita. Dalam ayat di atas ada perbandingan. Ketika seseorang dikuasai oleh anggur, mereka mabuk dan memperlihatkan karakteristik tertentu seperti kata-kata yang tidak jelas, sempoyongan, dan tidak mampu membuat keputusan. Sebagaimana seseorang yang mabuk bisa kelihatan dengan jelas karena karakteristik yang diperlihatkannya, seorang percaya yang lahir kembali dan dikuasai oleh Roh Kudus akan menyatakan karakteristik-karakteristik-Nya. Kita dapat menemukan karakteristik-karakteristik itu dalam Galatia 5:22-23 di mana itu dinamakan “buah Roh.” Ini adalah karakter Kristiani, dihasilkan oleh roh yang bekerja di dalam dan melalui orang percaya. Karakter ini bukan hasil dari upaya sendiri. Seorang percaya yang lahir kembali yang dikuasai oleh Roh Kudus akan menunjukkan kata-kata yang sehat, kehidupan rohani yang konsisten dan pengambilan keputusan berdasarkan Firman Allah.
Karena itu, spiritualitas Kristiani adalah pilihan yang kita ambil untuk “mengenal dan bertumbuh” dalam hubungan sehari-hari dengan Tuhan Yesus Kristus dengan menaklukkan diri kepada pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan kita. Hal ini berarti bahwa sebagai orang-orang percaya, kita memutuskan untuk menjaga agar komunikasi kita dengan Roh Kudus tetap terbuka melalui pengakuan dosa (1 Yohanes 1:9). Ketika kita mendukakan Roh Kudus dengan berdosa (Efesus 4:30; 1 Yohanes 1:5-8), kita mendirikan penghalang antara kita dan Allah. Ketika kita tunduk kepada pelayanan Roh Kudus, hubungan kita tidak akan dipadamkan (1 Tesalonika 5:19). Spiritualitas Kristiani adalah kesadaran persekutuan dengan Roh Kristus yang tidak terputus oleh kedagingan dan dosa. Karena itu, spiritualitas Kristiani adalah orang percaya yang sudah dilahirkan kembali yang memutuskan secara konsisten dan terus menerus untuk berserah pada pelayanan Roh Kudus. (SPP)
Jawaban: Ketika seseorang dilahirkan kembali, dia menerima Roh Kudus yang memeteraikan orang percaya itu untuk hari penebusan (Efesus 1:13, 4:30). Yesus berjanji bahwa Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam “seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13). Roh Kudus memimpin kita dengan mengambil hal-hal dari Allah dan menerapkannya kepada kehidupan kita. Ketika itu terjadi, orang percaya memutuskan untuk mengizinkan Roh Kudus menguasai dia. Spiritualitas Kristiani adalah berdasarkan sampai sejauh mana orang percaya yang sudah dilahirkan kembali mengizinkan Roh Kudus memimpin dan menguasai hidupnya.
Rasul Paulus memberitahukan orang-orang percaya untuk “dipenuhi” oleh Roh Kudus. “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:18). Penuh dengan Roh berarti mengizinkan Roh Kudus menguasai kita dan bukan menaklukkan diri kepada keinginan duniawi kita. Dalam ayat di atas ada perbandingan. Ketika seseorang dikuasai oleh anggur, mereka mabuk dan memperlihatkan karakteristik tertentu seperti kata-kata yang tidak jelas, sempoyongan, dan tidak mampu membuat keputusan. Sebagaimana seseorang yang mabuk bisa kelihatan dengan jelas karena karakteristik yang diperlihatkannya, seorang percaya yang lahir kembali dan dikuasai oleh Roh Kudus akan menyatakan karakteristik-karakteristik-Nya. Kita dapat menemukan karakteristik-karakteristik itu dalam Galatia 5:22-23 di mana itu dinamakan “buah Roh.” Ini adalah karakter Kristiani, dihasilkan oleh roh yang bekerja di dalam dan melalui orang percaya. Karakter ini bukan hasil dari upaya sendiri. Seorang percaya yang lahir kembali yang dikuasai oleh Roh Kudus akan menunjukkan kata-kata yang sehat, kehidupan rohani yang konsisten dan pengambilan keputusan berdasarkan Firman Allah.
Karena itu, spiritualitas Kristiani adalah pilihan yang kita ambil untuk “mengenal dan bertumbuh” dalam hubungan sehari-hari dengan Tuhan Yesus Kristus dengan menaklukkan diri kepada pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan kita. Hal ini berarti bahwa sebagai orang-orang percaya, kita memutuskan untuk menjaga agar komunikasi kita dengan Roh Kudus tetap terbuka melalui pengakuan dosa (1 Yohanes 1:9). Ketika kita mendukakan Roh Kudus dengan berdosa (Efesus 4:30; 1 Yohanes 1:5-8), kita mendirikan penghalang antara kita dan Allah. Ketika kita tunduk kepada pelayanan Roh Kudus, hubungan kita tidak akan dipadamkan (1 Tesalonika 5:19). Spiritualitas Kristiani adalah kesadaran persekutuan dengan Roh Kristus yang tidak terputus oleh kedagingan dan dosa. Karena itu, spiritualitas Kristiani adalah orang percaya yang sudah dilahirkan kembali yang memutuskan secara konsisten dan terus menerus untuk berserah pada pelayanan Roh Kudus. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Mengapa kita perlu mengakui dosa kita kalau dosa-dosa itu sudah diampuni (1 Yohanes 1:9)?
Pertanyaan: Mengapa kita perlu mengakui dosa kita kalau dosa-dosa itu sudah diampuni (1 Yohanes 1:9)?
Jawaban: Rasul Paulus menulis: “Supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian” (Ef 1:6-8). Hal ini berbicara mengenai keselamatan, di mana Allah telah mengambil dosa-dosa kita dan menyingkirkannya dari kita, “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mzm 103:12). Ini adalah pengampunan judisial yang Allah berikan kepada kita saat kita menerima Anak-Nya Yesus Kristus. Semua dosa pada masa lalu, sekarang dan akan datang sudah diampuni secara judisial, artinya kita tidak perlu lagi menanggung hukuman kekal karena dosa-dosa kita. Kita sering masih akan menanggung akibat dari dosa-dosa kita ketika kita masih di dunia yang kemudian menghasilkan pertanyaan ini.
Perbedaan antara ayat ini dan ayat dalam 1 Yohanes adalah bahwa Yohanes membicarakan apa yang kita sebut sebagai pengampunan “kekeluargaan” – seperti antara ayah dan anak. Misalnya, Anda bersalah terhadap ayah Anda – gagal memenuhi harapan atau peraturannya – hubungan Anda terhalang, namun Anda tetap adalah anak. Hubungan itu terhalang sampai Anda mengakui kepada ayah bahwa Anda telah bersalah. Demikian pula halnya dengan Allah, hubungan Anda dengan-Nya akan terhalang sampai Anda mengakui dosa itu. Kemudian hubungan itu akan dipulihkan. Ini adalah pengampunan “relasional.”
Pengampunan secara “kedudukan” adalah apa yang diperoleh oleh setiap orang percaya di dalam Kristus. Dalam kedudukan kita sebagai anggota-anggota tubuh Kristus, semua dosa yang pernah dan akan kita lakukan telah diampuni. Harga yang telah Kristus bayar di atas salib telah memuaskan murka Allah terhadap dosa, dan tidak ada korban atau bayaran yang diperlukan lagi. Ketika Yesus bersabda, “Sudah selesai,” Dia sungguh-sungguh. Pengampunan secara kedudukan diberikan pada waktu itu.
Pengakuan dosa, menurut Yohanes 1:9, akan menghindarkan kita dari penghajaran Tuhan. Kalau kita lalai dalam mengakui dosa, hajaran Tuhan pasti akan menimpa kita sampai kita mengakuinya. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dosa-dosa kita telah diampuni pada saat keselamatan (pengampunan secara kedudukan), namun hubungan kita dengan Allah secara sehari-hari harus tetap dipertahankan, dan hal ini tidak akan terjadi kalau masih ada dosa yang belum diakui (pengampunan secara relasional). Karena itu kita perlu mengakui dosa-dosa kita saat itu terjadi supaya hubungan yang benar dengan Allah terus terpelihara. (SPP)
Jawaban: Rasul Paulus menulis: “Supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian” (Ef 1:6-8). Hal ini berbicara mengenai keselamatan, di mana Allah telah mengambil dosa-dosa kita dan menyingkirkannya dari kita, “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mzm 103:12). Ini adalah pengampunan judisial yang Allah berikan kepada kita saat kita menerima Anak-Nya Yesus Kristus. Semua dosa pada masa lalu, sekarang dan akan datang sudah diampuni secara judisial, artinya kita tidak perlu lagi menanggung hukuman kekal karena dosa-dosa kita. Kita sering masih akan menanggung akibat dari dosa-dosa kita ketika kita masih di dunia yang kemudian menghasilkan pertanyaan ini.
Perbedaan antara ayat ini dan ayat dalam 1 Yohanes adalah bahwa Yohanes membicarakan apa yang kita sebut sebagai pengampunan “kekeluargaan” – seperti antara ayah dan anak. Misalnya, Anda bersalah terhadap ayah Anda – gagal memenuhi harapan atau peraturannya – hubungan Anda terhalang, namun Anda tetap adalah anak. Hubungan itu terhalang sampai Anda mengakui kepada ayah bahwa Anda telah bersalah. Demikian pula halnya dengan Allah, hubungan Anda dengan-Nya akan terhalang sampai Anda mengakui dosa itu. Kemudian hubungan itu akan dipulihkan. Ini adalah pengampunan “relasional.”
Pengampunan secara “kedudukan” adalah apa yang diperoleh oleh setiap orang percaya di dalam Kristus. Dalam kedudukan kita sebagai anggota-anggota tubuh Kristus, semua dosa yang pernah dan akan kita lakukan telah diampuni. Harga yang telah Kristus bayar di atas salib telah memuaskan murka Allah terhadap dosa, dan tidak ada korban atau bayaran yang diperlukan lagi. Ketika Yesus bersabda, “Sudah selesai,” Dia sungguh-sungguh. Pengampunan secara kedudukan diberikan pada waktu itu.
Pengakuan dosa, menurut Yohanes 1:9, akan menghindarkan kita dari penghajaran Tuhan. Kalau kita lalai dalam mengakui dosa, hajaran Tuhan pasti akan menimpa kita sampai kita mengakuinya. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dosa-dosa kita telah diampuni pada saat keselamatan (pengampunan secara kedudukan), namun hubungan kita dengan Allah secara sehari-hari harus tetap dipertahankan, dan hal ini tidak akan terjadi kalau masih ada dosa yang belum diakui (pengampunan secara relasional). Karena itu kita perlu mengakui dosa-dosa kita saat itu terjadi supaya hubungan yang benar dengan Allah terus terpelihara. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Bagaimana saya dapat mengalami sukacita dalam kehidupan Kristen saya?
Pertanyaan: Bagaimana saya dapat mengalami sukacita dalam kehidupan Kristen saya?
Jawaban: Masa-masa kesedihan dan depresi dapat memasuki kehidupan orang Kristen yang paling beribadah sekalipun. Kita melihat banyak contoh semacam ini dalam Alkitab. Ayub berharap dia tidak pernah dilahirkan (Ayub 3:11), Daud berdoa supaya dia pergi ke tempat di mana dia tidak harus berhadapan dengan realita (Mazmur 55:6-8). Elia, bahkan setelah mengalahkan 450 nabi Baal dengan api yang diperintahkan dari Surga (1 Raja-Raja 18:16-46), melarikan diri ke padang gurun dan minta Allah mengambil hidupnya (1 Raja-Raja 19:3-5).
Jadi bagaimana kita dapat mengatasi masa-masa tidak adanya sukacita ini? Kita bisa melihat bagaimana orang-orang yang sama mengatasi serangan depresi mereka. Ayub mengatakan jika kita berdoa dan mengingat berkat-berkat kita, Allah akan memulihkan sukacita dan kebenaran (Ayub 33:26). Daud menuliskan bahwa mempelajari Firman Allah dapat memberikan sukacita (Mazmur 19:8). Daud juga menyadari bahwa dia perlu lebih sering memuji Allah meskipun berada di tengah kekecewaan (Mazmur 42:5). Dalam kasus Elia, Allah membiarkan dia beristirahat untuk beberapa lama dan kemudian mengirimkan seseorang, Elisa, untuk melayani dia (1 Raja-Raja 19:19-21). Pada zaman sekarang kita juga membutuhkan teman-teman yang dengannya kita dapat berbagi kepedihan dan sakit hati kita (Pengkhotbah 4:9-12). Coba bagikan apa yang Anda rasakan dengan sesama orang Kristen yang Anda hormati. Anda mungkin akan terkejut mendapatkan bahwa mereka juga pernah menggumuli beberapa hal yang sama dengan yang Anda sementara alami.
Yang lebih penting lagi adalah berpusat pada diri sendiri, masalah kita, keperihan kita, dan khususnya masa lalu kita tidak akan pernah menghasilkan sukacita rohani yang sejati. Sukacita tidak didapatkan dalam materialisme, tidak diperoleh dalam psikoterapi, dan sudah jelas tidak didapatkan dalam obsesi terhadap diri sendiri. Kita, yang menjadi milik Tuhan, “bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah” (Filipi 3:3). Mengenal Kristus adalah memahami diri kita dengan sebenarnya, dan pemahaman rohani yang sejati kepada Kristus, sehingga tidak mungkin untuk memuliakan diri sendiri, hikmat kita, kekuatan, kekayaan, atau kebaikan kita, tapi hanya di dalam Kristus, dalam hikmat dan kuasa-Nya, dalam kekayaan dan kebaikan-Nya, dan dalam diri-nya saja. Berdiamlah di dalam Dia, dalam Firman-Nya, dan berusaha untuk mengenal Dia dengan lebih dekat. Kalau kita berdiam di dalam Dia, Dia berjanji bahwa “sukacitamu akan penuh” (Yohanes 15:1-11).
Akhirnya, ingat bahwa hanyalah melalui Roh Kudus Allah kita dapat memperoleh sukacita sejati (Mazmur 51:11-12, Galatia 5:22, 1 Tesalonika 1:6). Tidak ada yang dapat kita lakukan tanpa kuasa Allah (2 Korintus 12:10, 13:4). Bahkan, makin kita berusaha mendapat sukacita dengan cara kita sendiri, makin susahlah kita. Beristirahatlah dalam tangan Tuhan (Matius 11:28-30) dan carilah wajah-Nya melalui doa dan Kitab Suci. “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Roma 15:13). (SPP)
Jawaban: Masa-masa kesedihan dan depresi dapat memasuki kehidupan orang Kristen yang paling beribadah sekalipun. Kita melihat banyak contoh semacam ini dalam Alkitab. Ayub berharap dia tidak pernah dilahirkan (Ayub 3:11), Daud berdoa supaya dia pergi ke tempat di mana dia tidak harus berhadapan dengan realita (Mazmur 55:6-8). Elia, bahkan setelah mengalahkan 450 nabi Baal dengan api yang diperintahkan dari Surga (1 Raja-Raja 18:16-46), melarikan diri ke padang gurun dan minta Allah mengambil hidupnya (1 Raja-Raja 19:3-5).
Jadi bagaimana kita dapat mengatasi masa-masa tidak adanya sukacita ini? Kita bisa melihat bagaimana orang-orang yang sama mengatasi serangan depresi mereka. Ayub mengatakan jika kita berdoa dan mengingat berkat-berkat kita, Allah akan memulihkan sukacita dan kebenaran (Ayub 33:26). Daud menuliskan bahwa mempelajari Firman Allah dapat memberikan sukacita (Mazmur 19:8). Daud juga menyadari bahwa dia perlu lebih sering memuji Allah meskipun berada di tengah kekecewaan (Mazmur 42:5). Dalam kasus Elia, Allah membiarkan dia beristirahat untuk beberapa lama dan kemudian mengirimkan seseorang, Elisa, untuk melayani dia (1 Raja-Raja 19:19-21). Pada zaman sekarang kita juga membutuhkan teman-teman yang dengannya kita dapat berbagi kepedihan dan sakit hati kita (Pengkhotbah 4:9-12). Coba bagikan apa yang Anda rasakan dengan sesama orang Kristen yang Anda hormati. Anda mungkin akan terkejut mendapatkan bahwa mereka juga pernah menggumuli beberapa hal yang sama dengan yang Anda sementara alami.
Yang lebih penting lagi adalah berpusat pada diri sendiri, masalah kita, keperihan kita, dan khususnya masa lalu kita tidak akan pernah menghasilkan sukacita rohani yang sejati. Sukacita tidak didapatkan dalam materialisme, tidak diperoleh dalam psikoterapi, dan sudah jelas tidak didapatkan dalam obsesi terhadap diri sendiri. Kita, yang menjadi milik Tuhan, “bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah” (Filipi 3:3). Mengenal Kristus adalah memahami diri kita dengan sebenarnya, dan pemahaman rohani yang sejati kepada Kristus, sehingga tidak mungkin untuk memuliakan diri sendiri, hikmat kita, kekuatan, kekayaan, atau kebaikan kita, tapi hanya di dalam Kristus, dalam hikmat dan kuasa-Nya, dalam kekayaan dan kebaikan-Nya, dan dalam diri-nya saja. Berdiamlah di dalam Dia, dalam Firman-Nya, dan berusaha untuk mengenal Dia dengan lebih dekat. Kalau kita berdiam di dalam Dia, Dia berjanji bahwa “sukacitamu akan penuh” (Yohanes 15:1-11).
Akhirnya, ingat bahwa hanyalah melalui Roh Kudus Allah kita dapat memperoleh sukacita sejati (Mazmur 51:11-12, Galatia 5:22, 1 Tesalonika 1:6). Tidak ada yang dapat kita lakukan tanpa kuasa Allah (2 Korintus 12:10, 13:4). Bahkan, makin kita berusaha mendapat sukacita dengan cara kita sendiri, makin susahlah kita. Beristirahatlah dalam tangan Tuhan (Matius 11:28-30) dan carilah wajah-Nya melalui doa dan Kitab Suci. “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Roma 15:13). (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Apa itu orang Kristen duniawi?
Pertanyaan: Apa itu orang Kristen duniawi?
Jawaban: Dapatkah orang Kristen sejati bersifat duniawi? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita terlebih dahulu mendefinisikan istilah “duniawi.” Kata “duniawi” diterjemahkan dari kata Yunani “sarkikos” yang secara harafiah berarti “kedagingan.” Ini adalah kata yang muncul dalam konteks orang-orang Kristen dalam 1 Korintus 3:1-3. Dalam bagian ini Rasul Paulus menyebut para pembaca sebagai “saudara,” istilah yang digunakan Paul hampir-hampir hanya untuk menunjuk pada orang-orang Kristen lainnya, dan kemudian menyebut mereka sebagai sebagai “duniawi.” Karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa orang Kristen dapat bersikap duniawi. Alkitab jelas sekali bahwa tidak seorangpun yang tanpa dosa (1 Yohanes 1:8). Setiap kali kita berdosa, kita bertindak secara duniawi.
Kunci yang perlu dipahami adalah bahwa sekalipun orang Kristen dapat, untuk suatu waktu, bersifat duniawi, orang Kristen sejati tidak akan bersikap duniawi seumur hidupnya. Ada orang yang menyalahgunakan konsep “orang Kristen duniawi” dengan mengatakan bahwa adalah mungkin untuk orang-orang datang dan beriman kepada Kristus dan terus hidup sampai mati dalam keadaan duniawi, tanpa ada bukti “kelahiran kembali” atau “ciptaan baru” (2 Korintus 5:17). Konsep ini sama sekali tidak Alkitabiah. Yakobus 2 amat jelas bahwa iman yang sejati selalu menghasilkan perbuatan. Efesus 2:8-10 menyatakan bahwa sekalipun kita diselamatkan oleh anugrah semata-mata melalui iman, keselamatan menghasilkan perbuatan. Dapatkah orang Kristen, pada saat gagal dan/atau memberontak nampak duniawi? Ya. Dapatkah orang Kristen sejati terus bersikap duniawi? Tidak.
Karena jaminan keselamatan adalah fakta Alkitab, orang Kristen duniawipun akan diselamatkan. Keselamatan tidak dapat hilang, karena keselamatan adalah anugrah Allah yang tidak akan ditarik kembali (lihat Yohanes 10:28; Roma 8:37-39, 1 Yohanes 5:13). Bahkan dalam 1 Korintus 3:15, orang Kristen duniawi dijamin keselamatannya, “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Pertanyaannya sering kali bukanlah apakah orang itu kehilangan keselamatan, namun apakah orang itu betul-betul sudah selamat (1 Yohanes 2:19).
Bagi orang-orang Kristen yang kelakuannya bersifat duniawi, Allah dengan penuh kasih menghajar mereka (Ibrani 12:5-11), sehingga mereka dapat dipulihkan kembali kepada persekutuan yang erat dengan Dia dan dibina untuk menaati Dia. Keinginan Allah dalam menyelamatkan kita adalah supaya kita makin bertumbuh dekat kepada keserupaan dengan Kristus (Roma 12:1-12), menjadi makin rohani dan makin kurang duniawi, suatu proses yang dikenal sebagai penyucian. Sampai kita dilepaskan dari tubuh dosa, masih bisa muncul keduniawian. Namun bagi orang Kristen sejati di dalam Kristus, munculnya keduniawian ini bukanlah norma, tapi merupakan kekecualian. (SPP)
Jawaban: Dapatkah orang Kristen sejati bersifat duniawi? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita terlebih dahulu mendefinisikan istilah “duniawi.” Kata “duniawi” diterjemahkan dari kata Yunani “sarkikos” yang secara harafiah berarti “kedagingan.” Ini adalah kata yang muncul dalam konteks orang-orang Kristen dalam 1 Korintus 3:1-3. Dalam bagian ini Rasul Paulus menyebut para pembaca sebagai “saudara,” istilah yang digunakan Paul hampir-hampir hanya untuk menunjuk pada orang-orang Kristen lainnya, dan kemudian menyebut mereka sebagai sebagai “duniawi.” Karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa orang Kristen dapat bersikap duniawi. Alkitab jelas sekali bahwa tidak seorangpun yang tanpa dosa (1 Yohanes 1:8). Setiap kali kita berdosa, kita bertindak secara duniawi.
Kunci yang perlu dipahami adalah bahwa sekalipun orang Kristen dapat, untuk suatu waktu, bersifat duniawi, orang Kristen sejati tidak akan bersikap duniawi seumur hidupnya. Ada orang yang menyalahgunakan konsep “orang Kristen duniawi” dengan mengatakan bahwa adalah mungkin untuk orang-orang datang dan beriman kepada Kristus dan terus hidup sampai mati dalam keadaan duniawi, tanpa ada bukti “kelahiran kembali” atau “ciptaan baru” (2 Korintus 5:17). Konsep ini sama sekali tidak Alkitabiah. Yakobus 2 amat jelas bahwa iman yang sejati selalu menghasilkan perbuatan. Efesus 2:8-10 menyatakan bahwa sekalipun kita diselamatkan oleh anugrah semata-mata melalui iman, keselamatan menghasilkan perbuatan. Dapatkah orang Kristen, pada saat gagal dan/atau memberontak nampak duniawi? Ya. Dapatkah orang Kristen sejati terus bersikap duniawi? Tidak.
Karena jaminan keselamatan adalah fakta Alkitab, orang Kristen duniawipun akan diselamatkan. Keselamatan tidak dapat hilang, karena keselamatan adalah anugrah Allah yang tidak akan ditarik kembali (lihat Yohanes 10:28; Roma 8:37-39, 1 Yohanes 5:13). Bahkan dalam 1 Korintus 3:15, orang Kristen duniawi dijamin keselamatannya, “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Pertanyaannya sering kali bukanlah apakah orang itu kehilangan keselamatan, namun apakah orang itu betul-betul sudah selamat (1 Yohanes 2:19).
Bagi orang-orang Kristen yang kelakuannya bersifat duniawi, Allah dengan penuh kasih menghajar mereka (Ibrani 12:5-11), sehingga mereka dapat dipulihkan kembali kepada persekutuan yang erat dengan Dia dan dibina untuk menaati Dia. Keinginan Allah dalam menyelamatkan kita adalah supaya kita makin bertumbuh dekat kepada keserupaan dengan Kristus (Roma 12:1-12), menjadi makin rohani dan makin kurang duniawi, suatu proses yang dikenal sebagai penyucian. Sampai kita dilepaskan dari tubuh dosa, masih bisa muncul keduniawian. Namun bagi orang Kristen sejati di dalam Kristus, munculnya keduniawian ini bukanlah norma, tapi merupakan kekecualian. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Bagaimana saya dapat menginjili teman-teman dan keluarga saya tanpa menyinggung atau membuat mereka menjauh?
Pertanyaan: Bagaimana saya dapat menginjili teman-teman dan keluarga saya tanpa menyinggung atau membuat mereka menjauh?
Jawaban: Setiap orang Kristen memiliki anggota keluarga, teman, rekan kerja atau kenalan yang bukan orang Kristen. Membagikan Injil dengan orang-orang lain selalu tidak mudah. Membagikan Injil bahkan lebih sulit lagi saat melibatkan orang yang dekat dengan kita. Alkitab mengatakan bahwa ada orang-orang yang akan tersinggung oleh Injil (Lukas 12:51-53). Tidak mudah untuk mengambil resiko menyinggung orang-orang yang dengannya kita sering berhubungan. Namun demikian, kita diperintahkan untuk membagikan Injil – tidak ada alasan untuk tidak berbuat demikian (Matius 28:19-20; Kisah Rasul 1:8; 1 Petrus 3:15).
Jadi bagaimana kita dapat menginjili anggota-anggota keluarga, teman-teman, rekan-rekan kerja dan kenalan-kenalan kita? Hal yang terpenting yang dapat kita lakukan adalah berdoa bagi mereka. Doakan bahwa Tuhan akan mengubah hati mereka dan membuka mata mereka (2 Korintus 4:4) pada kebenaran Injil. Doakan supaya Tuhan meyakinkan mereka bahwa akan kasihNya pada mereka dan kebutuhan mereka akan keselamatan di dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:16). Doakan untuk hikmat dalam bagaimana Anda dapat melayani mereka (Yakobus 1:5). Selain berdoa, Anda perlu menghidupi kehidupan Kristiani yang saleh di depan mereka sehingga mereka dapat menyaksikan perubahan yang Alllah telah lakukan dalam hidup Anda (1 Petrus 3:1-2). Sebagaimana dikatakan oleh St. Francis dari Asisi pernah berkata, “Beritakan Injil setiap waktu, dan bilamana perlu, gunakan kata-kata.”
Setelah semua ini, Anda perlu dengan sungguh-sungguh dan berani dalam memberitakan Injil. Beritakan berita keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada teman-teman dan keluarga Anda (Roma 10:9-10). Selalu siap untuk berbicara mengenai iman Anda (1 Petrus 3:15), dengan penuh kelemahlembutan dan hormat. Yang paling utama, kita harus meninggalkan keselamatan dari orang-orang yang kita kasihi kepada Tuhan. Adalah kuasa dan anugrah Tuhan yang menyelamatkan orang dan bukan usaha kita. Yang dapat kita lakukan hanyalah berdoa bagi mereka, bersaksi kepada mereka dan menghidupi hidup Kristiani di depan mereka! (SPP)
Jawaban: Setiap orang Kristen memiliki anggota keluarga, teman, rekan kerja atau kenalan yang bukan orang Kristen. Membagikan Injil dengan orang-orang lain selalu tidak mudah. Membagikan Injil bahkan lebih sulit lagi saat melibatkan orang yang dekat dengan kita. Alkitab mengatakan bahwa ada orang-orang yang akan tersinggung oleh Injil (Lukas 12:51-53). Tidak mudah untuk mengambil resiko menyinggung orang-orang yang dengannya kita sering berhubungan. Namun demikian, kita diperintahkan untuk membagikan Injil – tidak ada alasan untuk tidak berbuat demikian (Matius 28:19-20; Kisah Rasul 1:8; 1 Petrus 3:15).
Jadi bagaimana kita dapat menginjili anggota-anggota keluarga, teman-teman, rekan-rekan kerja dan kenalan-kenalan kita? Hal yang terpenting yang dapat kita lakukan adalah berdoa bagi mereka. Doakan bahwa Tuhan akan mengubah hati mereka dan membuka mata mereka (2 Korintus 4:4) pada kebenaran Injil. Doakan supaya Tuhan meyakinkan mereka bahwa akan kasihNya pada mereka dan kebutuhan mereka akan keselamatan di dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:16). Doakan untuk hikmat dalam bagaimana Anda dapat melayani mereka (Yakobus 1:5). Selain berdoa, Anda perlu menghidupi kehidupan Kristiani yang saleh di depan mereka sehingga mereka dapat menyaksikan perubahan yang Alllah telah lakukan dalam hidup Anda (1 Petrus 3:1-2). Sebagaimana dikatakan oleh St. Francis dari Asisi pernah berkata, “Beritakan Injil setiap waktu, dan bilamana perlu, gunakan kata-kata.”
Setelah semua ini, Anda perlu dengan sungguh-sungguh dan berani dalam memberitakan Injil. Beritakan berita keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada teman-teman dan keluarga Anda (Roma 10:9-10). Selalu siap untuk berbicara mengenai iman Anda (1 Petrus 3:15), dengan penuh kelemahlembutan dan hormat. Yang paling utama, kita harus meninggalkan keselamatan dari orang-orang yang kita kasihi kepada Tuhan. Adalah kuasa dan anugrah Tuhan yang menyelamatkan orang dan bukan usaha kita. Yang dapat kita lakukan hanyalah berdoa bagi mereka, bersaksi kepada mereka dan menghidupi hidup Kristiani di depan mereka! (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Puasa Kristen – apa kata Alkitab?
Pertanyaan: Puasa Kristen – apa kata Alkitab?
Jawaban: Alkitab tidak memerintahkan orang-orang Kristen untuk berpuasa. Puasa bukanlah sesuatu yang dituntut atau diminta Allah dari orang-orang Kristen. Pada saat yang sama, Alkitab memperkenalkan puasa sebagai sesuatu yang baik, berguna dan perlu dilakukan. Kitab Kisah Rasul mencatat tentang orang-orang percaya yang berpuasa sebelum mereka mengambil keputusan-keputusan penting (Kisah Rasul 13:4; 14:23). Doa dan puasa sering dihubungkan bersama (Lukas 2:37; 5:33). Terlalu sering fokus dari puasa adalah tidak makan. Seharusnya tujuan dari puasa adalah melepaskan mata kita dari hal-hal duniawi dan berpusat pada Tuhan. Puasa adalah cara untuk mendemonstrasikan kepada Tuhan, dan kepada diri sendiri, bahwa Anda serius dalam hubungan Anda dengan Tuhan. Puasa menolong Anda untuk memperoleh perspektif baru dan memperbaharui ketergantungan pada Tuhan.
Sekalipun di dalam Alkitab puasa selalu berhubungan dengan tidak makan, ada cara-cara lain untuk berpuasa. Apapun yang dapat Anda tinggalkan untuk sementara demi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan dengan cara yang lebih baik dapat dianggap sebagai puasa (1 Korintus 7:1-5). Puasa perlu dibatasi waktunya, khususnya puasa makanan. Tidak makan dalam jangka waktu yang panjang dapat merusak tubuh. Puasa bukan untuk menghukum tubuh Anda, tapi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan. Puasa tidak boleh dianggap sebagai salah satu “metode diet.” Jangan berpuasa untuk menghilangkan berat badan, tapi untuk memperoleh persekutuan yang lebih dalam dengan Allah. Benar, siapa saja bisa berpuasa. Ada orang-orang yang tidak bisa puasa makan (penderita diabetes misalnya), tapi setiap orang dapat untuk sementara meninggalkan sesuatu demi untuk memfokuskan diri pada Tuhan.
Dengan mengalihkan mata dari hal-hal dunia ini, kita dapat memusatkan diri pada Kristus dengan lebih baik. Puasa bukanlah cara untuk membuat Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Puasa mengubah kita, bukan Tuhan. Puasa bukanlah cara untuk kelihatan lebih rohani dibanding orang lain. Puasa harus dilakukan dalam kerendahan hati dan dengan penuh sukacita. Matius 6:16-18 mengatakan, “"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (SPP)
Jawaban: Alkitab tidak memerintahkan orang-orang Kristen untuk berpuasa. Puasa bukanlah sesuatu yang dituntut atau diminta Allah dari orang-orang Kristen. Pada saat yang sama, Alkitab memperkenalkan puasa sebagai sesuatu yang baik, berguna dan perlu dilakukan. Kitab Kisah Rasul mencatat tentang orang-orang percaya yang berpuasa sebelum mereka mengambil keputusan-keputusan penting (Kisah Rasul 13:4; 14:23). Doa dan puasa sering dihubungkan bersama (Lukas 2:37; 5:33). Terlalu sering fokus dari puasa adalah tidak makan. Seharusnya tujuan dari puasa adalah melepaskan mata kita dari hal-hal duniawi dan berpusat pada Tuhan. Puasa adalah cara untuk mendemonstrasikan kepada Tuhan, dan kepada diri sendiri, bahwa Anda serius dalam hubungan Anda dengan Tuhan. Puasa menolong Anda untuk memperoleh perspektif baru dan memperbaharui ketergantungan pada Tuhan.
Sekalipun di dalam Alkitab puasa selalu berhubungan dengan tidak makan, ada cara-cara lain untuk berpuasa. Apapun yang dapat Anda tinggalkan untuk sementara demi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan dengan cara yang lebih baik dapat dianggap sebagai puasa (1 Korintus 7:1-5). Puasa perlu dibatasi waktunya, khususnya puasa makanan. Tidak makan dalam jangka waktu yang panjang dapat merusak tubuh. Puasa bukan untuk menghukum tubuh Anda, tapi untuk memusatkan perhatian pada Tuhan. Puasa tidak boleh dianggap sebagai salah satu “metode diet.” Jangan berpuasa untuk menghilangkan berat badan, tapi untuk memperoleh persekutuan yang lebih dalam dengan Allah. Benar, siapa saja bisa berpuasa. Ada orang-orang yang tidak bisa puasa makan (penderita diabetes misalnya), tapi setiap orang dapat untuk sementara meninggalkan sesuatu demi untuk memfokuskan diri pada Tuhan.
Dengan mengalihkan mata dari hal-hal dunia ini, kita dapat memusatkan diri pada Kristus dengan lebih baik. Puasa bukanlah cara untuk membuat Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Puasa mengubah kita, bukan Tuhan. Puasa bukanlah cara untuk kelihatan lebih rohani dibanding orang lain. Puasa harus dilakukan dalam kerendahan hati dan dengan penuh sukacita. Matius 6:16-18 mengatakan, “"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Bagaimana saya dapat mengampuni orang yang bersalah kepada saya?
Pertanyaan: Bagaimana saya dapat mengampuni orang yang bersalah kepada saya?
Jawaban: Setiap orang pernah disakiti hatinya, tersinggung dan dipersalahkan. Bagaimana caranya kita menanggapi saat hati kita disakiti? Menurut Alkitab, kita perlu mengampuni. Efesus 4:32 menyatakan, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Kolose 3:13 mengatakan, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Kunci dalam kedua ayat ini adalah kita harus mengampuni orang lain sama seperti Tuhan telah mengampuni kita. Mengapa kita mengampuni? Karena kita telah diampuni!
Pengampunan adalah mudah jika kita hanya harus memberikannya kepada mereka yang datang memintanya dalam kesedihan dan penyesalan. Alkitab mengatakan kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, tanpa syarat. Menolak mengampuni seseorang menunjukkan kebencian, kepahitan, dan kemarahan – dan tidak ada satupun dari semua ini yang pantas dimiliki oleh seorang Kristen. Dalam Doa Bapa Kami, kita meminta Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan kita, sama seperti kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita (Matius 6:12). Dalam Matius 6:14-15 Yesus berkata, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Dalam terang ayat-ayat lain yang berbicara mengenai pengampunan Tuhan, Matius 6:14-15 paling tepat dipahami sebagai mengatakan bahwa orang yang menolak mengampuni orang lain belum benar-benar mengalami pengampunan Tuhan untuk mereka.
Setiap kali kita tidak mencapai sasaran karena tidak menaati salah satu dari perintah-perintah Tuhan, kita berdosa kepada Tuhan. Ketika kita melukai hati orang lain, bukan saja kita berdosa kepada mereka, kita juga berdosa terhadap Tuhan. Ketika kita memperhatikan betapa luar biasanya belas kasihan Tuhan dalam mengampuni kita, kita menyadari bahwa kita tidak berhak menahan anugrah ini dari orang lain. Kita telah berdosa kepada Tuhan dengan cara yang jauh melampaui apapun yang orang lain dapat lakukan untuk melukai hati kita. Kalau Tuhan dapat mengampuni kita sedemikian rupa, bagaimana mungkin kita dapat menolak mengampuni orang lain yang bersalah begitu sedikit? Perumpamaan Yesus dalam Matius 18:23-35 adalah ilustrasi yang kuat sekali untuk kasus ini. Tuhan berjanji bahwa saat kita datang kepadaNya untuk mohon pengampunan, Dia akan memberikannya dengan bebas (1 Yohanes 1:9). Pengampunan yang kita berikan haruslah tanpa batas, sama seperti pengampunan Tuhan yang tanpa batas (Lukas 17:3-4). (SPP)
Jawaban: Setiap orang pernah disakiti hatinya, tersinggung dan dipersalahkan. Bagaimana caranya kita menanggapi saat hati kita disakiti? Menurut Alkitab, kita perlu mengampuni. Efesus 4:32 menyatakan, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Kolose 3:13 mengatakan, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Kunci dalam kedua ayat ini adalah kita harus mengampuni orang lain sama seperti Tuhan telah mengampuni kita. Mengapa kita mengampuni? Karena kita telah diampuni!
Pengampunan adalah mudah jika kita hanya harus memberikannya kepada mereka yang datang memintanya dalam kesedihan dan penyesalan. Alkitab mengatakan kita harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, tanpa syarat. Menolak mengampuni seseorang menunjukkan kebencian, kepahitan, dan kemarahan – dan tidak ada satupun dari semua ini yang pantas dimiliki oleh seorang Kristen. Dalam Doa Bapa Kami, kita meminta Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahan kita, sama seperti kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita (Matius 6:12). Dalam Matius 6:14-15 Yesus berkata, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Dalam terang ayat-ayat lain yang berbicara mengenai pengampunan Tuhan, Matius 6:14-15 paling tepat dipahami sebagai mengatakan bahwa orang yang menolak mengampuni orang lain belum benar-benar mengalami pengampunan Tuhan untuk mereka.
Setiap kali kita tidak mencapai sasaran karena tidak menaati salah satu dari perintah-perintah Tuhan, kita berdosa kepada Tuhan. Ketika kita melukai hati orang lain, bukan saja kita berdosa kepada mereka, kita juga berdosa terhadap Tuhan. Ketika kita memperhatikan betapa luar biasanya belas kasihan Tuhan dalam mengampuni kita, kita menyadari bahwa kita tidak berhak menahan anugrah ini dari orang lain. Kita telah berdosa kepada Tuhan dengan cara yang jauh melampaui apapun yang orang lain dapat lakukan untuk melukai hati kita. Kalau Tuhan dapat mengampuni kita sedemikian rupa, bagaimana mungkin kita dapat menolak mengampuni orang lain yang bersalah begitu sedikit? Perumpamaan Yesus dalam Matius 18:23-35 adalah ilustrasi yang kuat sekali untuk kasus ini. Tuhan berjanji bahwa saat kita datang kepadaNya untuk mohon pengampunan, Dia akan memberikannya dengan bebas (1 Yohanes 1:9). Pengampunan yang kita berikan haruslah tanpa batas, sama seperti pengampunan Tuhan yang tanpa batas (Lukas 17:3-4). (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Apa itu pertumbuhan rohani?
Pertanyaan: Apa itu pertumbuhan rohani?
Jawaban: Pertumbuhan rohani ada proses menjadi makin serupa dengan Yesus Kristus. Ketika kita menempatkan iman kita kepada Yesus, Roh Kudus memulai proses menjadikan kita makin serupa dengan Yesus, menjadikan kita sama dengan gambarNya. Pertumbuhan rohani barangkali diuraikan dengan paling jelas dalam 2 Petrus 1:3-8 yang memberitahukan kita bahwa dengan kuasa Allah Dia “telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Dalam Galatia 5:19-23 ada dua macam daftar. Galatia 5:19-21 mencatat “perbuatan daging.” Hal-hal ini adalah hal-hal yang merupakan kehidupan kita sebelum kita percaya Yesus untuk keselamatan kita. Perbuatan-perbuatan kedagingan adalah kegiatan-kegiatan yang kita akui, sesali dan dengan pertolongan Tuhan kita kalahkan. Saat kita mengalami pertumbuhan rohani, makin sedikit “perbuatan-perbuatan kedagingan” yang nyata dalam hidup kita. Daftar kedua adalah “buah Roh” (Galatia 5:22-33). Ini adalah hal-hal yang merupakan kehidupan kita setelah kita mengalami keselamatan di dalam Yesus Kristus. Pertumbuhan rohani dinyatakan dengan makin nyatanya buah Roh dalam kehidupan orang percaya.
Ketika terjadi perubahan hidup karena diselamatkan, pertumbuhan rohani dimulai. Roh Kudus berdiam di dalam kita (Yohanes 14:16-17). Kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17). pribadilama kita digantikan dengan yang baru (Roma 6-7). Pertumbuhan rohani adalah proses seumur hidup yang terjadi melalui mempelajari dan menerapkan Firman Tuhan (2 Timotius 3:16-17), dan berjalan dengan Roh (Galatia 5:16-26). Untuk bertumbuh secara rohani, kita dapat berdoa kepada Tuhan, minta Dia memberi hikmat untuk bagian-bagian apa dalam hidup kita yang Dia ingin kita bertumbuh. Kita dapat memohon kepada Tuhan untuk menolong kita meningkatkan iman dan pengetahuan kita akan Dia. Tuhan menghendaki kita untuk bertumbuh secara rohani. Tuhan telah memberi kita segala yang kita butuhkan untuk mengalami pertumbuhan rohani. Dengan pertolongan Roh Kudus kita dapat mengalahkan dosa dan dengan pasti makin menjadi serupa dengan Juruselamat kita, Tuhan Yesus Kristus. (SPP)
Jawaban: Pertumbuhan rohani ada proses menjadi makin serupa dengan Yesus Kristus. Ketika kita menempatkan iman kita kepada Yesus, Roh Kudus memulai proses menjadikan kita makin serupa dengan Yesus, menjadikan kita sama dengan gambarNya. Pertumbuhan rohani barangkali diuraikan dengan paling jelas dalam 2 Petrus 1:3-8 yang memberitahukan kita bahwa dengan kuasa Allah Dia “telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Dalam Galatia 5:19-23 ada dua macam daftar. Galatia 5:19-21 mencatat “perbuatan daging.” Hal-hal ini adalah hal-hal yang merupakan kehidupan kita sebelum kita percaya Yesus untuk keselamatan kita. Perbuatan-perbuatan kedagingan adalah kegiatan-kegiatan yang kita akui, sesali dan dengan pertolongan Tuhan kita kalahkan. Saat kita mengalami pertumbuhan rohani, makin sedikit “perbuatan-perbuatan kedagingan” yang nyata dalam hidup kita. Daftar kedua adalah “buah Roh” (Galatia 5:22-33). Ini adalah hal-hal yang merupakan kehidupan kita setelah kita mengalami keselamatan di dalam Yesus Kristus. Pertumbuhan rohani dinyatakan dengan makin nyatanya buah Roh dalam kehidupan orang percaya.
Ketika terjadi perubahan hidup karena diselamatkan, pertumbuhan rohani dimulai. Roh Kudus berdiam di dalam kita (Yohanes 14:16-17). Kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17). pribadilama kita digantikan dengan yang baru (Roma 6-7). Pertumbuhan rohani adalah proses seumur hidup yang terjadi melalui mempelajari dan menerapkan Firman Tuhan (2 Timotius 3:16-17), dan berjalan dengan Roh (Galatia 5:16-26). Untuk bertumbuh secara rohani, kita dapat berdoa kepada Tuhan, minta Dia memberi hikmat untuk bagian-bagian apa dalam hidup kita yang Dia ingin kita bertumbuh. Kita dapat memohon kepada Tuhan untuk menolong kita meningkatkan iman dan pengetahuan kita akan Dia. Tuhan menghendaki kita untuk bertumbuh secara rohani. Tuhan telah memberi kita segala yang kita butuhkan untuk mengalami pertumbuhan rohani. Dengan pertolongan Roh Kudus kita dapat mengalahkan dosa dan dengan pasti makin menjadi serupa dengan Juruselamat kita, Tuhan Yesus Kristus. (SPP)
Label:
Sie Kerohanian Kristen
Langganan:
Komentar (Atom)